Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 310


__ADS_3

Ke dua teman Julian bergegas duduk ikut nimbrung bersama dengan Julian. Mereka juga tidak kalah terkejut dan antusias ingin mendengar bagaimana cerita selanjutnya.


"Bagaimana kelanjutannya. Ceritakan pada kami." Mereka sudah tidak sabar untuk mendengarkan cerita Julian.


"Aku tidak tahu. Papi hanya mengatakan padaku jika mereka akan menikah di waktu dekat," jawabnya dengan sangat malas. Dia benar-benar seperti sadboy kali ini, antara belum siap dan tidak siap jika kakak kembarannya itu menikah cepat.


"Tapi, bukannya harusnya bagus jika mereka menikah cepat? Tidak baik kalau lama-lama menunda, Jennifer terlalu sempurna. Pasti banyak pria di luar sana yang mengincarnya. Kalau saja dia tidak dengan Gerald sudah aku ajak nikah dia dari dulu," celetuk Marcus yang mengangumi kesempurnaan pada diri Jennifer.


Blagh...


Reiner menabok Marcus yang berbicara ngelantur,“ Bangun dari tidurmu. Mana mau Jennifer dengan orang sepertimu."


"Kan aku hanya berandai-andai, siapa tahu takdir menyatukanku dan Jen, kan," ucapnya lagi. Memang dirinya dan Julian tidak ada bedanya.


Kembali lagi kali ini Reiner menonyor kepala Marcus. Sementara Julian tidak bersemangat dalam menjalani harinya.


"Berandai-andaimu terlalu tinggi. Sadarlah, sebelum Gerald membuangmu ke kutub utara." Reiner tidak setuju dengan kehaluan dari Marcus. Circle pertemanan memang terkadang tidak jauh-jauh dari kehaluan dari salah satunya.


Marcus mencebikkan bibirnya di sana. Apa yang di katakan olehnya hanyalah sebuah candaan, dia hanya mengagumi kesempurnaan yang di miliki oleh Jennifer. Mana berani dia mendekati wanita yang sudah memiliki pasangan, apa lagi itu milik temannya sendiri.


"Bagaimana kelanjutannya? Apa setelah itu mereka tidak akan tinggal di sini lagi?" tanya Reiner penuh dengan rasa penasaran.


Julian hanya menggelengkan kepalanya dengan galaunya. Benar-benar seperti sadboy yang baru saja di tolak cintanya.


Meninggalkan Julian yang tiba-tiba menjadi sadboy, kini kita beralih ke sisi lain. Tepatnya di sisi Gerald yang tengah berdiri memandang jauh ke depan. Sedari malam dia seperti banyak yang sedang di pikirkan.


"Tuan Muda," sapa anak buahnya.


"Kami sudah menemukan di mana letak tempat yang anda maksud," sambungnya. Gerald membalikkan badannya ke arah anak buahnya.


"Bagaimana di sana?"

__ADS_1


"Cukup ketat, Tuan Muda. Penjagaan di sana bisa di bilang lumayan. Apa Tuan Muda yakin untuk ke sana sendiri? Sebaiknya Tuan Muda membawa beberapa anak buah kita untuk ke sana," terang anak buahnya itu.


"Tidak perlu, aku akan datang ke sana sendiri. Ini adalah tugas untukku," tolak Gerald.


"Tapi, Tuan Muda, apa tidak terlalu bahaya? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Anda?" terlihat jika anak buahnya mengkhawatirkan dirinya. Entah apa yang akan di lakukan oleh Gerald, di lihat dari kekhawatiran anak buahnya, sepertinya situasi sedikit sulit akan di hadapi olehnya.


"Kau tenang saja. Aku akan kembali dengan selamat. Untuk sekarang kalian awasi tempat itu, laporkan padaku suasana di sana setiap jamnya," ujarnya lagi. Mendengar penolakan dari tuannya itu, anak buahnya tidak memaksakan kehendak dari Gerald lagi.


Cukup mereka memenuhi perintah dari sang tuan saja. Anak buahnya itu pun mengiyakan apa yang di katakan oleh Gerald. Ia memutuskan kembali dan melanjutkan tugasnya.


Gerald kembali berdiam diri di atas balkon yang ada di rumahnya dengan ke dua tangannya ia lipat. Ia kembali berpikir dengan apa yang akan ia lakukan nanti. la memikirkan apa yang di ucapkan oleh calon mertuanya padanya kemarin.


Kembali di waktu kemarin ...


"Kau kembalilah ke kamarmu lebih dulu, Boy," pinta Sean pada Julian yang baru saja ikut bergabung di sana.


"Kenapa? Jul kan ingin tahu apa yang kalian bahas selanjutnya. Jul tidak mau ketinggalan, Jul juga ingin tahu kelanjutan pernikahan yang kalian bicarakan," tolak Julian. Ia sangat ingin tahu mengenai pembahasan masalah pernikahan antara kembarannya itu dan teman dekatnya.


"Apa yang harus Gerald lakukan untuk meyakinkan Papi?"


"Bukannya Papi tidak yakin dengan keputusanmu itu, Boy. Tapi Papi ingin melihat jika kau benar-benar dengan keputusan yang kau buat, papi tidak mau jika keputusanmu itu hanya main-main," terang Sean agar calon menantunya itu tidak salah paham dengan dirinya.


"Gerald tahu, Pi," jawabnya.


"Ada tugas yang harus kau lakukan sebelum menikahi putri Papi." Gerald mulai mengerutkan keningnya, semoga saja apa yang akan di lakukannya tidak memberatkannya.


"Tugasmu adalah, kau harus bisa merebut kembali surat berharga dari kelompok Papi yang pernah di rebut oleh salah satu kelompok, kelompok tersebut bisa di bilang serakah." Sean mulai mengatakan maksud dan tujuannya di sana.


"Surat? Memangnya itu surat apa, Pi? Apa itu sangat penting?" Gerald merasa penasaran dari surat tersebut.


"Itu salah satu surat penting yang pernah mereka ambil. Untuk isinya, Papi tidak bisa memberitahumu sekarang. Papi akan memberitahumu nanti jika kau sudah berhasil merebutnya kembali," terang Sean.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tahu jika itu surat milik Papi?” Gerald sedikit bingung. Bagaimana nanti dirinya bisa tahu jenis surat yang dia ambil jika dia sendiri tidak di beri tahu surat apa yang di maksud.


"Kau hanya perlu mencari surat itu dalam wadah berwarna emas. Di sana nanti kau akan melihat logo dari kelompok Papi," jelas Sean lagi.


"Jika itu milik kelompok Papi, Kenapa bukan Julian yang mengambilnya atau Papi sendiri yang mengambil surat itu? Bukankah itu hak kalian?"


"Julian tidak tahu akan hal ini, Son. Mereka sudah mengambilnya sejak lama, dan ada alasan tertentu untuk Papi tidak bisa merebutnya kembali."


Sepertinya Sean menyimpan sesuatu yang tidak di ketahui oleh Julian atau Jennifer. Entah apa alasan dirinya tidak memberitahu ke dua anaknya, justru dia meminta calon menantunya untuk mengambil surat berharga itu.


"Di mana tempat itu, Pi?" Melihat keseriusan Gerald membuat hati Sean senang. Ternyata calon menantunya itu tidak main-main dengan apa yang dia ucapkan.


"Tempat itu masih di sini, tetapi jarak untuk datang ke sana terbilang jauh. Tempat itu juga berada di tengah-tengah hutan, akses menuju kesana juga terbilang tidak mudah. Kau tahu hutan Grunewald?"


"Di sanalah tempatnya berada. Kau ada waktu tiga hari," sambung Sean.


"Aku akan melakukannya, Pi. Apa pun dan di mana pun tempat itu aku akan datang ke sana untuk mengambilnya." Dengan penuh keyakinan Gerald menyetujui apa yang di katakan oleh Sean.


"Papi percayakan padamu, Son. Kau harus kembali dengan selamat dan tanpa luka sedikit pun." Walau bagaimana pun Sean tetap peduli dengan keselamatan Gerald nanti.


Gerald mengangguk mengiyakan, "Baiklah, Pi. Aku berjanji jika aku akan kembali tanpa luka," jawabnya dengan penuh keyakinan.


Sebelum pernikahan putrinya dan Gerald, Sean meminta Gerald untuk mengambil berkas berharga memilikinya yang telah lama di curi. Bukan maksud tujuan lain, Sean juga ingin menguji apakah memang apa yang di ucapkan Gerald itu sungguh-sungguh. Dengan menjalankan tugas darinya nanti, Sean bisa melihat bagaimana usaha Gerald.


Bukan tidak percaya dengan bagaimana Gerald, tentu Sean ingin memastikan jika nanti putrinya akan mendapat orang yang benar-benar di percaya.


Kembali di masa sekarang...


"Huuh... demi dirimu aku akan melakukan apa saja, Babe. Walau pun nanti apa yang aku lakukan tidak mudah, semua hanya untukmu." Napas panjangnya terdengar hingga ke telinga.


Tugas yang ia terima sepertinya akan sedikit sulit, tetapi Gerald tidak mau menolak begitu saja. Apa saja akan dia lakukan untuk bisa hidup bersama dengan Jennifer di masa mendatang.

__ADS_1


__ADS_2