Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 284


__ADS_3

"Beberapa menit yang lalu dia tersadar. Tapi dia tidak bisa mengenali orang yang selama ini ia sebut miliknya. Anehnya dia bisa mengenaliku, Istriku dan Kakaknya," jelas Sean. Tuan Carlos mengerutkan keningnya, dia tahu betul dokter yang ada di depannya itu. Mustahul jika dia memberi hasil yang salah.


"Apa kau tidak mengenaliku, Tuan Muda William?" Tuan Carlos mencoba bertanya pada Julian untuk memastikan sesuatu.


"Tentu saja aku tahu, Tuan Carlos," jawabnya dengan enteng.


"Bagaimana denganku? Kau tidak tahu siapa aku?" selah Robert dengan menggebu-nggebu.


"Tentu saja aku tahu," jawab Julian lagi.


"Sepertinya yang bermasalah itu putramu, Tuan William. Bukan dokter itu, sebaiknya kau minta dokter itu keluar. Kasihan banyak tugas yang harus dia urus." Sepertinya Tuan Carlos tahu situasi saat ini. Sedikit banyak dia mengetahui bagaimana Julian. Sean memerintahkan dokter itu keluar, mungkin dia juga baru sadar dengan ulah putranya.


"Jawab Papi dengan jujur, Boy. Apa kau tahu siapa kami semua?"


"Tentu saja aku tahu siapa kalian. Yang tertembak punggungku, bukan kepalaku, Pi." Dengan entengnya dia menjawab seperti itu.


Sean memejamkan ke dua matanya menahan kekesalan pada putrinya. Baru saja dia sadar tapi sudah membuat ulah, untung saja dokter tadi belum dia pecat dari pekerjaannya. Kalau saja saat ini putranya tidak sakit, pasti sudah di pastikan Sean akan memberikan hukuman pada Julian atas apa yang di lakukannya.


Jennifer menatap Julian dengan tidak biasa. "Kalau tahu begini lebih baik aku tadi memukulmu sampai amnesia sungguhan."


Jennifer hilang kesabaran kali ini, bsia-bisanya adiknya membuat semua orang khawatir.


"Kau sudah membuat anak orang bersedih dengan ulahmu. Kau harus meminta maaf padanya!" kesal Jennifer pada adiknya.


"Eeehh... di mana Fany? Perasaan dia masih di sofa." Robert membuyarkan fokus mereka pada Julian sedari tadi.


Mereka kompak menoleh dan melihat ke kanan kiri tapi tidak ada Fany di sana. Julian seketika terjinggat di sana.


"Ke mana perginya?" Julian terlihat panik seketika. Salah sendiri dia terlalu jahil, padahal baru saja dia sadar.


"Kau harus mempertanggung jawabkan ulahmu, Boy. Untung saja dokter tadi belum Papi hentikan, lain kali hati-hati dengan ulahmu, Boy," ujar Sean memperingati Julian.


"Kau harus Mami dan Papi hukum, Jul. Awas nanti kalau terjadi apa-apa pada Fany." Bohong sekali jika Ana juga tidak ikut panik melihat Fany yang tiba-tiba menghilang dari sana.


Ana tahu, pasti Fany merasa kecewa karena tadi mendengar jika Julian tidak mengenalnya. Pantas saja sedari tadi Fany tidak menyahut, ternyata Fany sudah pergi, pikir Ana.


Julian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak menyangkah jika jahilnya menimbulkan keramaian di sana. Untung saja semua keluarganya tidak berada di sana, kalau saja semua berkumpul dia pasti sudah di ceramahi habis-habisan. "Mami kasih hukuman nanti saja, ya. Julian mau mencari Fany."


Infus yang berada di tangannya ia jabut dengan paksa lalu turun dari brankarnya. "Kau mau ke mana?” Ana berteriak saat Julian berlari ke luar.


"Biarkan saja dia bertanggung jawab dengan ulahnya. Tidak akan terjadi apa-apa dengannya," ucap Sean.


"Tapi, dia baru sadar, Sean." Ana juga terlihat khawatir dengan keadaan Julian.


"Mami tenang saja, biar kami yang membantu mencari Fany." Jennifer menenangkan sang mami.


Mereka akhirnya menyusul kepergian Julian untuk mencari Fany. Entah kenapa tenaga Julian bisa sekuat itu, padahal dia baru saja sadar dari tidur panjangnya.


Entah kenapa juga Julian tidak pernha bisa menghilangkan sikap jahilnya. Baru beberapa menit dia bangun, sudah mmebuat heboh sendiri di sana. Untung saja Rika tidak ada di sana, entah bagaimana jadinya nanti.


Julian melihat ke kanan dan ke kiri memastikan siapa tahu dia melihat Fany di sana. Setiap lorong ia lewati, bahkan Julian juga bertanya pada para perawat dan orang-orang di sana. Berharap dia bisa menemukan Fany, ternyata tidak menemukan sama sekali.


Julian mengusap wajahnya kasar, harusnya dia tidak berbicara seperti itu tadi. Sekarang dia sendiri yang di buat kalang kabut karena ulahnya.


"Haaarkh... bod*h sekali aku!" Julian merutuki dirinya sendiri. Julian masih terus mencari, dia sampai melupakan bekas lukanya sendiri.


Rumah sakit itu nampak luas, jadi tidak mudah kalau bisa menemukan Fany dengan cepat.


Sementara di waktu bersamaan di sisi Fany...


la duduk seorang diri di taman rumah sakit, banyak sekali pasien yang berada di sana untuk mencari udara segar agar tidak jenuh. Di usapnya sir matanya yang tengah membasahi pipi mulusnya.


"Apa kau benar-benar melupakan aku?" lirihnya. Baru kali ini dia merasakan sakit di hatinya karena mendengar ucapan Julian tadi. Fany masih mengusap air matanya yang terus mengalir.

__ADS_1


"Permisi, Nona. Apa aku boleh duduk?" ujar seorang pria padanya. Fany mendongakkan kepalanya melihat siapa orang yang tiba-tiba mengajaknya berbicara.


Fany tersenyum tipis sebelum menjawab orang itu. "Silahkan, Tuan." Fany menggeser dirinya agar sedikit berjauhan dengan pria yang baru saja mneghampiri dirinya di sana.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Nona. Aku melihat kau sedang menangis? Apa yang sedang terjadi padamu?" cerca pria itu.


Dari penampilannya Fany bisa menyimpulkan kalau orang itu bukan orang biasa. Setelan jas dan jam tangan yang melingkar di tangannya terlihat sekali jika itu bernilai fantastis.


"Maaf jika aku lancang, aku hanya ingin membantumu meringankan beban yang kau rasa saat ini ," ujar orang itu kembali. Melihat Fany yang menangis ia bisa menebak pasti terjadi sesuatu pada Fany, tidak mungkin kalau Fany tiba-tiba menangis seorang diri tanpa alasan.


"Tidak apa-apa, Tuan. Terima kasih atas pengertiannya." Fany sedikit tersenyum ke arah pria itu.


"Bagaimana jika orang yang sangat kau kenal saat tersadar dia tidak bisa mengenalimu, Tuan?" Fany memulai membuka suaranya.


"Apa itu yang membuat dirimu menangis, Nona?" pria itu seketika faham dengan apa yang membuat Fany menangis sendiri di taman.


"Tentu itu sangat menyakitkan, Nona. Mungkin sangat sulit menerimanya. Kalau saja aku di posisimu pasti aku juga akan merasakan hal yang sama denganmu ," sambungnya.


"Apa itu seoranag pria?" tanya lelaki itu yang di jawab anggukan oleh Fany.


"Apa dia kekasihmu?" pria itu bertanya lagi pada Fany.


"Ehh... aaah tidaaak." Fany bingung mau menjawabnya apa, karena memang dirinya belum ada hubungan dengan Julian.


Julian sudah menghak patenkan dirinya, tetapi Fany masih belum bisa menerimanya waktu itu. Setelah sadar dengan perasaannya dia ingin mengatakannya pada Julian, tapi justru dirinya merasa menciut karena Julian tidak mengenalinya.


Dari cara Fany menjawab, pria itu tahu bagaimana Fany. Semacam suka sama suka tapi tidak berani mengatakannya. "Apa kau menyukainya?"


Fany tersenyum dengan ke dua matanya menyipit. Dia saja tidak berani mengatakannya pada Julian, bagaimana bisa dia mengatakannya pada orang yang baru saja ia temui saat ini.


"Kalau aku jadi dirimu, aku akan mengatakannya, Nona. Aku juga akan menemaninya sampai dia bisa mengingatku kembali. Kalau kau suka katakan saja padanya, Nona. Jangan di pendam dari pada itu akan menyiksamu sendiri. Katakan walau nanti dia tidak membalasanya, setidaknya hatimu merasa lega," tutur pria itu.


"Tadinya aku ingin membicarakannya, Tuan. Tapi ternyata kenyataan berbanding terbalik."


"Aku sedang mengawasi Nenekku. Sedari tadi dia mengajakku keluar." Pria itu menunjuk ke arah wanita tua yang sedang berjalan-jalan di taman sana menggunakan tongkatnya.


"Oooh...." Fany menagnggukkan kepalanya faham.


"Jarang sekali pria sepertimu mau menemani seperti ini," ucap Fany.


"Dia adalah Nenekku satu-satunya, Nona. Aku dan beliau sangat dekat sedari kecil." Fany kembali mengangguk dengan penjelasan singkat pria itu.


Mereka terus berbincang-bincang sesekali juga bercanda. Fany sedikit lupa apa yang membuatnya menangis tadi. Karena asyik berbincan, Fany tidak menyadari jik ada seseorang yang menatapnya cemburu dari kejauhan.


Napasnya sedikit memburu melihat Fany berbincang dengan pria lain. "Berani sekali kau berbicara dengan pria lain!"


Siapa lagi dia kalau bukan Julian, lama dia mencari akhirnya menemukan Fany di taman tengah duduk dan berbincang dengan pria lain. Seketika hatinya terbakar api cemburu, salah sendiri, kalau saja tadi dia tidak berbuat jahil pasti Fany tidak akan duduk dengan pria lain saat ini.


Julian mendekat ke arah Fany dengan langkah kaki sedikit cepat. Ia menarik tangan Fany begitu saja dan membawa pergi menjauh dari pria itu. Pria tadi hanya tersenyum lalu menghampiri sang nenek.


"Terimakasih, Tuan!" Fany sedikit berteriak karena ia terus di seret oleh Julian. Fany mencoba melepas cekalan tangan Julian.


"Mau kau bawa ke mana aku?" tangan Julian terlepas dari Fany.


β€œJangan pernah sekali-kali berbicara dengan pria lain. Aku tidak suka!" sengal Julian.


"Memangnya aku siapa untukmu? Bukannya kau tidak mengenaliku?" cerca Fany. Dia agak kesal karena Julian tiba-tiba saja menyeretnya.


"Kau milikku, hanya milikku!" Julian penuh penekanan saat mengucapkan itu. Mereka masih sekitar berada di sekitar taman.


"Maaf untuk tadi, aku hanya bercanda." Seketika Fany melototkan ke dua matanya mendengar kata-kata Julian.


"Apa kau bilang, hah!? Hanya bercanda? Apa itu lucu untukmu? Apa kau tahu, itu sangat melukai hatiku. Rasanya aku ingin kembali saja ke Berlin. Kalau saja Papa masih di sini mungkin aku sudah ikut dia pulang!" Fany mengeluarkan uneg-unegnya. Bisa-bisanya Julian mengatakan tadi hanya bercanda.

__ADS_1


"Maafkan aku... aku janji tidak mengulanginya lagi. Sekarang ayo kembali, Mami mencarimu," bujuk Julian.


"Maaf katamu! Apa semudah itu kau mengatakan kata maaf. Aku sangat kecewa, Jul. Bagaimana aku tidak sakit bagaimana aku tidak kecewa saat kau ingat yang lain kau tidak bisa mengingatku sendiri. Dan itu kau sebut candaan?" Fany kembali mengeluarkan semua yang ia rasa.


Tentu saja Fany merasa sakit hati dan kecewa saat Julian tidak mengingat dirinya. Apa lagi saat Fany mendengar dari mulut Julian sendiri kalau itu hanya sekedar candaan, semakin kecewalah Fany.


"Maaf... maafkan aku. Aku berjanji aku tidak mengulanginya lagi." Julian mencoba meraih tangan Fany, tetapi Fany sudah lebih dulu menjauhkan tangannya.


"Aku tidak mau mendengarmu lagi. Pergi dari hadapanku. Biarkan aku pulang dari sini." Fany melangkahkan kakinya pergi karena dia sangat kecewa, ternyata itu hanya candaan dari Julian.


Julian mengejarnya dan ... grep...


Julian memeluk Fany dari belakang, ia tidak mau jika Fany marah besar padanya. Ia juga merasa bersalah karena membuat Fany kecewa.


"Maafkan aku. Aku merindukanmu," ucap Julian pelan. Fany hanya diam tidak bergemin mendengar ucapan rindu dari Julian. Sebenarnya dia juga merindukan Julian, tetapi dia sudah di buat kecewa dengan candaan Julian.


"Maafkan aku." Julian semakin mengeratkan pelukannya.


Ke dua sejoli itu lupa sedang berada di mana ia sekarang, untung saja di sana sudah terbiasa dengan keromantisan seperti itu. Jadi tidak ada yang marah pada mereka berdua.


"Waahh... pemandangan apa ini yang aku lihat?" celetuk Robert berada di kejauhan bersama Jennifer dan Gerald.


"Sepertinya mereka tidak lama lagi akan berlayar. Tinggal kau seorang yang jomblo di sini." Gerald mengejek Robert yang masih sendiri sampai saat ini.


"Memangnya kenapa? Ada yang salah!" sengal Robert.


"Kau sudah jomblo menjadi budak Julian pula. Carilah wanita biar kau bisa membuat alasan bisa menghirup udara di luar,"


"Budak-budak. Enak saja kau!" Rolang tidak terima di katai budak oleh Gerald. Posisi dia sebagai tangan kanan Julian, otomatis dia yang kebanyakan mengurus. Maka dari itu Gerald mengatinya dengan sebutan budak.


"Lalu apa?"


"Sudah lebih baik kita kembali. Biarkan saja berdua." Jennifer menengai mereka berdua.


"Kau benar, Babe. Kita kembali, biarkan jomblo ini di sini menjaga Tuannya," ledek Gerald kembali lalu pergi bersama Jennifer. tangannya ia letakkan di pinggang Jennifer, layanya sorang ekkasih pada umumnya.


"Dasaar!" Robert membuntuti mereka berdua dengan jarak sedikit jauh.


Kembali lagi ke sisi Julian ...


"Kau boleh marah padaku. Tapi jangan pergi dariku," lirih Julian.


Fany memutuskan membalikkan badannya dan membalas pelukan Julian. "Aku juga merindukanmu."


Julian mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Fany. "Apa aku tidak salah dengar?"


Fany membenamkan wajahnya di pelukan Julian, ia sedikit malu karena baru pertama kali mengucapkan hal itu. "Tidak. Kau tidak salah dengar. Aku juga merindukanmu, and... I love you."


"Coba ulang sekali lagi." Julian semakin tersenyum lebar di sana. Itu seperti kata-kata ajaib yang ingin dia dengar selama ini. Hatinya di penuhi dengan kupu-kupu beterbangan di sana.


"Tidak ada pengulangan." Fany tersipu malu di sana.


"Love you too, Fe." Akhirnya ke duanya bisa mengucapkan rasa masing-masing saat ini. Serasa hari baru mereka mulai.


"Sebaiknya kita kembali. Mami mencarimu, pungungku juga sedikit sakit." Julian meringis merasakan sedikit sakit di punggungnya. Bisa jadi efek dari lukanya yang memang belum sembuh total.


"Kau tidak apa-apa?"


"Tidak. Setelah melihatmu semua baik-baik saja." Pipi Fany terasa panas mendengar ucapan Julian. Julian benar-benar membuat pipinya terlihat merona.


"Ayo kembali. Kau harus banyak istirahat," ajak Fany.


Ke duanya kembali dengan perasaan yang berbunga-bunga. Sepanjang perjalanan Julian menggenggam tangan Fany tanpa melepasnya sedetikpun.

__ADS_1


__ADS_2