Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 47 Aduan Diva dan Anara


__ADS_3

Sore harinya...


Sean memang sering kali pulang waktu sore. Sisa pekerjaannya ia serahkan pada James asistennya.


"Kau tidak membawakan aku apa-apa?" Sambut Ana melihat kepulangan Sean ke mension.


"Apa kau tadi memesan sesuatu padaku?" Sean bingung ketika Ana menagih sesuatu padanya. karena seingatnya memang Ana tidak meminta apa-apa padanya.


Sean merogoh ponsel miliknya melihat kotak masuk, siapa tahu jika Ana tadi memesan sesuatu padanya. Tapi memang kotak masuk miliknya tidak ada pesan dari siapapun.


Sean menscroll berkali-kali tapi tidak menemukan apa-apa. Ana melihat katifitas Sean yang di depannya saat ini.


"Kau itu melihat apa di ponselmu, hah? Apa kau mempunyai kekasih di luar sana?" Sentak Ana menuduh Sean. Padahal Sean mengecek ponselnya terdapat pesan masuk darinya atau tidak.


"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku punya kekasih di luar sana. Aku sudah punya dirimu." Jawab Sean sambil menggelengkan cepat kepalanya.


"Dassar laki-laki. Bullshit sekali." Ana melenggang pergi meninggalkan Sean begitu saja.


Sean pun mengejar kepergian Ana, dari pada nanti dia kena semprot oleh Ana tidak ada habisnya.


"Sayaanng... tunggu. Maafkan aku, aku berani bersumpah. Aku tidak punya kekasih di luar sana. Aku tadi hanya melihat ponselku ada pesan darimu atau tidak." Jelas Sean dengan jujur.


"Hmm..." Ana hanya menanggapi dengan deheman. Ana melipat kedua dadanya dan bersikap cuek pada Sean.


"Sudah ya, maafkan aku." Bujuk Sean. Sean pun menclum seluruh wajah Ana agar tidak marah lagi.


"Hmmm..." Respon Ana lagi.


"Aku berani bersumpah padamu, aku hanya memilikimu. Kalau aku berbohong, kau bisa menghukumku, apapun itu." Sean terus saja membujuk Ana. Namun, Ana hanya cuek bebek.


"Uncle dan aunty kenapa?" Tanya Diva yang baru saja tiba di lantai bawah.


"Aunty mu ngambek Diva. Dia menuduh Uncle punya kekasih, padahal uncle tadi hanya melihat ponsel uncle ada pesan dari aunty atau tidak." Jelas Sean mencari sekutu.


Diva hanya menganggukkan kepalanya saja kali ini.


"Sudah mengadunya." Sengal Ana pada Sean. Sean seketika kicep kali ini.


"Sudah sana mandi, kau itu bau." Sambung Ana menutup kedua lubang hidungnya.


Sean hanya pasrah saja, banyak sedikit Aiden mendapat wejangan dari sang mami jika menghadapi wanita hamil itu harus sabar. Karena mood yang sering berubah-ubah dan tingkah aneh selalu ada saja.


30 menit kemudian, Sean kembali ke bawah dan bergabung bersama Ana dan Diva.


Kali ini, Ana bersikap manja seperti anak kucing yang tidak mau lepas dari induknya.


"Ada apa, hmm?" Tanya Sean lembut.


"Tidak ada." Jawabnya.


"Sean... apa kau tau. Tadi aku meminta sedikit makanan pada Diva, tapi dia tidak mau memberikannya. Padahal si kembar yang memintanya." Sekarang giliran Ana yang mengadu pada Sean.


Diva memandang sinis pada sang aunty. "Aunty bohong uncle. Orang tadi makanan aunty saja masih banyak sekali, tapi minta pada Diva. Padahal makanannya sama saja." Ucap Diva membela dirinya.


"Tidak, aunty tidak bohong. Tadi kan memang Diva tidak mau memberikan makanan Diva." Elak Ana.


"Justru tadi Diva minta sama auty tidak boleh, dia bilang sedikit saja. Mana terasa di perut Diva, untung saja bibi tadi buat lebih." Sambung Diva.

__ADS_1


"Memangnya kalian makan apa tadi? Kenapa sampai berebut?" Tanya Sean. Sean tidak membela salah satu dari mereka. Sean mencoba menjadi pendengar cerita yang baik diantara keduanya.


"Kartoffelpuffer dan pretzel. Tapi, aunty tadi makan banyak sekali uncle. Tadi aunty juga banyak sekali makan ice cream." Adu Diva kali ini.


"Ice cream? Apa benar Ana?" Ana tidak menjawab Sean kali ini.


"Benar uncle. Tadi Diva sudah bilang, jangan makan ice cream banyak-banyak. Nanti adiknya kedinginan. Kata aunty nanti di kasih selimut biar tidak kedinginan adiknya ." Diva mengadukan semuanya pada Sean.


"Memangnya bagaimana caranya menyelimuti adik di dalam perut sana?" Sambung Diva.


Tadinya Ana mau mencari pembelaan pada Sean tapi gagal, Diva menceritakan semuanya.


Sean hanya menahan tawanya sedari tadi mendengar cerita Diva..


"Apa itu benar Ana?" Sean mencoba bersikap lembut. Agar Ana tidak tersinggung nantinya.


"Iyaa..." jawab Ana memanyunkan bibirnya.


"Lain kali jangan makan ice cream banyak-banyak, oke. Nanti perutmu bisa sakit. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu dan anak-anak kita." Tutur Sean lembut. Ternyata Sean yang kejam itu bisa bersikap sangat lembut pada Ana.


Ana menganggukkan kepalanya faham.


Entah kenapa mereka suka sekali sepertinya jika dalam hal berdebat. Kalo tidak Diva dan Sean, nanti Ana dan Diva.


Bagaimana jika anak-anak Sean sudah lahir nanti, mungkin semakin ramai perdebatan-perdebatan mereka.


Sedangkan di William Company...


Lita frustasi dengan semua pekerjaan-pekerjaan yang di berikan padanya.


"Aaarrkkh... ini semua membuatku pusing." Ucapnya mengacak-acak rambut miliknya.


"Apa tugas yang aku berikan padamu sudah selesai, nona? Kenapa kau bersantai-santai?" Sahut James yang melintas di depan Litaa.


"Sedikit lagi tuan. Tugas ini cukup menguras kepalaku." Jawab Lita.


"Waktumu tinggal sedikit lagi, nona. Jangan membuang-buang waktu. Kau harus bisa menyelesaikannya." Ujar James dengan tegas. James pun berlalu pergi dengan tersenyum miring kali ini.


Lita sangat frustasi dengan tugas-tugas yang di berikan padanya.


"Aaarrkkh... kenapa tidak ada yang mau membantuku sih." Keluhnya kesal dengan semua tuga-tugasnya.


James pun memberitahukan hal ini pada Sean. Sean memerintahkan James untuk memberikantugas yang lebih berat lagi pada Lita.


Lita kembali mengerjakan tugas yang di berikan oleh James dengan berat hati. Dia ingin sekali kabur dari sana, tapi bagaimana caranya. Pasti akan ada yang melaporkannya pada James.


Di belahan bumi lainnya. Tepatnya di Amerika, seorang pria berbadan kekar menunggu anak buahnya untuk melaporkan hasil penyelidikan yang ia suruh.


Tidak lama kemudian, anak buahnya datang. Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan sesuatu?" Tanyanya pada anak buahnya.


"Maaf tuan. Kami belum mengetahui siapa wanita yang bersamanya waktu itu. Semua informasinya tidak kami temukan." Lapornya pada sang boss.


"Siapa sebenarnya perempuan yang bersamanya waktu itu? Apa wanita itu kekasihnya?" Gumamnya pelan.


"Kau cari lagi semua informasinya. Aku tidak mau tau." Perintahnya lagi. Anak buahnya pun mengundurkan diri dan melakukan penyelidikan lagi sesuai dengan perintah sang boss.


"Sial... andai waktu itu aku melihat wajah wanita itu. Mungkin akan mudah mengetahuinya." Ucapnya kesal.

__ADS_1


Orang itu merupakan musuh bebuyutan Sean di dunia bawah. Pria itu selalu iri dengan apa yang Sean dapatkan dan miliki.


Sepulang dari Korea waktu itu, dia selalu memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki Sean. Tapi sangat sulit untuk bisa mendapatkan informasi mengenai Sean kali ini, karena Sean benar-benar menutup semua akses yang berhubungan dengannya maupun orang terdekatnya.


Kembali ke sisi Sean...


"Aku ingin sekali makan yang manis-manis." Ucap Ana saat mereka bersantai.


"Aunty kenapa sedari tadi makan terus sih?" Ketus Diva menanggapi Ana.


"Aunty lapar Diva. Sekarang kan makanan aunty di bagi sama adik-adik." Jawab Ana.


"Aunty makannya berlebihan. Kenapa bisa muat begitu perutnya?" Sungut Diva lagi.


"Kasihan kan adiknya, tertimbun makanan di dalam." Sambung Diva. Sean tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari Diva kali ini.


"Adiknya tidak akan tertimbun Diva. Adik aman di sana." Ujar Sean mengelus pucuk kepala Diva.


"Mau makan apa, hmm?" Tanya Sean beralih menatap Ana.


"Aku ingin sekali makan pudding. Tapi kau yang harus membuatnya." Ucap Ana. Sean menganga tidak percaya.


"Tapi... aku tidak bisa memasak, sayang. Bagaimana caranya?" Tutur Sean.


"Aku tidak mau tahu. Kau yang harus membuatnya." Kuekeh Ana yang ingin sekali memakan masakan dari Sean.


"Aku suruh maid saja yang membuatnya, ya." Bujuk Sean.


"Tidak. Pokoknya tidak. Kau yang harus membuatnya." Tegas Ana.


"Kau yang membuatnya sendiri atau tidur di luar." Ancam Ana pada Sean.


Sean mendelikkan matanya tidak percaya mendengar perkataan dari Ana.


"Tapi... aku tidak bisa memasak. Memegang alat dapur saja aku tidak pernah."


"Aku tidak mau tahu. Kau minta ajari salah satu maid di sini." Ana bersih kekeh.


"Tapi kan..."


"Tidak ada tapi-tapian Sean. Aku hanya menginginkan pudding dari tanganmu." Sahut Ana sebelum Sean menjawab.


Ana pun meminta salah satu maid yang ada di sana untuk mengajari Sean bagaimana cara membuat pudding yang enak.


Demi Ana dan calon buah hatinya, ia rela terjun ke dapur secara langsung. Maid memberikan intruksi dan Aiden mengikuti semua intruksi yang di berikan oleh maid itu.


Kondisi dapur sangat berantakan kali ini, karena Sean menaruh setiap barang tidak pada tempatnya.


"Huuft akhirnya selesai." Helaan Sean lega.


"Kau bereskan semua kekacauan ini, aku akan memberikan ini pada Ana." Sambung Sean.


"Ehh... maaf tuan. Tuan harus mendinginkan pudding itu lebih dulu. Baru bisa di makan, ini masih belum jadi sempurna." Terang maid itu.


"Haah... kenapa harus begitu?"


"Memang seperti itu tuan. Kita menunggunya dulu biar sedikit keras dan di makan. Tuan bisa kembali dulu, biar nanti saya yang antarkan kesana." Jelas maid itu lagi.

__ADS_1


Sean pun melangkahkan kakiknya keluar dari dan bergabung kembali dengan Diva dan Ana.


__ADS_2