
Saat ini, Ana berada di markas milik Sean. Tidak lupa juga pasukan kecilnya mereka bawa ke sana. Diva juga mengikuti sang aunty untuk berlatih fisik. Untuk menembak dan lainnya, Sean masih belum membiarkan itu untuk Diva. Dia masih khawatir jika nanti Diva terluka.
Untuk twin J, dia duduk anteng di sana. Ana memberikan makanan untuk mereka agar terdiam, kalau Julian, jangan di tanya lagi. Dia sangat jahil dengan siapapun yang ada di sana. Untung saja dia anak dari Sean, jika tidak, mungkin dirinya sudah di pites sama anak-anak buah Sean yang ada di sana.
Diva sedang berlatih dengan Riko, kalau untuk Ana tentu saja Sean sendiri yang melatihnya. Dia tidak akan membiarkan Ana berlatih dengan orang lain selain dirinya.
"Kuda-kudamu yang benar, sayang." Ucap Sean membenarkan kuda-kuda Ana yang salah.
"Kenapa susah sekali berlatih seperti ini?” gerutu Ana.
"Hahaha... bukankah aku sudah bilang? Lebih baik kamu berdiam diri saja di rumah menjaga twin J. Aku tidak mau dirimu kelelahan nanti, karena ini sangat menguras tenaga." Terang Sean.
"Tidak, aku bisa bosan terus-terusan di rumah berdiam diri. Aku juga ingin menjadi wanita yang kuat, biar bisa melindungi diri sendiri saat dirimu tidak bersamaku." Jelas Ana.
Sean tersenyum dan mengelus lembut pipi Ana.“ Kau memang istriku." Ucapnya.
"Dari dulu aku memang istrimu. Mau istri siapa lagi?" sengal Ana. Sean tersenyum lalu melanjutkan untuk melatih Ana.
Untuk Diva, dia sangat cepat untuk menerima setiap ajaran dari Riko. Mungkin karena usianya, maka dari itu dia bisa lebih cepat dari pada Ana.
Riko mengajarkan Diva untuk menendang, memukul dan menangkis setiap serangan.
"Kau hebat, nona kecil. Tidak butuh lama aku untuk mengajarimu." Puji Riko pada Diva.
"Aku juga berterima kasih padamu, kakak." Ucap Diva memanggil Riko kakak.
Riko menolak jika dirinya di panggil uncle oleh Diva. Menurutnya itu terlalu tua untuk di panggil uncle.
"Sekarang istirahat dulu, jangan terlalu lelah." Ucap Riko dengan perhatian.
Mereka berdua berjalan bersamaan menuju tempat duduk yang ada di sana, tak jauh dari tempat berlatih.
__ADS_1
"Kau sedang apa, Jul?" tanya Diva saat melihat Julian melihat apa yang Jennifer lihat dalam tabletnya.
"Apa sih kakak Diva, ganggu aja." Jawabnya dengan sedikit ketus. Dari dulu memang mereka berdua tidak pernah akur. Jennifer hanya diam menikmati apa yang dia tonton sambil memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
"Kau itu masih kecil, Jul. Tidak boleh main tablet terus-terusan." Sambung Diva.
"Suka-suka, Jul." Ucapnya sambil menjulurkan lidahnya pada Diva. Ia kembali melihat ke arah tablet yang ada di tangan sang kakak.
Julian dan Jennifer sudah cukup lancar dalam hal bicara. Terkadang mereka juga sangat cerewet dengan celotehannya.
.
.
Melihat ke sisi seberang....
Jauh dari kota Berlin, keluarga yang tinggal serba kekurangan itu mulai tidak rebut seperti biasanya. Mungkin karena mereka sudah terbiasa menjalani kehidupannya.
"Sudah, Lita. Jangan berulah lagi, lebih baik kita hidup tenang di sini." Ucap mamanya.
Yaa... siapa lagi jika itu bukan keluarga paman dan bibi Ana. Mereka memang sudah terbiasa hidup dengan kekurangan. Tapi, tidak untuk Lita. Dia masih tidak menerimanya, dia selalu marah-marah tidak karuan pada mama dan papanya.
"Tidak, Ma. Aku tidak mau hidup seperti ini terus-terusan, aku ingin hidup seperti dulu lagi." Bentaknya pada sang mama.
"Kalau mama dan papa mau hidup seperti ini, terserah. Aku mau kembali ke Berlin dan membalas wanita itu." Sentaknya lagi lalu berjalan keluar. Sepertinya dia akan pergi kembali ke kota di mana dia tinggal dulu.
"Lita... Lita..." teriak mamanya yang tidak di hiraukan oleh Lita.
"Biarkan saja dia, Ma. Dia sudah cukup besar, biar dia bisa tahu apa yang dia hadapi nanti. Melarangnya juga sia-sia." Ucap paman Ana, sepertinya dia sudah lelah dengan sikap Lita.
"Tapi, Pa. Bagaimana nanti jika suami Ana akan berbuat kasar padanya?" cemasnya.
__ADS_1
"Ma, setiap perbuatan pasti ada resikonya. Biar anakmu itu belajar untuk melakukan sesuatu, tidak tergesa-gesa. Biarkan saja dia, bagaimana dia bisa bertahan hidup di sana. Sudah cukup selalu memanjakan dirinya. Beginilah akhirnya, dia tidak bisa di atur." Jelas papa Lita panjang lebar.
Kali ini mereka membiarkan apa yang akan Lita lakukan, mereka tahu jika tidak akan mudah untuk membalas Ana.
"Tapi, papa. Mama merasa akan ada hal buruk nanti, apa kita sebaiknya menyusulnya saja pa."
"Tidak, Ma. Jangan sampai kita di hilangkan dari dunia ini oleh suami Ana. Kita sudah cukup menderita selama bertahun-tahun." Larang papa Lita.
"Tapi, mama takut jika nanti Lita tidak kembali lagi." Ucapnya khawatir.
"Semoga dia bisa kembali." Jawab papa Lita. Dia juga sebenarnya takut jika terjadi sesuatu dengan putrinya. Tapi, jika mereka menyusul Lita. Mereka juga pasti akan merasa lebih sengsara kali ini, mungkin Sean langsung saja membuat mereka menghilang dari muka bumi ini.
Kembali ke sisi Ana...
Julian kali ini kembali jahil, dia mencoba menekan-nekan tablet yang ada di tangan sang kakak. Hingga apa yang di lihat Jennifer itu berpindah-pindah karena ulah Julian.
"Juliaan..." kesalnya pada sang adik. Julian yang di sana hanya cengengesan melihat sang kakak kesal padanya.
Jennifer meletakkan tablet yang ada di tangannya dan berjalan pergi meninggalkan adiknya di sana. ia berjalan masuk ke dalam markas dengan uring-uringan karena kesenangannya di ganggu oleh adiknya.
"Nah kan Jul... kakakmu marah." Ujar Diva melihat Jennifer berjalan masuk dengan kesalnya.
Riko yang melihat anak dari tuannya yang sedang berjalan kesal itu pun mengikutinya agar Jennifer tidak nyasar di sana.
Julian yang bodo amat dengan kekesalan sang kakak mengambil alih tablet tadi dan memilih menonton kartun kesukaannya. Sepertinya, dia tidak merasa salah sama sekali pada sang kakak.
"Nona kecil, mau kemana, hmm?" Riko menghalangi jalan Jennifer. Ia terlihat sangat kesal di sana. Riko yang melihatnya merasa gemmas ingin mencubit pipi tembemnya.
"Ayo ikut denganku, kita bermain berdua, oke. Aku akan menggendong mu." Ucap Riko lalu membalikkan badannya membiarkan Jennifer naik ke punggungnya.
Tanpa penolakan, Jennifer naik punggung Riko lalu berdiri membawa Jennifer entah kemana.
__ADS_1
Riko mengajak nona kecilnya itu untuk berkeliling sebentar di markas. Setelah itu, ia membawa Jennifer ke salah satu ruang besar yang terdapat piano di sana. Ia mencoba membuat Jennifer tidak ngambek lagi.