Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 145 Season 2


__ADS_3

Julian menghajar orang itu tidak ada hentinya, pukulan dan tendangan dia layangkan pada orang itu. Orang itu tidak bisa membalas pukulan demi pukulan dari Julian.


Julian pun merebut pistol orang tersebut... Dorr... Dor... Dor...


Tidak mau berlama-lama lagi, tidak hanya satu peluru yang melesat mengenai orang itu. Tapi tiga sekaligus ia lesatkan pada orang itu.


Orang itu tergeletak lemah dengan darah membanjiri seluruh tubuhnya. James semakin tidak percaya melihatnya, ternyata Julian yang selama ini dia tahu adalah kebohongan. Ternyata Julian memiliki sisi lain di balik sikapnya yang selalu petakilan.


Sedangkan di sisi seberang...


Marcus dan Reiner harap-harap cemas dengan keadaan Julian dan Gerald di sana.


"Kenapa mereka belum ke sini juga, apa jangan-jangan...." Ucap Marcus terjeda. la mengkhawatirkan keadaan Julian dan Gerald. Bagaimana jika Julian dan Gerald berhasil di kalahkan orang itu dan


di bawa pergi.


"Coba kita hubungi mereka." Ucap Reiner pada Marcus. Mereka pun mengambil ponsel masing-masing lalu mencoba menghubungi Julian dan Gerald yang masih belum terlihat di hadapan mereka.


Panggilan mereka tidak ada jawaban sama sekali meskipun mereka mencoba berkali-kali. Mereka semakin mencemaskan keadaan kedua temannya itu.


Kembali ke sisi Julian dan Gerald....


Gerald berfikir jika sikap Julian yang selama ini mereka ketahui bukanlah sifat aslinya, tapi inilah asli dari Julian.


Julian mendekat ke arah orang itu, Julian berjongkok di sebelah orang itu.


"Siapa yang menyuruhmu?" Tanyanya dengan wajah yang sangat datar.


Orang itu kesulitan untuk memberitahukan pada Julian, dia terbatuk dan mengeluarkan darah dari.


Julian meletakkan pistol itu di kening orang tersebut, "katakan atau nyawamu melayang sia-sia?" ucapnya yang siap menarik pelatuknya.mulutnya


"D-dia adalah o-orang yang berpe-ngaruh di ko-ta ini ." Jawabnya terbata. Darah kembali keluar dari mulutnya setelah mengatakan itu.


Julian tersenyum misterius mendengar jawaban dari orang tersebut. Jadi ternyata papa dari Cindy lah yang mengirim orang-orang itu.

__ADS_1


"Ternyata mereka tidak hanya konyol, tapi sangat bodoh." Ucap Julian dengan tersenyum jahat.


Doorr.....


Tanpa berkata-kata Julian menembak kepala orang itu tepat di tengah-tengah keningnya. Orang itu pun akhirnya tidak bernyawa lagi. Gerald yang melihat kejadian di depan matanya itu semakin membelalakkan matanya tidak percaya dengan Julian yang bisa dengan sadis menembak orang itu.


Julian hanya tersenyum tanpa merasa berdosa sama sekali setelah orang itu tidak bernyawa.


la menghampiri Gerald dengan langkah santainya. Ayo kita pergi dari sini," ajaknya pada Gerald yang masih mematung.


"Kau tidak mendengar ku," sambung Julian yang membuatnya tersadar.


"Bagaimana dengan orang-orang itu?" Tanya Gerald yang melihat orang-tergelatak di sana.


"Biarkan saja, lebih baik kita lanjut. Mereka berdua pasti menunggu kita," jawab Julian naik ke atas motor sportnya.


"Tidak, lebih baik kau pulang. Kau terluka, biar aku yang mengurus mereka berdua. Pasti mereka faham," jawab Gerald mengingat Julian mendapat luka tempak di lengannya.


"Aahh... Kau tidak perlu khawatir. Ini hanya luka kecil, kau seperti anak kecil saja." Ucap Julian yang menganggap luka itu kecil baginya.


"Sudah tidak ada protes," sela Gerald saat Julian ingin membuka suara. Julian memicingkan bibirnya di depan Gerald. Padahal baru saja dia brutal menghabisi orang-orang yang mengganggunya, sekarang sikapnya sudah kembali dalam mode petakilan.


"Oke-oke... Aku akan pulang. Biarkan saja orang-orang tergeletak itu, sampaikan salamku pada mereka berdua." Ucapnya lalu memakai helm miliknya. la pun meninggalkan Gerald di sana begitu saja.


Gerald memandang kepergian Julian yang sudah sedikit jauh dari pandangannya. Dia membatin dalam hatinya lalu memandang orang-orang yang tergeletak di sana. Gerald memandang orang-orang yang tergeletak itu seperti biasa saja, tidak ada takutnya ataupun ngeri-ngeri dalam dirinya.


Gerald bergegas menaiki motor sport dan memakai helmnya lalu melajukannya dengan cepat. Ia menuju ke tempat di mana teman-temannya sudah menunggu. Julian dan Gerald benar-benar membiarkan orang-orang tidak bernyawa itu tergeletak di sana. Untung saja mereka melintasi jalan yang sepi, jalan itu biasanya Julian dan kawan-kawannya lewati karena saling beradu kecepatan.


Julian mematikan motor sportnya lalu turun dari sana, kedatangannya di sambut oleh orang-orang yang berada di sana tanpa terkecuali.


"Uncleeeee....." Teriaknya saat baru tiba di sana. Orang yang berada di dalam itu pun terjinggat kaget dengan teriakan Julian yang begitu kencangnya.


"Astaga.... Anak itu kenapa suka sekali berteriak," kesal seseorang yang berada di sana saat ini.


Yaahh.... Julian tidak langsung pulang ke rumah. Dia datang ke markas, jika dia langsung pulang mungkin sang mami akan khawatir padanya. Dia tidak ingin membuat sang mami menjadi khawatir.

__ADS_1


"Kau bisa tidak, kalau tidak berteriak seperti itu?" Sengalnya pada Julian.


"Ehehee.... Ada kakak cantik di sini. Kau pasti habis berkencan kan, ngaku." Celetuknya. Siapa orang itu kalau bukan Diva. Dia datang ke markas untuk menemui Riko.


"Anak kecil lebih baik diam." Ketusnya pada Julian.


Diva memerhatikan jika banyak darah di lengan Julian saat ini, Diva menajamkan penglihatannya lalu mendekat.


"Apa yang kau lakukan, Jul?" Tanya Diva dengan wajah yang sangat serius setelah melihat ada luka di lengan Julian.


"Apa? Memangnya apa yang aku lakukan?" Bukannya menjawab dirinya justru bertanya pada sang kakak.


"Siapa yang membuatmu terluka seperti itu?" Diva sepertinya mau mengeluarkan tanduknya.


"Oohh... Ini? Tadi ada yang ingin bermain-main denganku." Jawab Julian dengan santainya.


"Kenapa kau tidak menghubungiku atau yang lain, hah?" Sengal Diva.


"Mana sempat aku menghubungimu, kak. Bisa-bisa aku sudah kalah duluan," jawabnya yang memang ada benarnya. Diva pun memerintahkan dirinya masuk ke dalam untuk segera mengobati luka Julian agar tidak terjadi infeksi.


Diva memerintahkan Julian duduk dan anak buah di sana mengambilkan kotak p3k untuk Julian.


Tidak lama kemudian, orang-orang Diva di sana membawakan sesuai dengan perintah Diva. Tidak lama juga Riko datang ke sana melihat apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Apa yang terjadi tuan muda?" Tanyanya pada Julian.


Diva mencoba mengobati luka Julian pelan-pelan sembari mendengarkan Julian bercerita.


"Tadi ada beberapa orang yang menghalang jalanku, mereka orang-orang bayaran yang di perintahkan keluarga itu untuk membawaku." Jelasnya.


"Lalu?"


"Aku menghajar mereka karena tanganku gatal." Sambungnya.


"Lalu, apa yang kau lakukan pada mereka? Tidak mungkin kau membiarkan mereka hidup-hidup." Ucap Riko yang tahu bagaimana Julian. Tidak akan dirinya membiarkan orang-orang yang mengusiknya hidup begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2