
Tepat pada malam harinya, Gerald bersiap untuk segera berangkat. Ia sudah bersiap dengan memakai pakaian serba hitamnya. Semua perlengkapan dan senjata lengkap sudah ia masukkan ke dalam ransel.
"Apa anda yakin untuk pergi sendiri, Tuan Muda?"
"Kau tenang saja, aku akan baik-baik saja." Gerald menepuk pundak anak buahnya lalu melangkahkan kakinya pergi dari rumah.
Dia benar-benar pergi seorang diri tanpa di temani oleh anak buahnya sama sekali. Lagi pula di lokasi sudah ada beberapa anak buahnya yang mengawasi tempat tersebut. Gerald memilih pergi dengan menggunakan motor sportnya yang sudah lama nganggur di garasi rumahnya.
la sengaja membawa motor sportnya agar lebih cepat untuk sampai. Mengingat lokasi yang di sebutkan juga memiliki akses jalan yang tidak mudah. Tanpa pikir panjang ia pun melajukan motornya dengan kecepatan penuh.
Menempuh perjalanan selama dua jam, Gerald sudah memasuki hutan. Terlihat gelap tanpa ada penerangan jalan sedikit pun, pencahayaan hanya berasal dari motor sport yang ia kendarai. Ia memberhentikan motor sport miliknya dan menyambungkan earphone miliknya untuk menghubungi anak buahnya.
"Bagaimana di sana?" tanyanya saat panggilan terhubung.
"Sama seperti biasa, tuan muda. Mereka hanya melakukan aktifitas seperti biasa, "lapornya.
"Kau sudah lakukan apa yang aku suruh?"
"Sudah, tuan muda. Anda bisa masuk melalui sisi kiri. Di mana anda sekarang saat ini?"
"Aku sudah berada di hutan. Apa masih jauh lagi?"
"Anda cukup berjalan lurus, tuan muda. Jika bisa, sebaiknya anda mulai berjalan kaki. Jalanan menuju ke sini hanya bisa di lalu dengan berjalan kaki. Tempat di sini juga terdapat banyak batu besar yang menutup jalan," jelasnya di seberang sana.
"Baiklah. Aku akan berjalan ke sana." Gerald memutuskan panggilannya.
Gerald membawa motornya untuk masuk sedikit lagi ke dalam hutan, setelah menemukan tempat yang tepat, ia meninggalkan motor miliknya di sana. Gerald mulai berjalan menuju ke satu bangunan yang terdapat di tengah-tengah hutan itu. Benar sekali jika jalan yang di lalui hanya bisa di gunakan untuk berjalan kaki, belum lagi banyak batu dan tanjakan-tanjakan kaki di sana.
Gerald berjalan lurus sesuai dengan apa yang di katakan oleh anak buahnya padanya. Membutuhkan waktu 30 menit lamanya akhirnya Gerald sampai di tempat yang di maksud itu. Terlihat bangunan megah dengan lampu sedikit redup sebagai pencahayaan.
Bangunan itu di atas gundukan seperti bukit, tetapi itu tidak tinggi, hanya berkisar 10 meter. Gerald menatap bangunan itu dari bawah, memang terlihat beberapa orang yang berjaga-jaga di sana.
"Apa karena akses jalan ini Papi tidak datang ke mari, tapi tidak mungkin itu alasannya," gumam Gerald pelan setelah tahu bagaimana situasi dan kondisi perjalanan menuju tempat itu.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa orang-orang di dalam sana, apa hubungan Papi dengan mereka? Alasan apa juga yang membuat papi tidak bisa mengambil berkas penting itu?" sambungnya. Benar-benar dirinya merasa penasaran
Gerald sungguh penasaran saat ini, Sean juga tidak memberitahunya siapa yang tengah mengambil surah berharga miliknya.
"Aku sudah berada di lokasi," ucap Gerald melalui earphone-nya.
"Hati-hati, tuan muda. Menuju ke dalam terdapat banyak jebakan, tuan muda harus fokus. Saya dan lainnya akan menunggu anda di sini," jelasnya lagi.
"Baiklah, aku akan berhati-hati." Gerald memutuskan panggilannya dan melangkah menuju gedung yang ada di hadapannya saat ini.
Membutuhkan sedikit kesabaran untuk bisa mendekat ke gedung besar itu. Gedung itu merupakan bangunan rumah mewah, entah itu rumah atau markas. Dengan langkah penuh hati-hati dirinya berjalan, tidak akan lupa pesan yang di katakan oleh anak buahnya padanya.
Klek...
"Shi*t!!" hampir saja Gerald menginjak salah satu jebakan yang ada di sana. Beruntung dia masih belum benar-benar menginjaknya. Keadaan terbilang gelap, jadi dirinya juga harus berhati-hati dan memperhatikan langkah.
"Usaha yang bagus untuk mereka mencegah banyaknya penyusup." Setelah mengatakan itu, dirinya kembali untuk melangkahkan kakinya untuk segera sampai di tempat tersebut.
"Bukankah bagus jika mereka akan segera menikah?" ucap Fany. Dua pasang anak muda itu kini sedang bersama, Julian menceritakan kegalauan dirinya pada Fany.
"Huuh... aku belum siap berpisah dengannya," jawabnya dengan lesu.
"Siap tidak siap kau harus siap jika itu sudah waktunya, apa kau tidak kasihan pada mereka? Mereka sudah lama bertunangan, memang sudah waktunya mereka menikah," tutur Fany.
"Aku tahu itu, tapi rasanya mendadak sekali. Perasaan aku dan dia baru saja kemarin lulus sekolah."
Perasaan sesama saudara kembar memang tidak bisa berbohong, jangankan saudara kembar, saudara kandung berjarak beberapa tahun pun pasti juga akan merasa sedih jika akan berpisah. Namun memang semua ada masanya.
"Harusnya kau senang dengan kabar bahagia ini. Mereka berdua pasti juga menantikan momen bahagia ini. Kau tidak perlu memasang wajah sedih, bukankah kau masih ada aku? Teman-teman gilamu itu juga pasti selalu ada untukmu," celetuk Fany dengan santainya.
Teman-teman gila yang di maksud siapa lagi kalau bukan Marcus dan Reiner, mungkin ada dendam peribadi dirinya dengan mereka. Fany juga tidak sadar, terkadang dia juga lebih gila dan suka bar-bar sikapnya.
"Teman-teman gilaku?" Julian mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Iya... kan hanya kau yang mempunyai teman-teman gila seperti mereka berdua," jawab Fany lagi.
"Iya, mereka memang gila, hanya aku yang waras," ucap Julian. Waras apanya? Justru dia sendiri yang paling menggila di antara ke dua temannya.
"Iya... memang hanya kau yang waras. Tapi kau yang membuat semua orang gila," celetuk Fany. Terkadang mulut Fany juga tidak bisa di rem, sama halnya dengan Julian. Mereka juga hampir memiliki sikap yang sama.
"Apakah ada yang gila karenaku?" seketika Julian lupa akan kesedihannya mengenai kabar pernikahan saudari kembarnya.
"Banyak. Coba saja kau lihat, pasti banyak dari mereka yang seperti kesetanan karenamu." Dia benar-benar blak-blakan berbicara dengan Julian. la mengungkapkan bagaimana tingkah Julian selama ini.
"Kau pernah melihat mereka kesetanan?" entah kenapa tiba-tiba saja mereka berbicara random, pembahasan utama mereka terlupakan begitu saja.
"Aku setiap hari melihatnya, apa kau tidak sadar?"
Julian menyipitkan ke dua matanya ke arah Fany, Fany yang melihatnya itu pun menatapnya sinis. "Apa!?"
"Kau pasti diam-diam mengawasiku, kan?" seloroh Julian yang membuat Fany menaik turunkan pandangannya pada Julian. Buat apa juga dirinya mengawasi Julian diam-diam, tanpa mengawasi diam-diam juga pasti Fany tahu bagaiman tingkah Julian yang terbilang random.
"Untuk apa aku mengawasimu kalau kau selalu tiba-tiba muncul di hadapanku?"
"Kau tidak perlu malu di depanku, mengaku saja. Kau setiap hari pasti mengawasiku kan? Tenang saja, aku tidak akan berbuat yang macam-macam." Julian mengedipkan satu matanya. Bersama Fany dia akan lupa segalanya.
"Hilangkan percaya dirimu itu. Ingin sekali aku mencabik-cabik dirimu." Baru saja dia mengatakan banyak yang kesetanan dengan tingkah Julian, sekarang dia sendiri yang menjadi salah satu dari mereka.
"Percaya diri itu..."
Belum juga melanjutkan pembicaraan Fany sudah menyumpal mulut Julian dengan mekanan miliknya. Kalau tidak begitu Julian tidak akan diam.
"Sebaiknya kau diam!"
Julian ingin membalas ucapan Fany walau mulutnya penuh dengan makanan, tetapi belum juga berbicara Fany sudah menyelanya.
"Diam! Atau aku buat kau diam selamanya!" Julian menahan tawanya melihat Fany yang kesal padanya. Begitulah kalau mereka sedang bersama, awalnya membicarakan hal serius, pasti nanti ujung-ujungnya akan berakhir random.
__ADS_1