
"James, apa kau tau di mana tempat yang pas untuk honeymoon?" Tanya Sean pada James.
James yang mendapat pertanyaan dari dari sang boss itu pun bingung bagaimana dia menjawabnya.
"Honeymoon?" James bingung harus menjawab apa.
"Maaf tuan, sepertinya anda salah orang. Saya sendiri kan belum menikah tuan. Bagaimana saya bisa tau tentang tempat seperti itu." Jelas James pada Sean.
"Benar juga ya. Kenapa aku menanyakan hal itu padamu." Sepertinya kali ini Sean tengah oleng. "Kau carikan tempat romantis yang pas untuk honeymoon." Perintah Sean.
"Saya harus mencari ke mana tuan?" James kembali bingung dengan perintah Sean.
"Kau bisa menanyakan kepada seseorang atau kau
coba cari-cari sana." Perintah Sean lagi.
"Akan saya usahakan tuan." Ucap James dengan pasrah.
Seorang James yang merupakan asisten dari Sean itu pun bingung kali ini. Biasanya dia selalu berkutat dengan urusan kantor ataupun membantu Sean di dunia bawahnya. Kali ini, ia harus di perintahkan untuk mencari tempat honeymoon oleh Sean.
Harus bertanya pada siapa dia untuk masalah ini. Dia sendiri saja tidak pernah dekat dengan seorang wanita.
"Tapi tuan... kenapa anda tidak tanya pada nyonya muda tempat mana yang ingin dia kunjungi nantinya." Ucap Sean sedikit memberi saran pada Sean agar bebannya bisa ringan sedikit.
"Aku ingin memberi kejutan padanya nanti." Terang Sean. James kembali pasrah dengan jawaban dari Sean.
"Aku harap, lusa kau sudah selesai menyiapkan untukku berangkat nanti. Kosongkan jadwalku selama satu minggu." Titah Sean. Sepertinya, dia sudah tidak sabar lagi menikmati waktu hanya berdua dengan Ana.
"Baik, tuan." James harus bekerja ekstra kali ini.
"Bagaimana yang aku suruh kemarin? Apa kau sudah mendapatkan semua informasinya?" Tanya Sean.
"Sudah tuan, semua informasi keluarga paman dan bibi dari nyonya muda sudah saya dapatkan semuanya."
"Mana?" Sean meminta hasil penyelidikan yang di lakukan oleh James.
James mengambilkan berkas hasil kemarin dan memberikannya pada Sean.
Sean segera membacanya, ekspresinya terlihat datar tapi sorot matanya menunjukkan jika dia sedang dalam mode marah.
"Rupanya keluarga mereka mempunyai perusahaan kecil."
"Menurutmu, balasan seperti apa yang pantas untuk mereka yang sudah membuat istriku sengsara, James?" Sean menunjukkan smirk jahatnya kali ini.
"Kalau membuat mereka langsung terjatuh itu sudah biasa, tuan. Bagaimana jika terbangkan mereka ke awan terlebih dulu, lalu kita hempaskan mereka." James memberi masukan yang sangat bagus.
"Kau benar." Senyum jahat dari Sean semakin merekah. Sepertinya ia mempunyai segudang rencana jahat untuk memberi pelajaran pada keluarga paman dan bibi Ana nantinya.
Tapi entah apa rencana Sean, hanya dirinya yang mengetahui.
Melihat ke sisi seberang, seorang wanita yang masih terbilang sangat cantik itupun berteriak-teriak tanpa henti.
Semua barang yang ada di rumahnya sudah tidak berbentuk lagi.
"Arrrkkkh... daddy, Jesica kenapa kalian tidak pulang. Mommy menunggu kalian berdua di sini sendiri. Pyaarr... pyaar..." teriaknya sambil membuang semua barang-barang yang ada di rumah kecilnya.
"Aaargh... kalian tidak mungkin mati begitu saja." Teriaknya lagi tiada henti.
Pyaarr..
Pyarr...
__ADS_1
Hingga semua tetangga yang dekat dengan rumahnya sekarang itupun datang berbondong-bondong melihat apa yang sedang terjadi.
Wanita itu adalah mommy dari Jesica, istri tuan Audrey. la sering berteriak tidak karuan, sekarang membuat semua barang-barang yang ada di rumahnya hancur tak berbentuk.
Dia sudah seperti orang gila saat ini. Rambutnya yang berantakan dengan penampilan yang terlihat sudah tidak karuan.
la berlari keluar. "Heh... jawab. Di mana anak dan suamiku?" Sentaknya pada salah satu orang yang berdatangan melihatnya.
"liihhh... apa sih. Dasar orang gila." Orang itu mendorong tubuh mommy Jesica hingga dirinya terjerembab jatuh.
Mereka semua tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan mommy Jeisca, karena memang setelah di usir, daddy dan mommy Jesica memilih untuk mencari tempat yang jauh dari tempat mereka dulu.
Jadi banyak dari tetangga mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan keluarga mereka.
"Kalian pasti tau anak dan suamiku, kan. Di mana mereka?" Bentaknya lagi pada semua orang.
"Sepertinya dia sudah gila. Kita usir saja dia dari sini, dari pada nanti ketenangan kita terganggu." Ucap salah satu dari mereka semua.
Banyak dari mereka yang menyetujui usulan itu. Akhirnya, mommy Jesica di bawa pergi jauh dari sana. Entah kemana mereka mengusir mommy Jesica saat ini.
Di sepanjang perjalanan, mommy Jesica terus saja memberontak dan berteriak.
Siang harinya, Sean memutuskan untuk kembali datang ke markas. la ingin memberantas semua orang yang sudah berani menyentuh miliknya sebelum dia pergi berbulan madu dengan Ana.
"James, kau selesaikan tugas kantor. Aku pergi ke markas dulu, jika ada apa-apa nanti hubungi saja aku." Titah Sean.
"Baik, tuan." James sudah terbiasa di tinggalkan oleh Sean seperti ini. Untung saja, James tidak pernah kesulitan selama ini.
Sean menyambar jas miliknya lalu melangkahkan kakinya keluar.
Sean menuju mobil mahalnya yang terparkir rapi disana. Tanpa berlama-lama, Sean melajukan mobilnya membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang.
Markas Kingdom....
Semua anak buah Sean yang berjaga menyambut kedatangan Sean.
"Buka." Perintah Sean dengan wajah dinginnya.
Anak buah Sean pun membuka pintu itu. Jesica yang melihat kedatangan Sean, merengek dan memohon untuk di lepaskan.
"Sean... tolong lepaskan aku. Aku janji, aku tidak akan macam-macam lagi. Aku akan pergi dari negara ini jika kau melepaskan aku." Mohon Jesica pada Sean.
"Apa kau kira aku akan percaya dengan semua omong kosongmu itu?" Jawab Sean.
Jesica salah besar kali ini, bagaimanapun ia memohon pada Sean, semua itu hanya sia-sia. Sean tidak akan melepaskan orang yang sudah membuatnya murka, apa lagi orang itu sudah menyentuh kesayangannya.
"Kira-kira... balasan apa yang pantas kau dapatkan?" Sean menunjukkan senyum jahatnya di hadapan Jesica.
"Tidak Sean, tolong lepaskan aku. Aku berjanji padamu, aku tidak akan melakukan kesalahan lagi." Jesica menggelengkan cepat kepalanya.
Sudah terlambat untukmu, Jesica. Kali ini Sean sudah benar-benar murka denganmu.
Sean mendekat kearah Jesica membawa belati kesayangannya, tidak lupa juga sebelumnya dia memakai sarung tangan hitamnya terlebih dulu. Sepertinya, Sean tidak membiarkan jika tangannya menyentuh wanita lain begitu saja.
Jesica bergetar ketakutan dengan belati yang di bawa oleh Sean.
Sean menyetarakan dirinya dengan Jesica dan mengelus-elus pipi Jesica menggunakan belatinya.
Sreet...
Tiba-tiba saja Sean menggores pipi Jesica.
__ADS_1
"Aaaarkhh..." teriak Jesica dengan keras.
"Tolong lepaskan aku, Sean. Aku mohon." Jesica menteskan air matanya.
Dan Sreett....
Sean kembali menggores pipi mulus Jesica. Sean tidak perduli dengan permohonan dan bujuk rayu Jesica kali ini.
Darah segar bercucuran dari pipi Jesica. Jesica menangis menahan sakit dan perihnya karena goresan dari Sean.
"Apa yang aku lakukan ini, belum sepadan dengan apa yang sudah kau lakukan pada Ana." Sengal Sean.
Sean bangkit dan segera menyuruh anak buahnya
menyiapkan sesuatu untuk Jesica.
"Bawa dia ke ruang tertutup, letakkan gas beracun di ruang itu. Dan kunci pintunya rapat-rapat." Perintah Sean. Anak buah Sean menyiapkan apa yang di katakana oleh Sean.
Jesica yang mendengarnya, merasa takut dan berteriak untuk di lepaskan dari sana.
"Tidak... jangan lakukan itu padaku." Teriak Jesica.
Sean hanya tersenyum sinis dengan teriakan Jesica. Sean memberikan pelajaran berlipat-lipat pada Jesica. Sean sendiri tidak mau mengotori dirinya dengan darah dari Jesica.
Tidak membutuhkan waktu lama, anak buah Sean kembali menghadap Sean.
"Semua sudah siap tuan." Lapornya.
"Seret dia, dan kunci dia di dalam sana." Perintah
Sean.
Akhirnya Jesica di bawa paksa oleh anak buah Sean. Dia terus saja memberontak tidak ada hentinya.
Sesampainya di dalam ruangan yang di siapkan tadi, Jesica di dorong kuat oleh anak buah Sean. Ikatan yang ada pada dirinya sengaja di lepaskan. Sean sengaja melakukan itu, ia ingin melihat bagaimana Jesica memberontak di dalam sana.
Anak buah Sean segera melemparkan gas-gas beracun untuk Celine.
Asap mulai keluar dan memenuhi ruangan itu.
"Uhuukk.. uhukk.. Sean... tolong lepaskan aku." Teriak Celine menggedor-nggedor kaca di sana. Sean tersenyum puas melihat Jesica yang tersiksa.
"Tol-loong..."teriak Jesica lagi. Dadanya mulai terasa sesak karena banyaknya gas beracun yang di letakkan di sana.
Sean meninggalkan Jesica yang terus saja memberontak di sana.
Sean melenggang pergi, namun tidak dengan anak buah Sean. Mereka menyaksikan bagaimana Jesica tersiksa di dalam sana.
Sesampainya di ruang berkumpul, Sean mendudukkan dirinya di sana. Riko datang mendekat kearah Sean.
"Ko, aku ingin kau siapkan beberapa anak buah kita untuk mengawalku nanti. Aku ingin mengajak Ana untuk honeymoon. Perketat penjagaan, suruh mereka menjadi pengawal bayangan saja. Aku tidak mau Ana merasakan takut nanti.
"Memangnya, kapan anda berangkat, tuan?" Tanya
Riko.
"Lusa. Kau siapkan anggota kita."
"Baik, tuan. Akan saya laksanakan." Jawab Riko.
Sean pun memutuskan untuk berdiam diri dulu di markas miliknya. Sean memutuskan untuk mengecek semua perkembangan dan latihan sebentar dengan anak-anak buahnya di sana.
__ADS_1
Sudah lama sekali ia tidak latihan fisik bersama para anak buahnya.