Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 43 Sikap Anara Aneh 2


__ADS_3

Setelah lama mencari, Sean kembali pulang membawa pesanan yang di minta oleh Ana tadi.


"Sayaang, aku pulang." Teriak Sean.


Sean meletakkan semua makanan Ana di atas meja.


"Kenapa lama sekali? Aku sudah sangat lapar." Ujar Ana.


"Waahh... sepertinya semuanya enak." Mata Ana


terlihat sangat berbinar-binar melihat makanan Itali yang ada di depannya saat ini. "Makanlah, jika kurang nanti aku akan pesankan untuk lagi." Ucap Sean.


Ana segera membuka makanan-makanan tersebut. Pertama yang ia makan adalah pizza, Ana sangat lahap memakannya.


"Kenapa aunty rakus sekali?" Sahut Diva melihat gaya makan Ana yang seperti tidak makan 1 bulan.


Sean pun juga di buat kaget dengan cara makan Ana kali ini.


"Ana, pelan-pelan makannya. Tidak ada yang merebut makanan itu darimu." Ujar Sean.


"Uncle... untuk Diva mana?" Diva meminta pada Sean.


"Coba minta aunty."


"Aunty... boleh Diva minta?"


"Diva mau? Sini ambil saja." Jawab Ana. Diva terlihat senang, awalnya ia ragu-ragu memintanya. Takut jika Ana tidak membolehkannya.


Diva ikut menikmati makanan Itali yang di bawa oleh Sean.


"Apa aku tidak boleh memakannya?" Ucap Sean sedikit memelas.


"Tidak, kau sudah besar." Jawab Ana sedikit ketus.


"Yasudah, kalian habiskan saja." Jawab Sean pasrah kali ini. Entah kenapa Sean tidak berani membantah Ana, mungkin karena ancaman Ana untuknya yang tidur di luar.


"Ini." Ucap Ana meyodorkan makanan di depan Sean.


Sean pun membuka mulutnya menerima suapan dari Ana. "Enak?"


"Iya, sudah habiskan. Katanya lapar, nanti kalau mau lagi aku akan pesankan untukmu." Ucap Sean. la tersenyum senang jika melihat Ana yang terlihat senang kali ini.


Ana kembali menikmati makanannya bersama Diva.


Setelah merasa kenyang, Ana dan Diva kembali merebahkan dirinya dan menonton TV. Ana yang sedang tiduran dengan berbantal paha Sean, sedangkan Diva berbantalkan boneka kecil miliknya.


Sean melihat kearah keduanya yang ternyata sudah tertidur pulas. Mungkin karena rasa kenyang mereka hingga tertidur kali ini.


Sean tersenyum melihat kedua kesayangannya itu sedang tertidur dengan lelapnya.


3 hari kemudian...


Selama tiga hari itu, Sean di buat pusing dan bertanya-tanya dengan perubahan sikap Ana padanya. terkadang marah-marah, bermanja, ataupun menangis tanpa sebab.


Sean mengacak-acak rambutnya kasar kali ini.


"Ada apa tuan?" Tanya James yang melihat Sean sepertinya sedang frustasi.


"Aku sedang bingung, tiga hari ini sikap Ana sangat aneh sekali. Entah apa yang terjadi padanya?" terang Sean.


"Aneh yang bagaimana tuan?" James kembali bertanya pada Sean.


"Entahlah, dia sering marah-marah, setelah itu dia akan berubah manja sekali seperti kucing. Tidak lama kemudian, dia menangis tanpa sebab." Jelas Sean. panjang lebar kali ini.


"Mungkin nyonya sedang tertekan, tuan." Tebak James.


"Tertekan apanya? Aku selalu memanjakan dirinya, mana mungkin dia tertekan karena aku manjakan." Sengal Sean tidak terima.


"Saya kan hanya menebaknya tuan. Saya kan juga tidak tau masalah wanita." Ucap James yang sedikit mengutarakan isi hatinya.

__ADS_1


Tok..


Tok..


Suara pintu terdengar di ketuk dari luar.


"Kau lihat siapa yang mengetuk pintu." Perintah Sean pada James.


James pun melangkahkan kakinya melihat siapa yang sudah mengetuk.


"Ada apa?" Tanya James pada salah satu karyawan yang mengetuk pintu.


"Maaf tuan, ada orang yang ingin bertemu dengan tuan Sean." Jawabnya.


"Siapa?"


Karyawan itu pun menunjuk orang itu yang tidak jauh dari sana. James pun mempersilahkan orang yang datang tersebut untuk masuk.


"Ohh ada tuan Michael ternyata. Ada keperluan apa tuan?" Tanya Seann berbasa basi.


Yang datang untuk menemuinya adalah tuan Michael, paman dari Ana. Entah ada keperluan apa dia datang untuk menemui Sean.


"Saya datang ke sini untuk mengucapkan banyak terima kasih, tuan. Anda sudah bersedia bekerja sama dengan peusahaan saya yang masih jauh di bawah." Jawab tuan Michael sedikit professional.


"Anggap saja ini salah satu keberuntungan mu, tuan." Jawab Sean menunjukkan senyum jahatnya. Sayang sekali, paman dari Ana tidak tahu jika senyuman Ana itu penuh makna.


'Ternyata kau cukup bodoh sekali, tuan Michael' batin James dalam hatinya.


'Bersiaplah untuk hancur, Michael' batin Aiden.


"Begini tuan, jika anda berkenan saya meminta tolong." Ucap tuan Michael tanpa berlama-lama.


"Apa itu tuan?" Sahut Sean.


"Saya minta tolong untuk putri saya bekerja disini. Saya ingin, putri saya banyak belajar dari anda. Supaya dia bisa meneruskan perusahaan milik saya nantinya." Terang tuan Michael dengan tujuannya kali ini.


Sean menimbang-nimbang permintaan dari tuan Michael. "Apa dia masih kuliah?" Tanya Sean.


Lita dan Ana memang selisih 2 tahun. Sean menganggukkan kepalanya.


"Suruh dia datang kesini dan menemui asisten saya tuan. Dia yang akan mengajari putri anda nantinya." Jawab Sean menyetujui. Entah kali ini apa lagi yang di rencanakan oleh Sean. Tidak mungkin jika Sean menerima Lita begitu saja tanpa sebab dan maksud tujuan.


"Apa anda yakin, tuan?" Tuan Michael bertanya untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah dengar.


"Apa anda melihat wajah saya penuh kebohongan." Ucap Sean yang meyakinkan paman Ana.


Papa Lita pun merasa sangat senang kali ini. Ia akan memanfaatkan kerja samanya kali ini untuk membuat peusahaannya berkembang.


la juga sebenarnya ingin mendekatkan Sean dengan Litaa. Tapi, dia tidak tahu saja bagaimana kebenarannya yang sebenarnya.


Mereka pun akhirnya berbincang-bincang mengenai masalah kerja sama mereka hingga memakan waktu selama 2 jam.


"Apa yang anda rencanakan, tuan? Tidak mungkin sekali anda menerima anak dari tuan, Michael begitu saja?" Tanya James setelah kepergian tuan Michael dari sana. James sudah sangat hafal dengan Sean.


"Aku hanya ingin membuat mereka semakin melayang tinggi. Jika sudah saatnya, mereka akan aku jatuhkan sejatuh-jatuhnya." Jawab Sean dengan tersenyum sinis.


"Persiapkan dirimu untuk memainkan drama pada anak Michael besok." Perintah Sean.


James yang mengerti perintah dari Sean itu pun mengangguk menyetujui. Jika sudah begini, James juga akan bersikap 11 12 dengan Sean.


James akan ikut andil untuk memberikan pelajaran kali ini. Tapi, tentu saja dengan caranya sendiri.


Sedangkan di mension Sean...


Ana kali ini berkutat di dapur, entah apa yang sedang ia buat. Sepertinya dia tidak bisa tinggal diam.


"Aunty sedang apa?" Tanya Diva saat baru saja tiba di dapur.


"Aunty sedang membuat jus jeruk di campur pabrika. Rasanya pasti sangat lezat." Jawab Ana. Diva tercengang mendengar jawaban dari Ana.

__ADS_1


"Hah? Jus jeruk di campur pabrika?" Diva mengulangi perkataan Ana dengan melongo.


Diva tidak bisa membayangkan bagaimana rasa dari jus yang di buat Ana itu.


"Aunty, bagaimana rasanya? Kenapa tidak membuat yang sewajarnya saja sih." Keluh Diva.


Diva bergidik ngeri melihat tingkah Ana yang semakin aneh saja dengan apa yang di lakukannya.


Jus yang di buat Ana pun jadi, ia menuangkan jus buatannya ke dalam gelas kaca yang ia ambil tadi.


Ana meminumnya tanpa rasa mual ataupun tidak enak. Diva yang melihat Ana tidak ada reaksi apa-apa itu pun bertanya-tanya sendiri. Wajah Diva tidak bisa di gambarkan kali ini.


"Aunty... bagaimana rasanya? Apa Enak?" Tanya Diva penasaran.


"Ini enak sekali, Diva. Apa Diva mau mencobanya." Ana menyodorkan gelas yang ia bawa tadi.


"Tidak usah aunty. Diva tidak suka." Tolak Diva cepat.


Ana kembali meneguk jus buatannya hingga habis tak tersisa. Diva hanya bisa menelan ludahnya sendiri.


'Kalau saja uncle tau, pasti dia juga tidak bisa berkata-kata' Ucap Diva dalam hatinya.


'Tapi... bagaimana rasanya ya?' Diva kembali berucap dalam hati.


Akhirnya, Diva memutuskan untuk mengambil desert yang berada di kulkas. Tadinya memang dia berniat untuk memakan desert, tapi melihat Ana yang membuat jus aneh itu, Diva mengurungkan niatnya.


Setelah membuat jus tadi, Ana mengambil desert yang berada di kulkas. la duduk di samping Diva yang juga tengah asik memakan desert kali ini.


"Nanti kita buat yang banyak lagi ya Diva. Kita buat banyak rasa. Aunty ingin sekali yang berasa masam." Ujar Ana.


"Diva ikut Aunty saja. Selagi itu rasanya masih wajar."


Ucap Diva karena mengingat jika Ana baru saja membuat jus yang tidak wajar barusan.


"Nanti Diva juga pasti akan suka kok." Imbuh Ana. Diva hanya terdiam tidak menanggapi ucapan Ana, ia merasakan jika Ana akan membuat yang aneh-aneh lagi.


Sore harinya...


Sean sering sekali pulang cepat, tapi Ana justru sangat senang jika Sean selalu pulang cepat.


"Kau sudah pulang?" Ana memeluk tubuh Sean saat masih berada di depan pintu masuk.


"Sepertinya kau sangat senang sekali melihatku pulang?" Jawab Sean tersenyum kearah Ana.


"Tentu saja aku senang sekali."


Mereka pun masuk ke dalam mension bersamaan..


"Halo uncle..." sapa Diva melihat kepulangan Sean.


"Uncle... sini-sini." Panggil Diva. Sean pun mendekat kearah Diva, sepertinya ada hal serius yang ingin Diva bicarakan.


"Ada apa? Sepertinya Diva sangat serius sekali?" Tanya Sea.


"Aunty dimana?" Tanya Diva mencari keberadaan Ana.


"Aunty belok kearah dapur tadi. Ada apa?" Tanya Sean lagi.


"Uncle... sepertinya aunty semakin aneh saja." Ungkap Diva dengan pelan. Takut jika saja Aa tiba-tuba muncul.


"Aneh?" Sean menaikkan sebelah alisnya.


"Iya... masa tadi siang aunty membuat jus jeruk di campur dengan paprika." Jelas Diva pada Sean. Sean tidak kalah melongo mendengar penjelasan Diva.


"Hah? Apa Diva tidak salah lihat?" Tanya Sean memastikan.


"Tidak uncle, mana mungkin Diva berbohong. Div melihat dengan mata kepala Diva sendiri." Sambung Diva meyakinkan Sean.


Sean di buat bungkam kali ini. Entah kenapa hari-hari ini tingkah Ana semakin aneh saja. Dan apa yang baru saja ia dengar itu, itu membuat Sean tidak bisa berkata-kata lagi. Dia pun tidak tahu harus apa yang dia lakukan sekarang.

__ADS_1


"Biar nanti uncle yang berbicara dengan aunty ya. Sepertinya ada yang salah dengannya beberapa hari ini." Ucap Sean yang di setujui oleh Diva. Karena memang sangat aneh Ana beberapa hari ini.


__ADS_2