Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 112


__ADS_3

Sean mencoba menggigit kecil bahu Ana, "Sean, geli." Ujarnya.


"Uncle... jangan mulai deh ya. Banyak anak-anak kecil di sini, jangan kasih uwu-uwu terus." Tutur Diva yang bosan melihat uncle nya yang tidak tahu tempat ingin ber-uwu riya.


"Uncle kan dengan istri sendiri, jadi tidak apa." Jawab Sean.


"Kalau kau berani dengan orang lain aku penggal kepalamu." Ana mengeluarkan ancamannya ada sang suami.


Sean menggeleng cepat. "Mana ada, sayang. Aku bahkan tidak pernah tertarik dengan wanita lain selain dirimu." Jawabnya mengeluarkan kata-kata maut untuk Ana.


"Siapa tau kau tertarik dengan yang lebih muda, **** dan cantik dariku." Ujar Ana.


"Lalu, bagaimana karyawan barumu yang menggodamu di depanku itu? kalau saja aku tidak membawa twin ke sana. Sudah aku hajar sampai babak belur dirinya di sana." Sambung Ana.


Beberapa waktu lalu, Ana datang ke perusahaan bersama twin. Ia mengunjungi suaminya yang sedang bekerja. Matanya tidak sengaja menangkap karyawan baru yang ingin menggoda Sean. Ana hanya diam memperhatikannya, ia ingin menghampiri wanita itu dan menghajarnya jika saja dia tidak membawa kedua anaknya ke sana.


"Yang ada di fikiran dan hatiku hanya ada dirimu, sayang. Bukan yang lain, aku tidak akan pernah tertarik dengan wanita manapun." Ucap Sean meyakinkan sang istri.


"Kalau aku jadi aunty, sudah aku jambak orang itu. Biar dia kapok," sahut Diva mendukung Ana.


"Tadinya aunty mau seperti itu, Diva. Tapi ada twin di sana, kan tidak baik menunjukkan kekerasan di depan mereka." Ujar Ana menanggapi ucapan Diva.


"Aku pegang kata-katamu itu. Awas saja kalau berani, aku jadikan makanan leopardku kau." Ujar Ana kembali dengan sedikit ancaman pada sang suami. Semenjak dirinya meminta berlatih, ia tertular dengan jiwa-jiwa kejam dari Sean.


Mungkin dia sering mendengar sang suami yang biasanya memberi ultimatum pada anak-anak buahnya saat di markas.


"Kenapa kau jadi kejam sekali, sayang? Apa kau tega menjadikan suamimu ini menjadi santapan leopardmu itu?" ujar Sean yang melihat perubahan sang istri.


"Aku tidak peduli. Salah kau sendiri sampai tertarik dengan wanita lain, kalau aku jadi janda pun masih banyak yang mau denganku." Ucapnya Frontal. Sean melototkan kedua matanya.

__ADS_1


"Sampai matipun aku tidak akan membiarkan dirimu di nikahi orang lain, aku akan menghantui mereka yang berani menikahimu nanti." Ucapnya dengan tegas pada Ana.


Diva yang mendengar drama uncle dan aunty-nya itu hanya bisa memutar kedua matanya malas. la melanjutkan bermain bersama adik-adiknya dari pada mendengar dan melihat drama di depannya.


"Kenapa begitu?" geramnya mendengar jawaban dari Sean.


"Karena kau hanya milik Sean seorang. Bukan yang lain." Jawab Sean.


"Maka aku pun sama sepertimu, suamiku. Kau hanya milik Ana seorang, aku tidak akan tinggal diam nanti jika dirimu orang lain." Kali ini Ana berbicara dengan sangat serius.


"Emm... lakukan saja sesukamu, sayang. Aku tidak akan melarangmu." Jawabnya. Meskipun Ana yang ia lihat sekarang sedikit garang, tapi Sean lebih suka.


"UWWUU TERUUUSS." Ujar Diva dengan ngegas karena uncle dan aunty-nya sudah salah tempat.


"Kenapa Diva sewot sekali." Ujar Sean yang melihat Diva terlihat tidak terima.


"Uncle, sebaiknya pindah tempat sama aunty. Tidak baik di depan anak-anak kata aunty tadi. Ya kan, aunty." Diva mengkambing hitamkan aunty-nya kali ini.


"Sudah, Diva bermain saja sama adik-adiknya. Jangan lihat aunty sama uncle kalau tidak suka." Jawab Sean.


"Bukan melihat, tapi mendengar." Jawab Diva enteng.


"Yasudah, jangan di dengarkan kalau begitu." Ucap Sean yang terlihat menyebalkan.


"Terus apa gunanya telinga Diva?" ketusnya. Sean hanya menggedikkan kedua bahunya tidak tahu.


Sean mencium kening sang istri lalu merebahkan dirinya dan berbantalkan paha Ana. Ia tidak peduli jika nanti akan di protes oleh Diva. Ana membiarkan apa yang dilakukan oleh Sean.


Diva kembali memutar kedua matanya malas dengan sang uncle. Memang sedari dulu dirinya tidak bisa tenang jika bersama sang uncle. Di tambah lagi sekarang yang ada twin, apa lagi dengan Julia, tidak pernah ada akurnya.

__ADS_1


Hari-hari sudah berlalu...


Lita yang kembali ke kota itu memutuskan untuk bekerja di salah satu rumah makan yang cukup terkenal di kota, ia tidak bisa berdiam diri di rumah singgahnya tanpa ada uang sepeserpun. Dirinya mencoba bertahan hidup. Dia merubah penampilannya agar tidak di kenali oleh orang-orang di sana, apalagi jika teman-temannya tahu nanti, dia pasti akan di hina habis-habisan.


Lita merubah dirinya sedikit culun, dia memakai kacamata dan di berikan tompel di pipinya. Penyamarannya bisa di bilang cukup lumayan berubah dari dirinya yang seperti biasa.


Di balik penyamarannya, dia juga memikirkan rencana untuk membalaskan Ana. Kali ini, dia memilih untuk berhati-hati.


Lita mencoba menjadi pelayan yang baik di sana, walaupun sebenarnya dia tidak suka dengan pekerjaan tersebut. Tapi, dia terpaksa bekerja menjadi pelayan.


"Silahkan di nikmati, tuan." Ucap Lita dengan sopan pada pengunjung di sana. Lita kembali ke tempat dan mengantarkan pesanan yang lainnya.


Hari ini, Ana dan teman-temannya sedang luang. la memutuskan untuk berkumpul dan makan di luar, sembari menghilangkan kebosanan di saat para suami bekerja.


Ana meminta anak buah Sean untuk sedikit jauh, agar Ana dan teman-temannya bisa leluasa jika bercerita atau bersendau gurau. Ana juga membebaskan anak buah Sean agar mempunyai waktu istirahat sejenak.


"Kau pesan apa Ana?" tanya Rika yang memangku putrinya.


"Emm... aku samakan saja sama kalian. Pesankan oatmel untuk twin dan juga salad buah untuk mereka." Ujar Ana.


Rika segera memanggil pelayan dan memesan semua yang akan mereka makan.


"Clare, apa bagaimana pertumbuhan putramu. Jarang sekali kita berkumpul seperti ini." tanya Rika pada Clare.


"Kau bisa melihatnya sendiri bukan, dia sangat sehat dan menggemaskan." Jawab Clare merasa gemmas dengan putranya.


Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun akhirnya datang. Pelayan itu meletakkan semua pesanan untuk Ana dan teman-temannya.


'Ternyata kau di sini wanita sialan, aku akan menggunakan kesempatan emas ini untuk menyingkirkanmu' ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Siapa lagi pelayan itu kalau bukan Lita, ia membantu rekannya mengantarkan makanan pesanan milik Ana dan teman-temannya.


Lita merasa ada peluang emas saat ini, ia tidak menyangka bisa bertemu dengan Ana di sini. Dia tidak perlu menyelinap dan memikirkan banyak cara untuk menyingkirkan Ana. Ia akan menggunakan kesempatan emasnya kali ini.


__ADS_2