
Seperti biasa jika saat ini Julian berada di markas, mereka melakukan persiapan untuk segera pergi ke luar negeri. Mereka mendapat undangan acara pertemuan besar yang hanya di hadiri oleh para mafia-mafia. Julian berjalan pergi melihat semua persiapan yang sudah selesai, ia memastikan jika tidak ada sedikitpun yang tertinggal.
"Bagaimana dengan semuanya?" suara Julian terdengar saat tiba di sana.
Julian mengambil senjata miliknya lalu melihatnya dengan jeli. "Pastikan jika senjata milikku tidak tertinggal."
Julian kembali melihat-lihat semua persiapan yang ada, cukup puas dengan kinerja anak buahnya, Julian memerintahkan mereka untuk beristirahat sebelum berangkat. Semua yang di sana mematuhi ucapan Julian, hingga tertinggal Julian dan Robert yang ada di ruangan itu.
"Apa kau memberitahunya jika kau akan pergi?"
"Memberitahu siapa maksudmu?" jawab Julian yang seolah tidak tahu.
Robert memutar kedua matanya malas. "Tentu saja Fany. Apa kau ada yang lain selainnya?"
"Jangan menuduh sembarangan atau aku tebas dirimu," jawab Julian sedikit jengkel.
"Memangnya kenapa? Apa kau ada masalah dengannya?" Robert merasa penasaran dengan Julian. Biasanya Julian selalu membuntuti Fany, tapi Julian kali ini sedikit berbeda.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaannya padaku yang sesungguhnya," jawab Julian panjang lebar.
"Hmmm... yaa... itu adalah urusanmu. Aku tidak bisa ikut campur, aku hanya bisa mensupportmu." Robert menepuk lengan Julian dengan pelan.
Sedangkan di sisi lainnya...
"Hah... apa maksudnya. Dia mengatakan aku miliknya tapi dia juga bersama dengan wanita lain hampir setiap hari. Laki-laki memang semua sama saja," gerutunya kesal. Siapa lagi orang itu kalau bukan Fany.
Selama satu minggu ini dirinya melihat Julian dengan wanita lain yang sedang berjalan beriringan dan saling memberikan sedikit candaan. Fany selalu melihatnya walau dalam jarak jauh, mata Fany tidak henti-hentinya untuk memperhatikan.
Sepertinya, Fany sedikit kesal melihat Julian dekat degan wanita lain. "Heh, memang semua orang sama saja. Sebenarnya yang dia inginkan itu yang bagaimana?"
"Semua laki-laki memang tidak cukup dengan satu pasangannya," sambung Fany dengan berkacak pinggag di dekat jendela rumah.
__ADS_1
"Hah, kenapa juga aku harus memperdulikannya. Bukankah itu hal bagus, aku bisa leluasa bebas dan tidak ada yang menggangguku," ujar Fany dengan sedikit terkikik.
Ternyata memang Fany belum bisa menyadari perasaannya pada Julian, entah itu tadi perasaan ia cemburu atau hanya perasaan kesal biasa pada Julian.
Tepat tengah malam, Julian dan anak buah lainnya segera berkesiap untuk pergi. Julian membawa beberapa anak buahnya untuk berjaga-jaga jika terjadi hal tidak di inginkan tadi. Julian masuk ke dalam jet di ikuti dengan yang lainnya, Julian mendudukkan dirinya di kursi yang terkhusus untuknya.
la menimang-nimang ponselnya, Julian mencari nomor Fany di sana. Julian mengetikkan sesuatu lalu dia kembali menghapusnya, ia mengetik kembali lalu menghapusnya lagi. Julian berdesis, dirinya bingung, entah ia harus menghubungi Fany atau tidak.
Cukup lama Julian berikir-pikir, akhirnya Julian memilih menon-aktifkan ponselnya dan kembali memasukkan ke dalam saku celananya. Tanpa menunggu lama, jet itu pun mengudara membelah langit di tengah malam. Julian memilih untuk memejamkan kedua matanya selagi perjalanan masih membutuhkan waktu berjam-jam.
Keesokan harinya....
Hari ini Fany tengah menjalani ulangan hariannya, dengan cepat Fany menyelesaikannya. Ia memberikan pada dosen pengajar dan berjalan keluar meninggalkan kelas, di ikuti oleh satu-satu persatu mahasiswa keluar meninggalkan kelas.
Fany berjalan dan menoleh ke sana ke mari, sepertinya ia sedang mencari seseorang yang tidak dia lihat saat ini. Menoleh ke kanan dan kiri tetapi tidak menemukan apa yang ia cari.
"Kau mencari siapa?" sahutnya lalu tiba-tiba merangkul Fany begitu saja.
"Aku lihat kau seperti mencari seseorang, kau mencari siapa?" tanyanya lagi.
"Memangnya aku sedang mencari siapa? Aku tidak mencari siapa-siapa," elaknya di sana.
"Kau terlihat bohong. Aku sudah mengenalmu sejak kecil, kau tidak bisa membohongiku. Kau sedang mencari Julian kan?" kedua alisnya ia naik turunkan.
"Seperti tidak ada yang lain saja," gumam Fany dengan pelan.
"Kau mengaku saja. Tidak perlu kau tutupi, kau sedang mencari Julian bukan?"
"Diamlah, kau. Jangan ikut campur," ketus Fany.
"Hahaha... ternyata ada yang sedang menyembunyikan perasaannya." Gelak tawanya terdengar mengejek Fany. Fany mencebikkan bibirnya pada orang itu.
__ADS_1
"Apa dia tidak memberitahumu jika dirinya pergi ke luar negeri beberapa waktu?" ia mencoba memancing Fany untuk berbicara. Benar sekali jika dia adalah Robert, dia tidak ikut Julian kali ini.
Wajah Fany terlihat sedikit berubah mendengar ucapan Robert. "Ke luar negeri? Untuk apa?"
"Dia tidak memberitahumu?" Fany menggelengkan kepalanya. Robert hanya memanggut-manggutkan kepalanya.
'Hmm... ternyata dia benar-benar tidak memberitahukan kepergiannya' batin Robert.
"Yasudah terserah dia saja kalau dia pergi tanpa memberitahu, aku juga tidak peduli," ujar Fany dengan raut wajah yang seperti merasa kecewa.
"Apa kau kecewa?" Robert mencoba untuk menggoda Fany.
"Untuk apa? Tidak sama sekali. Sudah pergilah, jangan mengikutiku,” larangnya pada Robert. Fany pun pergi meninggalkan Robert di sana sendiri.
"Hmm... pasangan yang sama-sama gengsi," ucap Robert memandang kepergian Fany. Robert akhirnya juga pergi dari sana ke arah yang berbeda.
Di waktu bersamaan, jet pribadi Julian tengah mendarat mulus di bandara, tepatnya di salah satu bandara Internasional yang ada di Caracas, ibu kota dari Venezuela. Memakan waktu berjam-jam lamanya untuk sampai di sana, negara itu tepatnya berada di Amerika bagian selatan. Julian meregangkan otot-ototnya sebelum turun dari sana.
Tanpa berlama-lama Julian segera turun dari jet pribadinya, kedatangan Julian sudah di sambut oleh beberapa orang di sana. Julian dan beberapa anak buahnya menuju ke tempat mereka menginap, sedikit lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Julian memutuskan untuk beristirahat sejenak di sana selagi masih ada waktu, karena acara yang ia hadiri kebetulan pada malam hari.
Jika di Berlin sudah siang, maka di Caracas masih sangat pagi, karena perbedaan waktu 5 jam lebih cepat waktu berlin.
Sedangkan di sisi Berlin ...
Fany tengah merenungkan dirinya yang saat ini sedang sendiri, entah apa yang membuatnya merenung. Biasanya dirinya sangat cerewet setiap harinya.
"Haaiish... kenapa juga aku terus memikirkannya," gerutunya pada diri sendiri.
"Bukankah sangat senang jika dia tidak menggangguku selama seminggu ini? Walaupun dia pergi ke ujung dunia juga aku tidak perduli," sambungnya. la
merasa dirinya di landa kebingungan, perasaan yang tiba-tiba merasa ada yang kurang.
__ADS_1