Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 368


__ADS_3

"Grandma... Grandpa... apa kalian tidak merindukanku? Apa kalian tidak mau pulang?" rengek Julian di balik layar ponselnya yang tengah melakukan panggilan video dengan grandma dan grandpanya.


"Anak nakal, kau sudah besar. Jangan seperti anak kecil, menurutlah pada Mami dan Papimu, "jawab sang grandma pada Julian.


"Julian kan anak baik, Grandma. Mana ada Julian anak nakal," elaknya yang tidak terima di kata nakal oleh sang grandma di seberang sana.


"Di mana cucu cantikku? Berikan ponselmu padanya ,"pintanya di sana mencari Jennifer.


"Aku juga cucumu yang paling tampan, Grandma. Apa melihatku saja itu tidak membuat cukup mengobati rindumu." Entah dari mana kata-katanya itu. Kali ini ia terlihat narsis dan sangat PD mengatakan hal itu.


"Sejak kapan kau narsis seperti itu, Boy? Apa kau tertular gaya Papimu?" celetuk grandpa di seberang sana saat melihat ke narsisan Julian.


"Bukan narsis, Grandpa. Tapi percaya diri itu perlu," elaknya lagi. Memang tingkat kepercayaan dirinya sangat tinggi, di tambah ketengilannya yang tidak pernah hilang.


"Jangan terus membual! Berikan ponselmu pada cucu cantikku." Sang grandma sedikit kesal di sana. Lagi-lagi dia mencari Jennifer tetapi Julian tidak menunjukkannya.


"Kau tahu, Grandma, cucumu itu tidak pernah di mension. Setiap hari dia pergi berkencan." Julian mengaduh pada sang grandma.


Jennifer yang sedari tadi berada di sampingnya itu melirik tajam mendengar tuduhan Julian padanya. Bugh ... bantal melayang mulus ke arah Julian hingga ponsel yang di pegangnya itu jatuh. Julian di buat keteteran menangkap ponselnya agar tidak sampai jatuh ke lantai.


"Ehh astaga astaga astaga...." Ponsel itu berhasil ia tangkap sebelum jatuh ke lantai. Jennifer menatap tidak enak pada Julian saat ini. Julian hanya menunjukkan tanda peace pada Jennifer yang terlihat menakutkan saat ini.


"Kau kenapa, anak nakal! Cepat berikan ponselmu itu pada kakakmu!" Lama-lama Grandma sangat kesal di seberang sana. Julian pun akhirnya memberikan ponselnya pada Jennifer yang sedari diam tidak bersuara.


"Haaii cucu Grandma... bagaimana kabarmu dan Mamimu?"tanya grandma antusias saat melihat wajah Jennifer dari layar ponselnya.


"Aku juga cucumu, Grandma. Kenapa kau tidak menanyakan hal itu juga padaku?" Julian ikut nimbrung di antara mereka. Antara iri atau memang sikapnya yang suka jahil dan mengganggu.

__ADS_1


"Diamlah, anak nakal. Aku tidak berbicara denganmu!" sengal grandma di seberang sana. Julian mencebikkan bibirnya di sana.


"Semuanya baik, Grandma. Mami ada di kamarnya. Bagaimana kabar Grandma dan Grandpa di sana?" Jennifer bertanya bali pada ke duanya.


"Kami berdua baik. Menyusullah ke sini, ajak Gerald bersamamu. Grandma dan Grandpa sudah lama tidak bertemu dengannya," bujuk grandma pada Jennifer. Sepertinya mereka merindukan sepasang kekasih dalam ikatan perjodohan itu.


"Grandmaa ... kenapa kau menyuruh Kakakku dengan anak itu. Kenapa tidak denganku saja," rengeknya kembali. Ekspresinya ia buat seperti anak kecil yang meminta untuk di belikan mainan.


Cukup lama mereka berbincang-bincang melalui sambungan telfon, Julian juga tidak tanggung-tanggung jika mengganggu percakapan mereka. Julian selalu menyahut apa yang di katakan grandma atau grandpanya.


"Jen tutup dulu, ya. Jen janji akan menyusul ke sana. Bye bye...." Jennifer melambaikan tangannya di depan layar ponsel itu, panggilan video pun berakhir saat itu juga.


"Apa kau akan benar-benar akan datang ke sana?" Julian terlihat sangat antusias di depan sang kakak.


"Hmm mungkin minggu depan. Aku akan ajak Gerald nanti," jawab Jennifer dengan santainya.


"Aku ikut. Aku akan mengajaka Fany nanti." Julian terlihat sangat bersemangat. Bisa di bilang dia yang paling antusias saat ini.


Pasti banyak yang bertanya tentang grandma dan grandpa bukan? Mereka sudah lama tinggal di Swiss. Mereka ingin menikmati masa tuanya dengan tenang tanpa gangguan. Ke duanya sangat betah berada di sana, pemandangan alami yang sangat menyejukkan dan segar.


Mereka tinggal di pedesaan yang ada di sana, mereka memang sengaja tinggal di tempat yang jauh dari keramaian. Perusahaan yang di pegang oleh grandpa ia serahkan pada Riko, pastinya juga di bantu oleh Sean.


Setelah melakukan panggilan video, Julian memutuskan untuk datang ke markas. Markas bagaikan rumah ke dua dari Julian, setiap hari ia datang ke sana tanpa mengenal waktu. Entah kenapa dia tidak tinggal saja di sana agar tidak bolak-balik pergi.


Setibanya di markas, Julian merebahkan dirinya di sofa panjang dengan memainkan ponselnya. Seseorang mengendap-endap pelan agar tidak di ketahui Julian.


"Hwaah...." la mengangetkan Julian yang sedang asik bermain dengan ponselnya.

__ADS_1


Dugh...


Julian terkejut dan ponsel yang ada di tangannya itu jatuh tanpa permisi terlebih dahulu.


"Aauuh...," ringis Julian saat ponselnya mendarat tepat di wajahnya. Bayangkan saja bagaimana sakitnya ketika ponsel jatuh di atas wajah.


Orang itu tertawa terbahak-bahak melihat Julian meringis kesakitan di sana. Sesekali ia berbuat jahil pada Julian yang biasanya menjadi tukang jahil. Julian pun dengan kesal terbangun dari rebahannya.


Julian yang memang kesal dan kesabaran setipis tissue itu melempar bantal sofa dan jaket kelitnya pada orang tersebut. Orang itu tidak berhenti tertawa melihat kekesalan Julian, dia semakin terbahak-bahak melihatnya.


"Kurang ajar kau! Aku kurung kau di ruang bawah tanah baru tau rasa!" matanya melotot lebar ke arah orang tersebut.


"Hahaha... apa itu enak?" tawanya masih tidak berhenti menertawakan Julian.


"Awas kau!" Julian benar-benar kesal. Hari ini adalah hari sialnya menurutnya.


"Hahaha... jangan marah. Tenangkan dirimu, itulah yang kita rasakan saat menghadapi tingkahmu selama ini ," ledeknya pada Julian. Wajah Julian terlihat merah padam saat ini.


Tebak saja siapa pelakunya. Tentu saja Robert yang melakukannya, ia saat itu melihat Julian yang sudah datang di markas dan merebahkan tubuhnya. Robert yang memang hampir sama dengan Julian, ia pun mengerjai Julian.


Anggaplah itu wujud balas dendamnya pada Julian selama ini. Julian memutuskan untuk kembali merebahkan dirinya di sofa tadi, ia menghembuskan napasnya kasar menahan semua kekesalannya.


"Hahaha... anggap saja itu adalah karma untukmu. Baru saja sekali, wajahmu sudah merah seperti itu.


Bagaimana denganku dan yang lainnya yang melihat tingkahmu setiap hari itu." Tanpa sindir menyindir, tanpa berbicara di belakang, Robert langsung berbicara langsung pada orangnya yang bersangkutan.


Baginya, hanya seorang pengecut yang berani di belakang. Apa lagi ia seorang laki-laki, bisa-bisa ia akan di katai wanita saat itu juga kalau dia sampai berbicara di belakang orang yang bersangkutan.

__ADS_1


"Hahaha... sudahi emosimu. Lebih baik kau mengamati musuhmu itu,"


Julian seketikan terbangun terduduk di sofa menghadap ke arah Robert. "Bagaimana dengan orang itu? Apa dia sudah menunjukkan pergerakan?" Seketika kekesalan Julian hilang begitu saja.


__ADS_2