Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 86


__ADS_3

"Kau pergi dan carikan aku perhiasan untuk Ana." Perintah Sean.


"Kenapa tidak anda sendiri yang mencarikannya untuk nyonya, tuan? Saya kan tidak tau bagaimana selera nyonya." Ucapnya.


"Kau ajak sana kekasihmu, anggap saja bonus dariku untuk kalian berkencan. Dia pasti bisa memilihkan yang bagus." Ucap Sean padanya.


"Apa boleh?" tanyanya dengan wajah yang sumringah. Sean menjawab dengan anggukan kepala.


"Kau juga carikan jam tangan untuk Diva." Ucap Sean lagi.


"Dan jangan lupa carikan gelang couple untuk twin J ." Sambung Sean. Orang yang mendapat perintah dari Sean itu pun bingung.


"Memangnya untuk apa, tuan?" tanyanya karena penasaran.


"Sudah carikan saja, jangan banyak tanya. Kau setelah dengan wanita itu sepertinya tertular jiwa keponya." Cetus Sean padanya.


"Jika sudah dapat nanti bawa semua barang itu ke markas, berikan pada Riko. Aku akan memberitahu Riko mengenai semua barang itu. Dan beritahu Riko jika aku sendiri yang akan mengambilnya." Perintah Sean panjang kali lebar.


"Baiklah, tuan."


la pun berjalan keluar dari ruangan Sean dan segera mengajak sang kekasih untuk pergi bersamanya.


Coba tebak.... Siapa dia?


Mall...


Mobil yang ia kendarai itu pun akhirnya sampai di salah satu mall keluarga milik Sean. Ia keluar dari dalam mobil.


"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya wanita itu dengan penasaran.


"Tuan menyuruhku untuk mencarikan perhiasan untuk nyonya." Jawabnya dengan jujur.


"Untuk Ana?" tanyanya.


"Kalau tidak buat nyonya Ana, untuk siapa lagi menurutmu?"


"Ya kan siapa tau... biasa saja kali kalo ngomong." Ucapnya tidak kalah sewot. Mereka memang sering kali berbicara dengan nada ngegas, tidak pernah ketinggalan itu.

__ADS_1


"Ayo, kita sekalian mencari makan siang. Kita gunakan kesempatan ini, tuan Sean sudah memberi kita bonus. Anggap saja ini kencan kita, kita tidak setiap hari bisa keluar karena sibuk bekerja." Ajaknya.


"Kenapa tuanmu itu tidak memberikan uang segepok saja, itu kan bonus yang fantastis." Ucapnya sambil berjalan. Memang ya, wanita itu tidak bisa jauh dari namanya uang.


"Kenapa juga tuanmu itu tidak mencarinya sendiri.” Sambungnya.


"Sudah diamlah, anggap saja ini bonus untukmu agar tidak bekerja terus." Potongnya. Karena jika dia membiarkan sang kekasih berbicara, pasti tidak akan pernah ada habisnya. Semua pasti keluar dari mulutnya tidak ada henti-hentinya.


Akhirnya mereka sampai juga di toko perhiasan langganan keluarga Sean.


"Coba carikan perhiasan yang cocok untuk nyonya. Kau pasti tahu." Ucapnya pada wanitanya.


Dia melihat-lihat perhiasan yang pas untuk di kenakan oleh Ana.


Pandangannya tertuju pada kalung dengan desain simpel yang pas di kenakan untuk Ana.


"Aahh... ini. Sepertinya bagus." Tunjukkan setelah sekian lama ia melihat banyaknya perhiasan berjejeran.


"Apa kau yakin?" tanyanya meyakinkan.


"Aku sangat tau, James. Ana orang yang kalem dan sederhana, kalung ini cocok untuknya." Ucapnya meyakinkan.


"Tolong bungkus yang ini." Ucap James menunjukkan kalung yang di pilih oleh Rika tadi.


Pegawai itu pun mengambil dan segera membungkus dengan rapi.


"Harganya 15.899,91 Euro tuan." Ucap pegawai itu.


James memberikan kartu hitam pemberian dari Sean tadi. Rika yang mendengar harganya yang begitu fantastis hanya bisa melongo tidak percaya.


la menghitung dengan jari-jarinya, James yang melihat apa yang di lakukan Rika itu pun bertanya-tanya.


"Kau sedang apa?"


"Aku sedang menghitung harga kalung tadi, apa aku tidak salah dengar? Apa nanti tuanmu itu tidak akan bangkrut?" rentetan pertanyaan di layangkan oleh Rika.


"Hahahaha.... Kau ini ada-ada saja. Apa kau tidak tahu kekayaan dari tuan Sean? Dia tidak akan bangkrut hanya dengan membeli kalung yang hanya seharga enam belas ribu Euro." Ucap James membulatkan harga kalung tersebut.

__ADS_1


"Apa? Uang segitu kau bilang hanya?" Rika melongo tidak percaya. Dia bilang hanya katanya. Rika hanya bisa menggigit jari-jarinya mendengar kata hanya dari James.


Jika di rupiahkan, itu setara dengan Rp. 233.110.255,7 2. Harga yang sangat fantastis untuk seharga satu kalung. Dulu, mata uang Jerman adalah Deutsche Mark (DM, DEM) atau Mar Jerman. Hingga pada tahun 2002, Deutsche Mark di ganti menjadi Euro.


Kalung yang di beli memang pada toko ternama di sana, kalung itu terbuat dari emas kuning 18 karat, dan juga memiliki bandul yang berjejerkan berlian. Kalung itu terlihat elegan, cocok di gunakan untuk Ana.


"Kenapa mukamu seperti itu?" tanya James karena wajah Rika tidak bisa di gambarkan lagi.


"Aku benar-benar syok dengan harganya." Jawabnya.


"Hahaha... sudahlah, jangan di fikirkan. Ayo kita cari yang lain." Ajak James setelah menerima barang yang di pilih tadi.


Mereka pun melanjutkan untuk mencari beberapa barang yang sesuai di perintahkan oleh Sean. Mereka cukup lama berkeliling dalam mall itu.


Setelah mendapat semua barang yang mereka cari, mereka pun memutuskan untuk makan siang berdua.


Makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya sudah berada di hadapannya saat ini.


"Apa benar nanti tuanmu itu tidak akan bangkrut?" Rika masih bertanya masalah harga yang barang-barang tadi. Ia sepertinya merasa takut.


"Kalau bangkrut, berarti kamu yang harus tanggung jawab untuk ganti rugi." Jawab James.


"Kau ini, aku tanya serius denganmu. Jangan tambah menakutiku." Kesalnya pada James.


"Bagiamana aku menakutimu, yang memilih semua barang tadi kan dirimu. Kalau tuan Sean sampai bangkrut kau yang akan menggantinya." James semakin gencar menggoda Rika.


Pasalnya, semua barang-barang tadi adalah pilihan Rika. James tidak begitu faham dengan barang-barang untuk wanita ataupun anak kecil, jadi dia menyuruh Rika untuk memilihkan semua barang itu. Tapi, lagi-lagi barang itu harganya terbilang fantastis hanya seharga satu barang.


"Mau aku bayar apa nanti, uang gajiku selama bertahun-tahun saja tidak sampai segitu. Bisa-bisa aku jadi pembantunya seumur hidupku." Keluh Rika dengan raut wajah yang sedikit kusut.


"Hahaha... kau ini lucu sekali. Aku sudah katakan padamu, tuan Sean tidak akan bangkrut hanya karena harga segitu. Bahkan hartanya tidak akan ada habisnya sampai cucu cicitnya nanti." Jelas James.


"Harga segitu kau bilang hanya? Itu bukan uang mainan yang kau bayarkan." Lagi-lagi Rika mendengar James mengatakan 'hanya segitu'. Rika tidak habis pikir dengan anak buah dan tuannya, entah kekayaannya sebanyak apa. Pikir Rika.


"Sudah lupakan, makanlah. Kalau kau memikirkan harga tadi tidak akan ada habisnya, kita juga harus ke suatu tempat setelah ini." Potong James sebelum Rika berkata lagi.


"Memangnya kita mau ke mana lagi?" Rika merasa penasaran.

__ADS_1


"Nanti kau akan tau." Jawab James lalu memasukkan makanan yang sudah tersaji di depannya. Rika pun memilih untuk makan saja dari pada terus berfikir apa yang membuat fikirannya kacau.


__ADS_2