Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 101


__ADS_3

Semua yang ada di sana hanya bisa terkekeh dengan apa yang di lakukan Julian sedari tadi hanya untuk membujuk Diva.


"Apa kau, Jul. aku sedang kesal denganmu." Kesal Diva dengan Julian.


Julian melangkah kedepan, kedua pipi Diva di cubit dan di gerakkan ke kanan dan ke kiri. Diva hanya diam dan memejamkan kedua matanya.


Pukk...


Julian memukul wajah Diva dengan tiba-tiba. "Apa sih Jul..." Diva semakin kesal dengan Julian karena memukul wajahnya.


Julian hanya tertawa renyah melihat Diva yang terlihat semakin kesal itu.


"Sudah, Diva.. ajak adiknya bermain. Kasihan itu..." sahut mami Sean pada Diva.


"Tidak, Ijul nakal." Ucap Diva melengoskan wajahnya dari Julian. Julian terus saja mengikuti arah Diva.


Julian berjongkok di depan Diva dan melihat wajah Diva yang sedang kesal padanya. "liiiihhh...." Julian memamerkan giginya yang belum semuanya tumbuh.


Diva terlihat sangat cuek dengan apa yang di lakukan dengan Julian. Beda lagi dengan Jennifer, kali ini dia sangat anteng sambil menikmati cemilan oleh Ana padanya. yang di berikan


"Itu tidak mempan untukku, Jul." Jawab Diva.


Tiba-tiba saja, Julian menidurkan dirinya di paha Diva. Mungkin itu adalah jalan keluarnya untuk membuat Diva luluh padanya.


"Kasihan adiknya, Diva. Lihat, sepertinya dia kelelahan dengan usahanya... hahahaa.." kekeh sang grandpa melihat aksi Julian saat ini.


Diva membiarkan Julian tertidur dengan nyamannya di sana. Mungkin dengan itu, Julian tidak akan berbuat jahil lagi padanya.


Malam hari...


Setelah dia di rawat di rumah sakit selama satu minggu, saat ini dirinya sudah ada di rumahnya. Setelah dia di pulangkan dari rumah sakit, dirinya di jaga ketat oleh orang-orang papanya. Agar tidak terjadi hal-hal yang membuatnya lebih parah lagi. Siapa lagi orang itu, kalau bukan Andy.


Papa Andy masih mencari dalang di balik orang yang sudah membuat Andy babak belur. Ia tidak terima jika putranya yang menurutnya tidak pernah membuat salah di pukuli oleh orang secara habis-habisan seperti itu.


"Lapor tuan, kami sudah menemukan siapa yang sudah membuat tuan muda Andy babak belur waktu itu." Lapornya pada papa Andy.

__ADS_1


"Siapa?" tanyanya. Orang itu sepertinya ragu-ragu untuk menyebutkan nama yang sudah membuat anak dari tuannya itu babak belur.


"Dia orang yang paling berpengaruh di daratan Eropa ini, tuan." Jawabnya.


Papa Andy pun mengernyitkan sebelah alisnya." Cepat katakan. Jangan banyak mengandung teka-teki, orang berpengaruh di Eropa bukan hanya satu orang saja ." Jawab papa Andy. Karena memang bukan hanya satu dua orang yang berkuasa, melainkan banyak.


"Dia, putra dari tuan William, tuan." Jawabnya pada Andy. Papa Andy pun bingung, kenapa bisa orang yang sangat berpengaruh itu bisa membuat putranya babak belur seperti itu.


"Apa yang katakan benar? Jangan sampai kau salah informasi, aku tidak mau terlibat dengan keluarga itu." Ucap papa Andy yang tidak percaya.


"Benar, tuan." Jawabnya meyakinkan. Entah bagaimana orang itu bisa menemukan jika Sean pelakunya.


"Apa kau tau alamatnya?" orang itu pun memberikan alamat yang tertera pada papa Andy. Entah


bagaimana dirinya nanti menghadapi keluarga William.


.


.


Sore tadi Sean memutuskan untuk mengajak Ana dan putra putrinya untuk kembali ke mension, karena di rasa saat ini sudah mulai aman.


Saat ini, twin j sedang berada di kamar mami dan papinya. Karena Ana sedang beberes menata kembali barang-barang yang ia bawa sewaktu ke mension utama.


Jennifer saat ini berdiri di kaca besar di ruang ganti, ia menatap bayangannya lekat-lekat. Jennifer mendekat dan meletakkan kedua tangannya di kaca besar itu.


"Huuhhh..." ucap Jennifer di sana. Ia tertawa cekikikan sendiri di depan bayangannya dengan kedua tangannya di letakkan di depan mulutnya.


la melakukannya lagi, kali ini ia memamerkan giginya di depan kaca. "liiihhh..." Dirinya kembali tertawa melihat bayangannya. Mungkin dia melihat apa yang ia lakukan itu lucu. Ana yang melihat itu pun hanya tersenyum membiarkan apa yang di lakukan putrinya. Selagi dia tenang.


Sedangkan Julian, ia ikut mendekat kearah sang mami. la mencoba membuka laci yang berisi semua koleksi dasi dari Sean. Dikeluarkannya satu per satu dasi tersebut dari tempatnya.


"Eeehh... eehh... Juul... tidak boleh sayang, nanti papi marah." Tegur Ana lembut agar putranya itu tidak menangis.


"Seaaaan.... Suamikuu... coba ajak Julian bermain dulu, biar aku bereskan yang di sini." Teriak Ana pada Sean.

__ADS_1


"Ada apa, sayang?" Sean mendekat ke arah Ana.


"Ajak Julian bersamamu, biar aku bereskan ini sebentar." Ucapnya. Sean melihat semua dasi-dasinya berserakan karena ulah Julian.


"Ajak saja mereka bermain, biar aku yang membereskan. Jangan biarkan dirimu kelelahan." Ucap Sean mengambil dasinya satu persatu.


"Tidak, lebih baik ajak mereka dulu bersantai. Kau harus banyak istirahat, nanti lukamu terbuka lagi." Tolak Ana dengan halus.


Untuk masalah ini memang Ana tidak membiarkan maid yang mengurusnya, Ana yang menata miliknya dan milik suaminya sendiri. Untuk yang lain, Ana mempersilahkan para maid yang melakukannya.


"Sudaahh.. biarkan aku saja. Ajak anak-anak bermain ." Ujar Ana. Sean tersenyum dan mengecup singkat kening Ana.


Sean menggendong tubuh kecil Julian itu agar tidak terus membuang semua barang-barang yang sudah rapi di sana. "Ayo, Jul. Main sama papi."


"Jeen... ayo ikut papi." Ajak Sean pada Jennifer yang sedang asik bermain sendiri di sana. Jennifer yang mendengar ajakan sang papi pun menoleh dan melangkahkan kakinya.


Sean menggandeng tangan Jennifer dan berjalan pelan agar putrinya tidak terjatuh.


Sean mengajak mereka untuk melihat tontonan kartun agar mereka terdiam. Tapi, namanya juga anak kecil, pasti ada saja ulahnya.


Jennifer yang sedang melihat TV besar itu dengan berdiri dan menggoyang-goyangkan kecil tubuhnya. Ia menari-nari sendiri.


Julian yang melihat sang kakak menari-nari itu pun ikut mendekat ke arah Jennifer. Tiba-tiba saja dirinya memeluk sang kakak dengan erat hingga mereka terjerembab jatuh di lantai.


"Paapi... aaaa..." rengek Jennifer meminta pertolongan dari sang papi.


Sean yang melihat keduanya terjatuh itu pun mendekat dan membantu mereka untuk bangun." Hati-hati boy...." Ucap Sean. Julian hanya dia memandang sang kakak yang sedang merengek.


Julian mendekat ke arah sang kakak dan memukul tepat di wajahnya.


Puukk...


"Booy.... Tidak boleh begitu." Tegur Sean dengan lembut, ia mengusap pucuk kepala Julian. Jennifer bersembunyi di belakang sang papi agar tidak mendapat timpukan lagi dari Julian.


la memeluk leher sang papi, Julian ingin mendekat ke arah sang kakak tapi di halangi oleh Sean agar mereka tidak bertengkar nantinya. Sean memegang kedua tangan mungil milik Julian. "Jangan biarkan tangan ini nanti menyakiti wanita boy, jangan biarkan tangan ini menyakiti orang yang kau sayangi. Jadilah anak laki-laki papi yang kuat, oke." Tutur Sean lembut memandang putranya dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2