
Fany mencoba untuk memepertahankan dirinya sebelum ia di bawa pergi jauh dari sana. Meskipun begitu, dia tetap saja kalah. Dia terus memberontak dan menahan dirinya agar tidak di seret.
"Nah... kaan... mereka terlihat lucu sekali. Yang satu merasa cemburu yang satu ada saja tingkahnya," kata Thea melihat siapa orang tersebut.
Siapa lagi orang yang menyeret Fany kalau bukan Julian, ia merasa cemburu karena melihat Fany dengan genitnya pada laki-laki lain. Waktu itu Julian tengah melintas di area yang sama dengan ketiga serangkai itu, dia melihat apa yang di lakukan Fany pada pria tadi. Hatinya merasa terbakar melihatnya, dengan cepat dia menyeret Fany pergi bersamanya.
"Kau seperti tidak tahu saja. Sebaiknya kita mencari sesuatu untuk mengganjal perut," ajak Jennifer yang di setujui oleh Thea. Akhirnya mereka hanya berdua saja yang mencari makanan untuk mengganjal perut mereka.
"Lepaskan tanganmu, bod*h," sengal Fany karena Julian enggan untuk melepaskan tangannya. Ia masih menyeret Fany pergi bersamanya.
"Tidak!" jawab Julian dengan pandangan masih lurus ke depan.
"Leppas!" akhirnya usaha Fany berhasil lepas dari genggaman Julian. Langkah ke duanya terhenti Julian meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Apa yang kau lakukan, hah!" sengal Fany dengan ngegas. Tidak ngegas tidak enak bagi Fany.
"Ku itu laki-laki, kenapa tidak ada lembut-lembutnya sama sekali dengan perempuan?" sambung Fany yang tidak terima karena di seret begitu saja dengan Julian.
"Dan apa juga yang kau lakukan, hah! Apa kau juga tidak malu bertingkah seperti tadi dengan laki-laki lain?" Julian juga tidak kalah ngegas di sana. Memang mereka tidak ada adem-ademnya sama sekali.
"Memangnya kenapa? Masalah buatmu, hah!" sungut Fany berkacak pinggang. Mereka berdebat dengan saling ngegas, padahal mereka masih berada di mall. Bagi Fany di mana pun berada dia tidak peduli.
"Tentu saja masalah buatku, kau hanya milikku! Kalau kau masih melakukan seperti tadi, akan aku bantai setiap laki-laki yang kau lihat." Tidak ada yang mengalah di antara ke duanya, sampai-sampai pengunjung yang ada di sana juga melihat perdebatan mereka berdua. Mereka juga berbisik-bisik kalu Julian dan Fany seperti anak kecil, konyol dan masih banyak lagi.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kau tidak membantai dirimu sendiri? Kau adalah laki-laki yang aku lihat saar ini." Skak mat dari Fany. Namun ucapannya juga tidak ada salahnya, karena Julian sendiri berkata setiap laki-laki.
Julian memejamkan kedua matanya dan bernapas kasar dengan sediki kesal, jika saja itu bukan Fany, mungkin Julian sudah kehilangan kesabarannya." Laki-laki selainku yang aku maksud."
"Berarti itu juga termasuk Papimu!" ujar Fany kembali.
Kesabaran Julian teruji jika berhadapan dengan Fany. Biasanya dirinya yang selalu menguji kesabaran orang lain, sekarang dia yang kesabarannya di uji oleh Fany. Sebisa mungkin Julian bersabar di sana.
"Bukan itu yang aku maksud. Kau ini...." Julian ingin sekali menoyor kepala Fany. Tangannya sudah mengepal di udara, tetapi sebisa mungkin dia bersikap baik di hadapan perempuan. Bagaimanapun Julian masih memiliki harga diri seorang laki-laki.
"Apa, hah!" sungutnya dengan berkacak pinggang melihat Julian yang mengurungkan dirinya untuk menoyor kepalanya.
"Kalau saja kau bukan perempuan aku pasti sudah menoyor kepalamu," ucap Julian.
merasa malu," ketus Fany dengan sedikit keras.
Para pengunjung yang melintas di sekitar mereka itu melihatnya dan berbisik-bisik. Saat ini mereka berdua menjadi pusat perhatian dari para pengunjung yang melintas, Julian yang merasa menjadi pusak perhatian itu sedikit malu. la pun kembali membawa Fany pergi dari sana dari pada di lihat oleh semua orang.
"Eeeeh ... mau kau bawa kemana lagi aku?" protes Fany.
"Sudah diamlah! Kau terlalu berisik sedari tadi, apa kau tidak malu orang-orang mellihatmu yang terus berisik," jawab Julian dengan membawa pergi Julian.
"Hahaha... ternyata seorang Julian Copers bisa mempunyai rasa malu. Biasanya seorang Julian hanya membuat orang malu dan kesal," sindir Fany karena sikap Julian yang terkadang memang tidak pernah ada habisnya.
__ADS_1
Julian kembali melepas tangannya dan melihat memandang ke arah Fany. "Tentu saja aku masih punya rasa malu. Tidak sepertimu yang selalu berisik dan bertingkah di mana-mana, seperti tadi, kau bertingkah genit dan berebut baju dengan pembeli lainnya."
Fany melototkan kedua matanya, bagaimana bisa Julian tahu, fikirnya. "Kau tahu dari mana?"
"Apa yang tidak aku tahu? Kau memang sangat suka bar-bar di mana pun berada. Kau bahkan ingin menyerang orang itu, kalau aku jadi dirimu juga harusnya malu. Perempuan tidak ada kalem-kalemnya." Kali ini Julian menyindir balik Fany yang tadi sempat bertengkar dengan pengunjung yang lain.
Eemm... bagaimana Julian bisa tahu tentang Fany yang sempat ingin membuat keributan tadi? Tentu saja Julian mendapat kabar dari anak buahnya yang sedang mengawasi Fany dan lainnya, mereka melaporkannya pada Julian melalui pesan singkat yang mereka kirim pada Julian. Mendapat pesan singkat itu, Julian segera mencari ketiga serangkai itu.
Ternyata Julian melintas saat itu bukan karena kebetulan, tetapi karena mendapat laporan dari salah satu anak buahnya. Namun hal yang tidak di duga, Julian melihat saat Fany bertingkah genit pada laki-laki lain. Hal itu membuatnya terbakar api cemburu dan menyeret Fany pergi dari sana untuk ikut dengannya.
"Itu bukan salahku, orang tadi yang mulai duluan. Dia merebut bajuku, tentu saja aku tidak terima. Itu baju aku yang pertama kali melihatnya, kalau kau jadi aku kau juga pasti akan berbuat sama. Bahkan lebih dariku," sengal Fany yang membela dirinya sendiri.
"Kenapa aku harus sama sepertimu? Kalau aku mudah saja, tinggal saja hubungi pembuatnya. Nanti bisa aku minta dengan jumlah yang banyak." Kata-kata Julian sangat enteng. Mengingat siapa dirinya pasti dengan mudah dirinya melakukan itu.
Lagi-lagi mereka kembali berdebat, mereka memperdebatkan hal yang tidak penting sama sekali. Entah sampi kapan mereka akan berdebat, mereka tidak pernah ada habisnya jika urusan berdebat.
"Untuk apa itu semua? Kau mau menjadi penjual menggantikan mereka?"
"Tidak perlu menjadi penjual aku sudah kaya tujuh turunan." Julian sedikit menyombongkan dirinya. Meskipun begitu tetapi ucapannya memang benar adanya, tanpa bekerja Julian juga sudah di kelilingi kekayaan yang t tidak ada habisnya.
"Sombong." Fany melengoskan wajahnya dengan memutar kedua bola matanya malas.
"Kenyataan," Singkat padat dan jelas jawaban dari Julian.
__ADS_1
"Sudah, ayo." Julian kembali membawa Fany pergi dari sana.