
"Apa yang sudah kau lakukan!?" pekiknya saat melihat gelas yang berserakan di sana.
Orang itu adalah seorang pria dengan tinggi jangkung dan memiliki hidung mancung. la baru saja tiba di sana dan melihat gelas kaca itu sudah berserakan tidak berbentuk lagi. Dario tidak memperdulikan orang yang baru saja tiba di hadapannya itu.
Para pelayan yang ada di sana membersihkan semua pecahan-pecahan yang di sebabkan oleh Dario. Selesai membersihkan, mereka segera keluar dari sana.
"Apa yang kau lakukan itu akan membuat kau bisa kuat begitu saja? Harusnya kau berpikir, bukan hanya emosi tidak jelas!" sarkasnya pada Dario yang masih terlihat memburu.
"Kau terlihat bod*oh jika seperti ini!" ejeknya pada Dario di kuasai oleh emosinya.
Dario memandang orang itu dengan tatapan tajamnya. "Lalu, apa kau juga sangat hebat dari pada aku. Kau juga bahkan lebih bod*h dari pada aku!"
"Setidaknya aku tidak selalu emosi seperti dirimu saat ini." Orang itu tersenyum remeh ke arah Dario.
"Diam kau!" sentak Dario pada orang itu.
Orang itu tersenyum miring melihat Dario yang memang benar-benar emosi karena tidak bisa melawan Julian waktu itu. "Heh, kalau aku jadi kau aku akan mencari cara lain untuk menghancurkan musuh. Bukan seperti orang gila yang membuang semua barang-barang di rumah. Kau memang seperti Papamu, sama-sama seperti anak kecil."
"Dia bukan hanya Papaku, tapi juga Papamu." Dario tersenyum miring pada orang tersebut.
__ADS_1
Ternyata orang itu adalah saudara dari Dario yang baru saja tiba di sana. Dua orang itu sepertinya memiliki kepribadian yang berbeda. Terlihat jelas sekali di sana perbedaan antara ke dua orang itu.
"Apa aku harus menyebutnya Papa? Dia hanya memperdulikanmu selama ini, aku sedari dulu sudah dia ajarkan untuk hidup mandiri sejak usia dini. Melakukan apa-apa sendiri, bahkan aku menangis di depannya pun ia tidak mengiraukanku," elaknya dengan kembali menunjukkan smirknya pada Dario.
Waah... sepertinya hubungan papa dan anak itu tidak baik-baik saja. Entah saat ini dia dendam pada papanya yang sduah tiada atau tidak, hanya dia yang tahu bagaimana.
"Hanya kau yang selalu di pedulikannya. Dia menganak emaskan dirimu, sedangkan aku? Aku tidak sama sekali. Malang sekali bukan nasibku." la menuangkan anggur merah ke dalam gelas kaca yang ada di atas meja.
Dario hanya melihat tingkah adiknya yang berada di depannya saat ini. Dia juga tidak megira jika adiknya akan datang ke tempat yang ia tinggali selama di Berlin.
"Kau tidak perlu menatapku seperti itu. Sebaiknya kau urusi saja musuhmu itu." Ia menyesap anggur yang ada di tangannya sedikit demi sedikit.
"Aku ingin mengajakmu untuk membalas dendam atas kematian Papa pada keluarga itu," ajak Dario.
"Papa kehilangan nyawa di tangan William, apa kau tidak marah sama sekali? Dia juga Papamu, harusnya kau juga ikut andil denganku," ujar Dario yang berusaha membujuk adiknya untuk ikut membantunya.
"Aku? Tentu saja aku marah saat orang tuaku kehilangan nyawa begitu saja. Anak mana yang tidak marah melihatnya. Tapi aku tidak berambisi seperti dirimu. Jadi, aku tidak akan ikut denganmu untuk itu." la menolak mentah-mentah ajakan Dario untuk ikut balas dendam pada keluarga William.
"Mana balas budimu itu pada Papa yang membesarkanmu!" Dario beranjak berdiri dari duduknya dnegan penuh emosi.
__ADS_1
"Balas budi apa yang kau maksud? Aku sedari kecil di rawat oleh pelayan yang ada di markas, bahkan dia tidak pernah ingin menemuiku sampai aku beranjak dewasa. Dia juga menempatkan aku di paviliun yang ada di belakang mension, apa kau lupa?" ia mengingat bagaimana sang papa memperlakukan dirinya dengan berbeda selama ini.
Meskipun dia adalah saudara dari Dario, sang papa, alias Jacob, memperlakukan mereka secara berbeda. Bahkan sangat berbeda, karena Jacob sangat membenci anak keduanya itu. Adik Dario masih seumuran dengan Julian, sedangkan Dario seumuran dengan Diva.
Kenapa Jacob bisa membenci anak ke duanya itu? Sekitar 17 tahun yang lalu, terjadi insiden yang membuat Jacob sangat membenci anak ke duanya itu. Insiden itu merenggut nyawa istri Jacob.
Saat adik Dario berumur sekitar 3 tahun, dia tengah bermain di tangga yang ada di mension tempat mereka tinggal. Kebetulan waktu itu, istri Jacob masih sibuk berada di kamarnya, ia tidak tahu jika adik Dario itu berada di luar kamarnya dan berada di ujung tangga. la mencari ke sana ke mari dan melihat putra keduanya itu ingin menuruni tangga sendiri.
Istri Jacob buru-buru mengejar putra ke duanya itu karena takut akan jatuh. Untung saja ia dengan cepat mendekat ke arah putranya dan mendekapnya sebelum putra ke duanya itu menapakkan kakinya ke tangga. Saat berdiri, tiba-tiba saja jika kepalanya pusing, pandangan matanya gelap, alhasil jika istri Jacob jatuh menggelinding dari atas tangga.
Mereka semua membawa istri Jacob ke rumah sakit, dan di sana, dokter mengatakan jika istrinya telah tiada karena kepalanya terbentur kuat saat terjatuh. Dari situ Jacob sangat membenci putra ke duanya, ia menyalahkan putra ke duanya atas kematian istrinya. Waktu itu dirinya melihat putra ke duanya yang berada di ujung tangga atas, dari situ ia sangat membenci putra ke duanya.
Meskipun banyak yang mengatakan putranya tidak bersalah, tetapi ia tidak memperdulikan untuk itu. la tetap beranggapan jika sang istri tiada karena putra ke duanya.
"Aku berterima kasih padanya karena masih memberikanku waktu untuk hidup sampai sekarang. Sorry, aku tidak bisa ikut denganmu untuk balas dendammu itu. Aku lebih memilih untuk hidup tenang dari pada aku harus berurusan dengan keluarga William," sambungnya. la cukup berani untuk menolak ajakan Dario. Keputusan yang tepat yang ia pilih.
"Aku akan kembali ke hotel tempatku tinggal. Semoga kau berhasil dalam balas dendammu itu. Aku sarankan kau berdiskusilah dengan anak-anak buahmu. Jangan bersikap seperti anak kecil, sedikit-sedikit teriak dan membuang semua barang-barangmu. Bye bye...." la melangkahkan kakinya pergi dari sana meninggalkan Dario.
Padahal mereka adalah saudara sedarah, tetapi entah kenapa mereka memiliki sifat yang jauh berbeda. Dario kembali tersulut emosi karena sang adik tidak ikut membantunya untuk membalaskan dendam pada keluarga William. Ia kembali membuang gelas kaca yang ada di sana, para pelayan dan bawahannya tidak bisa mencegah apa yang di lakukan oleh Dario.
__ADS_1
Sebenarnya adik Dario itu juga memiliki mafia di bawah pimpinannya, mafia itu ia dirikan sendiri atas kekuatannya tanpa campur aduk dari sang kakak. Walau pun tidak sebesar milik sang kakak, setidaknya itu bisa melindungi dirinya dan orang di sekitarnya yang sudah membantunya. Ia juga memiliki usaha lainnya selain menjadi pimpinan mafia.
Dia tidak bergantung dari harta dan kekuasaan sang papa, ia memutuskan untuk berdiri sendiri. Beda halnya dengan Dario yang menikmati hasil dari sang papa. Dari sikap dan sifatnya, adik Dario memiliki sikap yang lebih dewasa dari pada Dario.