
Jennifer dan Julian kembali ke kelas bersamaan. Di saat mereka baru saja duduk, tapi waktu sudah menunjukkan jam pelajaran selesai.
Semua yang ada di sana keluar meninggalkan bangku masing-masing, kecuali Jennifer yang seperti biasa akan duduk menyendiri di kelas.
"Jen, bagaimana? Kau tidak akan keluar dari sini kan ?" Thea mendekat ke arah Jennifer.
"Kata siapa aku akan keluar dari sini?" bukannya menjawab, Jennifer justru kembali bertanya.
"Semua orang kan berbisik-bisik seperti itu Jen, aku takut saja jika dirimu akan di keluarkan. Padahal dirimu tidak bersalah." Jawab Thea di sana.
"Tidak, kau tenang saja." Jawab Jennifer santai.
"TUAN PUTRIIII...." Teriaknya dengan suara cempreng yang membuat siapa saja menutup telinganya. Siapa lagi kalau bukan Fany yang setiap hari mendatangi kelas Jennifer dan berbincang-bincang di sana.
la mendekat ke arah Thea dan Jennifer dengan wajah cengengesan.
"Apa kau tidak bisa sekali saja tidak teriak, Fa?" Jennifer sepertinya jengah mendengar teriakan Fany.
"Hehehe...." .." Cengir Fany di sana.
"Kantiin yuukkk." Ajaknya merengek.
"Kau saja yang pergi," jawab Jennifer malas dengan ajakan Fany.
"Kau ini, tidak lapar apa setiap jam istirahat berdiam mulu di ruangan?"
"Tidak." Jawab Jennifer singkat.
Sedangkan di sisi Julian....
"Bagaimana dengan Jennifer tadi, Jul?" tanya teman Julian yang waktu itu memberikan mobilnya pada Jennifer.
"Kau tenang saja, dia aman. Tadi papi ke sini, kau sepertinya sangat khawatir sekali dengannya. Kau suka kaannn..." Julian menaik turunkan kedua alisnya menggoda temannya itu.
"Aku Cuma tanya, kenapa kau berfikiran yang tidak-tidak?" sengalnya pada Julian.
"Kalau suka yaudah bilang aja kali Bert, Gak usah bohong, nanti keburu di tikung orang. Kan sayang tuh Jenninya cantik. Jul pasti merestui kok. Ye kan Juuulll?" sahut salah satunya.
"Tidak, aku tidak merestuinya." Celetuk Julian.
__ADS_1
"Eh... busset Jull.... To the point sekali." Ucapnya lagi.
Jika di gymnasium, Julian memiliki tiga orang teman. Yang pertama bernama Geralde Duston, Marcus dan Reiner. Jika di mension, dirinya berteman dengan Robert dan Fany.
"Sabar, ya Bert. Minta restu ke tuan dan nyonya William nanti. Biarkan apa kata Julian, yaahh." Ujarnya kembali pada Gerald.
"Kau ini kenapa sih?" ketus Gerald menyingkirkan tangan Reiner dari pundaknya. Memang dialah yang sebelas dua belas dengan Julian.
Kabar Jennifer kakak dari Julian pun menyebar di sana, semua orang terkejut dan tidak percaya jika ternyata Jennifer adalah kakak Julian.
Semua di sana sedang berbisik-bisik mengenai Jennifer di sana. Julian yang mendengar ucapan mereka semua pun hanya mencebikkan bibirnya, kemarin saja banyak yang berbisik tidak suka. Entah setelah ini bagaimana sikap mereka pada Jennifer.
Kembali ke sisi Jennifer...
"Ayolah tuan putri, kau tidak kasihan apa? Robert sedari tadi menunggu di luar tuh." Dirinya membawa nama Robert di sana. Jennifer hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Kalau gitu, kau pergi saja dengannya." Ketus Jennifer pada Fany.
"Gak ah. Gak asik, ayolaahh.... Yah... .yahh..." bujuknya pada Jennifer.
"Sudahlah, ayo Jen. Kau jarang sekali makan siang aku lihat." Sahut Thea di sana.
"Huuft... yasudah." Jennifer pasrah dengan ajakan kedua orang itu. Fany tersenyum penuh kemenangan karena Jennifer terima ajakannya.
"Ayo, Land." Ajak Fany saat di luar.
"Kenapa kau mau menunggu anak ini? Jika aku jadi dirimu aku sudah ogah menunggunya." Ketus Jennifer lagi.
"Dia selalu mengancamku, kalau aku tidak mau dia akan memberitahukan pada mama." Jawab Robert.
"Kenapa kau takut dengannya, kau itu lelaki."
"Kau seperti tidak tahu dirinya saja, nona. Dia kan ratu drama, mama pernah memarahiku karena dirinya." Keluh Robert pada Jennifer di sepanjang perjalanan.
"Memangnya apa yang sudah dia lakukan?" Jennifer mengernyitkan alisnya.
"Waktu lalu aku membawa bekalku sendiri karena tidak sempat sarapan, dia yang menghabiskan semuanya. Dia juga yang bilang ke mama kalau aku menghabiskan makananku di depannya tidak berbagi dengannya. Sudah aku lapar, di tambah mama marah." Ungkap Robert dengan sedikit kesal mengingat itu.
"Kau memang selalu buat ulah, Fa." Fany hanya cengegesan merasa tidak bersalah sama sekali dengan Robert. Jika di sandingkan dengan Julian mungkin sama, sama-sama membuat ulah.
__ADS_1
Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju kantin, banyak dari mereka yang menyapa Jennifer setelah mendengar kabar siapa dirinya sebenarnya. Jennifer merasa aneh dan rishi tiba-tiba saja mereka seperti terlihat akrab. Padahal sebelum-sebelumnya mereka diam saja saat Jennifer melintas.
Jennifer tidak memperdulikan itu, dirinya terus saja fokus ke depan.
Setelah di kantin, mereka mendekat gumbulan Julian seperti biasanya. "Permisi-permisi... orang cantik mau duduk." Ujar Fany.
"Wajah pas-pasan gitu di bilang cantik. Cantik apanya?" ketus Julian yang memang selalu saja sewot dengan adanya Fany.
"Aku doakan kalian jodoh." Celetuk Reiner di sana.
"Heh, diam kau." Sentak Fany pada Reiner.
"Ogah aku berjodoh dengan dia," sambung Julian di sana.
"Biasanya yang ogah-ogah itu berjodoh nanti." Sahut Marcus yang sedari tadi diam.
Julian bergidik menolak keras menjadi pasangan Fany nanti.
Jennifer menaikkan sebelah alisnya karena semua orang memandang dirinya dan tersenyum ramah.
"Kau kenapa?" tanya Julian melihat reaksi Jennifer di sana.
"Tidak, kenapa mereka tiba-tiba banyak yang menyapaku dan tersenyum seperti itu." Jawab Jennifer merasa tidak nyaman.
"Mereka tahu kalau kau itu saudara Julian, nona. Makanya mereka seperti itu." Jawab salah satu teman Julian.
"Huuhh... inilah yang aku tidak suka. Semuanya penjilat," jawab Jennifer karena dirinya memang sangat tidak suka jika semua orang mengetahui dirinya. Pasti banyak para penjilat yang akan mendekatinya.
"Apa? Jennifer saudara Julian?" tanya Thea yang memang belum tahu siapa Jennifer.
"Iya, cantik... apa kau tidak tahu?" sahut Reiner pada Thea. Thea hanya menggelengkan kepalanya, karena dirinya saja yang belum tahu. Waktu itu dirinya tidak ikut teman-teman Julian ke mensionnya. Padahal Fany sudah memaksanya untuk ikut.
"Sama, kita juga baru tahu kemarin waktu ke mension Julian." Jawabnya pada Thea.
Mereka pun melanjutkan makan mereka, tapi beda dengan Jennifer yang memang benar-benar tidak nyaman dengan semuanya. Jennifer jengah lalu dia memutuskan untuk menyudahi makannya.
"Aku kembali dulu, kalian lanjutkan saja." Ucapnya yang sudah tidak mood di sana.
"Kau mau kemana, kak? Makananmu belum habis." Sahut Julian.
__ADS_1
"Kelas, terlalu ramai di sini." Jawab Jennifer lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.