
Jennifer yang terlihat jengah itu pun memilih mematikan TV miliknya, dari pada dia melihat drama lebih baik dia beranjak dan membersihkan diri. Jennifer sangat terlihat santai tidak ada beban sama sekali setelah melihat berita itu.
Sepasang seuami istri yang sudah paruh bayah itu pun baru saja menginjakkan kakinya di Berlin. Jalannya sangat tegak, tidak lupa juga kepalanya yang mendongak ke atas. Ciri-ciri sombong dalam dirinya sangat terlihat.
"Dad, Mommy harap Daddy tidak berlebihan memarahi Wendy nanti," ujar istrinya. Ke dua orang itu adalah orang tua Wendy. Mereka beru saja bisa datang ke Berlin, daddy Wendy datang ke sana karena ingin memberikan pelajaran pada putri semata wayangnya.
"Jangan terlalu memanjakan putrimu itu, Mom. Itulah akibatnya kau memanjakan putrimu. Dia hanya bisa memalukan keluarga saja!" jawab daddy Wendy.
"Kenapa Daddy menyalahkan Mommy? Bukankah Daddy sendiri yang lebih memanjakannya! Yang seperti ini saja Daddy tidak mau mengakuinya. Selalu di lempar ke Mommy kalau bagian jeleknya!" ketus istrinya tidak terima.
Ke dua orang itu sepertinya memang menolak sadar, mereka tidak mau di salahkan. Mereka berdebat di bandara tidak peduli dengan mata memandang. Benar-benar tidak tahu situasi dan tempat.
"Karena dia putrimu!" sengal suaminya.
"Memangnya dia juga putri Daddy? Memangnya anak itu dulu hasil siapa kalau bukan hasil Daddy?" bantah sang istri tidak mau kalah.
"Diam! Jangan membuatku semakin pusing!" ujar sang suami.
"Apa kau tahu di mana Wendy tinggal selama di sini?" tanyanya pada salah satu bodyguard yang dulu mengantar Wendy waktu berangkat.
"Tahu, Tuan. Mari," ajaknya sebelum sepasang suami
istri itu kembali berdepat di depan umum.
Mereka memasuki mobil yang sudah lebih dulu mereka sewa. Tanpa berlama-lama mobil itu pun melaju ke tempat yang mereka tuju saat ini.
Menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya mereka sampai di hotel di mana tempat Wendy menginap selama ini. Mereka turun dari mobil bersamaan. Daddy Wendy melangkahkan kakinya cepat, ia seperti sangat tidak sabar untuk memberi pelajaran pada putri satu-satunya.
Ternyata mereka belum tahu keadaan Wendy bagaimana, Wendy tengah berbaring di rumah sakit tidak sadarkan diri. Lift tertutup dan langsung saja menuju ke lantai atas, di mana kamar Wendy berada.
Sesampainya di lantai atas, mereka segera menuju ke kamar Wendy. Jaraknya tidak terlalu jauh dari lift. Mereka melihat jika di sana ada perbaikan pintu.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya bodyguard itu pada orang yang tengah memperbaiki pintu kamar yang tengah rusak itu.
__ADS_1
"Pintu kamar ini tengah rusak, Nyonya. Di perkirakan jika ada pembunuhan di kamar ini," jelasnya.
Ke dua orang tua Wendy sangat terkejut dengan penjelasan dari orang itu. baru saja dia sampai justru mendengar kabar yang mengejutkan.
"Daaadd... tidak mungkin kan jika putri kita terbunuh?" mommy Wendy sangat histeris di sana. Orang tua mana yang tidak histeris mendengar putri satu-satunya di bunuh.
"Jangan berbicara omong kosong! Tidak akan ada yang berani melawan putriku!" sentak daddy Wendy pada pegawai itu. Wendy dan daddy-nya memang sebelas dua belas sikapnya, daddy Wendy selalu beranggapan jika tidak ada yang berani dengannya karena kekuasaan yang ia miliki.
"Tenang, Nyonya, Tuan. Korban masih selamat, kalian bisa melihatnya ke rumah sakit," jelas orang itu. Dari pada dia mendapat bentakan lagi, lebih baik dia memberitahunya.
"Awas kalau kau bohong! Akan aku seret dirimu!" ancamnya pada pegawai itu.
Pegawai itu sedikit takut, padahal dia hanya memberitahu, tetapi kenapa dia malah mendapat ancaman. Daddy Wendy tidak tahu rasa terima kasih, harusnya dia bersyukur jika ada yang memberitahunya. Bukan malah mengancam pada orang yang sudah memberitahunya.
"Sebaiknya kita segera ke rumah sakit, Tuan. Nona tengah membutuhkan kita," ajak bodyguard itu. Mereka kembali menuju lift dan kembali ke lantai bawah. Mereka pergi tanpa meninggalkan kata terima kasih pada pegawai tadi.
"Orang berkuasa memang tidak pernah berterima kasih dengan orang biasa. Kalau tahu begitu aku tidak memberitahunya tadi," keluh pegawai itu. Dia juga sebenarnya kesal dengan daddy Wendy, baru kli ini dia mendapat ancaman, padahal niatnya baik.
"Coba lihat tanganmu," pintanya pada kekasih hatinya. la ingin melihat bagaimana luka yang di terima kekasih hatinya itu. Walau hanya luka gores, tetapi dia tidak suka melihatnya.
memarahiku semalam. Dia marah padaku karena aku
tidak bisa menjagamu dengan baik," ungkapnya.
Sepulang Jennifer dari markas semalam, Julian langsung saja menghubungi Gerald dan marah. Gerald yang medapat omelan tiba-tiba dari Julian awalnya bingung, dia tidak tahu apa yang tengah terjadi.
"Kenapa harus marah padamu. Luka ini juga bukan karenamu," jawab Jennifer di sana.
"Tentu saja itu masih karenaku. Kau pergi memberi pelajaran pada Wendy bukan? Itu masih berkaitan denganku. Harusnya kau tidak perlu mendengarkan ucapannya untuk datang ke sana," jelas Gerald.
"Eeeem... hitung-hitung untuk mengisi waktu luang. Sudah lama aku tidak mendapat mangsa," jawab Jennifer lagi.
"Heh, apa kau seorang vampir yang tengah mencari mangsa?" gurau Gerald. Di hari weekend mereka meluangkan waktu untuk bersama.
__ADS_1
"Iya... karena aku sangat lapar. Dan aku bisa saja memangsamu,"
"Kalau begitu aku akan memangsamu lebih dulu sebelum kau memangsaku." Gerald membalas candaan Jennifer dengan. Ke dua mata mereka saling tatap, tergambar masing-masing perasaan dari ke duanya.
Fuuh...
Jennifer dengan tiba-tiba meniup mata Gerald hingga sang empunya mengedipkan matanya. Jennifer terkekeh melihatnya, dia sedikit berbuat jahil di sana.
Sementara di sisi lain....
"Kenapa kau melihatnya? Apa au menyukainya?" celetuknya pada Julian.
"Eeeh... tidak, tidak. Aku tidak melihatnya, kau salah lihat," elaknya.
"Salah lihat apanya? Kau jelas-jelas lihat ke arah wanita itu, kau suka yang genit-genit seperti itu pasti, kan ?" tuduh Fany. Dia mulai merasakan cemburu ketika ada wanita lain melihat ke arah Julian dengan genit.
"Suwer... aku tidak melihatnya. Kau menuduh tanpa bukti. Apa kau merasa cemburu?" Julian menaik turunkan ke dua alisnya pada Fany. Wajah menjengkelkannya tidak pernah ketinggalan.
"Aku tidak cemburu, tapi aku tidak suka!" elak Fany.
"Itu sama saja, tidak ada bedanya. Ayolah, Honey ... kau tidak perlu berbohong. Kau pasti cemburu, kan? Katakan saja, aku tidak akan marah padamu," desak Julian pada Fany untuk mengakui perasaannya.
"Jangan terlalu PD, kalau tidak ada benarnya nanti kau sendiri yang malu," celetuk Fany tidak mau mengakui.
Ternyata Twin J tengah ngedate kali ini, tetapi mereka di tempat yang berbeda. Biasanya mereka pasti di tempat yang sama, kali ini mereka berbeda. Mungkin mereka tidak mau terganggu satu sama lain.
"Aku kan bersikap sesuai yang ada. PD itu juga perlu, mana mungkin aku yang seorang mafia memiliki sikap pemalu tidak percaya diri. Itu sangat aneh," jawab Julian mulai nyeleneh.
"Kau terlalu narsis." Alhasil pembicaraan mereka melenceng ke mana-ke mana.
"Aku bukan narsis. Aku bersikap cool." Julian mengibaskan rambut depannya.
"Kau ya!" akhirnya Fany merasa kesal dengan Julian.
__ADS_1
Dari pada berdebat tidak jelas, Fany menyeret Julian pergi dari sana. Ia sangat tidak suka melihat tatapan wanita genit di ujung sana.