Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 305


__ADS_3

Amerika...


Tepat di bandara pemuda berkulit putih itu tengah berjalan beriringan dengan anak buah yang tengah menjemputnya. Ia baru saja sampai di negara asalnya.


"Kau sudah melakukan apa yang aku suruh?" ia bertanya pada anak buahnya mengenai apa yang ia perintahkan.


"Sudah, Tuan Muda. Semua sudah selesai," jawabnya.


"Lakukan saja secara perlahan. Buat semua hartanya sedikit demi sedikit terkikis habis," ucapnya. Langkahnya benar-benar tegap, tatapan matanya fokus ke arah depan.


"Ada laporan dari Nona William, Tuan Muda," ujarnya lagi.


"Katakan saja." la paling antusias mendengar sang kekasih di sebut. Baru juga dia sampai di negaranya, tetapi ia sudah merindukan kekasih hatinya. Seperti biasa meraka biasanya LDR hanya beberapa hari saja.


"Baru saja jika Tuan Brown datang ke kediaman anda yang berada di Berlin, ternyata Nona William sudah berada di sana lebih dulu. Beliau berhasil membuat Tuan Brown mundur dengan ancamannya," terangnya.


la tersenyum bangga mendengar jika wanitanya itu memang hebat, tidak seperti wanita sekarang yang terlihat manja dan hanya merengek. "Itu yang membuatku suka padanya. Dia hebat dan kuat, dia bisa berdiri di kaki sendiri walau dia dari keluarga yang mempunyai kedudukan tinggi."


"Bagaimana dengan putri Brown?" sambungnya.


"Putri Brown sudah sadarkan diri, tapi tidak lama kemudia dia kembali tertidur lagi. Mereka di perkirakan jika akan kembali ke Amerika besok," jelasnya mengenai semua informasi yang ia dapatkan.


"Baiklah, ingat kataku. Lakukan secara perlahan agar dia tidak menyadari jika hartanya terkikis perlahan-lahan ." Gerald memberikan hukuman pada keluarga Brown karena sikapnya yang selalu sombong dan selalu mengganggu ketenangannya. Gerald memerintahkan pada anak buahnya untuk menguras kekayaan keluarga Brown dengan sedikit demi sedikit.


Ke duanya terus melangkahkan kaki dengan cepat menuju mobil, tidak lama kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Satu bulan berlalu....

__ADS_1


Hari-hari mereka terbilang tentram, aman dan damai, gangguan demi gangguan semua mereka selesaikan satu persatu. Hubungan asmara mereka juga terbilang baik-baik saja, yaa... walau terkadang pasangan Julian dan Fany selalu heboh sendiri. Fany menunjukkan sedikit perubahan dalam dirinya, biasanya dia yang genit dan centil sekarang tidak lagi.


Tahu sekali dia jika ada perasaan seseorang yang harus di jaga. Untuk sikap bar-barnya, itu masih terus berlanjut, memang sudah ciri khas dari dirinya selama ini. Dia juga sesekali belajar memasak sendiri di rumahnya.


"Rasa apa ini?" pekiknya saat mencoba makanannya sendiri. Rasanya bercampur aduk, entah resep mana yang ia gunakan.


"Sudahlah, membuat repot saja. Memang paling enak makan masakan Mommy dan beli saja di luar." Dirinya kesal lantaran masakannya yang terasa tidak enak. Makanan yang di buatnya itu ia buang sia-sia, dia memutuskan untuk meninggalkan dapur.


Perkuliahannya tengah libur setelah ujian akhir, ada waktu dirinya bersantai. Terkadang dia bosan jika selalu di rumah tidak ada teman-temannya.


"Sepi sekali seperti hidupku," keluhnya merasa kesepian. Yang biasa membuat ramai semua orang sekrang dia merasa kesepian.


Di rumahnya hanya ada dirinya, keluarganya sedang berada di luar. Julian juga terlihat sibuk-sibuknya di merasa bosan sedari tadi, maka dari itu menghilangkan rasa bosannya ia mencoba membuat makanan untuk dirinya sendiri. Ternyata tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Sedangkan di sisi Julian ...


"Apa saja yang kalian lakukan? Masa kalah sama anak kecil!" sengalnya dengan ke dua temannya.


"Aaahh... susah. Aku tidak mau melakukannya lagi. Remuk semua badanku dua hari ini," keluh Marcus lalu mendudukkan dirinya dengan wajah lelahnya.


"Kau laki-laki kenapa lemah sekali? Siapa yang meminta untuk mengajari bela diri, hah!?" sengalnya lagi.


"Hah... ini memang melelahkan...." Sekarang giliran Reiner yang juga mengeluh. Sebelum mengajarkan bela diri Julian melatih fisik mereka terlebih dulu. Baru juga di mulai mereka sudah mengeluh.


Julian memilihkan tempat untuk teman-temannya berlatih. Bukannya tidak mau dirinya membawa ke dua temannya itu ke markas miliknya, hanya saja takut jika ke dua temannya nanti akan syok melihat siapa dirinya sebenarnya.


"Kalau kau mau latihan, kau saja ya. Kita berdua sudah lelah." Napasnya terengah-engah karena kelelahan.

__ADS_1


Julian membulatkan ke dua matanya di sana, ke dua temannya yang meminta dirinya melatihnya malah ke dua temannya itu meminta dirinya berlatih seorang diri. Sudah tidak perlu berlatih lagi untuknya, mungkin hanya mengasahnya saja.


"Kenapa harus aku yang latihan? Bukankah kalian sendiri yang memintanya, hah? Jangan konyol, cepatlah berdiri dan lanjutkan latihan kalian. Aku tidak mau tahu, kalian tidak boleh berhenti sebelum bisa," tegasnya. Terdengar seperti kejam, tetapi Julian tahu apa yang dia lakukan.


"Astaga, Jul... biarkan kami istirahat dulu. Kau sama saja seperti melakukan kerja paksa," jawab Marcus. Berteman dengan Julian akan sama saja, kerandoman pasti akan ada saja.


"Baru juga latihan lima belas menit kau sudah mengeluh. Laki-laki seperti apa kau sebenarnya? Waktu istirahatmu lebih banyak dari pada berlatihmu." Julian tidak menerima bantahan dari ke dua temannya. Julian bersikap profesional kali ini.


"Aku sudah tidak berdaya," ucap Reiner lalu merebahkan dirinya.


"Tidak ada alasan. Cepatlah bangun, aku akan meminta ank buahku nanti untuk mengajari kalian. Kalian tidak akan bisa mengelak lagi nanti." Julian memiliki ide jika dirinya akan mmeinta salah satu anak buahnya mengajari ke dua temannya.


Yang ia pilih pasti bukanlah anak buah yang sembarangan, bisa jadi mereka ke dua temannya itu lebih banyaj mengeluh karena latihan keras yang akan mereka terima nantinya. Mungkin dengannya ke dua temannya masih bisa merengek, jika dengan anak buahnya nanti, istirahat sejenak saja mereka tidak akan dapat.


Dengan hati yang berat ke dua temannya itu kembali bangun dan melanjutkan latihan dengan Julian. Namanya juga permulaan, pasti sedikit melelahkan bagi mereka berdua.


Sementara di sisi Amerika...


"Dad, kenapa pemasukan kita setiap hari semakin sedikit? Biaya pengeluaran semakin membengkak? Apa yang sedang Daddy lakukan di luar sana?" istrinya itu mengeluh kesal karena uang yang ia terima tidaklah seperti dulu.


Biasanya setiap harinya ia menerima sejumlah uang dari suaminya, namun belakangan ini uang yang ia terima semakin berkurang. Justru biaya pengeluaran mereka semakin membengkak.


"Mommy benar, Dad. Kenapa juga uang jajan Wendy selalu berkurang?" anak dan istrinya menuntut dirinya. Dirinya sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi, padahal setiap perusahaannya terlihat normal tidak ada yang terjadi.


Keluarga Brown sedikit demi sedikit mulai kehilangan kekayaannya, namun mereka tidak mengetahuinya. Itu adalah ulah Gerald yang meminta anak buahnya untuk menguras kekayaan keluarga Brown secara perlahan. Itu hanya hukuman kecil yang dia lakukan, beruntung jika Gerald tidak menguras semua dalam sekejab.


"Daddy juga tidak tahu, Mom. Perusahaan juga berjalan lancar seperti biasa, tidak ada masalah apa pun. Daddy akan mencari cara nanti, mungkin ada sedikit masalah teknik. Kalian tenang saja, tidak lama lagi akan kembali seperti semula," ucapnya menenangkan anak dan istrinya.

__ADS_1


Walau anak dan istrinya itu terlihat kesal, mereka mencoba bersikap tenang. Harap-harap saja jika keluarga itu masih bisa menikmati kekayannya di waktu yang lama.


__ADS_2