
Bukannya Julian yang merasa terancam, justru dirinya sendiri yang terancam karena ulah-ulah Julian. Secara diam-diam Julian menghadapi musuhnya itu. Ulah Julian bagaikan makhluk tak kasat mata, tidak terlihat, tetapi ada hal yang tidak terduga secara tiba-tiba.
"Kalian memang tidak becus, tidak bisa di andalkan, bod*h!" semua kata-kata yang tidak pantas ia lontarkan pada bawahannya. Kalau saja mereka tidak sabar, mungkin dirinya sudah di keroyok oleh semua bawahannya.
"Hah, aku tidak mau tahu. Kalian kembali awasi mereka. Jika perlu, kalian berikan teror dari kalian-kalian," pintanya dengan napas memburu. Semua bawahannya itu mengiyakan atas perintahnya.
"Kalau kalian tidak berhasil, maka kalian sendiri yang akan mati di tanganku!" ancamnya sambil menunjuk setiap anak buahnya. Semua bawahannya itu hanya bisa pasrah dengan setiap perintah yang di minta oleh sang bos.
"Kalian harus ingat itu. Sekarang kalian kembali bertugas, aku akan pergi keluar." Ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari sana.
Dirinya sangat menggebu memerintahkan bawahannya, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan apa-apa untuk membantu para anggotanya.
Kali ini Julian berjalan dengan Fany, hari-hari mereka di isi oleh keramaian dan terkadang sikap manis, tetapi itu tidak bertahan lama. Pasti tahulah bagaimana Julian, sangat tidak heran kalau mereka selalu berdebat dengan hal yang tidak penting.
Kali ini mereka berada di halaman salah satu museum, mereka datang ke sana hanya sekedar untuk berjalan-jalan. Mereka tidak ada bosannya mendatangi setiap tempat-tempat yang ada di kota, terkadang mereka juga mendatangi tempat yang sudah mereka kunjungi.
"Mana hoodie yang aku berikan padamu? Kenapa kau tidak memakainya?" seru Julian.
Hari ini dirinya membawa hoodie yang ia beli waktu lalu, dirinya meminta Fany juga memakainya, tetapi ternyata Fany tidak memakainya. Hanya dirinya yang memakainya saat ini.
"Ee... ee...,'
"Aa... ee... aa... ee... apa kau mau paduan suara?" sela Julian dengan sedikit tengil.
"Iya, paduan suara di telingamu. Aaaaa...." Fany sedikit berteriak di telinga Julian.
__ADS_1
"Suaramu sangat tidak enak. Sebaiknya kau diam saja, jangan sampai orang lain mendengarmu," ledeknya. "Hmm...." Seketika Fany terdiam dan hanya menjawabi Julian dengan deheman.
"Sebaiknya kita pergi dari sini. Cari tempat yang lain yang lebih enak, banyak sekali manusia-manusia di sini." Tangannya menyeret Fany untuk pergi.
Namanya juga tempat umum, pasti saja banyak pengunjung. Dirinya juga mengatakan jika banyak manusia, lalu dirinya juga apa kalau bukan manusia? Entah kemana lagi dirinya akan membawa Fany pergi kali ini, Fany hanya diam dan menurut pada Julian tidak berbicara sepatah kata pun.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mereka sampai di lokasi selanjutnya. la mengajak Fany ke Kurfurstendamm, tempat itu seperti street food. Di sepanjang jalan banyak café dan restoran, mereka menyusuri jalan panjang itu bersamaan.
"Kau mau ke mana?" tanya Julian namun tidak di sahuti oleh Fany.
"Cepatlah jawab, apa kau berjalan dari ujung sampai ujung jalan saja?" tanyanya lagi. lagi-lagi Fany hanya diam tidak menyahuti ucapannya sama sekali.
"Kau ini!" karena gemmas tidak mendapat jawaban dari Fany, Julian mencubit pipi Fany dengan sedikit keras.
"Aaakkh...." Fany memukul lengan Julian dengan keras.
"Salah kau sendiri, aku berbicara denganmu sedari tadi, bukan bicara dengan angin. Kau diam saja tidak menjawabku, kau kira aku tidak kesal?" jelasnya panjang lebar.
"Kau lupa atau bagaimana, hah! Kau sendiri yang menyuruhku diam agar suaraku tidak di dengar orang lain. Kenapa kau yang marah!" sengalnya.
Julian hanya berdesis dengan menggaruk keningnya yang tidak gatal itu. "Bukan itu maksudku. Kenapa kau tidak paham sama sekali!"
"Lalu bagaimana yang kau maksud, hah!?" sengal Fany lagi. akur satu menit saja sepertinya dunia mereka akan runtuh, di mana-mana pasti mereka akan berdebat tidak ada hentinya.
"Terserah kau saja." Julian hanya pasrah dan mengajak Fany kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari café atau resto yang ia sukai.
__ADS_1
Baru saja mereka ingin ke café yang mereka setujui, seseorang tiba-tiba saja menghampirinya. Mereka menghentikan langkahnya untuk sejenak. "Halo, Tuan Muda William? Apa kabar?" tanyanya basa-basi pada Julian.
"Hmm... baik. Bagaimana juga kabarmu, aku harap juga baik-baik saja." Julian menunjukkan senyum miringnya. Ucapan Julian seperti mengandung sedikit peringatan pada orang itu.
"Hahaha... tentu saja aku baik-baik saja. Siapa wanita ini? Apa dia kekasihmu?" tanyanya untuk mengalihkan ucapan Julian tadi.
"Hah, tentu saja dia kekasihku. Tidak mungkin aku membawa kekasih orang lain kan?" Julian menunjukkan waja tengilnya di sana. Fany hanya bisa melototkan kedua matanya ke arah Julian.
Baru saja Fany ingin membuka suara, tetapi Julian memberikan kode agar Fany diam saja dan tidak mengatakan apa-apa di depan orang tersebut. Mau tidak mau Fany menurut dengan Julian.
"Apa kau tinggal di sini? Aku selalu bertemu denganmu di kota ini?" tanya Julian yang dengan sengaja.
"Benar sekali, Tuan Muda William. Aku pindah ke sini, mungkin hanya beberapa bulan di sini. Aku ingin menikmati suasana di sini, lama kelamaan aku jadi menyukai kota ini," jawabnya memberikan alasan pada Julian. Entah itu benar atau hanya alibinya untuk berada di sana. Julian hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Apa kau ke sini menghindari musuhmu? Atau kau sedang mencari musuhmu?" tanpa ada basa-basi Julian melontarkan pertanyaan tersebut. Sepertinya, Julian memang sengaja memancing orang itu.
"Hahaha... tentu saja tidak, Tuan. Aku hanya ingin mengistirahatkan diriku sejenak," jawabnya menunjukkan keramahan. Mungkin dia sadar akan pertanyaan Julian padanya.
Julian kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. " Aku harap kau juga selalu berhati-hati di sini. Pasti ada saja musuh yang mengintaimu."
"Kau pasti tahu bukan, dunia kita sama-sama kejam. Aku juga baru saja mengirimkan hadiah untuk salah satu musuhku, waah... dia pasti sangat suka dengan hadiah dariku. Karena itu aku sendiri yang membuatnya." Lagi dan lagi, kata-kata Julian mengandung banyak arti.
Siapakah orang yang di temui Julian saat ini? Dia adalah musuhnya yang ingin membalaskan dendam padanya. Dia adalah putra dari Jacob, pertemuan mereka sepertinya memang di sengaja olehnya. Pantas saja jika ucapan Julian sedari tadi penuh dengan arti.
"Benarkah? Hadiah apa yang sudah kau kirimkan padanya, Tuan Muda. Pasti itu hadiah yang sangat fantastis?" orang itu mencoba untuk bersikap biasa saja, meskipun dalam hatinya dia ingin sekali menghajar Julian.
__ADS_1
"Kau ingin tahu? Aku mengirimkan hadiah berupa kepala dan tulang-tulang dari anak buahnya. Aku memberikannya pada leopardku, sayang sekali bukan jika aku membuangnya? Lebih baik aku memberikannya pada leopardku, baru aku kirimkan sisanya padanya." Julian mengatakan semuanya di depan musuhnya sendiri. Julian bersikap seolah-olah dirinya tidak tahu siapa orang yang ada di depannya itu. Ketengilannya dan aktingnya itu menunjukkan sangat natural sekali.