
Siapa lagi orang itu kalau bukan Cindy dan teman-temannya, dia tidak suka melihat jika Jennifer bisa dekat dengan Julian dan gerumbulannya. Dia pun akhirnya menyiramkan air yang ia bawa pada Jennifer.
Jennifer pun mendekat ke telinga Cindy dan mengatakan sesuatu, "apa kau tau, nyawa papamu saja bisa berada di tanganku. Jangan pernah bermain-main denganku," bisiknya lalu tersenyum jahat. Cindy yang mendengar hal itu pun seketika marah pada Jennifer.
"Beraninya, kauu..." jeritnya lalu menjambak rambut Jennifer.
"Ehh... eehh..." pekik Fany dan lainnya di sana.
Jennifer pun segera mengambil tindakan hingga keadaan berbalik di sana. Jennifer menendang kedua lutut Cindy hingga dirinya bersimpuh.
"Aku bilang jangan pernah bermain-main denganku. Aku tidak peduli siapa dirimu dan dari mana asal dirimu." Sarkas Jennifer di sana.
Teman-teman Cindy yang ingin menolong pun mendapat tatapan tajam dari Jennifer yang membuat mereka takut dan mundur.
Jennifer pun menyetarakan dirinya dengan Fany, “ kau belum tahu siapa aku bukan, sebaiknya jaga sikapmu. Dan untukmu, tidak ada hak jika aku dekat dengan Julian. Itu bukan urusanmu," Jennifer tersenyum sinis pada Cindy.
Cindy yang sudah sangat kesal itu pun mengangkat tangannya ingin menampar Jennifer.
Sebelum tangan itu menyentuh pipi mulusnya, Jennifer sudah menangkap tangan Cindy. Jennifer kembali melintir tangan Cindy, kali ini lebih dalam dari kemarin. Cindy di sana meringis kesakitan karena tangannya kembali di pelintir oleh Jennifer.
"Kau cukup berani, nona. Tapi jangan salahkan aku jika tangan ini tidak berada di tempatnya lagi." Sinisnya lalu kembali melintir tangan Cindy hingga suara tulangnya terdengar.
Kali ini Jennifer benar-benar mematahkan tangan Cindy. Cindy menjerit kesakitan karena tangannya di patahkan oleh Jennifer.
Semua yang ada di sana terkaget dengan apa yang di lakukan oleh Jennifer. Jennifer cukup berani melakukan hal itu pada anak orang yang berpengaruh di kota itu.
Teman-teman Julian menganga tidak percaya dan bergidik ngeri membayangkan rasanya tangannya di patahkan oleh Jennifer.
Fany, Robert dan Julian hanya terlihat santai di sana. Bahkan mereka bertiga tidak terlihat kasihan pada Cindy. Semua teman Cindy mendekat untuk menolong Cindy menangis kesakitan.
"Sudah aku katakana padamu, bukan. Jangan pernah bermain-main denganku atau tanganmu aku patahkan." Jennifer kembali tersenyum sinis lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.
"Heh... dasar wanita tidak tahu diri. Kau pasti akan di keluarkan dari sini besok." Teriak salah satu teman Cindy pada Jennifer.
__ADS_1
Jennifer pun berhenti dan berbalik memandang mereka. "Silahkan, aku menunggu dengan senang hati." Senyumnya terlihat jahat. Jennifer kembali melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Semua orang berbisik-bisik dengan tindakan Jennifer, ada yang berbisik bagaimana Jennifer yang akan di keluarkan dan ada yang juga senang dengan tindakan Jennifer karena Cindy terkadang suka seenaknya dengan orang lain.
"Julian, tolong Cindy, Jul." Ucap salah satu teman Cindy.
Julian menaikkan sebelah alisnya, "aku tidak ada urusan dengan kalian. Bawa saja temanmu itu ke rumah sakit." Jawab Julian dengan cuek. Dirinya pun berdiri lalu melangkahkan kakinya pergi menyusul sang kakak.
Langkah Julian di ikuti oleh teman-temannya, tak lupa juga dengan Fany dan lainnya.
"Makanya, jadi orang jangan reseh." Ucap Fany pada Cindy dan teman-temannya. Cindy terus saja menangis dan memegangi tangannya yang seperti mati rasa.
Teman Cindy pun membuat perhitungan pada Fany, mereka pun membantu Cindy dan membawanya ke rumah sakit untuk di tangani.
Julian mencari Jennifer ke sana ke mari karena jejaknya sudah tidak terlihat di sana.
"Kemana perginya?" Julian celingukan tidak menemukan Jennifer.
Julian segera mendekat dan menanyakan keadaan sang kakak. "Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya membolak-balikkan badan Jennifer. Tingkahnya itu di saksikan oleh teman-teman Julian. Julian tidak peduli untuk kali ini. Jennifer hanya menggelengkan kepalanya.
"Kau bawa mobil, Fa?" tanyanya pada Fany.
"Tidak, tuan putri. Aku tadi pergi dengan Robert." Jawabnya.
"Memangnya, kau mau kemana tuan putri?" sambung Fany.
"Aku ingin pulang," jawabnya singkat. Jennifer sudah merasa tidak nyaman di sana. Apalagi kondisi dirinya basah saat ini.
"Kau bawa mobilku saja jika butuh." Sahut salah satu teman Julian di sana. Jennifer menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak apa, kau bawa saja. Biar nanti aku dengan yang lain." Sambungnya memberikan kunci mobilnya pada Jennifer.
"Ambilah saja, nanti biar aku mengantarkannya." Ujar Julian. Jennifer pun mengambil kunci mobil teman Julian.
__ADS_1
"Kau tekan saja remote kuncinya," ujarnya pada Jennifer.
"Oke, thanks. Kalian masuklah, keburu telat. Aku pulang dulu." Pamitnya lalu melenggang pergi dengan wajah dinginnya menuju parkiran. Semua teman-teman Julian pun kembali ke kelas.
Setibanya di parkiran, Jennifer menekan remote kunci tersebut. Setelah tau di mana letak mobil itu, Jennifer segera mendekat lalu masuk. Tanpa berlama-lama dirinya langsung saja melajukannya.
Jennifer benar-benar merasa kesal kali ini karena dia terus-terusan di usik padahal tidak berbuat salah. Dirinya terus saja melajukan mobil tersebut dengan kecepatan penuh hingga tiba di mension.
Setibanya di mension, Jennifer segera masuk ke dalam untuk berganti baju dan mengeringkan rambutnya yang basah semua.
Maid yang ada di sana pun bingung bagaimana nona mudanya itu bisa pulang dalam keadaan basah semua. Nona, kenapa basah semua?" tanyanya menghampiri Jennifer.
"Tidak apa, bi. Mami di mana?" tanya Jennifer.
"Nyonya sepertinya di kamar, nona."
"Yasudah, jangan beritahu mami, ya." Ujar Jennifer lalu melangkahkan kakinya lagi menuju kamarnya sebelum sang mami melihatnya basah semua.
"Kau sudah pulang, Jen." Suara Ana terdengar di telinga Jennifer sebelum dirinya meraih gagang pintu kamarnya, Julian dan Jennifer memilih kamar yang berada di lantai bawah.
Jennifer menggigit bibir bawahnya, ia bingung harus menjawab apa jika sang mami bertanya-tanya padanya.
"Di mana adikmu, Jen?" sambung Ana bertanya pada Jennifer.
Ana memerhatikan penampilan Jennifer yang basah, "kenapa kau basah semua, sayang? Apa terjadi sesuatu padamu?" imbuh Ana.
"Tidak apa-apa, mi. Tadi teman Jenni bawa air waktu di kantin ke sanding mengenai Jenni. Jadi basah semua deh." Bohong Jennifer pada sang mami, tidak mungkin jika dirinya mengatakan jika dirinya di siram air oleh Cindy.
"Ya ampun, ya sudah kamu ganti. Nanti kamu masuk angin." Ujar Ana yang tanpa curiga pada Jennifer. Jennifer bernafas lega karena sang mami percaya padanya. Mungkin kalau sang papi tidak akan mudah percaya padanya.
Skiippp....
Julian sudah pulang ke mension bersama teman-temannya tadi, tentu saja Fany dan Robert ikut ke sana. Mereka sudah biasa datang ke sana, kecuali Thea yang tidak ikut ke sana.
__ADS_1