Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 250


__ADS_3

"Iyaa... aku tahu ... mana mungkin mereka-mereka semua di luar sana berhenti atau diam begitu saja." Julian masih fokus dengan senjata rakitannya, tetapi meskipun begitu dia juga masih bisa merespon ucapan Gerald.


"Aku juga sudah mengirimkan sesuatu untuk bos mereka," sambung Julian.


"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Gerald merasa penasaran.


"Apa kau sungguh ingin tahu?" bukannya langsung menjawab, justru dirinya kemabli membuat Gerald merasa kesal.


"Tidak perlu!" tolak Gerald dengan kesal. Sudah ia duga jika Julian akan seperti itu. Robert yang sedari tadi menahan tawanya kini dirinya tertawa lepas melihat kekesalan Gerald.


Baru juga beberapa saat Gerald berhadapan dengan Julian, bagaimana jika dirinya berhadapan dengan Julian setiap hari.


Di sisi lain di waktu yang bersamaan...


Seorang laki-laki yang selalu di temani dengan sebatang rokoknya, asap mengebul setelah ia hembuskan ke udara.


"Bagaimana tugasmu?" ia kembali menyesap rokok yang ada di tangannya.


"Mereka hari ini hanya berdiam diri di salah satu café yang baru saja openning, Tuan," jawabnya jujur.


"Apa lagi yang kau dapatkan?"


"Hanya itu, Tuan. Tadi, sempat ada seorang pemuda yang menghampiriku. Sepertinya dia adalah salah satu teman dari anak itu," jawabnya lagi.


"Lalu?"


"Saya segera pergi meninggalkan tempat itu, Tuan. Pemuda itu sudah membuatku kesal."


"Apa yang kau katakan, hah! Apa kau bod*h!" orang yang ia panggil dengan sebutan tuan itu pun marah mendengar jawabannya.


Ternyata orang itu adalah orang yang di buat kesal oleh Robert saat siang tadi, orang itu yang bertugas untuk


mengawasi Julian dan yang lainnya siang tadi. Ia tengah memberikan laporan pada sang majikan, tetapi dia justru kena semprot dari tuannya.

__ADS_1


"Kau meninggalkan tugasmu hanya karena teman anak itu? Benar-benar bod*h!"


Bugh...


Iya melayangkan bogeman mentah itu pada anak buahnya, anak buahnya itu pun sedikit mundur karena karena bogeman yang ia terima. Ia pun menundukkan kepala di hadapan sang majikan karena merasa sedikit takut.


"Dasar tidak berguna!" teriaknya di hadapan anak buahnya itu. Anak buahnya itu hanya bisa menunduk karena teriakan dari sang majikan.


"Kau...!"


"Permisi, Tuan."


Ucapannya terjeda karena ada salah satu anak buahnya yang tiba-tiba saja datang ke menemuinya.


"Ada apa?" tanyanya dengan napas yang masih memburu.


"Ada bingkisan untuk Tuan." Ia menunjukkan bingkisan yang lumayan besar di tangannya.


"Bingkisan? Siapa yang memberinya?" tanyanya sedikit bingung karena tiba-tiba saja aday yang memberinya bingkisan.


"Kenapa kalian menerima barang begitu saja, hah!" lagi-lagi dirinya berteriak di hadapan anak buahnya. Untung saja anak buahnya masih bsetia kepadanya.


"M-maafkan kami, Tuan." Kepalanya sedikit menunduk.


"Buka." Tuan dari mereka itu pun akhirnya memilih untuk membuka bingkisan yang di kirimkan untuknya. Siapa tahu jika bingkisan itu adalah barang-barang yang berguna untuknya.


Anak buahnya itu pun segera membuka bingkisan yang lumayan besar itu. Setelah beberapa menit, bingkisan itu akhirnya terbuka, nampaklah isi dari bingkisan tersebut yang membuat mereka terkejut.


"Tu-tuan...." dengan sedikit tergagap ia memanggil tuannya.


"Ada apa lagi?" sahutnya dengan kesal.


"Anda bisa mlihatnya sendiri, Tuan." la pun mendekat ke arah anak buahnya yang baru saja selesai membuka bingkisan itu.

__ADS_1


Di lihatnya isi yang ada di dalamnya, alangkah terkejutnya dirinya di sana setelah melihat apa isinya.


"Siapa yang melakukan ini, hah!?" teriaknya dengan kencang hingga membuat anka-anak buahnya yang ada di ruangannya menunduk ketakutan.


"Maaf menyela, Tuan. Apa mungkin anak itu yang sudah melakukannya?" tebak salah satu anak buahnya. Siapa lagi kalau bukan Julian yang ia maksud, karena memang dirinya dan yang lainnya di tugaskan untuk mengawasi Julian dan lainnya.


"Tidak mungkin jika anak itu tahu kalau aku mengawasinya!" ia mengepalkan kuat tangannya hingga membuat kuku-kukunya memutih. Rahangnya juga terlihat mengeras, wajahnya terlihat merah padam dengan mata yang juga terlihat merah.


Apa yang membuatnya marah dan anak buahnya terkejut dengan isi di dalamnya? Tentu saja mereka terkejut dan bos dari mereka marah. Isi dari bingkisan itu adalah kepala dari salah satu anggota mereka, tidak lupa juga ada beberapa tulang belulang di dalamnya.


Mungkin ini yang di maksud oleh Julian yang sudah mengirimkan sesuatu pada pimpinan orang-orang itu. Ternyata hadiah yang cukup indah ia dapatkan dari Julian, bukan hal sulit untuk Julian melakukan sesuatu. Dia terlihat sangat santai tidak melakukan apa-apa yang di lihat oleh musuh, tetapi sekali bergerak habis seketika.


"Apa yang akan kita lakukan pada bingkisan ini, Tuan?" salah satu anak buahnya membuka suara.


"Kalian bawa pergi dari hadapanku. Terserah apa yang akan kalian lakukan." Dengan napas memburu ia memerintahkan anak buahnya.


Anak buahnya itu pun segera menutup bingkisan itu kembali dan membawany keluar dari sana. Entah apa yang akan mereka lakukan.


"Aaaarkh... anak itu benar-benar tidak bisa di biarkan!" ia semakin marah pada Julian.


"Di waktu cepat aku akan membalasmu!" kepalan tangannya semakin kuat dengan wajah yang sangat merah.


Dendamnya semakin membara pada Julian. Barang yang ada di ruangannya ia menjadi berserakan karena kemarahannya pada Julian. Ternyata aksinya di ketahui oleh Julian, padahal dirinya menutup identitasnya, tetapi dengan mudah Julian mengetahui dirinya. Niat hati dirinya ingin memberi ancaman-ancaman pada Julian, tetapi justru dia sendiri yang mendapatkan hal yang terduga dari Julian. tidak Hari-hari begitu cepat berlalu, setiap harinya pasti ada saja cerita dalam kehidupan. Beda hari, beda juga cerita yang terjadi. Satu minggu telah berlalu, begitu banyak cerita yang tertulis di setiap harinya.


Pria dengan tinggi kekar itu terlihat sangat emosi dengan beberapa bawahannya, entahlah apa yang terjadi hingga membuatnya emosi terus-terusan. Hampir setiap hari bentakan dan teriakan ia lontarkan pada bawahannya yang ada di sana.


"Hah... kalian benar-benar bod*h! Kalian tidak becus sama sekali! Kalian benar-benar tidak bisa di andalkan!" teriaknya pada setiap bawahannya. Kalau tidak berteriak, sepertinya hari-harinya terasa sunyi dan sepi.


"Apa hanya menghadapi anak ingusan itu kalian tidak bisa?!" teriaknya lagi. Semua bawahannya menunduk takut mendengar teriakannya.


"Maaf, Tuan. Setiap kami mengawasi, dia selalu menghilangkan jejak. Sepertinya, anak itu memang benar-benar tahu kalau kita mengawasi mereka." Salah satu dari mereka mencoba memberanikan untuk berbicara.


"Jangan terlalu banyak alasan. Memang kalian saja yang tidak beccus dalam menjalankan tugas!" lagi-lagi dirinya berteriak di hadapan bawahannya.

__ADS_1


Siapa lagi orang itu kalau bukan musuh dari Julian. Dia sangat marah karena bawahannya selalu gagal mendapatkan informasi tentang Julian setiap harinya. Mereka juga terkadang mendapat gertakan-gertakan ataupun ancaman dari Julian.


__ADS_2