Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 259


__ADS_3

Panggilan telpon itu pun terputus, Jennifer mendekat ke arah Julian yang memang sangat asik menonton TV. "Kebiasaan sekali," gerutu Jennifer.


Buggh...


Tanpa aba-aba Jennifer melempar bantal sofa yang ada di sana pada Julian. Julian tersadar karena bantal itu mendarat mulus mengenai wajahnya. "Apa yang kau lakukan!?"


"Apa, hah! Kau berani!" Jennifer berkacak pinggang di sana. Wajahnya terlihat sedikit garang saat menghadapi Julian kali ini.


"Kau mirip dengan King kalau begitu." Julian menyamakan Jennifer dengan hewan peliharaannya.


"Apa kau bilang? Coba ulangi sekali lagi!" Jennifer


tidak terima jika Julian menyamakan dirinya dengan King. Adik kakak memang tidak pernah bisa damai, yang satu suka mancing emosi, dan satunya lagi terpancing.


"Tidak ada, kau sangat cantik," elaknya agar Jennifer tidak menghajarnya di sana. Memang paling bisa jika dia membuat orang kesal.


"Robert memintamu untuk datang ke markas. Pergilah!" tanpa berbasa-basi Jennifer seperti mengusir Julian untuk pergi dari rumah.


"Kau mengusirku!?" Kedua alisnya terangkat ke atas.


"Iya! Biar aku bisa hidup tenang." Jennifer yang biasanya kalem kini bisa ngegas di hadapan Julian.


"Kau tega sekali," gerutunya dengan memandang Jennifer tidak biasa.


"Sudah sana kau pergi. Dia sudah menunggumu sedari tadi," ucap Jennifer lagi.


"Kenapa dia tidak menghubungiku langsung?" Haah ... bisa-bisanya ia berkata seperti itu. Padahal ponselnya sedari tadi berdering tetapi dia tidak menghiraukannya.


"Jangan banyak berkilah. Sedari tadi dia menghubungimu. Kau saja yang tidak menjawabnya dan terlalu asyik melihat Tv," ketus Jennifer.


"lyyaaakaah...?" wajahnya terlihat menjengkelkan sekali di sana. Julian pun melihat ponsel miliknya, terdapat beberapa panggilan dari Robert.


"Apa kau sudah lihat!?" Jennifer kembali ketus pada Julian.

__ADS_1


"Sudah. Aku tidak mendengarnya tadi." Ada saja alasannya yang di buat. Wajahnya benar-benar menjengkelkan sekali.


Sabar... sabar... Jennifer menahan kekesalannya agar tidak sampai keluar tanduk menghadapi Julian." Memang kau saja yang tidak menjawabnya. Kenapa banyak sekali alasanmu itu!"


"Ya sudah sana, pergilah!"


"Kau benar-benar mengusirku?" Julian menunjuk dirinya sendiri. Jennifer mengangguk dengan wajah yang tidak merasa bersalah sama sekali.


"Kau memang benar-benar sangat jahat. Ya sudah kalau begitu, aku akan pergi dari mension." Julian beranjak dari sofa dengan wajah yang di buat seolah-olah dia ngambek."


"Oke. Jangan kembali lagi." Jawaban tidak terduga dari Jennifer. Begitulah mereka setiap hari, terkadang akur, tentram, terkadang juga penuh emosi. Walaupun seperti itu, mereka tetap saling menyayangi.


Julian mencebikkan bibirnya lalu segera pergi untuk mengambil jaket kulitnya dan bergegas ke markas. Tanpa berlama-lam, Julian akhirnya melajukan motor sportnya dengan kecepatan penuh.


Karena ia menggunakan kecepatan penuh, kurang lebih satu jam dia telah sampai di markas. Ia pun turun dari motor sportnya dan berjalan masuk ke dalam. Terlihat sekali wajahnya jika dirinya sangat tengil dan jahil.


Sesaimpainya di dalam, ia mencari keberadaan Robert. Ia memutuskan untuk keruangannya karena tidak menemukan Robert di tempat biasanya.


"Aku kira kau tidak datang ke sini karena asyik menonton TV di mension," sindir Robert di sana.


"Tadinya aku tidak mau ke sini. Tapi aku kasihan denganmu, nanti kau menangis, aku juga yang susah." Julian membalas ucapan Robert dengan sedikit ledekan. Sudah biasa jika mereka saling ledek.


"Aku tidak sepertimu!" ketus Robert.


"Kenapa kau memintaku datang ke mari?" tanya Julian yang membuat Robert mengernyitkan alisnya.


"Ini markasmu, tentu saja aku memintamu datang ke mari. "Memang di mana pun Julian, dia tidak bisa akur dengan orang lain. Pasti ada saja perdebatan tidak penting.


"Bukan itu maksudku!" ia sedikit geram dengan Robert.


"Aku mendapat informasi penting dari beberapa anak buah di luar sana." Robert mendudukkan dirinya dengan posisi yang lebih enak.


"Cepat katakan!" kalau dalam hal seirus wajah Julian terlihat serius.

__ADS_1


Robert menarik napas panjang sebelum menjelaskan pada Julian. "Huuuh... informasi yang aku dapat mengenai putra dari Jacob. Ia berencana untuk menyerangmu dengan memecah belah pasukannya."


"Bisa tidak kau dengan jelas menjelaskannya?" ucapan Robert tidak di tangkap cepat oleh pemikiran Julian.


Robert kembali menarik napasnya panjang untuk menjelaskan pada Julian. "Setelah vidio yang kau kirim semalam, putra Jacob terlihat marah. Ia berencana untuk melawanmu, tapi bukan hanya di satu sisi."


"Satu kubu, dia akan datang ke rumah Nona tertua di keluarga William. Kubu ke dua, dia akan menyerang ke mension pribadi. Dan yang terakhir mungkin akan menyerangmu." Julian mendengarkan penjelasan singkat dari Robert. Nona tertua dari keluarga William tak lain adalah Ola.


"Kapan dia akan melakukannya?" wajah Julian benar-benar berubah kali ini.


โ€œMereka masih menunggu anggota yang lainnya datang. Kemungkinan setelah mereka semua tiba, mereka akan melangsungkannya," jawab Robert dengan jujur.


"Ternyata dia memang sangat ingin bermain-main denganku. Siapkan semua anggota kita, aku akan mengatur rencana untuk melawan orang itu," pinta Julian dengan sangat seirus.


"Kau tenanglah. Tidak sulit untuk mengerahkan anggota kita." Robert pun akhirnya menghubungi salah satu anggota di sana dan meminta untuk semua anggota berkumpul di aula tempat biasa mereka berkumpul.


Apa yang akan di siapkan oleh Julian kali ini? hanya Julian yang tahu bagaimana nantinya. Musuh berharap jika Julian akan kuwalahan jika mereka semua menyerang secara terpisah dengan waktu yang bersamaan. Namun, dia juga tidak mengingat jika banyak anggota dari Julian, dan siapa keluarga Julian yang sebenarnya.


Bagi julian itu juga tidak akan sulit, Julian memiliki banyak anggota yang berbakat dan hebat. Mereka semua juga sangat mudah untuk di atur. Salah satu dari mereka pun menuruti perintah dari Julian untuk meminta yang lainnya berkumpul di aula seperti biasanya, dan tidak berlama-lama mereka sudah berkumpul, tinggal menunggu Julian untuk datang dan memberitahu tujuannya pada mereka semua.


Julian memasuki aula dengan langkah tegapnya di ikuti Robert di belakangnya. Semua anggota sudah berada di sana, bahkan petinggi lainnya juga berada di sana atas perintah dari Julian.


"Apa semua sudah berkumpul?"


"Sudah, Tuan Muda." Mereka semua serempak menjawab pertanyaan Julian.


"Aku mengumpulkan kalian semua karena ada hal penting. Aku ingin membagi kalian dalam beberapa kelompok dan menyebar ke tempat yang sudah aku tentukan," terang Julian dengan serius.


"Apa yang sedang terjadi, Tuan Muda?" tanya salah satu dari mereka.


"Apa kalian mengingat Jacob? Beberapa tahun lalu kita melakukan perang bersar-besaran dengan kelompok mereka. Putra dari Jacob akan melakukan balas dendam, dia menargetkan semua dari keluarga William," terang Julian kembali.


"Mereka akan menyerang kita secara terpisah. Maka dari itu aku akan membagi kalian semua dalam titik berbeda. Kita juga harus memancing dia untuk datang ke suatu tempat agar kita bisa dengan mudah melawan mereka. Jika secara terpisah, kita akan kehabisan banyak tenaga," sambung Julian. kali ini wajahnya terlihat tegas dan serius, tidak seperti biasanya yang terlihat tengil dan jahil.

__ADS_1


__ADS_2