Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 70


__ADS_3

"Kau benar, itu Ana. Apa yang sudah terjadi? Ayo kita lihat kesana," Rika dan temannya itupun berlari kearah keramaian disana.


Kembali ke sisi Ana...


"Apa kau tidak melihat apa yang sudah aku lakukan? Jelas-jelas saja aku menamparmu. Apa mau aku tambah lagi?" Ana sepertinya kali ini menjadi garang. Jaga ucapanmu itu, nona. Apa kau sendiri tidak melihat bagaimana gaya pakaianmu itu? Bisa-bisanya kau mengatai diriku wanita murahan? Memangnya apa yang kau tau dariku?" sarkas Ana.


Ana tidak peduli lagi dengan pandangan dan gunjang gunjing karyawan Sean di sana. Karena dirinya tidak bersalah, dan tidak mengganggu siapapun.


"Dasar tidak tahu diri," tangan karyawan itu sudah terangkat ke atas.


Ana mencekal tangan orang itu, "Yang tidak tahu diri aku atau dirimu, nona? Aku tidak mempunyai salah padamu dan tidak pernah mengganggumu, kenapa kau menghinaku hanya karena aku datang kesini bersama keponakan dan anak-anakku? Apa itu salah?" tegas Ana. "Keponakan?" ucap semua karyawan di sana bertanya-tanya tapi tidak ada yang menyahuti ucapan Ana itu.


"Rika, coba kau hubungi tuan James. Sepertinya akan sangat ramai disini," Perintah teman James yang melihat keributan di sana. "Kenapa harus aku?"


"Kau kan yang dekat dengan orang itu, kau juga punya nomor ponselnya kan?" ucap teman James. Memang Rika Salah kemarin bisa di bilang dekat dengan James saat ini. Mereka terkadang sering bertukar pesan, tapi jarang untuk keluar berdua.


"Sudah cepaat..." seru teman James yang melihat situasi sepertinya tidak akan aman.


James pun merogoh ponselnyadan segera menghubungi James melalui sambungan telfon. Teman James itu menggigit jari telunjuknya.


"Hah, keponakan? Kau mengaku-ngaku jika anak kecil ini keponakanmu?" Sinis wanita itu tadi.


"Bukankah memang benar yang aku katakan, kau tidak tahu diri bukan? Buktinya, kau mengaku-ngaku keponakan Tuan Sean ini sebagai keponakanmu. Apa kau kira kami akan percaya begitu saja dengan bualanmu?" sepertinya apa yang di ucapkan karyawan wanita itu semakin menajdi-jadi.


"Terserah apa katamu itu, nona. Aku tidak memaksa


kalian untuk percaya, itu tidak penting bagiku." Ketus Ana.


"Ayo Diva, kita pulang." Ajak Ana. Diva mengangguk.

__ADS_1


"Heh, berhenti kau." Wanita itu menjambak rambut Ana dari belakang, hingga Ana mendongakkan kepalanya keatas.


"Jangan harap kau bisa pergi setelah menamparku wanita tidak tahu diri." Ketus wanita itu.


"Ahh...lepaskan." Ucap Ana memegang rambutnya.


Twin J menangis dengan keras karena kegaduhan di sana yang di akibatkan oleh salah satu karyawan Sean. Diva mencoba menenangkan adik-adiknya tapi dia kuwalahan.


Plaak...


Suara tamparan keras, hingga karyawan wanita itu jatuh terhuyung karena saking kerasnya tamparan yang di terimanya.


Akhirnya, tangan itu terlepas dari rambut Ana. Semua orang menutup mulutnya karena terkejut setelah melihat siapa yang menampar karyawan wanita itu dengan keras hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Tangisan twin J disana semakin kencang karena tidak ada yang menenangkannya. Tak lama kemudian Ana menenangkan kedua anaknya. James dan temannya itu ikut membantu Ana menenangkan twin J, karena tidak mungkin Ana bisa menenangkan kedua anaknya sendiri.


Rahangnya mengerah dan wajahnya memerah karena merasakan amarah yang besar melihat Ana di perlakukan kasar pada wanita itu.


"Aku hanya memberikan pelajaran untuknya, tuan. Dia sudah tidak tahu diri dengan mengaku-ngaku jika keponakan anda adalah keponakannya." Jawabnya dengan menunduk. Karena takut melihat sorot mata tajam dan kemarahannya.


Benar sekali jika orang yang menampar karyawan wanita itu adalah Sean. Setelah James mendapatkan telfon dari James ia segera melaporkannya pada Sean. Sean segera turun dengan langkah terburu-buru di ikuti oleh James tentunya.


Ana terus menimang-nimang Julian yang memang susah untuk diam, tidak seperti Jennifer yang mudah menghentikan tangisannya jika ada yang menenangkannya.


"Siapa yang kau sebut tidak tahu diri?" nadanya semakin meninggi mendengar jawaban dari karyawan wanita itu.


"Asal kalian semua tahu. Orang yang kalian omongkan setiap harinya saat datang ke sini dan kau sebut wanita tidak tahu diri ini adalah ISTRIKU." Ucap Sean dengan menekankan kata istriku. Semua orang sangat terkejut dengan pengakuan dari Sean. Mulut mereka semua yang ada di sana menganga lebar karena saking terkejutnya, ada juga di antara mereka yang sampai jatuh pingsan.


Kali ini Sean tidak perlu menutupi identitas Ana di hadapan semua karyawannya. Mungkin dengan cara ini agar Ana tidak mendapat perlakuan kasar lagi dari semua bawahannya.

__ADS_1


Orang sudah berani berbuat kasar dan menampar Ana itupun tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar fakta mengejutkan dari Sean


"Apa kalian fikir aku tidak tahu dengan semua gunjingan kalian semua terhadapnya?" Sean kembali membentak, kali ini mereka semua yang di bentak oleh Sean. bukan hanya satu dua orang.


Seketika, semua karyawan di sana yang pernah menggunjing Ana ataupun berlaku yang tidak menyenangkan itu takut ketar ketir. Mereka takut jika saja mereka di pecat dari sana. Apalagi sudah menyinggung Sean, maka siap-siap mereka tidak akan bisa menapatkan pekerjaan di luar sana.


"Tuan, maafkan saya tuan. Saya tidak tau, maafkan saya tuan." Ucap karyawan tadi. Ia bersujud di kaki Sean dan memohon-mohon pada Sean.


Kali ini Ana memilih diam dan menenangkan twin J, dirinya tidak ikut campur lagi jika Sean sudah turun tangan.


"Apa begini sikap kalian semua, hah?" bentak Sean lagi, ia tidak menghiraukan permohonan maaf dari karyawannya yang bersujud di kakinya.


"Apa kalian hanya bisa berbuat baik pada seseorang jika sudah mengetahui orang itu siapa?" Sean kali ini tidak main-main. Semua orang menunduk tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap Sean. Sean dalam kemarahan besar kali ini.


"Tuan... tolong maafkan saya tuan. Saya janji akan membperbaiki sikap saya, tolong maafkan saya tuan." Ucapnya kembali memohon-mohon pada Sean.


"Nyonya, tolong maafkan saya. Tolong saya, nyonya." la beralih menatap Ana dengan tatapan takut.


"Aku memaafkanmu. Tapi aku tidak bisa menolongmu." Ucap Ana lalu sedikit menjauh membawa twin J agar mereka bisa tenang. Ana, Diva dan temannya yang satu lagi mengikuti langkah Ana.


"Tidak, nyonya... tolong saya. Maafkan saya."


Teriaknya dengan posisi masih bersimpuh di hadapan Sean.


Sean wajahnya sudah tidak bisa di gambarkan lagi kali ini. siapa saja yang sudah berani menyentuh dan menyakiti Ana, maka bersiap-siap untuk dirinya.


"James, kau tau bukan apa yang harus kau lakukan?" James membungkukkan sedikit badannya tanda dia faham dengan apa yang harus dia lakukan pada wanita itu. Tapi, untuk kali ini bukan hanya wanita itu yang menanggung akibatnya. Melainkan pada mereka semua yang tidak suka pada Ana.


Semua orang di sana yang pernah menyinggung Ana itu pun takut ketar ketir. Mereka takut jika di pecat dan menjadi pengangguran abadi.

__ADS_1


__ADS_2