Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 135 Season 2


__ADS_3

Selama di sekolah, Jennifer jengah karena hampir semua orang tiba-tiba seperti sangat akrab dengannya. la hanya bisa menghela nafasnya kali ini, inilah yang dirinya tidak suka ketika banyak yang tahu siapa sebenarnya dirinya, ingin rasanya dirinya kembali ke sekolah tempatnya dulu sebelum pindah.


"Hai, Jen. Aku datang ke sini ingin berdamai denganmu. Maafkan aku," ujarnya tiba-tiba datang menghampiri Jennifer.


"Memangnya, kau siapa?" Jennifer menaikkan sebelah alisnya dengan tersenyum sinis padanya.


"Sorry, waktu itu aku ganggu, aku gak tau kalo...."


"Gak tahu kalau aku kakak dari Julian? Begitu?" belum juga dirinya menjawab Jennifer sudah memotong ucapannya.


"Apa begini sikapmu pada orang-orang selama ini? Kau selalu memandang rendah orang-orang. Orang yang kau pandang rendah itu belum tentu jika orang itu rendah, masih ada langit di atas langit." Jelas Jennifer lalu melanjutkan membaca bukunya.


"Aaahh.. ayolah Jen, maafkan aku. Aku janji akan menjadi lebih baik," ucapnya membujuk Jennifer.


"Kenapa kau harus berjanji padaku? Kalau kau memang mau menjadi baik mulai dari dirimu sendiri? Memang apa pengaruhnya padaku?" skak Jennifer padanya.


"Kau bertingkah seperti ini agar kau bisa dekat dengan adikku, bukan?" Jennifer kembali membungkam orang itu. Siapa lagi kalau bukan Cindy, dia benar-benar seperti tidak ada malu.


"Sorry, keluargaku tidak membutuhkan orang-orang sombong sepertimu." Tegas Jennifer lalu meninggalkan kelas dengan membawa tas miliknya. Sudah cukup bosan dirinya berada di sana, sebaiknya dia pulang lebih awal pikirnya.


"Ck, menyebalkan." Kesalnya saat Jennifer tidak peduli dengan dirinya.


"Sabar dulu, La. Kenapa kau tidak meminta bantuan papamu untuk bisa dekat Julian?" ucap salah satu dari mereka.


"Loh... loh... kemana tuan putri? Kenapa tidak ada di kelas, ya?" ucap Fany datang ke sana bersama Thea. Mereka berdua pergi ke kantin dan kembali membawakan Jennifer makanan, saat dirinya kembali Jennifer sudah tidak ada di kelasnya. Yang mereka lihat hanya ada Cindy dan gengnya.


"Cih... pantes saja tuan putriku tiba-tiba tidak ada. Ada penyihir ternyata di sini." Ujar Fany dengan memicingkan bibirnya.


"Heehh... tunggu kalian." Cindy berteriak melihat Fany dan Thea yang ingin kembali ke kantin.


"Mau apa kau?" ketus Fany pada Cindy.

__ADS_1


"Aku hanya meminta bantuanmu, bujukkan Jenni untuk memaafkan ku. Kau tidak keberatan bukan?" ujarnya pada Fany.


"Kau memang tidak tahu malu sekali, kemarin saja meminta papamu mengeluarkannya. Sekarang tahu kalau tuan putriku kakak Julian kau mendekatinya? Kalau aku jadi dirimu aku sudah pindah dari sini karena malu." Jawab Fany yang tidak pernah merasa takut pada siapapun itu, sekalipun dengan Cindy.


"Kalau kau meminta maaf itu yang tulus, bukan karena ada maksud tertentu." Ketusnya kembali pada Cindy. Fany mengajak Thea untuk kembali ke kantin dari pada harus berhadapan dengan Cindy di sana.


Cindy kembali menunjukkan wajah kesalnya. Dia memang sangat berambisi sekali bisa mendapatkan Julian.


Beberapa menit kemudian, Jennifer sudah sampai di markas. Tadinya dirinya akan datang ke sana seusai kelas, tapi karena dia sudah tidak nyaman dengan situasinya dia memutuskan untuk ke sana lebih awal,


Kedatangannya di sambut oleh anak-anak buah sang papi. la berjalan masuk dengan elegannya.


"Kau tidak sekolah, nona?" tanya Riko saat melihat kedatangan Jennifer di sana.


"Aku sangat bosan di sana, uncle. Mereka semua penjilat," jawabnya.


"Hahaha... kau memang seperti papimu, nona muda. Dia tidak berbeda denganmu." Jawab Riko di sana.


"Memangnya ada apa? Coba ceritakan." Ujar Riko pada Jennifer.


"Emmm jadi begitu? Jangan memarahi adikmu, nona. Memang tidak semua permasalahan kau bisa mengatasinya sendiri. Jika aku jadi Julian pasti juga akan bertindak yang sama." Tutur Riko.


"Aku tidak memarahinya, uncle. Tapi aku tidak suka dengan mereka semua, mereka semua penjilat." Jawab Jennifer yang terlihat sangat kesal.


"Sebaiknya kau pergilah latihan untuk menghilangkan rasa kesalmu itu." Usul Riko agar Jennifer kembali mood.


"Apa kak Diva sering datang kemari?" Jennifer sepertinya ingin memancing Riko.


"Dia hampir setiap hari datang ke sini." Jawabnya dengan jujur.


"Kapan kau akan menikahinya? Kau itu sudah bujang lapuk, uncle." Ujar Jennifer yang sangat frontal.

__ADS_1


"Kata-katamu kejam sekali, nona." Riko hanya bisa berdesis mendengar Jennifer yang mengatakan dirinya bujang lapuk.


"Memangnya apa yang salah dari ucapanku? Kau kan memang bujak lapuk."


"Kau memang sangat dingin, tapi sekali berbicara sangat kejam. Bisa pakai bahasa yang lebih halus lagi?" ternyata Jennifer dan Julian tidak ada bedanya. Bedanya kalau Julian orangnya petakilan dan suka jahil, ucapannya pun suka ceplas ceplos seperti Diva. Beda dengan Jennifer, dia dingin, irit bicara. Tapi sekali berbicara sangat menohok.


"Aku tunggu dirimu menjadi keluargaku, uncle. Aku ingin berlatih dulu, byee...." Jennifer memberikan lampu hijau pada Riko dan Diva. Meskipun umur mereka terpaut jauh belasan tahun, tapi itu bukanlah penghalang untuk cinta mereka berdua.


Umur bukanlah satu-satunya patokan dalam cinta, tapi bukti nyatalah yang akan di lihat nanti.


Bugh...


Bughh...


Bughh...


Jennifer berlatih dengan salah satu anak buah Sean di sana. Kemampuannya sudah tidak bisa di ragukan lagi, bela diri dan pembawaan senjata tajam dia sudah menguasai karena ajaran sang papi.


Riko yang melihatnya dari kejauhan pun bangga dengan Jennifer, meskipun dia perempuan, tapi dia cukup tangguh untuk hal seperti ini.


"Jangan bersikap lemah, anggap aku musuhmu. Jangan memandangku sebagai anak majikanmu." Ujar Jennifer pada anak buah Sean. Jelas saja mereka pasti takut jika akan melukai nona mudanya.


Jika Jennifer tidak berkata seperti itu, maka dia tidak bisa merasa kepuasan pada dirinya karena mereka selalu mengalah pada dirinya.


"Aku beritahukan pada kalian semua yang ada di sini. Jika berlatih, anggaplah yang di depanmu adalah musuh. Jangan berpatok dia teman, atau orang yang ada di depan kalian adalah atasan dari kalian. Apa kalian semua mengerti." Ucap Jennifer pada semua anggota papinya yang berada di sana.


"Kami mengerti, nona." Jawab mereka serentak.


"Ayo, lawan aku lagi." Jennifer kembali mengajak anak buah Sean untuk berlatih.


"Kau memang mewarisi sikap papimu, nona." Ujar Riko yang melihat Jennifer persis dengan Sean. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya melihat bagaimana Jennifer dan semua anak buah Sean berlatih di sana.

__ADS_1


Sedangkan di sisi seberang...


Sean frustasi karena sang istri masih ngambek dengan dirinya. Penampilannya terlihat kusut, dasi yang melonggar. Kemeja yang di keluarkan dan rambut acak-acakan saat ini. James yang melihat penampilan Sean itu pun bingung dan bertanya-tanya. Kenapa bisa Sean berpenampilan seperti itu di kantor.


__ADS_2