
"Ada apa?" tanya Ana yang menghampiri suami dan anak-anaknya.
"Tidak ada, mereka hanya bermain-main." Jawab Sean santai.
"Ayo sini, sama mami." Panggil Ana di antara salah satunya. Julian berlari ke arah sang mami.
"Aku dengar kalo hari ini James mengatakan niatnya pada temanmu itu, siapa itu namanya? Aku lupa." Ujar Sean.
"James? Aaahh apa Rika?" jawab Ana.
"Apa James mengatakan jika ingin menikahi Rika ?" tanya Ana antusias. Sean menganggukkan kepalanya.
"Waahh.... Benarkah itu?" tanya Ana lagi.
"Iyaa.... Aku juga heran. Kenapa bisa James mau dengannya yang bar-bar seperti itu?" ungkap Sean pada Ana.
"Jangan begitu. Begitu-begitu Rika baik, tidak perlu berpura-pura." Jawab Ana yang memang mengenal baik Rika seperti apa.
"Iyaa... aku sependapat denganmu." Jawab Sean.
"Tapi... aku tidak bisa membayangkan jika mereka nanti satu rumah bagaimana? Sepertinya sangat rame sekali." Desis Sean yang mengingat ke bar-barnya Rika yang pernah ia lihat.
"Biarkan rumah tangga mereka bewarna. Biar James tidak kesepian lagi mendengar omelan Rika setiap hari ." Ujar Ana yang di akhiri cekikikan dari dirinya.
"Mamiii... Juulll..." ucap Jennifer menunjuk ke arah Julian yang berada di pangkuan Ana.
"Ada apa, sayang." Tanya Ana pada putri kecilnya.
"Juull..."
Pukk...
Pukkk...
Jennifer memperagakan saat Julian memukul wajahnya tadi.
"Sepertinya, dia mengadu padamu, sayang. Tadi Julian memukulnya." Ujar Sean pada Ana yang faham dengan tingkah lucu putrinya.
"Benarkah? Apa anak mami yang ganteng ini memukul kakak?" ucap Ana mengajak Julian berbicara. Julian menggeleng dengan ucapan Ana.
__ADS_1
"Anak-anak mami tidak boleh bohong, oke. Anak mami kan pinter-pinter." Ucap Ana mencium tangan mungil dari Julian.
Mereka memutuskan untuk beristirahat karena hari sudah malam. Ana juga sengaja mengajak Sean untuk tidur dan beristirahat lebih awal agar luka Sean cepat kering dan sembuh.
Mungkin luka kecil itu bagi Sean, tapi, Ana tidak akan membiarkan Sean yang berterus-terus menganggap luka itu luka kecil. Jika saja dia belum menikah, mungkin dia masih gila kerja dan tidurpun di waktu yang larut.
Semenjak ada Ana, ia menuruti apa kata sang istri. Tapi itu juga membuatnya sangat senang, karena Ana benar-benar merawatnya dengan penuh perhatian.
Keesokan harinya...
Mension utama...
Kali ini di sana kedatangan tamu yang tidak di undang.
"Ada apa tuan? Ada keperluan apa kemari?" tanya papi Sean pada orang tersebut.
"Maaf sebelumnya, Tuan William. Aku ke sini karen ada perlu sesuatu. Aku juga ingin bertemu dengan putramu." Jawabnya dengan sangat ramah.
"Memangnya ada keperluan apa? Kenapa tidak menemuinya saja langsung ke kantor di mana ia berada sekarang." Jawab papi Sean.
"Tidak, tuan. Saya ke sini karena ingin menyelesaikan masalah secara kekeluargaan." Jawabnya dengan formal.
"Putra anda sudah membuat putra saya babak belur tuan, dia di rawat di rumah sakit selama satu minggu. Bahkan sampai terdapat kerusakan di jantungnya karena ulah putra anda." Terangnya.
Hmm... siapa lagi orang itu kalau bukan papa Andy. Dia datang ke mension utama keluarga William, karena memang banyak yang tahu alamat Sean di sana. bukan di mension pribadinya.
"Putraku membuat putramu babak belur? Apa anda sudah bertanya sendiri dengan putramu, tuan? Meskipun putraku orang yang keras, dia tidak akan menghajar seseorang tanpa sebab. Pasti putramu sendrilah yang sudah membuat gara-gara dengan putraku." Jawab papi Sean panjang lebar.
"Harusnya anda sebagai orang tua juga harus bisa bertanya dulu kepada putramu sebelum datang ke sini. Jangan sampai tujuanmu ke sini itu sia-sia." Sambung papi Sean. Papa Andy tidak bisa berkata apa-apa mendengar perkataan papi Sean.
Papi Sean tersenyum miring lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Sean untuk datang ke sana.
Tuutt...
Tuutt...
"Halo, son." Ucap papi Sean setelah sambungan telfonnya terhubung.
"Halo, Pi. Ada apa?" tanya Sean singkat di seberang sana.
__ADS_1
"Datanglah ke sini, son. Ada orang yang ingin bertemu denganmu." Ucap papi Sean melihat kearah papa Andy.
"Siapa, Pi?" tanya Sean lagi.
"Datanglah secepatnya, nanti kau akan tahu sendiri." Papi Sean tidak menjawab siapa orang itu. ia langsung memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak.
Suasana terasa hening setelah sambungan telfon itu terputus. Mami Sean sedang berada di mension Sean saat ini, ia rindu dengan twin J.
Sean yang berada di kantor pun segera menyahut jasnya dan bergegas pergi ke mension utama.
"Kau urus sebentar, James. Papi menyuruhku datang ke sana." Ujarnya pada James, lalu melangkahkan kakinya keluar.
Sean sudah kembali bekerja meskipun lukanya belum sepenuhnya kering, bersusah payah Ana membujuknya tapi tidak berhasil.
Sesampainya Sean di mension utama, ia langsung saja bergegas masuk ke dalam dan melihat siapa yang mencarinya.
"Ada apa, pi?" tanya Sean yang baru saja tiba.
"Duduklah. Ada orang yang ingin bertemu denganmu ." Ujar papi Sean dengan menunjuk orang tersebut dengan dagunya.
Sean menoleh ke arah orang tersebut dan melihatnya dengan lekat. "Ada keperluan apa anda mencariku, Tuan?" tatapan mata Sean terlihat sangat mengintimidasi.
"Aku datang ke sini ingin meminta pertanggung jawabanmu yang sudah membuat putraku babak belur, tuan muda William." Ucapnya pada Sean.
"Putramu? Babak belur karena ulahku?" Sean mengulangi ucapan tersebut. Sean langsung faham siapa yang di maksud oleh orang tersebut. Sean pun tersenyum sinis pada orang tersebut.
"Apa kau sudah bertanya pada putramu sendiri apa yang sudah dia lakukan?" sambung Sean.
"Aku pastikan jika kau sendiri belum menanyakan pada putramu apa yang sudah dia lakukan. Harusnya kau bertanya dulu dengan putramu sebelum datang ke mari." Imbuh Sean yang sudah tidak menggunakan bahasa formal lagi menghadapi papa Andy.
Kali ini papi Sean tidak ingin ikut campur dengan urusan Sean, dia hanya menyimak perbincangan keduanya.
"Pertanggung jawaban apa yang kau mintai padaku?" nada bicara Sean terlihat sangat tegas kali ini. Raut wajahnya juga menjadi datar dan dingin seketika.
"Anda harus bertanggung jawab dengan tindakan yang anda lakukan pada putraku." Jawabnya.
"Apa aku harus menyerahkan diriku pada polisi begitu? Atau kau akan melakukan hal sama pada diriku?" desak Sean pada papa Andy.
"Apa kau tau apa yang sudah putramu lakukan.
__ADS_1
Putramu telah berbuat kasar pada istriku, dia sudah mengganggu istriku. Bahkan dia dengan beraninya ingin membawa istriku pergi." Jawab Sean dengan tegas. Papa Andy hanya terdiam tidak bisa berkata-kata. Sean tersenyum sinis melihat ekspresi terkejut dari papa Andy yang ia sembunyikan.