
Waktu sudah hampir malam hari, Ana merengek mengajak Sean berjalan-jalan mengelilingi kota Seoul.
"Ahh... Ayolah Sean, aku ingin berkeliling sekarang." Rengek Ana.
"Sebentar lagi makan malam Ana, kita pergi setelah makan malam, oke." Bujuk Sean.
"Tidak... aku tidak mau. Aku mau sekarang, nanti kita beli makanan di luar. Aku pernah lihat-lihat jika jajanan street food di sini sangat menggugah selera." Rayu Ana lagu.
"Makanan di luar tidak higienis Ana, jangan makan sembarangan. Nanti perutmu sakit." Ujar Sean lagi. Sesn memang tidak pernah makan makanan yang di jual di pinggir-pinggir jalan, beda lagi dengan Ana, itu sudah hal biasa bagi Ana.
"Ck... tidak semua makanan di luar itu sembarangan, Sean." Ana berdecak sebal kali dengan Sean.
"Tidak boleh, pokoknya setelah makan malam kita
baru pergi." Sarkas Sean.
"Yasudah kalau kau tidak mau. Aku pergi sendiri saja ." Ana melakukan aksi ngambeknya.
"Mau pergi dengan siapa kau?" Sean menaikkan sebelah alisnya.
"Mau pergi sama oppa-oppa di luar sana. Dari pada mengajak suami tidak mau, kan lumayan aku bisa cuci mata." Jawaban Ana membuat Sean melototkan kedua matanya. Bagaimana bisa dirinya menjawabnya seperti itu.
"Jangan macam-macam, Ana." Suara Sean sedikit meninggi.
"Salah sendiri kau tidak mau." Bukannya takut, Ana malah membuat Sean tidak bisa berkutik.
"Huuhh... aku ambil jaketku dulu." Ucap Sean pasrah. Ana tersenyum menang karena Sean akhirnya menurutinya.
Tak lupa juga Sean memaikan pakaian tebal untuk Ana. la ingin berjaga-jaga jika udara dingin di luar sana.
Sean memakaikannya pada Ana, sedangkan Ana hanya menurut saja apa yang di lakukan oleh Sean.
"Kau mau kemana dulu?" Tanya Sean pada Ana.
"Aku ingin pergi ke tempat bersejarah dulu di sini." Jawab Ana.
"Baiklah, ayo." Sean pun menyetujui ajakan Ana.
Sean tahu harus ke mana mengajak Ana sekarang, karena ini bukan pertama kali juga untuk Sean menginjakkan kakinya di Korea.
Sean mengajak Ana ke Istana Gyeongbok. Istana itu merupakan salah satu istana terbesar peninggalan dari dinasti Joseon di Korea. Di dalamnya terdapat museum yang bisa di kunjungi, yaitu museum Nasional Rakyat Korea.
Sesampainya di sana, Ana memandang takjub dengan bangunan arsitektur yang cukup megah itu namun tidak meninggalkan ciri khas koreanya.
"Megah sekali, Sean."
__ADS_1
"Apa kau pernah ke sini?" Sambung Ana.
"Pernah, waktu dulu aku ada pertemuan bisnis. Aku melihat-lihat sebentar ke sini." Jawab Sean, Ana hanya mengangguk dan bibirnya membentuk buat menyerupai huruf O.
"Sean.. aku ingin berfoto dengan baju tradisional sini. Boleh kan?"
"Kau bisa lakukan sesukamu." Jawab Sean. Ana berjingkrak senang.
Mereka berdua pun menyewa Hanbok dan mengambil bebrapa jebretan foto di sana.
Ana terlihat cantik dengan dandanan wanita korea seperti itu.
Mereka pun berfoto ria dengan beberapa pose.
"Ayo kita cari makan dulu, nanti kita lanjut lagi." Ajak Sean dengan penuh perhatian.
"Kita pergi ke street food oke. Aku ingin mencoba banyak makanan di sana." Sean hanya bisa pasrah dengan setiap ajakan dari Ana.
Sesampainya di sana, mata Ana berbinar melihat banyaknya penjual makanan berjejer di sana.
"Waahh... sepertinya enak-enak." Gumam Ana dengan membayangkan memakan banyak makanan di sana.
Ana mengajak Sean untuk membeli tteokbokki, eomuk guk (terbuat dari gorengan ikan yang di tusuk kemudian di sajikan dengan kuah), bungeo ppang (roti yang berbentuk ikan dengan isian kacang merah, coklat, keju dan variasi lainnya), tak lupa juga mereka membeli sate cumi panggang atau biasa di sebut dengan ojingoe gui.
Ana sesekali menyuapi Sean dengan makanan yang ia beli tadi. Awalnya Sean menolaknya, lama-lama Sean pun menerima setiap suapan dari Ana.
"Nanti kita ajak dia keliling dunia pun aku sanggup." Jawab Sean.
"Ehh... kira-kira bagaimana dirinya sekarang ya? Aku khawatir kalau Diva menangis." Ana kembali bersedih hati mengingat keponakan kecilnya.
"Tenang saja, dia sudah aman sama mami dan papi."
"Ayo, aku ajak berkeliling lagi." Sean langsung saja menyerat tangan Ana tanpa aba-aba.
Sean kali ini mengajak Ana ke Cheonggyecheon Stream, tempat itu sangat terkenal sebagai salah satu tempat melamar atau tempat menyatakan cinta yang ada Korea.
Dan selanjutnya, mereka mengunjungi ke Sungai Han (Han Gang). Sungai Han merupakan sungai cantik yang berada di Seoul. Sungai itu akan di dapati merupakan pertemuan antara sungai Namhan dan Sungai Bukhan.
Cahaya lampu kelap kelip membuat mata Ana tidak bisa berhenti memandang takjub sedari tadi. Sedari tadi ia terus saja memuji keindahan yang ada di sana.
Sean ikut senang melihat Ana sangat menyukai perjalanannya saat ini.
"Biasanya aku hanya melihat di TV, sekarang aku bisa menikmati pemandangan di sini secara langsung." Takjub Ana. Sean tersenyum mendengar penuturan Ana.
"Apa kau senang?"
__ADS_1
"Tentu saja aku sangat senang Sean, ini baru pertama kali aku kesini. Terima kasih." Ana menggait lengan Sean yang berada di sampingnya.
Saat ini mereka duduk di tepi sungai Han dengan menikmati suara gemricik air dan lampu-lampu yang menyalah di sana.
Sean mengecup singkat kening Ana. "Jika kau ingin pergi kemana saja bilang padaku, aku akan siap kemanapun bersamamu." Ujar Sean.
"Ayo, aku menagajakmu ke suatu tempat lagi." Ajak Sean.
"Kemana lagi?"
"Kita pergi ke menara, kita lihat pemandangan kota di sana." Jawab Sean. Ana kembali antusias kali ini.
Sean mengajak Ana pergi menuju Namsan Tower. Indahnya kota Seoul dapat di lihat dari atas sana.
"Waahh... semuanya bisa terlihat dari sini." Ucap Ana kembali takjub. la sangat menikmati perjalanannya kali ini, tanpa mengeluh capek ataupun lelah. Mungkin karena saking semangatnya dirinya.
Ana juga dapat menikmati pemandangan bintang melalui jendela.
"Aku tidak pernah melupakan Korea." Sambung Ana. Sean hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Ana sedari tadi.
"Aku sudah mengatakan padamu tadi, jika nanti ingin kemana saja, aku akan siap." Sahut Sean.
"Tapi... aku ingin Diva juga ikut. Biar dia tidak sendiri di rumah. Masa ia kita senang-senang Diva di tinggal mulu."
"Sesuai dengan permintaanmu." Jawab Sean. mereka kembali menikmati pemandangan kota yang fantastis dan bintang-bintang.
Setelah puas berkeliling, mereka kembali ke hotel yang mereka tempati selama berada di Korea.
Sesampainya di sana, Ana segera menanggalkan baju tebalnya dan meletakkan di gantungan baju yang sudah tersedia.
Sean mendekat kearah Ana dan memeluknya.
"Ada apa?"
"Aku menginginkanmu." Jawab Sean dengan suara beratnya. Sepertinya ia sudah menahan sesuatu dari tadi.
"Bukankah tadi kita sudah melakukannya?"
"Aku menginginkan Sean junior segera darimu." Jawab Sean.
Sean kembali membawa tubuh Ana ke dalam gendongannya dan merebahkan di atas kasur king size yang ada di sana.
Tanpa menunggu lama, mereka segera melakukan ritual penyatuan.
Ana sudah mulai terbiasa dengan aktifitas mereka berdua itu. Tak lupa juga Sean meninggalkan jejak kepemilikannya di tubuh Ana.
__ADS_1
Mereka melakukannya dengan perasaan cinta dari masing-masing.