
Sedangkan di sisi Dario ...
la menakut-nakuti Thea yang tidak mengetahui apa-apa di sana. Ia menodongkan belati pada Thea. Rasa takut, cemas dan khawatir Thea alami saat ini.
Siapa yang tidak merasa takut bercampur cemas dan khawatir jika di todongkan belati seperti itu. Ingin rasanya ia menjerit dengan keras, tetapi dirinya takut jika Dario melukainya. Dia sangat takut jika kali ini adalah terakhir kalinya dirinya melihat dunia.
Air matanya mulai menetas, ia menangis tanpa suara. Dario hanya tertawa terbahak-bahak melihat Thea yang teramat sangat ketakutan.
"Hahaha... kenapa kau menangis anak manis? Apa kau takut dengan apa yang ada di tanganku ini?" sudah jelas jika Thea terlihat sangat ketakutan, tetapi dia tetap saja bertanya seperti itu. Sepertinya dia kehilangan akal saat ini.
"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu? Kenapa kau membawaku ke sini? Kau salah orang." Dengan sedikit keberanian, Thea berani membuka suara di depan Dario.
"Hahaha... aku memang salah orang. Orang yang aku incar pasti akan datang ke sini saat tahu kau ada di sini," jawab Dario santai.
"Kalau kau berurusan dengan orang lain kau bawa saja orang itu. Kenapa aku yang justru kau bawa ke sini. Aku tidak ada urusan denganmu!"
"Hahaha... ternyata kau berani juga. Aku kira kau anak pendiam yang hanya bisa menangis dan menangis," ujar Dario melihat perubahan sikap yang di tunjukkan oleh Thea.
Dario mendekat dan mencengkram kuat rahang Thea, ia meringis kesakitan karena Dario dengan keras mencengkramnya. Tentu saja tenaganya cukup besar, mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
"Kau harus tahu anak manis. Aku tidak suka mendengar bentakan darimu walau sekecil apa pun. Jadi kau harus bersikap lembut." Dia saja tidak bisa lembut, tetapi meminta Thea bersikap lembut. Memang diirinya agak lain.
Dario melepas cengkramannya dengan kasar. Untung saja jika Thea tidak sampai menerima pukulan atau tindakan keras lainnya dari Dario.
"Kau saja laki-laki tidak bisa lembut dengan perempuan. Untuk apa aku bersikap lembut padamu!" sarkas Thea lagi.
Plak...
Dario menampar kuat pipi Thea sampai terlihat bentuk tangannya di pipi Thea. Bekas tangan berwarna merah itu terlihat jelas. Thea ingin sekali menangis tetapi rasa perih di pipinya itu membuatnya tidak bisa menangis.
Baru kali ini dia mendapat tamparan begitu keras dari orang lain, ke dua orang tuanya saja tidak pernah melakukan hal seperti itu. Thea masih memalingkan wajahnya yang perih bercampur panas saat ini. Dario kembali mencengkram kuat rahang Thea, dia masih belum puas setelah mendaratkan tamparan di pipi Thea.
"Sudah aku bilang padamu. Sebaiknya kau diam saja. Sebenarnya aku ingin sekali menyiksamu di sini, tapi aku menunggu teman-temanmu itu. Aku ingin mereka menyaksikan bagaimana aku menyiksamu." Dario kembali melepaskan cengkramannya dengan kuat dan keluar dari tempat itu.
Thea meneteskan kembali air matanya. Ia berpikir sebenarnya salah apa dirinya sampai-sampai dirinya mendapat perlakuan seperti itu. Sungguh, sangat sakit ia merasakan tamparan di pipinya. Semoga saja Dario tidak berlaku lebih kasar lagi pada Thea.
Doorr...
Dorr ...
Dorr...
Rentetan tembakan dari udara itu menggempur bangunan yang cukup luas itu. Orang-orang yang berada di bawah sana yang belum bersiap itu pun terkena tembakan dan langsung tewas seketika. Mereka belum bersiap karena tembakan itu datang secara tiba-tiba.
Dorr...
Dorr...
Dorrr...
Rentetan tembakan itu kembali terdengar bising di telinga. Dario, dia yang mendengar suara tembakan itu sedikit tersenyum bahagia karena orang-orang yang ia tunggu ternyata datang juga. Dia bisa menebak jika itu adalah rombongan dari Julian, siapa lagi kalau bukan bala tentara Julian.
"Hahaha... sudah aku duga pasti dia akan datang. Ternyata cepat juga dia bisa menemukan tempatku," ujar Dario.
"Kalian semua, lawan mereka. Jangan sampai kalian di kalahkan oleh anak-anak ingusan itu!" teriak Dario pada para bawahannya.
Para bawahan Dario itu pun membalas setiap tembakan demi tembakan dari udara. Ternyata anak buah Julian ada juga yang membawa helikopter.
Sedangkan di sisi jauh dari lokasi tersebut...
Seseorang yang tengah mengendarai mobil itu menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba karena mendengar sayup-sayup suara tembakan di telinganya. Jalanan cukup sepi, hanya ada dirinya yang melintas, tetapi tidak membuatnya takut. Kanan kirinya terdapat hutan dengan pohon yang menjulang tinggi.
la mengira jika tempat yang di maksud bawahan dari kakaknya itu tidak berdampingan dengan hutan, ternyata harus melewati hutan terlebih dahulu untuk sampai.
"Apa mereka semua sedang berperang?" gumamnya.
Dia mendengar suara berisik tembakan, berarti memang tidak terlalu jauh dari dirinya berhenti saat ini.
"Sebaiknya aku jalan kaki dari sini. Sepertinya tidak terlalu jauh dari sini." la pun menepikan mobilnya. Sedikit masuk ke dalam hutan dirinya meletakkan mobilnya, tidak lama kemudian dirinya keluar dan berjalan menyusuri jalanan untuk sampai ke tempat tujuannya.
Siapa lagi dia kalau bukan Arion. Ternyata anak buah Julian datang lebih awal dari perkiraan. Entah apa yang akan dia lakukan saat tiba berada di lokasi? Dia membantu sang kakak, atau justru sebaliknya? Kita akan tahu bagaimana nanti Arion bertindak.
Walau jarak sedikit jauh, Arion lebih memilih untuk berjalan kaki saja. Mungkin karena itu lebih aman dari pada harus membawa mobil.
Kembali lagi ke sisi Dario, di posisi Thea...
Matanya membulat mendengar suara-suara tembakan yang terdengar di pendengarannya. "Suara apa itu? Kenapa banyak sekali suara tembakan di luar? Sebenarnya tempat apa ini? Dan apa yang sedang terjadi di luar sana?"
Thea kembali merasakan ketakutan yang teramat. Sudah mendapat perlakuan kasar, dan tidak lama kemudian mendengar suara tembakan-tembakan yang sangat berisik di luar.
"Hiks... hiks... Mommy... Daddy... tolong Thea. Selamatkan Thea dari sini. Tempat apakah ini?" tangis yang ia tahan itu pun akhirnya terdengar.
Dia ingin sekali lepas dan pergi dari sana, tetapi ikatan yang melilit dirinya cukup kencang. Ia menangis tersedu-sedu dengan sedikit memberontak agar bisa lepas dari sana. Namun tetap saja, percuma hasilnya.
"Apa dia seorang *******? Tapi kenapa harus aku yang dia bawa ke sini olehnya?" tangisnya semakin kencang di sana. Kalau saja di sana ada bawahan Dario, mungkin dirinya sudah mendapat omelan.
Dorr ...
Dorr...
Dorr ...
Berselang beberapa menit saja anak buah Julian muncul ke permukaan dan melawan para bawahan Dario. Mereka memulai baku tembak dengan bawahan Dario banyak yang sudah terluka akibat tembakan dari atas sebelumnya.
"Sembunyikan anak itu ke ruangan lain. Jangan sampai mereka mudah menemukannya," perintah Dario. Mereka mengangguk lalu pergi membawa Thea untuk di sembunyikan kembali.
Mereka kembali menuju ke ruang di mana Thea berada saat ini. Thea yang melihat kedatangan mereka itu pun kembali merasakan ketakutan. Ia sudah menebak-nebak jika mereka semua adalah ******* yang kejam.
Kalau saja Thea mereka sebenarnya, mungkin dia pasti akan menangis lebih tersedu-sedu. Entah bagaiman reaksinya nanti jika teman-temannya selama ini bukanlah orang biasa, melainkan pimpinan dan anggota mafia yang cukup besar. Orang-orang itu mulai melepaskan lilitan tali yang mengikat Thea di sana.
"Mau apa kalian!" bentaknya karena ia merasa ketakutan.
"Diamlah dan menurut saja," jawab orang itu dengan garang. Mereka mulai mebawa paksa Thea untuk keruangan lainnya. "Mau kalian bawa ke mana aku!"
"Aku bilang diam dan lebih baik menurutlah dari pada kau akan mati sia-sia. Atau kau ingin aku lempar ke luar dan merasakan bagaimana peluru-prluru itu menembus semua anggota tubuhmu?' orang itu memberikan ancaman pada Thea agar diam dan menurut.
Thea masih saja ingin melepaskan diri, tetapi usahanya tidak berhasil. Tetap saja dia pasti akan kalah dengan tenaga mereka walau merak hanya mencengkram. Setibanya di ruang lain, mereka kembali mengikat Thea dengan kencang agar tidak bisa melarikan diri.
__ADS_1
"Lepaskan aku? Kenapa kalian mengikatku kembali ?" berontak Thea.
Ternyata di sana banyak ruang kosong yang tidak terpakai. Mereka membawa Thea ke ruang yang paling ujung.
Doorr...
Dorr ...
Dorr ...
Thea kembali merasakan ketakutan yang besar di sana. Suara tembakan yang begitu keras seperti berada tepat di belakangnya. Benar-benar kali ini ia sangat takut, pertama kali dalam hidupnya dirinya mendengar suara tembakan yang saling bersahutan begitu banyaknya.
Semoga saja kejadian ini dan suara tembakan yang di terima oleh telinganya itu tidak membuatnya trauma dalam hari-harinya. Ia ingin sekali menjerit di dalam sana, ia sudah tidak tahan lagi. Bawahan Dario itu kembali keluar dan berjaga di luar ruangan itu.
Mereka memanggil anggota lainnya untuk berjaga di sana agar Julian dan teman-temannya tidak mudah membawa Thea dari sana.
Dorr...
Doorr...
Dorr ...
Baku hantam itu terus terjadi. Mereka juga baku hantam satu sama lain. Kali ini bawan Dario sedikit kuat, sepertinya Dario sudah bisa membuat rencana yang hebat dan memperkuat anggotanya.
Julian mulai turun dan melawan para bawahan Dario di sana. Julian tidak akan membiarkan Dario begitu saja kali ini. Bagaimana bisa sampai orang lain Dario seret dalam masalahnya.
Julian dengan langkahnya membawa katana miliknya dan melibas mereka-mereka yang ada di depannya.
Sring...
Sriing...
Sekali libas Julian menghabisi mereka. Mereka yang mendapat libasan dari Julian itu tidak bisa menghindar dengan mudah. Mungkin itu alasannya Julian lebih suka menggunakan katana di bandingkan dengan pistol.
Sringg...
Sriing...
Sekali libas Julian bisa menghabisi beberapa orang di sana. Katana memang tidak bisa di gunakan oleh orang asal-asalan jika belum terlatih. Namun Julian sudah ahli dalam menggunakannya.
Bugh...
Bugh...
Julian menghindar dari pukulan yang di layangkan bawahan dari ke arahnya.
Sring...
Sring...
Julian kembali mengayunkan katana di tangannya. Julian kalau sudah berhadapan dengan musuh bukan seperti dirinya lagi. Dia yang menyelamatkan seorang teman saja bisa sesadis itu, bagaimana jika yang di posisi tertangkap itu Jennifer atau Fany, mungkin dalam satu detik di sana sudah rata dengan tanah.
Julian mencoba menyembunyikan katana miliknya dengan menempelkan sidik jarinya di sana. Ia melawan orang-orang di sana dengan tangan kosongnya untuk sebentar. Kalau saja mereka langsung dia basmi, tidak akan seru jika hanya sebentar.
Bugh...
Bugh...
"Heh, payyah." Senyum mengejeknya telihat melihat kumpulan orang-orang itu jatuh tersungkur.
Bugh...
Bugh...
la kembali melawan orang-orang disana yang tengah mendekat padanya. Dia adalah Robert, ia melawan anak buah Dario. Mereka membagi setiap sisi masing-masing.
Robert mencoba menghindar anak buah Dario yang melawannya menggunakan belati di tangannya. Dengan lincah ia melakukannya
Bugh..
Bugh...
Jleeb...
Robert membalikkan belati itu ke arah bawahan Dario. la tewas seketika di sana. Robert mengambil alih belati itu untuk di gunakannya sebagai senjata melawan yang lainnya.
Robert mulai mengayunkan belati di tangannya pada salah satu orang di depannya. Orang itu sekuattenaga menahan belati yang di arahkan padanya. Robert juga tidak mau kalah, ia semakin mendorong belati itu untuk mengenai lawan.
"Aaarkh...." Jleeb... Robert berhasil mengenai orang itu.
Walau pun belati itu menancap di perut orang itu, Robert tetap menekannya lebih kuat lagi dan lebih dalam. la tidak melepaskan belati itu begitu saja.
Sementara di sisi Fany dan Jennifer, mereka berdua melawan secara bersamaan. Ternyata Fany lari dari Julian dan memilih bersama dengan Jennifer. Entah bagaimana Julian nanti terhadapnya jika perang itu selesai.
Mereka berdua juga tidak segan-segan melakukan tendangan salto pada semua bawahan Dario.
Bugh...
Bugh... bugh...
Bugh... bugh...
"Kau tetaplah fokus. Gunakan semua panca inderamu," ujar Jennifer. Posisi mereka saling membelakangi dengan kedua punggung saling menempel.
"Baiklah di mengerti...." Fany memahami maksud dari yang di ucapkan oleh jennifer.
Insting, pendengaran dan konsentrasi harus ia gunakan kali ini. Kalau salah satu lengah, maka dengan mudah musuh mengambil celah. Mereka kembali melawan para musuh yang mendekat.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Baku hantam dari mereka berlanjut. Meski pun mereka berdua adalah perempuan, tetapi mereka tidak mau kalah. Mereka sudah terlatih sejak dini, kemenangan harus berada di tangan mereka.
Sisi Julian...
__ADS_1
Julian sibuk melawan bawahan Dario, ia ingin segera untuk menghadapi Dario yang belum nampak di ke dua matanya. Sepertinya Dario memang sengaja tidak muncul terlebih dahulu. Dia ingin membuat Julian kelelahan terlebih dulu.
Dorr...
Dorr...
Dorr...
Dengan sigap Julian menghindari peluru-peluru yang meluncur ke arahnya.
Dorr ...
Dorr ...
Dorr...
Dengan sigap Julian membalas tembakan-temabakan itu pada bawahan Dario. Tembakannya tepat mengenai jantung dan kepala dari mereka. Salah satu kepala itu terpecah karena tembakan Julian.
Tanpa hitungan menit mereka tumbang bersamaan dalam sekejap. Julian kembali meluncurkan pelurunya pada mereka yang mulai mendekat ke arahnya.
Sementara di sisi lainnya...
Seorang laki-laki tengah mencari celah untuk bisa masuk ke dalam bangunan itu. Kalau saja dia menerobos masuk, pasti dirinya akan terkena serangan-serangan yang terjadi saat ini. Ssiapa lagi dia kalau bukan Arion, ia menatap bangunan megah itu yang tidak jauh dari pandagannya.
la mencari jala untuk dirinya bisa masuk ke dalam sana. setelah melihat salah satu celah, ia segera melintasi celah tersebut. Perlahan demi perlahan dia berjalan.
Dor...
Dorr ...
Dorr ...
la lupa jika tidak melihat jalur udara. Anak buah Julian masih juga masih berada di jalur udara, mereka membantu dari ketinggian. Melihat pergerakan Arion mereka melayangkan tembakan-tembakan ke arahnya.
"Arrkh... sial. Aku lupa untuk itu," salah satu peluru itu mengenai kakinya.
Satu peluru itu tidak ada apa-apanya baginya, ia pun berlari dengan cepat agar bisa menghindari tembakan-tembakan dan baku hantam di luar sana. Walau kaki terluka ternyata dia masih kuat untuk berlari dan menghindari semua tembakan itu.
la mencari-cari ke setiap ruangan yang ada di sana. Memang banyak sekali ruangan di dalam sana yang tidak terpakai, tetapi ia tidak melihat satu orang pun yang berjaga. Pasti tidak mungkin mereka tidak menjaga tawanan yang tertahan.
Sepertinya ia sedang mencari keberadaan Thea yang di sekap oleh Dario. Di saat yang lain tengah baku hantam dan tembak, ia dengan santainya mencari ruangan yang di gunakan untuk menyekap Thea. Apa tujuannya sebenarnya?
Setelah pencarian, akhirnya ia melihat salah satu ruang yang terdapat bawhaan Dario berjaga di sana. Arion bisa menebak jika ruangan itu yang di gunakan. Sudah terlihat jelas jika mereka berjaga di sana.
Arion mendekat ke arah ruangan tersebut tetapi di cegah oleh bawahan Dario.
"Ada perlu apa Tuan?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku ingin membawa wanita itu," jawabnya dengan singkat.
"Untuk apa, Tuan? Tuan Dario meminta kami menjaganya," ujarnya lagi.
"Justru Tuan Dario lah yang memintaku. Apa kau tidak percaya dengan saudara dari Tuanmu?" mereka semua yang ada di sana saling pandang satu sama lain. Antara percaya atau tidak, mereka memang sedikit tahu bagaimana kakak beradik itu.
"Aku ingin membawanya ke tempat yang lebih aman agar mereka tidak bisa menemukannya. Kalian bisa membantu yang lainnya untuk melawan musuh. Apa kalian ingin bersantai di sini sedangkan teman-teman kalian sedang berjuang melawan musuh? Bagaimana harga diri seorang mafia yang kalian punya?" Arion mencoba meyakinkan orang-orang itu.
Mereka kembali saling tatap karena bingung. Mereka akhirnya mengangguk dan membukakan pintu untuk Arion masuk. Arion tersenyum tipis karena bawahan dari kakaknya itu dengan mudah percaya padanya.
Arion mendekat ke arah Thea yang terlihat ketakutan di sana. Thea yang melihat Arion itu mengerutkan keningnya. Ia mulai berpikir siapa sebenarnya Arion? Apa ia juga dari kelompotan mereka.
"Kau? Apa yang kau lakukan?" tanyanya saat Arion memulai melepaskan tali yang mengikat Thea.
Arion mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Thea. Thea yang sudah dulu ketakutan itu malah menjauhkan wajahnya dari Arion. Arion membisikkan sesuatu yang sepertinya penting.
Thea mencoba bersikap tenang saat Arion selesai membisikkan sesuatu padanya. Ikata terlepas, Arion menyeret Thea pergi meninggalkan ruangan itu.
"Untuk apa kalian masih berada di sini? Apa kalian hanya ingin menikmati kemenangan tanpa bertarung? Anggota macam apa kalian?" celetuk Arion pada bawahan Dario yang masih berada di sana.
"Wanita ini tidak akan lepas dariku," sambungnya.
"B-baik, Tuan Muda." Mereka pun berlari-lari ikut menyusul mereka yang tengah bertarung kali ini.
Setelah kepergian mereka, Arion membawa cepat Thea pergi dari sana. Entah ke mana dirinya membawa Thea dengan tergesa-gesa.
"Kau akan membawaku ke mana? Bagaimana bisa kau tahu aku berada di sini? Siapa sebenarnya kau? Apa kau salah satu anggota mereka?" cerca Thea pada Arion.
"Itu tidak penting saat ini, Nona. Sebaiknya kau diam saja dan ikut denganku," jawab Arion yang masih menyeret tangan Thea. Mereka melintasi jalan yang lain agar tidak di ketahui Dario dan yang lainnya.
Kembali ke sisi Julian ...
Dario yang memantau Julian dan lainnya itu tersenyum jahat. Ia melihat pergerakan Julian yang dengan cepat menghabisi para bawahannya.
"Baiklah... bagaimana nanti jika kau melihat temanmu itu dalam penyiksaanku?" Dario berjalan menuju ruangan yang berada Thea di sana.
la melihat bawahannya yang berjalan ke arahnya
meninggalkan ruangan yang tadi. "Kenapa kalian membiarkan anak itu sendiri di sana?"
"Tuan Arion datang dan memerintahkan kami membantu yang lainnya," jawabnya dengan jujur.
"Lalu bagaimana anak itu!?"
"Tuan Arion yang membawa. Dia mengatakan jika Tuan yang memintanya," jawabnya lagi.
"Ke mana dia membawanya!? Dario mulai merasakan ada yang aneh di sana.
Mereka saling pandang tidak tahu ke mana Arion pergi membawa Thea dari sana.
Bugh...
Bugh...
Dario memberikan bogeman entah pada bawahannya. "Dasar bod*h."
"Cari keberadaan mereka!"
Mereka kembali berbalik arah untuk mencari Arion yang tengah membawa Thea. Dalam situasi seperti ini pun Dario masih saja memikirkan Thea yang di bawa kabur oleh Arion. Entahlah bagaimana dia sebenarnya.
__ADS_1