
Dokter tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Sean.
"Dua titik tersebut merupakan benih yang tumbuh di dalam rahim nyonya muda, tuan."
"Nyonya saat ini tengah mengandung." Sambung dokter.
"Jadi, maksud dokter. Saya hamil?" Ana membuka suaranya kali ini.
"Benar nyonya, anda hamil usia 4 minggu. Dan di dalam sana ada dua calon buah hati anda," Jelas dokter itu lagi.
"Apa anda tidak salah dokter?" Tanya Sean. Ia ingin memastikan jika apa yang ia ketahui sekarang tidaklah bohong.
"Tidak tuan. Tuan bisa melihatnya sendiri." Jawabnya.
Mata Ana berkaca-kaca setelah mendengar penuturan dari dokter. Dia tidak menyangka, jika diusianya yang memasuki 20 tahun itu, dia sudah merasakan akan menjadi ibu.
Bukan karena sedih ataupun Ana menolaknya, tapi perasaannya tidak bisa di gambarkan kali ini.
Sean yang mendengar kabar baik itu pun hatinya merasakan bahagia yang luar biasa. Keinginannya untuk segera memiliki Sean junior terwujud.
"Selamat untuk tuan dan nyonya. Kalian di karunia anak kembar." Imbuh dokter memberikan selamat atas kehamilah Ana.
Setelah usai melakukan pemeriksaan, mereka kembali ke mension untuk memberitahukan kabar bahagia ini pada keluarganya. Terutama pada Diva.
Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan yang standart, agar Ana tidak merasakan guncangan yang membuatnya tidak nyaman.
Sepanjang perjalanan, sebelah tangan Sean memegang erat tangan Ana. Sean sepertinya tidak ingin Ana lepas sedikitpun darinya.
Sesampainya di mension, Sean dan Ana langsung saja masuk ke dalam. Suasana masih sepi, karena Diva belum pulang dari sekolah. Hanya ada maid yang bekerja membereskan rumah dan yang lainnya.
"Apa kau tau, aku sangat senang mendengar kabar bahagia ini. Aku akan menjagamu dan keluarga kecil kita." Ungkap Sean dengan tatapan yang dalam pada Ana.
"Tapi, aku belum bisa menjadi ibu yang baik Sean."
"Tidak, kau yang terbaik. Diva saja bisa sangat dekat denganmu, bagaimana anak-anak kita nanti." Jawab Sean lembut.
Tak lama kemudian, suara teriakan Diva terdengar sangat melengking.
"Uncle... aunty..."
"Kalian sudah pulang?" Tanya mami Sean pada keduanya.
"Bagaimana hasilnya?" Sambung mami Sean mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Ana tengah mengandung, mi. Dan di dalam sana ada dua sekaligus." Jelas Sean.
Mami Sean terlihat sangat senang mendengarnya. Bukan hanya satu, ini di berikan dua sekaligus.
__ADS_1
"Astaga. Apa benar? Kalian akan memiliki anak kembar?" Sean hanya mengangguk menanggapi sang mami. Mami Sean pun memeluk Ana krena saking bahagianya.
"Selamat untuk kalian ya. Mami ikut senang. Papi juga pasti sangat senang mendengarnya." Ucap sang mami.
"Terima kasih, mi." Ujar Ana.
"Diva... sini." Panggil Sean. Divaa pun mendekat ke arah Sean.
"Diva mau adik bukan?" Diva mengangguk dengan pertanyaan Sean.
"Oleh-oleh uncle sudah ada buat Diva waktu itu. Diva akan mempunyai adik sebentar lagi." Imbuh Sean.
"Benarkah uncle, mana adik Diva sekarang?" Tanya Diva antusias.
"Adik Diva sedang tumbuh di dalam perut aunty. Diva akan punya dua adik." Jawab Sean.
"Waahh... benarkah uncle. Diva akan punya dua adik sekaligus." Wajah Diva sangat senang mendengarnya. Dia terlihat sangat bahagia mendengar akan mempunyai seorang adik. Sean menganggukkan kepalanya pada Diva.
Kabar bahagia itu pun akhirnya terdengar seisi mension. Tak lupa juga Sean memerintahkan maid untuk memperhatikan makanan yang akan di konsumsi setiap harinya nanti.
Sean juga semakin memperketat penjagaannya terhadap Ana kali ini.
Malam harinya...
Seperti biasanya, Ana merasakan lapar dan menginginkan sesuatu untuk di makan.
"Apa yang kau inginkan, hmm?" Tanya Sean lembut.
"Aku ingin makan pangsit goreng, aku juga ingin makan ayam spicy." Jawab Ana.
"Jangan makan yang pedas. Tidak baik untukmu saat ini."
"Tapi aku menginginkannya." Rengek Ana.
"Aku juga ingin makan beef steak." Imbuhnya lagi.
"Kenapa banyak sekali?" Ujar Sean. Padahal, mereka juga baru saja selesai makan malam.
"Apa kau lupa. Aku tidak sendiri kali ini. Aku membagi makananku pada mereka." Jawab Ana menunduk kearah perutnya yang masih rata.
"Biar aku perintahkan maid untuk membuatnya." Jawab Sean pasrah.
Kali ini Sean tidak perlu berkeliling mencari makanan yang di minta oleh Ana, karena makanan tersebut cukup mudah untuk di buat.
Semua bahan di mension Sean juga sudah tersedia, Sean tinggal memerintahkan maid yang ada di sana untuk membuatkannya.
Setelah makanan-makanan itu selesai di buat, Ana segera menyantapnya tanpa menunggu lama. Ana begitu lahapnya memakan makanan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Hati-hati. Nanti tersedak," ujar Sean yang melihat nafsu makan Ana.
Sejak kemarin-kemarin, selera makan Ana memang sangat meningkat. Meskipun terkadang yang di minta jarang sekali ia memakannya.
Sean mengelap sisa makanan yang menempel di bibir Ana dengan lembut. Ana hanya tersenyum manis dengah perlakuan Sean padanya.
Siang harinya, Ana dan Diva memutuskan untuk datang ke kantor dimana Sean berada sekarang.
Ana hanya memakai baju sederhana dan membawakan bekal untuk Sean kali ini. Semua orang memandang kedatangan Ana kali ini.
Mereka semua tahu jika Ana sudah resign dari sana, tapi kenapa datang ke sana lagi. Dengan keponakan bos mereka pula. Mereka menggunjing Ana jika Ana tengah menggoda Sean. Padahal nyatanya, tidak sama sekali.
Ana dan Diva terus saja berjalan tidak peduli dengan omongan-omongan dari orang lain padanya.
"Waahh.. wahh... siapa yang datang ini." Ucapnya sombong melihat kedatangan Ana. Dia menghadang jalan Ana untuk menemui Sean.
Siapa yang bisa menebak orang itu?
"Mau apa datang kemari? Apa sekarang profesimu menggoda pria-pria kaya?" Ucapnya lagi mengejek Ana.
"Ayok Diva, tidak perlu di perdulikan." Ajak Ana untuk segera menemui Sean.
Belum juga melangkah jauh, tangan Ana sudah di cengkram olehnya.
"Maaf kakak, aku masih ada urusan." Jawab Ana melepaskan cekalan tangannya.
Benar sekali, orang yang menghadang Ana adalah Lita. Dia berada di perusahaan Sean sejak kemarin. Sean menjalankan rencananya dengan sangat apik.
Tapi, Lita tidak tahu saja jika pria yang waktu itu ia temui saat di mall bersama kekasihnya itu adalah Sean, boss dari perusahaan yang ia tempati bekerja saat ini.
Lita hanya mengetahui jika James adalah atasannya, Sean sengaja tidak menampakkan dirinya di hadapan Lita.
"Hahaha... sombong sekali dirimu sekarang. Asal kau tau, perusahaan papa dan perusahaan ini sudah bekerja sama. Yang artinya, kami akan semakin banyak uang. Dan saat itu juga, aku akan membuatmu pergi dari negara ini." Ujar Lita dengan bangganya. Dia tidak tahu saja siapa Ana yang berada di hadapannya sekarang.
Ana tidak memperdulikan ocehan dari kakak sepupunya, karena Ana sudah sangat hafal bagaimana sifat dari Lita.
"Silahkan saja kalau kau memang bisa kakak. Aku tidak pernah takut." Jawab Ana lantang.
"Hahaha... ingat baik-baik. Aku akan membuatmu malu dan pergi dari negara ini. Camkan itu." Ucapnya lagi pada Ana.
"Heh kakak jahat. Jangan bermimpi bisa melakukan itu pada aunty ku. Kau sendiri yang akan pergi dari sini." Sahut Diva. Diva masih ingat dengan Lita yang pernah di temuinya waktu itu..
"Diam anak kecil. Aku juga pasti akan membuatmu pergi meninggalkan negara ini." Bentak Lita pada Diva.
"Sudah Diva. Ayo kita menemui uncle." Ajak Ana. Dia tidak ingin sekali meladeni ucapan-ucapan Lita.
Ana melenggang pergi bersama Diva. Lita menatap kepergian Ana dengan wajah benci di menyelimutinya.
__ADS_1
Jika Lita tahu siapa Ana, entah bagaimana reaksinya dan keluarganya. Lita juga tidak tahu kalau semua ini adalah bagian rencana dari Sean.