
Sean memantapkan hatinya untuk jujur pada Ana.
Sean memegang kedua tangan Ana dengan lembut. "Ana... asal kau tau, aku bukanlah Sean yang kau kira. Aku bukanlah Sean yang baik. Aku bukanlah Sean yang kau lihat selama ini." Ujar Sean memulai percakapan.
Ana mencoba mendengarkan kejujuran Sean saat ini. Dia tidak akan menyelah sampai Sean selesai mengatakan yang sebenarnya.
"Aku bukan hanya sekedar seorang CEO yang orang tau di luaran sana. Aku juga, sebenarnya seorang pimpinan dari dunia bawah." Sambung Sean.
"Dunia bawah?" Ana mengulang kata itu.
Sean hanya mengangguk. Entah bagaimana reaksi Ana kedepannya nanti. Sepandai-pandainya dirinya menyembunyikan jati dirinya, pasti Ana juga akan tahu siapa sebenarnya dirinya.
"Apa kamu pernah mendengar nama Kingdom?” Tanya Sean.
"Kingdom? Aku pernah mendengar sedikit.
Bukankah itu...?" Ana menjeda kata-katanya yang sepertinya dirinya mulai mengetahui.
"Iya... itulah dunia bawah yang aku geluti. Dan aku adalah pimpinan dari mereka semua." Jawab Sean jujur. Sean terus saja menundukkan kepalanya tanpa berani menatap mata Sean.
"Aku pernah bertanya padamu setelah pernikahan kita, jika kau tau yang sebenarnya, apa kau akan meninggalkanku? Karena aku benar-benar takut jika hal itu akan terjadi padaku. Maafkan aku jika selama ini aku menutupinya darimu, aku hanya tidak ingin kau dalam situasi bahaya. Aku tidak ingin mereka yang ada di luar sana mengetahui siapa dirimu bagiku. Karena mereka pasti akan mengincarmu, bukan aku." Jelas Sean panjang lebar.
Ana sangat terkejut dengan penjelasan Sean saat ini. Dirinya tidak pernah menyangka, jika suaminya adalah juga seorang pimpinan mafia terbesar di Eropa. Bahkan bukan hanya di Eropa, mafia Sean terkenal di berbagai negara.
Ana tidak bisa berkata-kata untuk hal ini. Entah harus marah, atau bagaimana. Dirinya tidak tahu.
"Ana... jika kau marah padaku, aku siap menerimanya. Asal jangan pergi dariku, aku tidak siap untuk kehilanganmu." Sambung Sean lirih. Ana melihat ketulusan yang ada pada suaminya.
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya, Sean?" Lirih Ana. Air matanya luruh begitu saja mendengar fakta mengejutkan dari suaminya.
"Jadi, apakah ini alasanmu untuk menyembunyikan pernikahanmu dan aku dari publik? Dan waktu di korea, tiba-tiba kita kembali apa karena ada musuhmu di sana?" Tanya Ana mengingat-ingat waktu saat sebelum mereka menikah dan saat sesudah menikah.
"Benar... aku tidak ingin mereka akan melukaimu."
"Dan luka yang ada di lenganmu waktu itu, berarti benar apa kata mami. Kau habis bertarung dengan musuhmu?" Sambung Ana.
"Iya..."
"Maafkan aku Ana, aku tidak berkata jujur padamu
dari awal. Kau boleh marah padaku, tapi aku mohon jangan meninggalkan aku." Ucap Sean memeluk erat tubuh Ana.
Pandangan Ana kosong lurus kedepan, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Apa kau baru pulang juga karena berurusan dengan dunia bawahmu?" Sean hanya bisa menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Ana.
Air mata Ana luruh dengan derasnya. "Istirahatlah, Sean. Aku ingin menenangkan diriku saat ini." Ucap Ana.
"Tidak... aku ingin bersamamu." Sean masih memeluk erat tubuh Ana.
"Aku ingin waktu untuk menerima semua ini, Sean.
Beri aku waktu sendiri dulu." Jawab Ana. Ini terlalu
mengejutkan bagi Ana. Tidak mudah untuknya
menerima kenyataan besar seperti ini.
"Tidak, Ana. Aku ingin seperti ini, jangan menangis. Aku tidak ingin jika nanti berpengaruh pada kandunganmu. Maafkan aku." Sean menyeka air mata Ana yang luruh dengan deras.
"Sean... kau pasti juga lelah. Beristirahatlah, aku juga ingin menenangkan diriku dulu. Tolong beri aku waktu kali ini saja Sean." Ana memohon pada Sean.
Ana melepaskan pelukan Sean dan kembali ke kamarnya. Sean sengaja tidak mengejar Ana, ia mencoba untuk memberikan waktu pada Ana untuk menerima kenyataan yang terjadi saat ini.
Sean memutuskan untuk pergi ke kamar yang ada di lantai atas dengan langkah gontainya. Inilah yang Sean takutkan, jika saja Ana tidak bisa menerima kenyataan. besar ini.
Sean merebahkan di kasur king size nya dengan terlentang menerawang jauh.
Sedangkan di sisi Ana...
la menangis sesenggukan setelah tahu kebenaran besar itu.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu, Sean? Kenapa mami, papi dan Diva tidak mengatakan hal ini padaku? Apa mereka semua membohongiku?" Gumam Ana pelan.
Ana masih saja menangis tidak ada hentinya. la mengelus perutnya dengan lembut.
"Aku harus bagaimana?" Sambung Ana yang bingung harus bersikap bagaimana sekarang.
Pagi harinya...
Mami Sean sudah tiba di sana untuk mengantarkan Diva ke sekolah. Sean turun dari tangga dengan setelan jasnya yang sudah rapi.
"Kau dari atas? Bukankah kalian pindah ke bawah?"
tanya mami Sean.
"Dimana Ana?" Tanya mami Sean lagi yang tidak melihat sang menantu.
Sean terlihat sangat lesu tidak mempunyai semangat hari ini.
"Kenapa wajahmu lesu begitu? Apa yang terjadi?" Tanya mami Sean lagi yang mencium bau-bau pertengkaran antara putra dan menantunya itu.
Sean hanya menghela nafasnya kasar dengan pertanyaan sang mami.
"Ana sepertinya marah dengan Sean, mi." Jawab Sean dengan lesu. "Memangnya kenapa? Apa yang sudah kau lakukan padanya?" Cerca sang mami.
"Semalam Sean pergi ke gudang persenjataan karena mendapat serangan, waktu pulang Ana sudah menunggu Sean. Sean mengatakan yang sejujurnya, sepertinya dia tidak bisa menerimanya, mi." Lirih Sean. Baru kali ini sang mami melihat Sean tidak mempunyai semangat.
"Jadi... Ana sudah mengetahui yang sebenarnya?" Sean menganggukkan kepalanya pelan.
"Sudahlah, tak apa. Kau berangkat saja dulu. Biar mami yang mengurusnya, biar mami yang akan menjelaskan pada Ana." Ucap sang mami. Tentu saja sang mami ikut andil dalam hal ini, karena memang mereka sengaja menutupi ini rapat-rapat dari Ana. Dan sekarang, Ana sudah tahu akan hal itu.
Mami Sean akan mencoba untuk membujuk Ana agar tidak ada kesalah pahaman nantinya.
"Baiklah, mi. Sean serahkan ini pada mami. Nanti Sean akan mengurusnya sendiri, pagi ini Sean harus ke kantor karena ada meeting yang tidak bisa di tinggal."
"Iya... kau tenang saja. Biar mami yang urus." Jawab sang mami.
Tidak lama kemudian Diva turun dengan berpakaian saragamnya lalu mendekat kearah sang grandma dan uncle nya.
Ana.
"Kau pergilah dulu, biar mami yang membujuknya." Perintah sang mami pada Sean. Sean melangkahkan kakinya dengan tidak semangat hari ini.
"Uncle kenapa, grandma?" Tanya Diva yang melihat Sean sedikit lesu pagi ini.
"Biasa, urusan orang dewasa."
"Diva... hari ini Div pergi dengan salah satu maid di sini tidak apa kan? Grandma mau membujuk aunty agar
mau keluar dari kamarnya." Ujar mami Sean pelan. "Memangnya aunty kenapa, grandma? Apa aunty marah?"
"Aunty sedang ngambek. Grandma mau membujuk
aunty dulu. Nanti Diva biar di susul sama grandpa, ya." Bujuk mami Sean pada Diva.
"Boleh... tapi grandma harus kasih uang saku yang
banyak ya untuk Diva." Ucap Diva.
"Buat apa sayangnya, grandma?"
"Buat jajan dong, grandma. Nanti biar Diva juga bisa beli hadiah buat aunty, supaya aunty tidak ngambek lagi." Bujuk rayu Diva yang mengkambing hitamkan Ana.
"Nanti Diva bisa minta grandpa."
"Tida mau, Diva minta grandma. Yang banyak." Diva memnag sengaja memalak sang grandma sepertinya.
"Kau ini, anak kecil kenapa suka sekali dengan uang." Sungut grandma pada Diva.
"Uang nomor satu, grandma." Celetuk Diva. Mami Sean hanya bisa diam tidak percaya dengan jawaban dari Diva.
Mami Sean pun memberikan saja uangnya pada Diva beberapa lembar. Dia tidak mau di pusingkan dengan Diva nantinya.
__ADS_1
"Sudah cukup?"
"Sudah, grandma. Terima kasiiih." Jawab Diva menampilkan senyum imutnya.
Mami Sean memerintahkan salah satu maid yang ada di sana untuk mengantarkan Diva. Tidak lupa juga mami Sean memerintahkan beberapa pengawal untuk Diva. Tidak mungkin jika mami Sean membiarkan Diva begitu saja tanpa pengawasan.
Setelah mobil yang di gunakan Diva sudah tak terlihat, mami Sean segera menemui Ana di kamarnya.
Tok..
Tok...
Tok...
"Ana... buka pintunya, ini mami."
Ana yang mendengar suara sang mami mertua itu pun berjalan kearah pintu dan membukanya.
Ceklek...
Pintu di buka menampakkan Ana dengan mata sembabnya. Mami Sean bernafas lega jika Ana mau membukakan pintu untuknya.
"Bisa mami berbicara denganmu?"
"Mami masuk saja." Jawab Ana mengajak sang mami untuk berbicara di kamarnya.
"Ana... apa kau marah dengan Sean?" Tanya mami Sean to the point.
"Apa kau marah dengan kami?" Tanya mami lagi.
"Tidak, mi. Ana tidak marah, kok." Jawab ana menunjukkan senyumnya.
"Ana, jangan berbohong sama mami. Sean sudah menjelaskan pada mami."
Ana terdiam akan hal ini. Mami Sean yang faham akan situasi ini mencoba untuk berbicara lembut pada Ana.
"Ana... mami minta maaf padamu sebelumnya. Kami tidak memberitahu dirimu karena banyak alasan, kami tidak mau jika dirimu dalam bahaya, nak."
"Keluarga kami memiliki banyak musuh di luar sana, Sean melakukan semua ini juga ingin melindungimu dari para musuhnya di luaran sana." Sambung sang mami. Ana mendengarkan penjelasan sang mami tanpa menyelah sedikitpun.
"Kami juga sengaja menyembunyikan dirimu, bahkan Diva juga dari para musuh di luaran sana. Agar dirimu tidak terlibat dengan mereka semua. Dunia bawah tidak memandang wanita atau pria, jahat atau baik."
"Apa kau masih marah, nak?" Imbuh mami Sean yang melihat Ana sedari tadi diam.
"Tidak mami, Ana tidak marah. Ana hanya ingin waktu untuk menerima kenyataan sebesar ini. Ini seperti mimpi, Ana belum bisa percaya dengan semua ini." Jawab Ana.
"Mami tau, mami dulu juga sama sepertimu. Tapi mami mencoba untuk menerima semuanya. Karena memang ini sudah menjadi bagian takdir dari mami dan. kamu. Kita tidak tau bagaiamana takdir kita bukan?"
Terang sang mami.
- Penjelasan Sang....
"Jangan marah lagi, ya. Jangan terlalu di ambil pusing, nanti kasian calon cucu-cucu mami. Mereka juga pasti merasa tidak nyaman di sana."
Ana tersenyum mendengar penjelasan dan perhatian dari sang mami. Memang benar apa yang dikatakan oleh sang mami, itu adalah takdir dari dirinya. Tidak ada yang tahu bagaimana takdir masing-masing seseorang.
Tidak perlu juga dirinya marah dengan Sean karena hal ini, Sean lah yang selama ini ada untuknya. Sean yang sudah melindunginya dari bahaya dan Sean juga yang sudah membuatnya menjadi wanita sempurna.
Ana juga sudah berjanji pada dirinya sendiri, bagaimanapun nanti, dia akan menerima. Dia tidak akan meninggalkan Sean apapun yang akan terjadi.
"Sekarang kita makan ya, kasian mereka yang ada di dalam. Pasti sudah kelaparan." Ajak sang mami. "Mami duluan saja, Ana mau membersihkan diri dulu,"
"Yasudah kalau begitu, mami tunggi di luar."
"Mi..." panggil Ana sebelum mami Sean menyentuh gagang pintu.
"Iya, ada apa?"
Ana mendekat kearah sang mami dan memeluk mami mertuanya itu. "Terima kasih untuk semuanya, mi. Terima kasih juga sudah menerima An di keluarga kalian, Ana sangat beruntung bisa hadir di keluarga ini." Ungkap Ana.
"Mami juga berterima kasih, karena kamu, Diva dan Sean tidak banyak diam lagi. Mereka lebih banyak berbicara, hari-hari mereka terisi karena kehadiranmu." Jawab sang mami.
__ADS_1
"Sekarang bersihkan dirimu dulu. Lalu kita sarapan bersama." Perintah sang mami. Ana mengangguk dan tersenyum lebar.