Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 211


__ADS_3

"Halo, Babe," ucapnya yang tiba-tiba duduk di samping Jennifer yang sedang asik menikmati salad sayurnya. Ketiganya menoleh ke arah seseorang yang baru saja sampai di sana, siapa lagi orang itu kalau bukan Gerald.


"Jangan biarkan orang lain melihat bagian tubuhmu ." Gerald melepaskan sanggul Jennifer hingga rambut panjangnya kembali terurai.


"Bagaimana bisa kau tahu jika kami di sini?" sahut Fany.


Gerald menoleh ke arah Fany. "Tidak sulit untukku menemukan kalian. Di mana pun kalian berada aku pasti tahu."


"Iya deh iya...." Sepertinya, Fany lupa siapa Gerald di sana. Memang tidak sulit jika Gerald bisa dengan mudah menemukan keberadaan mereka.


Gerald menambah pesanan makanan di sana untuk di nikmati dengan yang lainnya, tentu saja membuat Fany senang, karena ia tidak perlu mengeluarkan uangnya terlalu banyak. Sembari menunggu pesanan,


Gerald menatap sekelilingnya. Ia memerhatikan setiap sudut café, ia melihat jika ada beberapa orang yang terlihat mencurigakan.


Gerald hanya tersenyum sinis di sana, karena memang tujuannya datang adalah untuk melihat orang-orang suruhan dari Sisca. Gerald menandai mereka satu persatu kali ini, entah setelah ini apa yang akan di lakukan oleh Gerald pada orang-orang itu dan Sisca yang menjadi dalangnya.


Malam hari....


Julian sedang duduk bersantai dengan melihat TV besar di ruang seperti biasa tempat semuanya berkumpul. Mulutnya tidak henti-hentinya mengunyah, ia sedang asik memakan quark balls. Cemilan tersebut masih dalam keluarga donat, yang membedakannya adalah rasa asamnya.


Cemilan itu juga memerlukan susu, mentega cair, kayu manir, kulit lemon dan tepung jagung atau kentang sebagai bahan tambahan. Semua bahan di bentuk menjadi bDiva-bDiva kecil lalu di goreng sampai berwarna golden brown. Pipinya mengembung karena ia memakan dua sekaligus dalam sekali lahapan.


Kriing...


Kriiing...


Suara dering telfonnya terdengar dengan nyaring, ia pun mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa yang sudah menghubunginya.


"Kenapa kau menghubungiku, hah? Apa kau tidak tahu kalau aku sedang makan," sengalnya karena aktifitas makan dan nontonnya terganggu oleh deringan ponselnya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan Muda. Tapi saya memberitahu jika ada masalah dalam pengiriman senjata kemarin," ujarnya dari seberang sana.


Julian pun melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. "Bukankah aku sudah mengatakan kemarin, kalian akan emndapat hukuman jika pengiriman gagal."


"Maaf, Tuan Muda. Tapi ada yang berusaha menggagalkan kami saat di tengah-tengah jalan," jawabnya lagi. Julian pun berdesis dan memutuskan panggilan secara sepihak. Ia pun bergegas mengambil jaket kulitnya dan segera bergegas untuk pergi ke markas.


Julian melajukan motor sportnya dengan kecepatan di atas rata-rata, dia memang lebih suka mengendarai motor sport dari pada mobil. Mobil miliknya masih tersimpan rapi di tempatnya, hanya sesekali Julian menggunakannya. Satu jam perjalanan, Julian sampai di markas, ia pun langsung saja masuk ke dalam.


"Bagaimana pengiriman senjata?" tanyanya to the point pada salah satu anak buahnya.


"Maafkan kami, Tuan Muda. Di tengah-tengah perjalanan ada yang mencoba menggagalkan kami, untung saja anak buah lainnya berhasil membeguknya dan membawa kemari. Pengiriman tetap di lanjutkan," terangnya.


"Bawa aku menemui orang itu," pinta Julian. Anak buahnya pun mengantarkannya untuk ke ruang bawah tanah seperti biasa tempat untuk semua tawanan atau eksekusi.


Setibanya dia sana, terdapat sekitar lima orang yang tengah berada di satu ruang yang sama. Mereka masing-masing sudah terikat tangan dan kakinya. Julian memandang dengan tatapan dinginnya pada orang-orang itu.


"Apa kalian semua berhasil? Sepertinya kalian tidak berhasil karena aku melihat kalian berada di sini. Kasihan sekali, ck,ck ck." Julian menggeleng kecil dengan sedikit meremehkan orang-orang yang ingin menggagalkan pengiriman senjatanya. Tentu saja dia menunjukkan wajah tengilnya di hadapan mereka.


"Kalau kalian tidak mampu, sebaiknya jangan membuat kelompok. Kalau aku menjadi dirimu mungkin malu," sambungnya lagi.


"Jangan pernah menghina kami!" teriaknya di depan Julian.


"Aku? Menghina kalian? Aku hanya berbicara sesuai fakta, kalian memang miskin, lebih lagi kalian juga sangat payah." Lagi-lagi Julian meremehkan orang-orang itu dengan gaya tengilnya. Memang tidak bisa di hilangkan sifat tengilnya, bahkan di saat penyerangan pun ketengilannya tidak hilang.


"Diamlah!" teriaknya lagi.


"Waahh... aku sangat terkejut dengan teriakanmu." Julian meletakkan telapak tangannya tepat di dadanya seperti orang terkejut pada umumnya. Padahal tadi dirinya menatap mereka dengan tatapan dingin, tetapi tetap saja ia masih bersikap tengil.


Semua anak buahnya yang ada di sana sudah tidak heran lagi dengan Julian yang seperti itu.

__ADS_1


"Kau terlihat sekali seperti banci, bagaimana bisa kau bisa menjadi ketua mafia. Kau lebih pantas berdandan seperti wanita dan menyanyikan lagu di sepanjang jalan," sahut salah satu di antara mereka dengan berani menghina Julian.


"Hah, benarkah? Mungkin aku lebih cantik mengalahi wanita yang sesungguhnya jika berdandan," ujar Julian yang menanggapi ucapan dari salah satu orang-orang itu.


Julian masih ingin bermain-main dengan orang-orang yang juga bermain-main dengannya, Julian bersikap santai terlebih dulu sebelum menunjukkan taringnya.


"Aaahh... apa kalian ingin mencoba senjataku, mungkin kalian ingin mencobanya," ujar Julian dengan menunjukkan wajahnya yang sumringah.


"Ambilkan aku senjata terbaru kita," pinta Julian pada anak buahnya. Tanpa berlama-lama, anak buahnya membawakan senjata terbaru yang di minta Julian.


Senjata itulah yang tengah di kirimkan oleh Julian ke kelompok yang memesan padanya. Julian mengangkat senjata itu dengan dua tangannya untuk menunjukkan pada orang-orang yang tengah menjadi sanderanya. Anak buah Julian sudah mewanti-wanti, pasti setelah ini akan terjadi hal-hal yang tidak di duga dari Julian.


"Bagus bukan? Apa kalian ingin mencobanya?" Julian mengisi peluru pada senjata miliknya, setelah itu, Julian mengarahkan senjata itu pada salah satu di antara mereka semua.


"Apa kalian takut?" Julian melihat orang-orang itu yang seperti menahan takut.


"Haaahh... padahal aku tidak berbuat apa-apa," ujarnya lalu menurunkan senjatanya lagi.


"Di mana suara kalian tadi? Kenapa kalian mendadak diam seperti itu?" Julian mencoba memancing kembali orang-orang itu untuk berbicara.


"Aaah... aku tahu. Kalian pasti sudah tidak sabar ingin mencoba senjataku ini, bukan?" wajahnya terlihat seperti psikopat berdarah dingin.


"Baiklah." Julian kembali mengankat senjatanya.


Dorr... dorr....


Doorr... dor...


Dor...

__ADS_1


Masing-masing dari mereka mendapat tembakan dari Julian. Teriakan demi teriakan mulai terdengar dari mereka.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan kami!" teriaknya menahan sakit karena tembakan dari Julian. Peluru itu meluncur dengan kecepatan kilat.


__ADS_2