
Selesai membersihkan diri, Sean terburu-buru untuk segera pulang. Pasti Ana sudah menunggunya sedari tadi, apa lagi ponsel miliknya tengah tidak aktif.
Sean menuju mobil miliknya, lalu membelah. jalanan kota yang sudah dini hari itu.
Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata agar cepat sampai di mensionnya.
15 menit kemudian, Sean sudah berada di mension. la langsung menuju ke kamar miliknya. Di bukanya pintu dengan perlahan dan dilihatnya wanita yang sudah tertidur dengan nyenyak nya.
Sean kembali menutup pintu kamar lalu mendekat kearah Ana yang sudah tertidur.
Sean merebahkan dirinya di samping Ana dan memeluk erat tubuh Ana. Ia membawa tubuh Ana ke dalam dekapannya.
Karena saking nyenyaknya, Ana tidak merasakan setiap pergerakan yang di lakukan oleh Sean.
"Tidurmu sangat nyenyak sekali. Sampai-sampai, kau tidak tahu jika aku sudah pulang." Sean mengelus pipi lembut Ana. Tak lupa juga Aiden menempelkan bibirnya singkat pada kening Ana.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Sean menyusul Ana yang sudah melampaui pulau mimpinya.
.
.
Pagi harinya...
Ana mengerjapkan matanya, ia merasakan ada tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.
Di tatapnya dada bidang yang ada di depan matanya saat ini. la pun mendongakkan kepalanya. "Kapan dia pulang?" Gumam Ana pelan.
la memandang pahatan-pahatan sempurna yang ada di wajah Sean. Tangannya terangkat dan mengelus lembut rahang kokoh milik Sean.
Sean yang merasa ada sentuhan lembut itupun langsung saja mencekal tangan Ana. Tanpa aba-aba, Sean mengecup singkat bibir Ana.
Ana hanya bisa diam mematung dengan tindakan Sean yang secara tiba-tiba.
"Morning." Ucap Sean menunjukkan senyum yang menawan. Siapa saja yang melihat senyum Sean itu pasti akan di buat meleleh.
Ana masih terdiam mematung tanpa berkedip tidak menyahuti sapaan dari Sean.
Ffuhh...
Sean meniup wajah Ana, hal itu berhasil membuat Ana tersadar dan mengerjapkan kedua matanya.
Sean terkekeh melihat raut wajah Ana.
Bugh...
Ana memukul pelan lengan Sean. "Apa yang kau lakukan?" Sengal Ana.
"Kau tidak tersadar karena terpesona denganku tadi. Makanya aku mencoba menyadarkanmu." Ucap Sean dengan sedikit narsis.
Ana hanya membuang kasar nafasnya.
"Kapan kau pulang semalam? Kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi?" Tanya Ana.
"Maafkan aku, ada banyak urusan di kantor semalam. Ponselku juga lowbat, jadi tidak bisa menghubungimu." Jawab Sean sedikit berbohong.
__ADS_1
Sean belum siap memberitahukan Ana sebenarnya siapa dirinya. Sean akan memberitahu jika sudah waktunya, entah bagaimana reaksi Ana, Sean akan memaklumi hal itu.
Tapi, jika Ana ingin pergi darinya, Sean tidak akan membiarkan akan hal itu. "Pulang jam berapa semalam? Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Aku tiba pukul 1 dini hari tadi. Kau sangat nyenyak sekali, mana tega aku membangunkanmu." Jawab Sean.
"Maaf, aku tidak menunggumu semalam." Ujar Ana tidak enak.
"Tidak, kau tidak bersalah." Sean kembali memeluk erat tubuh Ana.
Tokk..
Tok...
Tokk...
"Uncle...aunty..." teriak Diva dari luar.
Sean menghela nafasnya karena momennya harus di ganggu oleh keponakan kecilnya.
Took...
Took...
"Uncle... aunty... buka." Teriak Diva lagi.
"Bersiaplah, aku akan membukakan pintu untuk Diva ." Ucap Ana.
"Huuhh... kenapa anak itu tidak bisa membiarkan aku bersenang-senang denganmu sebentar saja." Kesal Sean yang selalu saja di ganggu oleh keponakan kecilnya.
Sean kembali mengecup singkat bibir Ana lalu beranjak menuju kamar mandi.
Tok...
Tok...
"UNCLE....AUNTY... BUKAA...." Teriakan Diva semakin keras karena Ana ataupun Sean tidak membukakan pintu untuknya sedari tadi.
Ceklek...
Ana membukakan pintu untuk Diva. "Ada apa Diva?"
"Kenapa aunty lama sekali bukanya?" Geram Diva pada Ana.
"Maafkan aunty, tadi aunty menyiapkan keperluan uncle dulu." Jawab Ana agar Diva tidak marah.
"Kenapa Diva belum mandi?"
"Diva mau mandi dengan Aunty." Jawab Diva.
"Oke tunggu sebentar, ya. Diva kembali dulu, nanti aunty menyusul."
"Jangan lama-lama aunty."
Diva pun kembali ke kamarnya terlebih dulu. Ana kembali masuk dan memilihkan baju yang akan di kenakan Sean nanti.
__ADS_1
Ana menyiapkan keperluan-keperluan Sean lalu menuju kamar Diva. Belum sempat ia membasuh wajahnya, ia sudah di sibukkan dengan aktifitasnya.
"Ayo Diva, nanti kita terlambat." Ajak Ana. Diva dengan semangatnya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Ana yang sedang bersama Diva itu pun sekalian membersihkan dirinya agar tidak terburu-buru nanti.
Setelah ritual mereka selesai, Ana segera mendandani Diva. Saat ini, Ana mencoba mengepang rambut panjang Diva. Diva yang terlihat cute dan imut itu merasa sangat senang.
"Cantik sekali aunty." Puji Diva melihat hasil dari Ana.
"Divaa tunggu di bawah dulu ya, aunty mau ganti baju dulu." Perintah Ana. Ana menyuruh salah satu maid untuk mengajak Diva turun ke lantai bawah terlebih dulu.
"Kenapa lama sekali?" Protes Sean saat Ana kembali ke kamar mereka.
"Aku mendandani Diva sebentar tadi," jawab Ana. la pun merapikan dasi yang di kenakan oleh Sean.
"Dia sepertinya semakin manja denganmu." Keluh Sean.
"Apa kau cemburu dengan keponakan kecilmu sendiri?" Ucap Ana yang seperti merasakan api cemburu dari Sean.
"Dia menyitamu dariku." Keluh Sean lagi karena memang Diva semakin manja dengan Ana sekarang.
"Itu wajar Sean, Diva masih membutuhkan figur seorang mama. Di umurnya yang masih kecil, dia sudah kehilangan papa dan mamanya. Itu pasti sangat menyedihkan, aku tidak ingin dia merasakan sepertiku nantinya." Tutur Ana lembut pada Sean. Ana juga merasakan apa yang di alami Diva saat ini.
"Aku juga tidak keberatan jika Diva sering bermanja denganku." Sambung Ana.
Sean tesenyum mendengar penuturan dari Ana.
Tidak salah jika waktu itu dia menerima saja permintaan
papi dan maminya untuk menikah dengan Ana.
Ana tidak hanya menyanyanginya, tapi Ana juga menyanyangi semua keluarganya. Terutama dengan Diva, Sean dulu selalu berharap jika suatu saat nanti ada orang yang juga bisa menyayangi Diva.
"Kau memang terbaik, tidak salah jika mami dan papi langsung saja meminta aku menikahimu." Ucap Sean.
"Jadi, kau menerimaku hanya karena mami dan papi?"
"Tidak juga, aku merasakan hal yang berbeda saat bersamamu. Aku juga tidak tahu perasaan apa itu, yang jelas, tidak aku rasakan dari wanita lain." Jelas Sean.
"Kau pasti berbohong." Kata Ana.
"Tidak, aku tidak pernah berbohong dengan ucapanku." Jawab Sean. Ana menatap manik Sean yang menunjukkan kejujuran pada dirinya.
"Sudah, aku mau ganti dulu. Diva sudah menunggu di bawah." Ana mengalihkan pembicaraan mereka.
Bukannya Ana tidak percaya dengan Sean, selama ini Ana sudah melihat bagaimana perlakuan Sean padanya. Bagi Ana itu sudah membuatnya cukup percaya pada Sean. Ana tidak membutuhkan semua kata cinta dari Sean, yang Ana butuhkan adalah perlakuan dan tindakan yang di lakukan dengan Sean. Kata-kata saja tidak cukup membuktikan jika seseorang itu benar-benar mencintaimu.
"Tunggu aku di bawah." Perintah Ana.
"Baiklah, aku akan menunggumu di bawah." Sean mengecup singkat kening Ana lalu menuju ke lantai bawah.
Di sana sudah ada Diva yang menunggu di meja makan.
Ana segera bergegas berganti baju untuk mengantarkan Diva ke sekolah nantinya.
__ADS_1