Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 170 Season 2


__ADS_3

Seperti biasa jika Jennifer pasti sedang berada di salah atu ruang untuk bermain piano, sejak kecil dia suka dengan piano. Jennifer sangat mahir memainkan piano milik sang papi yang ada di markas. Dan di mana Julian berada, dia selalu menimbulkan keributan dan kegaduhan.


Fany dan Robert tidak mau kalah dengan Julian di sana, "diam kau, Julian Copers. Kau itu lelaki, bisa tidak sedikit cool, kalem gitu? Bukan petakilan, dirimu tidak menunjukkan sekali jika dirimu anak seorang mafia." Cerocos Fany panjang lebar.


"Memangnya kenapa, hah? Kau tidak suka?" Sengal Julian yang seperti ingin menantang Fany.


"Bukan tidak suka, tapi dirimu seperti tidak jantan sama sekali." Sahut Robert pada Julian.


"Tidak jantan yang bagaimana maksudmu, hah?" Julian menyingsingkan lengan bajunya.


"Kalau kalian berisik lebih baik pergi dari sini." Sahut Diva yang melihat jika Julian ingin berulah.


"Suuutt... Kakak Diva diam, sebaiknya kak Diva dengan uncle Riko sana. Ini urusan anak muda," Julian menoleh ke arah Diva dengan wajahnya sedikit menjengkelkan.


"Biarkan saja, lihat saja sejauh mana dia melakukan kehebohan di sini." Ujar Riko. Mereka melihat apa yang akan di lakukan Julian kali ini.


"Coba sini, ayo lawan aku." Tantangnya pada Fany dan Robert. Fany dan Robert saling pandang lalu menyerang Julian bersamaan. Dan terjadilah di sana baku hantam di antara mereka bertiga, tidak ada yang melerainya.


Diva pun membiarkan saja apa yang di lakukan ketiganya, justru Diva terlihat asik menyaksikan ketiganya ribut.


Sedangkan di sisi lain...


"Bagaimana, apa mereka masih tidak menerima tawaran dari kita?" Tanyanya.


"Tuan William lebih memilih untuk berperang dari pada menyerahkan keponakannya." Jawabnya.


"Ternyata begitu, baiklah jika mereka memilih untuk itu. Aku pastikan nanti mereka akan menyerah," ucapnya dengan menunjukkan smirk jahatnya.


"Kau siapkan semua yang ada di sini, kita akan menuruti sesuai dengan kemauan mereka." Perintahnya pada anak buahnya.

__ADS_1


Yaap... Benar sekali jika orang itu adalah orang yang meminta Diva untuk menjadi menantunya, tapi Sean tetap menolak walaupun di berikan kesempatan berkali-kali. Sean tetap memilih untuk berperang dari pada menyerahkan Diva atau anak-anaknya jatuh pada orang yang serakah dan ingin menang sendiri.


Kembali lagi ke sisi Julian dan lainnya...


Bugh....


Bugh...


Bugh...


Ketiganya masih bergaduh tidak ada hentinya, semua barang yang ada di sana berserakan karena mereka saling lempar. Jennifer yang baru saja keluar itu pun hanya bisa melongo melihat ketiga orang tersebut bergelut. Julian tidak mau kalah dengan Fany dan Robert walau dia hanya sendiri.


"Kenapa mereka kekanak-kanakan sekali?" gumam Jennifer di sana. Belum lagi dengan barang-barang di sana jadi berserakan, bahkan sofa di sana juga bergeser tidak tentu arah lagi. Jennifer datang mendekat ke arah ketiganya dan berdiri tidak jauh dari mereka.


Jennifer menunjukkan tatapan tajamnya ke arah


ketiganya yang masih bergaduh tidak ada hentinya, Julian yang melihat tatapan horror dari sang kakak langsung menghentikan aksinya sebelum Jennifer keluar taringnya.


"Kenapa berhenti, lanjutkan saja. Markas masih aman, belum roboh." Ucap Jennifer penuh penekanan. Ia melihat tajam ke arah Julian, Julian menutup kedua matanya dengan tangannya menghindari tatapan tajam Jennifer.


"Siapa yang bertanggung jawab untuk ini?" Tegas Jennifer pada ketiganya. Robert dan Fany menunjuk serentak ke arah Julian.


"Cepat bereskan semua ini," perintahnya mutlak tidak bisa di bantah.


"Kalian bertiga yang membuat semuanya berantakan, kalian yang harus membereskan. Jangan menyusahkan orang lain," tegasnya yang membuat ketiganya diam.


"Tapi tuan Putri... Julian yang mulai duluan, kita hanya menjadi korban di sini." TDivak Fany.


"Sudah ayo, aku tidak menerima apapun alasan kalian." Jennifer tidak peduli siapa yang mulai duluan, semuanya sama saja baginya.

__ADS_1


"Juliaann!!! Cepat kau bereskan semua yang ada di sini, kalian harus tanggung jawab dengan apa yang kalian lakukan."


"Dalam waktu 5 menit semua harus selesai," sambung Jennifer llalu mendudukkan dirinya di atas sofa yang ada di sana.


"Kenapa waktunya sedikit sekaliii?" Protes Fany dengan waktu yang di berikan oleh Jennifer.


"Semakin protes waktu semakin berkurang, cepat. Aku tidak mau tau itu," Jennifer benar-benar tegas. Dia tidak memihak siapapun, bahkan tidak menerima protes dari mereka, apa yang sudah dia tetapkan harus di lakukan.


Dengan berat hati mereka membereskan kekacauan yang sudah mereka buat, dalam beberes itu pun mereka masih saja saling melototkan mata masing-masing. Sepertinya mereka belum puas untuk membuat semua berantakan di sana.


"Cepat selesaikan, kalau mau lanjut nanti kalian bisa di lapangan, aku beri kalian satu-satu katana." Ujar Jennifer yang melihat ketiganya masih pecicilan walau sedang beberes. Jennifer mengasi mereka bertiga sampai selesai, jika dia pergi dari sana, mungkin mereka kembali beraksi lagi.


Bandara....


Jet yang di kendarai oleh Gerald mendarat mulus di sana, dia tiba di Berlin dengan selamat. Tanpa menunggu waktu lama, Gerald segera turun dari sana.


"Selamat datang, tuan muda." Sapa anak buahnya yang masih stand by di Berlin.


"Bagaimana di sini?" Tanyanya.


"Semua aman, tuan. Bahkan nona muda William juga baik, tapi...." ucapnya menggantung.


"Katakan saja, apa yang kau ketahui." Sahut Gerald.


"Sebaiknya kita menuju ke mobil dulu, tuan. Nanti akan saya jelaskan di dalam." Ujarnya di setujui oleh Gerald. Mereka menuju mobil yang tidak jauh, semua sudah masuk mobil pun melaju meninggalkan bandara. "Apa ada sesuatu terjadi di sini?" Gerald kembali bertanya.


"Tidak, tuan muda. Tidak terjadi apa-apa, tapi saya mendengar jika mafia dari tuan William akan berperang dengan kelompok lain." Jelasnya pada Gerald.


"Perang?" Gerald merasa penasaran dengan apa yang terjadi dan apa penyebabnya. Katena sudah lama sekali mafia Sean tidak melakukan penyerangan atau perang dengan kelompok lain.

__ADS_1


"Benar, tuan muda. Kelompok itu meminta nona tertua dari keluarga William untuk menjadi menantunya, tapi Tuan William menolaknya mentah-mentah karena kelompok itu ingin menguasai wilayah yang di miliki oleh kelompok tuan William. Mereka tidak terima dan mengibarkan bendera perang, mereka mencoba memberikan waktu untuk tuan William berubah fikiran. Tapi, Tuan William lebih memilih untuk berperang melawan mereka." Jelasnya panjang kali lebar. Gerald faham dengan apa yang di sampaikan oleh anak buahnya, pasti akan ada saja orang-orang yang mengincar wilayah yang di miliki kelompok Sean.


"Baiklah, kau awasi bagaimana perkembangannya. Katakan padaku jika ada sesuatu hal yang terjadi." Ucap Gerald tegas.


__ADS_2