Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 90


__ADS_3

"Tidak akan. Kau tenang saja. Aku pastikan nanti dia tidak akan bisa berkutik lagi." Jawabnya dengan sangat yakin.


"Baiklah tuan. Kami akan selalu siap dengan perintah yang anda katakan nanti." Ucapnya membungkukkan badannya sedikit pada Leon.


Tak lama kemudian anak buah Leon keluar membiarkan Leon berada di ruangan miliknya.


Meninggalkan Leon, kita beralih lagi ke sisi mension utama keluarga Sean.


Diva sedang bermain dengan Jennifer berdua. Julian jarang sekali untuk ikut bergabung. Jika nanti Julian berada di sana, pasti Julian yang akan membuat usil dan membuyarkan permainan mereka.


Diva meniup balon untuknya bermain dengan Jennifer. Jennifer memandang Diva dengan ekspresinya menirukan Diva meniup balon yang sudah membesar.


Saat balon itu sudah membesar, tiba-tiba saja balon itu meletus dengan kencangnya.


Jennifer dan Diva terkejut balon di depannya meletus begitu saja.


"Astaga... mulutku rasanya seperti kena sentilan." Pekik Diva.


Jennifer tertawa dengan renyah melihat Diva yang terpekik kaget seperti itu.


Diva mengusap-usap bibirnya pelan untuk mengurangi rasa sakitnya karena balon itu meletus tepat di bibirnya.


"Kau bahagia sekali Jen." Ucap Diva sedikit memelas.


Julian yang mendengar tawa Jennifer itu pun penasaran dan datang mendekat.


Setibanya di sana, ia menarik rambut Jennifer hingga dirinya jatuh ke kebelakang karena tarikan dari Julian.


"Eehh... eehh... aunty... Ijul nakal." Teriak Diva memanggil Ana.


Diva menolong Jennifer yang terjatuh, ia menangis karena terbentur lantai.


"Ada apa Diva?" Ana berlari mendekat ke arah tempat Diva bermain.


Ana melihat Jennifer yang menangis dengan kencang, Julian hanya memandang sang kakak yang menangis.


"Ini anak mami kenapa?" tanya Ana mengambil alih Jennifer ke dalam gendongannya.


"Ijul tadi menarik rambut Jenni, jadi Jenni terjungkal kebelakang dan membentur lantai." Ucap Diva dengan jujur.

__ADS_1


"Julian... gak boleh nakan dengan kakaknya ya. Yang akur, main sama-sama dengan kak Diva dan kak Jen." Ana mencoba menenangkan Jennifer dan mengelap air matanya.


"Ada apa Ana?" tanya mami Sean mendekat karena mendengar Jennifer yang menangis dengan kencang.


"Julian tarik rambut Jenni, mi." Jawab Ana yang masih terus menenangkan tangisan Jennifer.


"Jenni terjungkal kebelakang karena Julian menarik rambut Jenni." Diva menambahi jawaban dari sang aunty.


"Sudah tenangkan dulu, biar Julian mami yang urus."


Mami Sean berjongkok dan menyetarakan tinggi badannya dengan Julian.


"Juliaan, tidak boleh nakal ya. Kasihan kakaknya terjatuh, kalau Julian ikut bermain boleh kok." Ucap mami Sean lembut pada Julian agar tidak menangis.


Julian hanya menggelengkan kepalanya cepat.


Jennifer masih saja menangis belum berhenti. Dia menunjuk ke arah Julian yang hanya diam.


"Papi marah nanti, awas ya Jul." Diva mencoba menakut-nakuti Julian.


Pukk...


Lagi-lagi Diva mendapat pukulan di wajahnya cukup keras oleh Julian.


Mami Sean tidak bisa marah pada Julian, bagaimana pun mereka memang masih kecil dan belum tahu apa-apa. Tingkah Julian sekarang persis dengan masa kecil Sean. Jadi, mami Sean tidak pernah kaget dan marah pada Julian yang sekarang merupakan copy-an dari sang papi.


Mami Sean mengajak Julian ke luar dan duduk di gazebo yang ada di halaman depan.


"Julian, kau sangat persis dengan papimu waktu dulu. Dia sama sepertimu, sering berbuat jahil pada kakanya." Ucap mami Sean.


Mami Sean mendudukkan Julian di sampingnya." Aaaa...." Julian duduk dan menggelengkan kepalanya cepat.


Mami Sean merasa gemmas dengan tingkah sang cucu yang memang pada masa aktif-aktifnya. Ternyata,


tingkah Julian memang bawaan dari sang papi dulu. Ternyata Sean yang sekarang bersikap dingin dulu juga merupakan Sean yang jahil dan tidak mau diam.


Entah nanti bagaimana Julian jika dewasa, entah dia bersikap dingin seperti Sean sekarang, atau nanti justru sebaliknya.


"Jenni kenapa nangis begitu, Mi?" tanya papi Sean yang tiba-tiba saja bergabung di sana dengan mami Sean dan juga Julian.

__ADS_1


"Biasa, Pi, anak-anak. Diva kata tadi Julian menarik rambut Jenni sampai terjungkal kebelakang." Jawab mami Sean.


"Ternyata cucu grandpa sangat jahil, ya." Ucap papi Sean duduk di sebelah Julian.


Julian hanya menggeleng cepat lalu menunjukkan kedua giginya dengan gemmas.


"Kau memang sama seperti papimu, Jul. Dia dulu juga sangat jahil pada kakaknya." Ucap papi Sean mengingat bagaimana dulu jahilnya Sean dengan sang kakak.


Tapi, entah kenapa waktu mulai beranjak besar sikap Sean berubah menjadi banyak diam dan sangat dingin.


Mereka bermain dengan Julian di luar dan Ana sedang menenangkan Jennifer di dalam.


Malam harinya...


Setelah makan malam, mereka berkumpul seperti biasa. Itu merupakan aktifitas yang tidak bisa di tinggalkan dalam keluarga Sean.


Kali ini Diva sedang belajar dan di temani oleh Jennifer yang ikut mencoret-coret di buku bergambar yang di sediakan untuknya. Jennifer cukup tenang jika bersama Diva, kalau Julian mungkin semuanya sudah di buat berantakan.


Julian yang berada di pangkuan Ana meronta-ronta untuk turun, ia ingin bergabung dengan Diva dan Jennifer yang berada di bawah lantai itu.


Ana yang menurunkan Julian yang sudah meronta-ronta di pangkuannya, ia mendekat ke arah Jennifer dan mengambil buku yang ia coret-coret itu.


"Eee... paapi, paapi." Jennifer mencoba mengadu pada sang papi. Dia lebih mengadu ke papinya dari pada sang mami.


"Juuul... kasihkan ke kakak." Sean mendekat dan mencoba mengambil buku yang ada di tangan Julian. Julian menjauhkan bukunya dari jangkauan Sean, ia membawa buku itu mendekat pada Ana.


"Aaa... paapiii... paaapii..." Jennifer merengek menunjuk buku yang di bawa oleh Julian.


"Juull... sini sayang, bukunya kasih ke kakak." Ana mencoba membujuk Julian. Julian tidak menghiraukan panggilan Ana. Ia membolak-balikkan buku yang bergambar yang sudah di coret-coret oleh Jennifer.


Jennifer yang berada di sana melengkungkan bibirnya ke bawah ingin menangis, matanya mulai berkaca-kaca.


"Hadeehh.... Ijul itu memang sangat nakal, uncle. Tadi siang saja Jenni rambutnya di tarik sampai terjungkal kebelakang dia. Entah kenapa dia, sejak menarik ekor Alpaca dia sangat jahil seterusnya." Diva mengadu pada Sean.


"Julian sama seperti papinya dulu. Papinya juga


sangat jahil." Sahut mami Sean.


Sean yang mendengar sahutan sang mami hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Mami tidak usah mengada-ada." Sepertinya, ia tidak mau jika aibnya nanti di buka di hadapan istrinya.

__ADS_1


"Ayo ikut papi. Papi carikan buku lagi untuk Jenni." Sean menggendong tubuh kecil Jennifer lalu membawanya sedikit menjauh sebelum dirinya menangis.


Julian yang tahu jika Jennifer di ajak oleh sang papi merengek untuk ikut.


__ADS_2