
Sean memutar bola matanya malas. "Bukankah kau juga dengan James. Kenapa kau tidak melakukannya saja dengannya." Skak Sean yang membuat James salah tingkah dibuatnya.
"Apa itu benar, James?" tanya Ana yang memang tidak tahu.
"Tidak. Tuan Sean bohong." Jawab Rika dengan
gugup.
"Jangan kau kira aku tidak tahu." Timpal Sean.
"Benar, Ana. Dia dekat dengan tuan James sekarang." Clare ikut menimpali.
"Aku atau kau yang sedang berbohong?" ucap Sean
dengan wajah yang sedikit menjengkelkan.
Rika di bungkam diam oleh keduanya, dia tidak bisa menjawab apa-apa kali ini. Percuma saja jika dirinya berbohong, disana ada Clare dan Sean yang mengetahuinya.
"Jika memang suka kenapa kalian tidak menjalin hubungan saja. Kalian sepertinya cocok." Ujar Ana.
"Apa aku yang harus turun tangan menikahkan kalian." Terang Sean.
"Tidak. Tidak perlu." Jawab Rika menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tau begini aku tidak ikut kesini." Gerutu Rika dengan sedikit manyun.
"Aku kan hanya dekat dengannya melalui online saja, bukan di nyata." Sambung Rika dengan ekspresi yang sedikit kesal karena dirinya dihakimi saat ini.
"Sama saja itu. Memang kalian saja yang gengsi, di ponsel saja manisnya kalah gula. Tapi bertemu dingin kayak es." Sahut Clare dengan nada ketus.
Rika kembali melotot dengan perkataan Clare." Siapa yang bilang aku manis padanya, tidak ada. Jangan mengada-ada kau." Ketus Rika.
"Aku pernah melihatnya kok. Aku tidak mengada-ada." Rika kembali melototkan matanya. Kali ini dua kali lebih lebar.
"Kau membuka ponselku?" Rika terlihat sangat gugup.
"Tidak... aku mengintipnya." Jawab Clare dengan jujur.
Bagh...
Rika memukul keras lengan Clare hingga dirinya mengadu kesakitan. Clare mengelus bahunya yang terasa panas akibat pukulan dari Rika.
__ADS_1
"Dasar sinting, kenapa kau memukulku?"
"Rasakan itu." Jawab Rika dengan puasnya setelah memukul Clare.
Sedari tadi Sean merasa jengah melihat perdebatan wanita-wanita rempong yang ada di depannya.
Diam-diam dirinya merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, kau datanglah kesini cepat. Ada yang ingin bertemu denganmu." Ucapnya saat panggilan telfonnya terhubung. Sean langsung mematikan telfonnya secara sepihak.
"Siapa yang kau hubungi, tuan?" Tanya Rika setelah melihat Sean menghubungi seseorang.
"Menghubungi James agar datang kesini menemuimu." Jawab Sean yang membuat Rika semakin salah tingkah di buatnyaa.
"Ehh jangan doong tuan. Kenapa harus begitu, aku tidak bilang begitu padamu." Protes Rika
Sean kembali merogoh ponselnya dan menghubungi James kembali. "Tidak jadi, kau lanjutkan saja bekerja. Dia tidak mau menemuimu." Ucap Sean kembali mematikan telfonnya secara sepihak.
James yang berada di seberang sana di buat bingung dengan sang boss. Tiba-tiba saja Sean menghubunginya untuk datang dan sekarang ia mengatakan jika tidak jadi. Untung saja dirinya belum berangkat.
Tapi, dirinya juga berfikir, memang siapa yang ingin bertemu dengannya? James yang tidak mau ambil pusing itupun melanjutkan saja pekerjaannya.
Mension Sean kembali sepi setelah kepulangan kedua teman Ana. Sedari tadi mereka semua bergaduh dan berdebat satu sama lain tidak ada yang mau mengalah.
"Hehehe... mereka memang seperti itu. tapi, mereka baik kok." Jawab Ana sambil terkekeh mengingat bagaimana tingkah kedua temannya.
"Bagaimana kamu bisa betah dulu berteman dengan mereka?"
"Aku tidak pernah mempermasalahkan bagaimana temanku, suamiku. Aku menilai ketulusan yang mereka tunjukkan padaku. Mereka memang sangat berisik, tapi aku beruntung bisa berteman dengan mereka yang benar-benar tulus denganku." Jelas Ana.
"Mereka yang terlihat kalem dan pendiam juga belum tentu mereka benar-benar tulus pada kita bukan?" sambung Ana.
Karena memang terkadang penampilan semua orang bisa menipu, yang terlihat diam dan baik pun terkadang bisa melakukan hal yang jahat pada kita.
Mereka yang terlihat sangat cerewet dengan mulut ceplas ceplos pun juga belum tentu mereka jahat. Terkadang seperti merekalah yang memiliki pertemanan yang tulus apa adanya.
"Kau memang istriku." Ucap Sean mencium seluruh wajah Ana dengan gemmas.
"Ehh... suamiku... apa tidak salah jika dirimu tadi
mengatakan aku istrimu di depan semua karyawanmu?
__ADS_1
Bagaimana nanti jika semua musuhmu mengetahui jika
aku istrimu?" tanya Ana dengan sedikit merasa cemas.
la bukan mencemaskan dirinya, tapi mencemaskan twin
J. Bagaimana nanti jika mereka semua akan mengincar
twin J.
"Jangan khawatir, oke. Aku akan selalu melindungimu, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu ataupun menyakitimu." Jawab Sean mengelus lembut tangan Ana.
"Aku tidak khawatir akan diriku, tapi aku mengkhawatirkan twin J. Bagaimana nanti jika mereka semua mengincar twin J." Sambung Ana dengan cemas.
Sean memandang lekat kedua mata Ana. "Selagi aku masih ada, aku akan melindungi kalian. Aku tidak akan membiarkan mereka semua bisa menyentuhmu dan anak-anak kita." Jawab Sean dengan tatapan penuh cinta pada Ana.
"Aku sudah mengurusnya untuk tadi, mereka akan tutup mulut rapat-rapat. Mereka tidak akan berani macam-macam, jika mereka berani membuka identitasmu di luar sana, mereka yang akan menanggung akibatnya dariku." Sambung Sean untuk menenangkan Ana.
"Apa kau yakin?" Ana masih diliputi rasa takut dan cemas.
"Percayakan semua padaku." Jawab Sean. Ana memeluk erat tubuh Sean, rasanya Ana juga tidak akan sanggup jika nanti dia melihat Sean melawan musuh-musuhnya karenanya.
"Aku juga tidak mau dirimu kenapa-napa. Aku hanya ingin kita hidup tenang bersama." Ucap Ana di dalam pelukan Sean.
Menjadi bagian keluarga dari keluarga William memang terlihat sangat enak jika hanya dilihat dari sisi satunya yang mana keluarga tersebut memiliki banyak harta dan terkenal se Eropa. Tapi, di satu sisi mereka juga sebenarnya juga melawan bahaya. Mereka mempunyai banyak musuh, entah itu di bisnis ataupun mafia mereka.
Kehidupan kaya yang bergelimang harta dan terkenal di mana-mana tidak menjamin kehidupan seseorang itu selalu enak dan tenang. Justru kehidupan mereka tidak bisa tenang, karena banyak musuh yang menjatuhkan.
Malam harinya...
Disebuah restoran mewah terdapat seorang lelaki dan perempuan yang duduk menunggu pesanan mereka datang.
"Kenapa kau mengajakku makan malam disini? Tumben sekali?" tanyanya bingung. Karena tidak biasanya dirinya di ajak makan di tempat mewah dan mahal seperti ini.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin saja." Jawab pria itu.
"Padahal aku sedang menikmati rebahanku tadi. Kau menggangguku saja." Keluhnya. Sepertinya dia memang lebih suka rebahan dari pada keluar.
Tidak lama kemudian, makanan yang sudah mereka pesan akhirnya datang. Makanan yang menggungah selera itu membuat siapa saja ingin langsung saja melahapnya.
"Makanlah dulu." Ujarnya.
__ADS_1
Merekapun menikmati makan malam tanpa ada gangguan dari siapapun.