
Tidak lama kemudian, Jennifer tiba di mension dan segera turun dari mobil. Belum juga ia melangkah jauh, ia mendengar suara singa cukup keras yang ada di halaman rumahnya. Jennifer memutuskan untuk melihatnya sebentar, sudah lama dia tidak pernah melihat peliharaan-peliharaan di sana.
Jennifer pernah meminta singa pada sang papi, untuk leopard dulu sudah di pindahkan ke markas oleh Sean.
"Ada apa, king?" Ujar Jennifer saat ada di sana. Singa itu seketika diam melihat kedatangan Jennifer.
"Bukakan pintunya." Pintah Jennifer pada penjaga di sana.
"Tapi, Nona..." Ucapnya sedikit takut jika akan terjadi apa-apa.
"Tidak apa, bukalah." Perintahnya lagi. Mau tidak mau penjaga itu pun membukanya. Setelah pintu terbuka, mata Jennifer dan singa itu bertemu dan memandang lekat.
"Kemarilah." Ujar Jennifer memanggilnya tanpa rasa takut. Dengan pelan singa itu mendekat dan merebahkan dirinya di depan Jennifer.
"Kau sudah cukup besar, kau sangat cepat dewasa." Jennifer mengelusnya lembut. Singa itu juga hanya diam menurut dengan apa yang di lakukan oleh Jennifer.
"Bagus, kau memang penurut. Aku akan mengajakmu nanti, kau harus terlihat garang." Ujar Jennifer lagi. Sedari kecil memang Jennifer sudah tertarik pada binatang-binatang buas.
Dan sekarang dia memiliki apa yang dia inginkan di sana, Jennifer ikut andil dalam mengurus singa itu. Hingga akhirnya mereka cukup dekat, tapi Jennifer tetap bersikap hati-hati, bisa saja naluri buasnya muncul secara tiba-tiba.
Malam hari....
Twin J, Robert dan Fany saat ini sedang nongkrong di salah satu cafe, sudah lama sekali mereka berkumpul seperti itu.
"Tumben sekali teman-teman resekmu itu tidak kau ajak kemari." Ucap Fany pada Julian. Karena biasanya Julian bersama teman-temannya.
"Memangnya kenapa? Suka-suka aku lah mau mengajak mereka atau tidak." Sewot Julian. Entah kenapa kalau mereka berdua tidak bisa kalau tidak ngegas jika berbicara.
"Biasa aja dooong... Ngegas sekali," Fany tak kalah sewot dari Julian di sana.
"Memangnya kau apa bedanya?" Sahut Robert mendengar Fany.
"Kau tidak di ajak, diamlah." Sengal Fany pada Robert yang menyahutinya.
"Sebaiknya aku pulang saja dari pada melihat kalian berdebat di sini." Jennifer sudah sangat jengah melihat keduanya yang tidak ada akur-akurnya.
"Eehh... Jangan-jangan... Tidak seru nanti kalau kau pulang." Cegah Fany yang melihat Jennifer sudah beranjak berdiri. Jennifer kembali duduk di tempatnya dengan tenang.
__ADS_1
Sedari tadi ternyata mereka ada yang mengawasi dari jauh, orang tersebut bergumbul dengan yang lainnya memakai baju seperti orang pada umumnya. Mereka mencoba berkamuflase dengan yang lainnya yang ada di sana.
"Tuan putri.... Setelah ini kau akan lanjut ke mana? Di sini, atau di Amerika?" Tanya Fany.
"Hmm... Mungkin Australi." Jawab Jennifer.
"Haah... Jauh sekali, kenapa kau tidak memberitahuku? Kau tega sekali meninggalkanku sendiri di sini." Ucap Julian dengan mendramatis keadaan seolah-olah Jennifer bersikap jahat padanya.
"Bisa tidak sih, kau bersikap sedikit cool? Tidak pantas sekali kau bersikap seperti orang yang tersakiti, kenapa kau tidak bermain drama saja." Sengal Fany yang melihat bagaimana wajah Julian di sana.
"Diam!" Sentak Julian padanya. Fany hanya memincingkan bibirnya pada Julian.
"Kenapa jauh sekali? Tidak asik nanti kalau kau tidak ada, terus aku bermain dengan siapa nanti?" Ujar Fany.
"Aku pengal di sini melihat kalian berdua yang tidak bisa tenang, lebih baik aku pergi saja. Biar aku bisa tentram di sana," jawab Jennifer.
"Astaga! Padahal aku tidak berbuat apa-apa. Aku selalu diam," ucapnya yang tidak sadar diri. Padahal dia tidak pernah bisa diam sama sekali, di mana tempatnya pasti dirinya yang selalu membuat ramai.
Sedangkan di sisi seberang di waktu yang bersamaan
ini Nona muda William berada di salah satu cafe bersama orang-orang terdekatnya." Lapornya pada Gerald.
"Apa mereka berbuat yang tidak-tidak?" Tanyanya memastikan.
"Tidak, Tuan muda. Mereka masih mencari cela yang pas untuk bertindak." Jawabnya. Gerald mengepalkan tangannya kali ini, bukan hanya Diva yang mereka incar. Ternyata, mereka juga ingin mencari cela yang lain melalui Julian dan Jennifer.
"Terus awasi pergerakannya," perintah Gerald. Anak buahnya membungkukan sedikit badannya lalu pergi dari sana.
"Apa yang akan aku lakukan? Kalau aku mengambil tindakan akan membuat semua runyam," Gerald nampak berfikir keras kali ini. Gerald mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang, ia mencari nomor seseorang yang ada di ponselnya.
Kriiing...
Kriiing....
Suara ponsel terdengar di seberang sana. Di ambilnya ponselnya dan melihat siapa yang tengah menghubunginya, alisnya terangkat sebelah setalah tahu siapa yang menghubunginya.
"Siapa?" Tanyanya melihat ekspresi wajah yang tidak biasa.
__ADS_1
"Gerald, tidak biasanya anak itu menghubungiku." Jawabnya saat Gerald menghubunginya.
"Ya sudah angkat saja, mungkin ada yang penting yang ingin dia sampaikan." Orang tersebut menggeser tombol hijau pada ponselnya.
"Halo, ada apa?"
"Ooh... Halo, pi. Apa kabar papi dan mami?" Jawabnya memulai percakapan. Ternyata yang hubungi adalah Papi mertuanya. dia
"Kau menanyakan Papi dan Mami atau Jen?" Sean mencoba menggoda Gerald yang tidak biasa menghubunginya.
"Aku kan menyebut Papi dan Mami, bukan Jenni." Jawab Gerald.
"Hmm... Papi dan Mami baik di sini, bagaimana Daddy dan Mommy-mu di sana?" Sean kembali bertanya pada Gerald.
"Daddy dan Mommy baik, mereka aman sentosa." Jawabnya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu pada Papi, besok aku akan menemui Papi. Sepertinya lebih enak kalau berbicara langsung," ucapnya yang mulai dengan pembahasan serius.
"Datanglah ke mari, temui Papi di markas." Pintah Sean pada Gerald.
"Baiklah, besok pagi aku akan datang." Jawabnya. Dan tidak lama panggilan telfon itu terputus.
"Kenapa?" Tanya Ana yang berada di sampingnya.
"Entahlah, anak itu ingin mengatakan sesuatu. Sepertinya ada hal serius yang ingin dia katakan." Jelas Sean pada Ana.
"Bukankah dia masih di Amerika? Kenapa kau memintanya datang ke markas?" Tanya Ana yang belum tahu.
"Dia sudah berada di sini sejak kemarin, dia sengaja tidak memberitahukan Jenni. Entah apa rencana anak itu ," ujar Sean yang juga tidak tahu kenapa Gerald tidak memberitahukan kedatangannya. Untuk Sean tentu saja dia tahu, tidak ada yang akan dia lewatkan.
Kembali ke sisi Jennifer dan lainnya....
"Tingkahmu saja membuat semua gempar, dari mana kau diamnya?" Sahut Robert.
"Diam saja bontot, jangan ikut campur urusan orang dewasa." Ucap Fany padanya, padahal dia dan Robert seumuran. Bedanya Robert lebih muda 2 bulan darinya.
"Kenapa masih ada jenis orang seperti ini," gerutu Robert di sana.
__ADS_1