Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 52 Tuntas - Masa Kehamilan Anara


__ADS_3

"Ana, dengarkan aku. Kau tidak pernah sendiri, disini ada aku dan Diva. Kau juga masih punya mami dan papi. Biarkan mereka mendapatkan ganjaran yang patut. Aku tau kalau mereka sudah merawatmu, tapi kau juga harus ingat bagaimana perlakuan mereka. Kau tidak boleh lemah Ana, kau harus kuat. Istri seorang Sean harus kuat. Baik boleh, tapi jangan menjadi lemah seperti ini." Tutur Sean panjang lebar sambil menangkup wajah Ana yang sudah basah dengan air mata.


"Aku tau jika mereka keluargamu satu-satunya disini, tapi kau juga harus bisa bersikap tegas. Hukum timbal balik itu pasti ada." Sambung Sean lagi. Sean memang bertutur kata lembut, tapi itu sangat tegas.


"Aunty... aunty pernah bilang dulu sama Diva. Kalau memang Diva tidak melakukan kesalahan, Diva harus berani melawannya. Aunty juga harus begitu." Sahut Diva.


"Massak tidak ingat ucapan sendiri." Sambung Diva yang membuat Ana langsung beralih menatap pada Diva. Memang benar yang dikatakan Diva, Ana pernah berkata demikian. Entah mungkin sekarang karena hormon kehamilannya yang membuatnya selalu berubah-ubah mood dan sifat.


"Maafkan aku, Sean." Lirih Ana memeluk kembali tubuh Sean. Mungkin dirinya tersadar mendengar perkataan Diva barusan.


"Tidak apa, aku tau memang ini tidak mudah untukmu." Jawab Sean mengelus surai panjang milik Ana.


"Maafkan aku jika sudah mengejutkanmu dan membuatmu takut tadi." Sambung Sean.


"Ya ampuuuunnn.... Kalau begini terus kapan makannya sih? Diva sudah sangat lapar ini." Sungut Diva yang sudah merasa geram pada uncle dan aunty-nya. Sedari tadi dirinya menahan lapar karena adanya drama tadi. Di tambah dengan uncle dan aunty-nya yang sekarang malah beromantis ria.


Ana dan Sean menoleh kearah Diva. "Maafkan. uncle, ya. Sekarang kita makan, oke."


"Diva sudah menahan lapar dari tadi. Cacing-cacing Diva sudah pada demo di dalam." jar Diva mengelus perut kecilnya.


"Baiklah, nona kecil. Kita makan sekarang," ucap Sean. mereka mendudukkan diri di atas kursi masing-masing.


"Sean... makanan sebanyak ini bagaimana nanti menghabiskannya." Ujar Ana melihat semua hidangan yang tersaji di atas meja makan.


"Kita makan saja dulu. Nanti kita bagikan pada yang lainnya." Jawab Sean. Sepertinya, hatinya sedikit terbuka kali ini. Ana mengangguk menyetujui perkataan Sean barusan. Tidak mungkin juga jika semua makanan itu di buang begitu saja.


Mereka pun memutuskan untuk makan bersama. Tidak lupa juga dengan James yang berada di sana.


Diva memakan makanannya dengan sangat lahap. Dia sangat kelaparan sepertinya, dari tadi harus melihat drama di depannya.


Usai makan malam, sesuai apa yang dikatakan oleh Sean tadi. Semua hidangan yang tersaji di sana di bagikan untuk para maid dan penjaga yang ada di sana.


Mereka merasakan kesenangan dan kebahagiaan yang tidak terkira.


Hingga tengah malam berlalu, Sean menemui anak buahnya yang tengah berjaga dan mengurus semua keluarga paman dan bibi Ana.


"Bagaimana?" Tanya Sean pada anak buahnya.


"Semua beres tuan, kami membawa mereka semua ke kota yang terpencil dan jauh dari sini." Jawab anak. buah Sean.

__ADS_1


"Kerja bagus, kalian tetap pantau keluarga itu. Jangan sampai suatu hari nanti mereka kembali dan membuat ulah." Perintah Sean lagi pada anak buahnya.


"Baik, tuan." Jawab anak buah Sean.


Sean pun kembali masuk ke dalam mension dan menuju kamar miliknya.


.


.


.


7 bulan kemudian...


Kandungan Ana terlihat semakin membesar karena membawa dua bayi sekaligus. Selama itu juga, Sean harus ekstra sabar menghadapi tingkah Ana yang memang suka sekali berubah-ubah moodnya.


Kehidupan sean memang terlihat sangat tenang, tapi siapa sangka jika banyak musuhnya yang ada di luar sana. Sean selalu waspada dan siaga, apa lagi ia sebentar lagi akan mempunyai keturunan. Pasti banyak sekali para musuh dan penjilat yang ada di sekitarnya.


Sampai sekarang, semua orang tidak mengetahui jika Sean sudah menikah, bahkan sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.


Sean sangat menutupi identitasnya maupun Ana.


Setiap sekolah, Diva harus diantarkan oleh sang grandma karena kondisi Ana yang sudah tidak memungkinkan untuk sering keluar. Sean melarang Ana untuk keluar jika tidak bersamanya.


"Ini nyonya, saladnya." Ucap maid yang mengantarkan salad buah pesanan Ana.


"Taruh saja di meja, bi." Ujar Ana.


Ana sering sekali berjalan-jalan di halaman belakang mension, karena memang di sana Ana sangat menyukainya. Taman yang berisi berbagai macam bunga membuatnya tidak bosan.


Ana mendekat kearah meja dan memakan salad buah yang ia pesan pada salah satu maid tadi.


Ana menikmatinya dengan semilir angin yang membuatnya tenang.


"Sepi sekali." Keluh Ana yang memang saat ini mension sedang sangat sepi.


Ana mengambil ponsel miliknya lalu mencari nomor yang ingin ia hubungi. Ana menempelkan ponsel miliknya di telinganya.


"Kau menghubungi siapa?" Ucapnya tiba-tiba dari belakang.

__ADS_1


Ana terkejut mendengar suara pria yang sangat familir untuknya. Tidak mendapat jawaban dari Ana, ia mengambil ponsel pada Ana dan melihat siapa yang dia hubungi.


"Kau menelfonku?" Tanyanya.


"Tadinya iya, tapi kau sudah berada di hadapanku. Apa kau tidak jadi ke kantor?"


"Apa kau merindukanku, hmm?" Bukannya menjawab, justru dia bertanya kembali.


"Tidak, aku hanya kesepian saja. Tidak ada orang di sini," jawab Ana jujur. Sean hanya bisa meringis mendengar jawaban dari Ana. Entah kenapa istrinya itu sangat jujur sekali.


"Aku sudah disini, kau tidak akan kesepian lagi." Jawabnya.


"Jawab pertanyaanku dulu, apa kau tidak jadi ke kantor?"


"Aku sudah di kantor tadi, tapi aku memutuskan untuk pulang dan menemanimu. Tidak ada yang harus aku lakukan di sana." Jawabnya dengan santai.


Dia adalah Sean, dia memutuskan untuk pulang kembali. Belum juga beberapa jam dirinya di kantor, sekarang sudah pulang. Bos memang bebas ya....


"Bagaimana bisa, kau saja pasti yang malas untuk bekerja." Celetuk Ana.


"Tidak, aku tidak malas. Memang tadi semua pekerjaanku sudah selesai, makanya aku pulang menemanimu." Jawab Sean. Bisa-bisanya Ana mengatakan dirinya malas untuk bekerja. Tapi, mungkin memang ada benarnya juga yang di katakana oleh Ana.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa tidak di dalam saja?"


"Aku hanya ingin berolahraga kecil, Sean. Biar otot-ototku tidak kaku jika berdiam diri terus di dalam." Jawab Ana.


"Bagaimana mereka, apa baik-baik saja?"


"Mereka sangat baik, mereka sangat aktif. Sedari tadi menendang terus, sepertinya mereka sedang bermain." Jawab Ana mengusap perutnya yang sudah membesar.


Sean mendekat perlahan kearah Ana dan menyetarakan dirinya dengan perut Ana. "Hallo anak-anak papi. Bagaimana kabar kalian di sana?" Sapa Sean pada kedua calon buah hatinya.


"Cepatlah lahir ke dunia, papi dan mami sudah sangat menunggu kalian." Sambung Sean. Ucapan Sean mendapat sambutan tendangan dari calon buah hatinya.


Sean tertawa kecil melihatnya. "Apa mereka juga


senang di sana?" Sean mendongakkan kepalanya.


Menjadi seorang papi dari dua anak sekaligus.

__ADS_1


__ADS_2