
Ana dan Diva berdiri di depan pintu ruangan milik Sean dan langsung saja membukanya.
Ceklek...
Sean menoleh kearah sumber suara, ia melihat siapa yang datang menemuinya tanpa mengetuk pintu.
"Uncleee..." teriak Diva.
"Kalian datang? Kenapa tidak memberitahu uncle lebih dulu?"
Ana menata bekal yang ia bawa di atas meja. Sean mendekat ke sofa panjang tempat di mana Diva dan Ana duduk saat ini.
"Uncle.... Kenapa kakak jahat itu di sini?" Tanya Diva pada Sean.
"Kakak jahat? Siapa?"
"Kakak jahat yang waktu dulu di mall itu. Masak sih uncle lupa." Ketus Diva.
"Memangnya apa yang sudah dia lakukan?" Sean kembali bertanya.
"Dia tadi menghadang jalan kami uncle. Dia bilang begini pada aunty, kau tau Ana, perusahaan papa dan perusahaan ini menjalin kerja sama. Artinya, kami akan semakin banyak uang. Saat itu juga, aku akan membuatmu malu dan pergi dari negara ini. Begitu uncle ."Ucap Diva menirukan ucapan dari Lita tadi.
Sean mencoba mengendalikan amarahnya setelah menoleh kearah Ana.
Ana hanya mengangguk, Ana mau berbohong pun percuma. Diva juga sudah mengatakan semuanya.
"Dia juga membentak Diva tadi. Dia berkata lagi seperti ini pada Diva. Diam anak kecil, aku juga pasti akan membuatmu pergi meninggalkan negara ini. Begitu uncle ."Ucap Diva lagi mengadu pada Sean. Sepertinya, Diva sangat pandai kalau mengcopy paste setiap ucapan dari orang-orang. Tangan Sean mengepal kuat.
"Sudah biarkan saja, aku tidak apa Sean. Dia memang seperti itu, sekarang kita makan dulu." Ujar Ana mengalihkan pembicaraan saat ini. Dari pada nanti Sean akan marah besar.
"Kenapa kau tidak melawannya, Ana."
"Tidak ada gunanya, Sean. Aku tidak mau nanti jika mood ku jelek karena melawannya. Nanti bisa menggangguku dan membuat mereka yang di dalam tidak nyaman." Terang Ana pada Sean.
Memang benar apa yang di kata Ana, ia sedang mengandung saat ini. Dia harus bisa mengontrol emosi dan moodnya.
Mereka akhirnya menikmati makan siang dengan khidmat tanpa gangguan dari siapapun.
"James, berikan wanita itu pelajaran yang setimpal karena sudah berani pada Ana dan Diva." Perintah Sean mendengar cerita Diva. "Apa benar itu, Ana?" Sean
James mengerti dengan perintah Sean kali ini. James segera melangkahkan kakinya menemui Lita.
"Nona, kau selesaikan pekerjaan ini dalam waktu dua jam." Perintah James.
"Hah... yang benar saja tuan? Bagaimana bisa aku menyelesaikan tugas ini dalam waktu dua jam?" Ucapnya sedikit meninggikan suara. "Ini sudah menjadi tugasmu, nona." Jawab James lagi.
"Tapi, kenapa anda selalu menyururhku memperkerjakan yang berat-berat sekali?" Ujarnya lagi.
__ADS_1
"Nona, papa anda sendiri yang menyuruh kami untuk melatihmu mengelola perusahaan nanti. Jadi, kau harus bisa melakukan dan menyelesaikan pekerjaanmu bagaimanapun itu." Terang James tegas.
'Itu adalah pelajaran untukmu karena sudah bermain-main dengan nyonya muda nona. Yang kau terima sekarang belum seberapa. Ini baru pelajaran kecil' ucap James dalam hati sambil tersenyum sinis.
James selalu menyuruh Lita melakukan pekerjaan yang terbilang berat saat di sana. Seringkali Lita protes, namun aksi protesnya tidak pernah membuahkan hasil. James juga melarang karyawan lain untuk membantu Lita dengan alasan tertentu.
Sedangkan di sisi Anna...
Setelah dari kantor, kali ini Ana menikmati ice cream yang sedang ia makan sambil menemani Diva yang sedang menggambar tugas dari sekolahnya.
"Biii... tolong buatkan aku kartoffelpuffer dan pretzel." Ucap Ana pada salah satu maid yang melintas. Tumben sekali bukan dirinya sendiri yang berkutat di dapur, mungkin sedang mager.
"Baik, nyonya."
"Ehh... bawakan roti gandum ke sini." Ujarnya lagi.
Maid itupun mengambilkan roti gandum untuk Ana lalu kembali menuju kearah dapur membuatkan makanan yang di minta Ana tadi. Pretzel merupakan makanan sejenis kue yang di
buat dari biji-bijian sehat, mulai dari wijen hingga biji bunga matahari.
1 jam kemudian, maid tadi membawakan makanan yang di minta Ana.
"Silahkan di makan nyonya." Ucapnya meletakkan makanan tersebut.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, nyonya?"
"Diva mau aunty." Pinta Diva melihat Ana memakan makanannya.
"Boleh, tapi gak boleh banyak-banyak." Jawab Ana.
"Kenapa aunty pelit sekali?" Kesal Diva pada Ana.
"Aunty tidak pelit, kan aunty sudah ngasih Diva itu." Elak Ana.
"Kalau dikit ya tidak kenyang Diva-nya, aunty." Sepertinya mereka akan mulai berdebat kali ini.
"Tadi kan Diva sudah makan, masssak belum kenyang?" Sahut Ana.
"Aunty juga tadi kan sudah makan, masa masih belum kenyang. Makan banyak lagi." Bantah Diva tak mau kalah dari Ana.
"Keponakan Sean ini kenapa tidak mau mengalah sih." Gerutu Ana kesal kali ini.
Salah satu maid yang di perintahkan Ana tadi pun datang mendekat mendengar perdebatan kecil antara Ana dan Diva.
"Nona kecil... ini, bibi bawakan untuk nona kecil. Tadi bibi buat lebih." Ucapnya lembut agar perdebatan mereka tidak berlangsung lama.
Para maid di sana memaklumi sikap Ana yang memang terkadang marah-marah tidak jelas. Karena memang hormon dari ibu hamil sangat sensitif. Tidak jarang juga maid di sana kena semprot oleh Ana.
__ADS_1
"Nah... sekarang Diva tidak perlu minta pada aunty." Sahut Ana menang karena Diva tidak jadi meminta makanan miliknya.
Untung saja, maid tadi membuatnya lebih. "Terima kasih, bibi." Ucap Diva mengucapkan terima kasih.
Ana kembali makan miliknya di campurkan dengan ice cream yang baru ia ambil dari kulkas.
"Aunty... kenapa aunty makan ice cream banyak sekali. Nanti kasihan adiknya kedinginanan di sana." Tegur Diva karena melihat Ana membawa ice cream baru untuk di makan dengan makanan tadi.
"Masa iya begitu." Jawab Ana dengan tengilnya.
"Diva gak usah sok tau deh." Sambung Ana lagi.
"Ice cream nya kan masuk kedalam perut aunty. Pasti adiknya juga kedinginan karena banyak ice cream." Jelas Diva. Entah bagaiamana bisa Diva berkata seperti itu.
"Nanti biar aunty yang kasih selimut, supaya adiknya gak kedinginan." Jawab Nyeleneh Ana. Ada-ada saja, bagaimana menyelimutinya?
"Emang bisa?" Diva tak kalah tengil menanggapi ucapan dari Ana.
"Bisa dong, ini kan aunty." Jawab Ana dengan sombong. Entah bagaimana caranya Ana akan menyelimuti calon bayinya itu.
"Memang, bagaimana caranya?"
"Sudah deh, Diva makan saja sana. Anak kecil gak boleh kepo." Ketus Ana lalu memakan makanannya tadi. Diva hanya mencebikkan bibirnya karena ucapan Ana yang sejak tadi tidak bisa mengalah dan nyeleneh.
Entah jika itu ada Sean, mungkin situasinya semakin ramai dengan perdebatan-perdebatan yang tidak penting.
Diva pun memasukkan makanan miliknya ke dalam mulutnya, dari pada harus memikirkan ucapan-ucapan Ana tadi.
"Diva... boleh aunty mencoba punya Diva?"
"Tidak boleh, aunty kan sudah punya sendiri. Makanan aunty sama punya Diva kan juga sama saja rasanya." Diva menjauhkan makanan miliknya dari pandangan Ana.
"Adiknya minta punya Diva katanya." Ujar Ana.
"Tidak boleh. Aunty pasti bohong. Makanan aunty juga masih banyak kok." Sungut Diva pada Ana. Entah kenapa, bagi Diva sekarang Ana sangat menyebalkan.
"Aunty tidak bohong. Adiknya yang minta punya Diva." Jawab Ana meyakinkan.
"Emang iya? Kapan mereka bilang sama aunty?" Diva menaikkan sebelah alisnya. Diva tidak mau memberikan makanannya begitu saja pada Ana.
"Diva tidak dengar, tadi adik-adiknya berbisik pada aunty."
"Nggak, nggak boleh. Aunty makan saja punya aunty ." Diva pergi sedikit menjauh dari Ana.
Diva kembali memakan makanannya tanpa memperdulikan gerutuan dari Ana.
"Dasar, pellit sekali dia." Ana menggerutu kesal karena Diva tidak mau memberikan miliknya.
__ADS_1
Jelas saja Diva tidak mau memberikan makanan miliknya, punya Ana saja masih banyak.