Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 206


__ADS_3

"Sisca... biarkan saja dia. Apa kau tidak melihatnya? Dia sangat sangat serius, sepertinya dia di tuntut dengan orang tuanya untuk bisa menjadi seperti mereka," sahut salah satu dari circle wanita iru.


Wanita yang mengganggu Jennifer hampir setiap hari adalah Sisca, dia memang orang yang di suka selalu mengganggu orang lain. Bahkan dia juga sangat suka menggoda laki-laki milik orang lain yang ada di kampusnya. Dan semenjak Gerald berada di sana, ia selalu mengincar Gerald untuk ia rebut dari Jennifer.


"Mungkin dia mempelajari buku yang berisi cara bagaimana Gerald tidak meninggalkannya. Hahaha..." sahut salah satunya lagi dengan di akhiri gelak tawa yang lainnya.


Jennifer yang merasa sedikit jengah itu pun menutup bukunya dan menatap Sisca dengan sekumpulan gengnya dengan dinginnya. "Lihatlah, sepertinya dia marah. Hahaha....".


"Kau tidak perlu marah seperti itu, Nona William."


Bukankah itu kenyataannya? Lepaskan saja Gerald, serahkan saja padaku, aku pasti akan menjaganya dengan baik. Aku kasihan dengannya, kau selalu perhatian dengan buku-bukumu itu." Jennifer hanya memutar kedua bDiva matanya dengan malas, karena lagi-lagi yang Sisca katakan itu-itu saja.


Sisca pun mencoba mengambil buku Jennifer begitu saja, ia hanya membolak-balikkan lembar demi lembar buku milik Jennifer. Tiba-tiba saja... srekk... sreekk...


Sisca merobek-robek buku yang Jennifer baca, semua teman Sisca tertawa senang dengan apa yang di lakukan Sisca. Tatapan Jennifer semakin tajam menatap Sisca dan para gengnya.


"Buku yang tidak penting sama sekali." Sisca membuang buku itu ke arah lain dengan wajah sombongnya.


"Inilah akibatnya jika kau tidak pernah memperdulikan ucapanku. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menjauhi Gerald? Itu baru hal kecil yang aku lakukan," sambungnya.


"Memangnya, siapa kau? Apa itu penting untukku?" jawab Jennifer santai.


"Turunkan kesombonganmu itu, atau kau yang akan menyesal nanti!" gertaknya pada Jennifer.


"Heh, bukankah dari kemarin-kemarin kau berbicara seperti itu? Tapi yang kau lakukan tidak ada apa-apanya." Jennifer tersenyum remeh di sana.


"Apa kau menantangku? Aku akan membuatmu menyesal dan tidak bisa melihat dunia ini lagi. Awas saja kau!" ancamnya pada Jennifer. Jennifer hanya tersenyum miring di sana, ancaman dari Sisca bukan apa-apa bagi Jennifer. Baginya, itu hanya makanan ringan yang ia dengar setiap hari.

__ADS_1


Sisca pergi dari sana bersama dengan teman-temannya meninggalakn Jennifer seorang diri, untung saja jika saat ini perpustakaan tidak terlalu ramai. Jennifer mengambil buku yang sudah rusak karena ulah Sisca. Jennifer mencoba untuk bersikap santai terlebih dahulu, dia akan menunjukkan taringnya di waktu yang tepat.


Sisca berjalan beririgan dengan teman-temannya dengan gaya sombongnya. "Sisca, lihatlah di depan sana ," ucap salah satu temannya.


Sisca menatap lurus ke depan dan ternyata ia melihat Gerald sedang berjalan seorang diri di sana." Kalian pergilah dulu, aku akan bericara sebentar dengannya.


"Baiklah, teruslah berusaha untuk mendapatkannya ," ucap temannya lalu merkea pergi untuk membiarkan Sisca mendekati Gerald.


"Hai, tampan. Boleh aku berjalan di sampingmu," sapanya pada Gerald dengan gaya centilnya.


Gerald terus melangkah tanpa memperdulikan Sisca yang mengikutinya. Ia tetap berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Sisca memandang suka pada Gerald.


"Apa kau mempunyai waktu luang? Aku ingin mengajakmu makan siang, anggap saja ini sebagai hadiah pertemuanku denganmu." la terus mengoceh tanpa henti, suaranya di buat selembut mungkin, tetapi Gerald memilih bungkam tidak menanggapi sepatah kata pun.


"Kalau kau tidak bisa sekarang, nanti malam saja kita makan berdua. Bagaimana?" ocehnya lagi tapi Gerald tetap memilih bungkam.


"Hai, Babe." Senyum Gerald terukir saat melihat Jennifer yang ada di hadapannya.


Gerald mengarahkan kedua tangannya kebelakang agar tidak ada celah untuk Sisca menggait tangannya. Tidak mudah mendekati atau menggoda Gerald. Jennifer tersenyum miring melihat apa yang di lakukan oleh Sisca pada Gerald.


Jennifer mendekat ke arah Gerald dengan senyum manisnya. "Hai juga, Babe."


Jennifer menggait lengan Gerald, Jennifer ingin menunjukkan pada Sisca jika Gerald hanya miliknya seorang. Gerald tersenyum senang dengan apa yang dilakukan oleh Jennifer.


"Kenapa kau lama sekali? Aku sudah menunggumu sedari tadi," ucap Jennifer dengan manjanya di hadapan Sisca. Tentu saja Sisca di sana terbakar dengan kemesraan mereka berdua.


"Maafkan aku, Babe. Tadi aku masih ada jam kuliah, baru saja aku ingin menyusulmu ke perpustakaan." Gerald mengacak-acak rambut Jennifer.

__ADS_1


"Apa kau tidak melihat sesuatu di sebelah kirimu?"


"Hmmm... memangnya ada apa? Aku sedari tadi sendiri, hanya ada kau di sebelahku saat ini," jawabnya yang tidak menganggap keberadaan Sisca. Ia semakin terlihat kesal karena kedatangan Jennifer dan di tambah lagi Gerald tidak menganggapnya ada.


"Heei... bagaimana bisa kau tidak melihat wanita cantik sepertiku! Bahkan aku lebih sempurna di bandingkan wanita di sebelahmu itu," sahutnya tetapi tidak di hiraukan oleh Gerald. Jennifer hanya tersenyum miring di sana.


"Aahh... benarkah? Apa mungkin aku yang salah lihat." Jennifer memandang Sisca dengan tersenyum miring.


"Datanglah ke mension nanti malam, Papi dan Mami memintamu datang ke sana," ujar Jennifer.


"Kenapa harus nanti malam? Sekarang pun aku juga bisa. Ayo ajak Gerald.


"Tunggu aku di parkiran, aku masih ada urusan sebentar," jawabnya yang di setujui oleh Gerald. Gerald berjalan pergi seorang diri hingga tersisa Sisca dan Jennifer yang ada di sana.


Jennifer menatap Gerald sampai punggungnya tidak terlihat lagi, setelah itu, ia menatap ke arah Sisca yang ada di sebelahnya. "Bagaimana, Nona, apa kau bisa mendapatkannya?"


Mendengar hal itu, Sisca kesal. Ia merasa jika Jennifer tengah meremehkan dirinya. "Kau lihat saja nanti. Dia akan menjadi milikku seutuhnya. Kau pasti akan menangis darah setelah dia berada di pelukanku."


"Waahh... benarkah? Apa kau yakin? Bahkan sudah berhari-hari kau medekatinya, apa dia bisa kau luluhkan? Dia saja tidak menganggapmu ada, Nona." Jennifer tersenyum mengejek pada Sisca.


Jennifer mendekat ke arah Sisca. "Dia adalah milikku, Nona. Siapapun itu tidak akan bisa memilikinya, termasuk dirimu. Kalau kau mengambilnya dariku, maka bersiap-siaplah untuk tidak melihat dunia ini lagi." Bisiknya dengan sedikit ancaman.


"Apa kau mengancamku!" pekik Sisca.


"Apa aku mengancammu? Tentu saja tidak. Aku sedang membalikkan semua ucapanmu padaku," jawab Jennifer.


"Bukan aku yang tidak melihat dunia ini lagi, tapi kau yang akan mengalaminya," ujarnya dengan menunjuk wajah Jennifer.

__ADS_1


"Aku tidak pernah takut dengan dirimu. Meskipun kau anak dari penguasa Eropa, akan aku buat kau menyesal nanti," sambungnya.


"Heh, harusnya kau sadar diri, Nona. Kau tidak ada hak untuk merebut milik orang lain menjadi milikmu," ucap Jennifer dengan serius.


__ADS_2