
la tidak bisa tenang di sana, dia selalu memikirkan bagaimana Sean saat ini yang sedang berada di Amerika. Dia terus mondar mandir tidak karuan. Bahkan matanya juga tidak terpejam sama sekali.
"Kapan kau pulang, Sean? Kenapa perasaanku tidak tenang sama sekali?" gumam Ana.
"Aku harap tidak terjadi sesuatu padamu, cepatlah pulang Sean." Sambungnya lagi.
Perasaan emas, takut, khawatir dan tidak enak itu menjadi satu dalam hati Ana. Ia hanya bisa mendoakan keselamatan Sean. Ingin sekali dirinya menghubungi sang suami, tapi itu juga percuma. ponsel Sean dalam keadaan tidak aktif.
Ana mencoba menenangkan dirinya dengan mengambil satu gelas air putih.
"Cepatlah kembali Sean, aku dan twin J menunggumu di sini."
"Tuhan... tolong jagalah suamiku. Jangan biarkan dia kenapa-napa." Ana berdoa untuk keselamatan Sean.
Rasanya dirinya ingin sekali menyusul Sean ke sana, tapi jika dirinya ke sana pun, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Ana terus saja memanjatkan doa untuk Sean.
Kembali lagi ke sisi Sean...
Saat ini Sean mendapat penanganan dari dokter yang biasa menangani mafia milik Carles, luka yang ia dapatkan sudah di jahit dan di obati.
"Saya permisi, tuan. Jika ada apa-apa,panggil saja." Ucap dokter itu lalu pergi meninggalkan Sean di sana. Sean hanya mengangguk mengiyakan dokter tersebut.
1 jam kemudian, Riko datang menemui Sean yang terduduk di ruang ia mendapat pertolongan.
"Bagaimana, Ko?"
"Semuanya sudah beres, tuan." Jawabnya.
"Coba kau hubungi mereka yang ada di markas, pastikan anak buah Leon yang berada di sana tidak ada lagi." Perintah Sean. Riko mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi anggotanya yang berada di markas.
Tidak lama kemudian, Riko memberitahukan ke pada Sean. "Semuanya sudah aman, tuan. Semua anak buah Leon tidak tersisa lagi. Mereka semua juga sudah menahan jet Leon yang berada di sana." jelas Riko pada Sean.
"Oke, kerja bagus. Kita kembali sekarang." Ucap Sean beranjak berdiri.
"Tapi, tuan. Luka anda belum kering, sebaiknya anda istirahat dulu di sini." Tutur Riko.
__ADS_1
"Nanti Ana akan mencemaskan ku." Sean tetap bersih kukuh untuk mengajak Riko kembali.
"Istirahatlah sebentar, tun William. Biarkan anak buahmu juga beristirahat sebentar di sini, mereka pasti lelah. Belum lagi perjalanan kalian masih berjam-jam, kalian juga belum beristirahat sama sekali semenjak menginjakkan kaki di sini." Sahut Carles menerobos masuk ke dalam ruangan yang di tempati Sean.
Sean menimbang-nimbang perkataan dari Carles, memang semua anak buahnya juga belum ada yang beristirahat semenjak menginjakkan kakinya di Amerika.
"Baiklah, biarkan mereka beristirahat sejenak. Besok kita kembali." Akhirnya Sean menyetujui perkataan dari Carles.
Sedangkan di sisi Ana....
Mata Ana terlihat menghitam karena semalam tidak bisa terpejam karena memikirkan Sean. Saat ini di berlin sudah pagi dan berganti hari, karena memang zona waktu yang berbeda.
"Ana, apa kau tidak tidur, nak?" mami Sean terlihat khawatir akan kesehatan Ana.
"Ana tidak bisa tidur, mi. Ana kepikiran Sean di sana." Jawab Ana dengan lesu.
"Astaga... sebaiknya kau tidur dulu, biar nanti Julian dan Jennifer kami yang mengurusnya. Jangan khawatir Ana, Sean pasti akan baik-baik saja. Percaya sama mami," ucap sang mami menenangkan Ana.
"Tapi, perasaan Ana tidak karuan, mi. Ana sangat khawatir." Ucapnya lagi.
"Baiklah, mi. Ana titip twin ya." Ucap Ana menyetujui ucapan mami.
"Iya... kau tenang saja, sarapan dulu. Baru istirahat, jangan biarkan perutmu kosong."
Ana menuruti apa kata sang mami, Ana memakan sarapannya pun seperti tidak selera sama sekali. Ia memakan sarapannya sangat sedikit dan pelan-pelan.
"Ayo main sama kakak, Jen. Biarkan mami istirahat sebentar," ajak Diva pada Jennifer. Diva mencoba memahami aunty-nya saat ini.
Jennifer selalu menurut jika bersama Diva, kemanapun Diva mengajaknya pasti dia ikut.
Hari ini Diva tidak pergi ke sekolah terlebih dulu setelah kejadian kemarin, papi dan mami Sean mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan lagi.
Kali ini Diva hanya mengajak Jennifer untuk bermain, dari pada nanti mereka berdua kembali bertengkar dan berebut satu sama lain.
Diva mengajak Jennifer untuk menggambar dari pada bermain gadget. Jennifer mencoret-coret buku yang di berikan Diva padanya.
__ADS_1
"Jeen... kakak ambil makanan dulu, oke. Kau diam dulu di sini." Ucap Diva, Jennifer mengangguk dengan ucapan Diva.
Diva seperti biasa, pasti harus ada makanan sampingan jika bermain. Entah itu ice cream, cake ataupun snack. Diva berjalan ke dapur melihat-lihat isi kulkas, Diva mengambil ice cream, kue dan beberapa snack yang ada di sana.
Semua makanan itu berada di gendongannya, Diva cekikikan melihat semua makanan yang ia pegang itu. la melangkahkan kakinya kembali bersama Jennifer yang sudah menunggu.
Mami Sean yang melihat Diva membawa makanan begitu banyaknya itu hanya bisa melongo. "Astaga, Divaa. Apa bisa menghabiskan makanan begitu banyaknya?" tanya grandma padanya.
"Hihihii... grandma tenang saja. Diva pasti menghabiskannya kok, Diva kan tidak makan sendirian." Jawab Diva kembali melangkahkan kakinya.
Mami Sean hanya bisa geleng-geleng dengan cucu pertamanya itu.
Kali ini Julian ikut bersama grandpa-nya berada di luar, jadi Diva dan Jennifer aman sentosa karena tidak ada Julian.
Diva meletakkan semua makanan itu di depan Jennifer, yang pertama ia ambil pasti saja ice cream. Itu tidak bisa di tinggalkan.
"Ini, Jen." Diva memberikan sendok kecil untuk Jennifer. Mereka berdua menikmati ice cream itu hanya berdua.
"Enaknyaa.... Apa grandma tidak di kasih?" ucap mami Sean yang menghampiri keduanya.
"Grandma kan sudah besar, jadi tidak usah deh. Ini khusus anak kecil." Jawab Diva yang memang bisa saja dalam hal menjawab.
Jennifer menunjukkan sendoknya ke arah mami Sean, mulutnya kali ini cemong dengan ice cream.
"Adiknya penuh dengan ice cream, Diva. Awas nanti aunty marah." Ucap mami Sean.
"Kan masih kecil, grandma." Jawab Diva kembali memasukkan ice cream ke dalam mulutnya. Ia sangat menikmati ice yang di depannya.
Mami Sean mengambil selembar tissue dan mengelapkan ke bibir Jennifer yang cemong semua dengan ice cream.
Kembali lagi ke sisi Sean...
Sean mengucapkan terima kasih pada Carles dan semua anggota Carles yang sudah menyambutnya dengan hangat dan membantunya dalam menghadapi kelompok Leon.
"Aku ucapkan banyak terima kasih padamu dan semua anggotamu tuan Carles. Lain waktu datanglah ke sana, kami akan menyambut kalian semua." Ucap Sean sebelum dirinya kembali.
__ADS_1