Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 312


__ADS_3

Setelah memakan waktu, akhirnya ia berhasil. la berada di tepat samping bangungn yang cukup terbilang besar. Gerald mengambil salah satu tali panjang untuk dirinya naik melewati tembok.


Posisinya sudah aman, karena memang anak buahnya sudah memberikan pintu masuk pada Gerald. la memastikan jika tali yang di lempar tadi sudah tersangkut dengans sempurna, tidak perlu berlama-lama dia pun segera memanjat.


Brugh...


la mendarat di dalam dengan sempurna. "Suara apa itu?" ujar salah satu dari penjaga di sana yang mendengar benda jatuh. Gerald segera bersembunyi sebelum dirinya ketahuan, bisa-bisa gagal dia menjalankan tugas.


"Sebaiknya kita lihat." Para penjaga di sana berlari ke arah sumber suara di maan Gerald mendaratkan dirinya.


Mereka celingukan mencari, tetapi tidak menemukan apa pun di sana. Tentu saja mereka tidak akan menemukan, Gerald sudah bersembunyi dengan cepat. Di tambah lagi jika pakaian yang dia kenakan serba hitam menyatu dengan gelapnya malam.


"Tidak ada apa-apa, apa aku salah dengar?" ujar salah satunya.


Orang-orang itu kembali ke tempat dia stand by tadi, Gerald yang bersembunyi tidak jauh dari sana akhirnya keluar dan segera masuk ke dalam rumah megah itu. Anak buahnya benar-benar sudah menyiapkan dengan rapi. Jadi tidak sulit untuk dirinya, tidak memakan banyak waktu juga untuk menyusup ke dalam rumah itu.


Gerald masuk melalui celah-celah yang terdapat di sana, ia mencari salah satu senjata miliknya untuk dia gunakan. Dua senjata dia gunakan untuk berjaga-jaga jika ada yang mendekat ke arahnya. Ia melanjutkan langkah kakinya dengan wajah santainya.


Melihat ada salah satu yang melintas, Gerald langsung saja menembak ke arah orang tersebut. Orang itu tiba-tiba saja tumbang di tempat begitu saja. Gerald menggunakan peredam suara agar tidak ada suara tembakan yang di hasilkan.


Lagi-lagi Gerald menembak ke arah orang-orang yang ada di sana. Beberapa dari mereka juga terlihat bingung karena tiba-tiba saja teman-temannya itu tergeletak begitu saja. Belum juga orang itu berbicara Gerald kembali menembakkan pelurunya, mereka tewas seketika dengan darah yang bersimbah di sana.


"Aku sudah di dalam. Kau tahu di mana benda itu di letakkan?" ujar Gerald melalui earphone miliknya. la terus melangkahkan kakinya menyusuri setiap sudut di rumah megah itu.


"Sepertinya itu berada di ruangan si pemilik rumah ini, tuan muda. Kami belum bisa menemukan di mana dia menyembunyikannya, "jawabnya dengan jujur.


"Baiklah biar aku yang mencarinya." Kakinya terus melangkah tanpa ada hentinya.


Setiap orang yang ia lihat, Gerald menembaknya begitu saja. Sedikit demi sedikit orang-orang di sana kehilangan nyawanya karena tembakan-tembakan Gerald. Melihat ada orang di depannya, dari belakang Gerald mencekiknya begitu saja. Sekuat tenaga orang itu memberontak, tidak lama kemudian dia sudah kehilangan nyawa.


Gerald menuju ke arah lain untuk menemukan kamar utama pemilik rumah itu.

__ADS_1


"Kenapa mereka semua tertidur? Ap mereka tidak takut jika bos memarahi mereka," ucap dari mereka yang melintas melihat beberapa teman-temannya tergeletak begitu saja.


"Coba kita bangunkan mereka." Mereka mendekat ke arah semua orang yang tergeletak.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian semuanya tidur begini. Bangunlah sebelum bos melihat kalian semua," ucapnya dengan menggoyangkan tubuh tergeletak itu dengan kakinya.


Mereka tidak menunjukkan pergerakan apa pun membuat ke dua orang itu menggedikkan bahunya masing-masing. Melihat tanpa ada respon, mereka pun membalikkan salah satu di antara mereka yang tergeletak di sana. Betapa terkejutnya mereka melihat teman-temannya itu sudah tidak bernyawa, mereka baru menyadari jika ada banyak darah di sana.


"A-apa yang sedang terjadi?"


"Coba kau lihat mereka semua. Sepertinya ada yang tidak beres." Akhirnya satu persatu mereka mengeceknya, dan benar saja semua orang tergeletak itu sudah tidak bernyawa.


"Apa ini? Kenapa mereka tiba-tiba begini? Apa mereka saling bunuh? Atau ada penyusup?"


"Kita harus melihat yang lain." Ke duanya berlari untuk mengecek lainnya.


Banyak dari mereka sudah tergeletak bersimbah Darah. Keterkejutan semakin bertambah, karena tidak sedikit yang tewas mengenaskan begitu saja.


"Sial! Apa yang sedang terjadi? Siapa yang sudah melakukannya!?" pekik salah satu dari mereka.


Tok... tok... tok...


"Bos... bos... ada hal penting yang harus kami laporkan," ujar mereka mengetok pintu dengan kencang.


Bos yang ia panggil itu pun merasa kesal karena kesenangannya bersama dengan wanita itu terganggu begitu saja. "Sial! Kenapa mereka mengganggu kesenanganku."


Rasanya ia sangat enggan membuka pintu, tetapi karena orang-orangnya tidak berhenti mengetok pintu, mau tidak mau dia akan membuka pintu kamar miliknya. "Pakailah pakaianmu."


Wanita yang bersamanya itu merasa lega karena akhirnya dia bisa lepas dari laki-laki kejam itu. Walau hatinya merasa sesak karena kesuciannya di renggut, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin kabur juga sangat sulit.


"Aku sudah katakan jangan ganggu aku!" marahnya, matanya terlihat memerah karena kesenangannya terganggu.

__ADS_1


"M-maaf, Bos. tapi ada yang harus Bos tahu. Banyak dari anggota kita mati begitu saja," jelasnya sebelum bosnya itu semakin marah padanya.


"Semuanya tergeletak dengan banyak darah," sahut dari salah satunya lagi.


"Apa saja yang sudah kalian lakukan, hah!? Bagaimana bisa terjadi? Siapa yang sudah melakukannya !?" benar saja jika bosnya itu pasti akan marah mendengar ini.


"K-kami, tidak tahu, Bos," ujarnya takut.


Tanpa pikir panjang, bosnya itu pun melangkahkan kakinya pergi dan melihat apa yang tengah terjadi. Langkahnya begit lebar dan cepat, dan benar saja jika banyak dari anggotanya tergeletak begitu saja dengan bersimbah darah.


"Bajinga! Siapa yang sudah melakukannya? Apa ada di antara kalian yang melakukannya!?" teriaknya dengan menggelegar.


"Perintahkan mereka semua. Tutup semua akses, jangan biarkan ada dari kalian semua keluar dari sini. Cepat!" anak buahnya itu pun berlari melaksanakan apa yang dia perintahkan.


Berselang beberapa menit kemudian, suara alarm terdengar begitu kencang. Semua akses tertutup secara otomatis, semua anggotanya yang masih tersisa itu berkesiap. Sementara Gerald, dia terlihat tenang di salah satu ruangan yang ada di sana.


Tanpa ada rasa takut sedikit pun, dirinya sedari tadi mencari ke setiap ruangan-ruangan. Siapa tahu jika benda yang di maksud oleh Sean di sembunyikan di tepat lain. Walau alarm tedengar jelas di telinganya, ia tetap bersikap santai.


"Tuan muda, tuan muda. Apa anda baik-baik saja?" tanya anak buahnya melalui earphone.


Tentu saja anak buahnya itu mengkhawatirkan keadaannya, tiba-tiba saja alarm berbunyi dan semua akses tertutup. Takut sekali mereka jika tuan mudanya itu tertangkap begitu saja.


"Aku baik-baik saja. Kau jangan khawatir." Mendengar suara tuan mudanya, ia pun merasa lega karena tidak terjadi apa-apa dengan sang majikan.


"Tuan muda, sebaiknya anda benar-benar berhati-hati. Tempat ini banyak sekali memasang jebakan, saya sudah memanipulasi sistem leser yang terdapat di sini. tapi, anda harus tetap berhati-hati," jelas anak buahnya.


"Kerja bagus. Apa di sini memiliki ruangan rahasia atau ruang bawah tanah?" ucap Gerald yang merasa benda yang ia cari bukan di kamar utama dari pemilik rumah. Tetapi berada di ruangan yang tersembunyi.


"Tugas kalian cari ruangan itu. Aku akan mengurus mereka," titah Gerald.


"Tapi, tuan..."

__ADS_1


"Di sini aku yang memberi kuasa. Cepat lakukan, jangan banyak tapi," tegasnya. Anak buahnya pun mengurungkan niatnya untuk berbicara. Mereka melakukan tugas yang di berikan oleh Gerald.


Sementara Gerald mulai keluar dari persembunyiannya dengan perlahan-lahan. Jangan sampai dirinya tertangkap begitu saja, bisa-bisa dia gagal menjalankan tugasnya.


__ADS_2