Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 295


__ADS_3

Jennifer berjalan pergi meninggalkan hotel dan membiarkan Wendy di sana sendiri.


"Halo... kau retas cctv hotel xyz. Dan hapus semua rekaman cctv di kamar 304." Setelah mengucapkan itu, Jennifer kembali melangkah pergi. Dia memerintah salah satu anak buah di markas untuk menghilangkan semua jejak.


Beruntung jika Wendy tidak kehilangan nyawanya saat itu juga. Jika itu terjadi, mungkin akan menjadi kehebohan di hotel tersebut.


Jennifer turun dar mobilnya dan melangkahkan kakinya amsuk ke dalam. Sebelum dirinya pulang, dia mampir dulu ke markas terlebih dulu. Jennifer berniat untuk mengobati lukanya sebentar.


Jennifer mengambil kotak obat lalu mulai mengoleskan obat luka itu sedikit demi sedikit di tangannya.


"Apa perlu saya bantu, Nona?" ujar anak buah yang kebetulan melintas dan melihat Jennifer tengah mengobati luka ringannya.


"Tidak perlu. Hanya luka gores saja. Kau lanjtkan saja tugasmu," tolak Jennifer. Ank buahnya itu pun menunduk hormat lalu kembali melanjutkan tugasnya.


Julian yang juga berada di sana itu pun seketika menoleh ke arah sang kakak yang tengah mengobati lukanya. Tanpa aba-aba dia meraih tangan Jennifer dan melihat luka di tangannya.


"Kau terluka? Apa yang baru saja kau lakukan? Kenapa kau tidak hati-hati?" pekik Julian. Dia terlihat sangat sensitif pada kakaknya.


Jennifer menjauhkan tangannya dari Julian dengan cepat. "Tidak ada apa-apa. Hanya luka gores saja, kau tidak perlu heboh sendiri," ujar Jennifer.


"Biar aku yang mengobatinya." Julian kembali meraih tangan sang kakak.


Lagi-lagi Jennifer menjauhkan tangannya dari Julian. "Tidak perlu, aku bukan anak kecil. Ini hanya luka gores."

__ADS_1


Julian meraih tangan sang kakak lagi untuk yang ke tiga kalinya. "Sudah diam lah. Biarkan saku saja." Jennifer hanya pasrah saja dengan apa yang di lakukan adiknya itu.


"Bagaimana bisa kau terluka seperti ini? Di mana Gerald? Apa dia tidak melindungimu!?" benar-benar sangat sensitif sikap Julian melihat sang kakak walau hanya kegores sedikit.


Jennifer memutar ke dua bola matanya malas. "Aku tidak bersamanya selama 24 jam. Kau tidak bisa menyalahkannya juga."


Julian melihat-lihat luka goresan yang ada pada Jennifer, Julian tahu kalau itu bukanlah luka goresan dari pisau. "Goresan kaca? Apa yang baru saja kau lakukan?" tebak Julian yang benar adanya.


"Aku hanya menyingkirkan batu kerikil di tengah jalan," jawab Jennifer singkat.


"Batu kerikil? Apa yang kau lakukan pada wanita itu ?" Julian langsung paham dengan apa yang di maksud oleh Jennifer. Pasti orang yang dia maksud tidak baik-baik saja saat ini.


"Hanya pelajaran kecil yang aku berikan," kata Jennifer. Pelajaran kecil yng dia berikan saja seperti itu sampai Wendy tidak sadarkan diri, lalu bagaimana pelajaran yang setimpal baginya.


"Aku rasa tidak ada yang baik dari ucapanmu. Kecil yang kau maksud yang aku tahu tidak hal baik, setara dengan nyawa." Julian bisa menebak kalau apa yang di lakukan Jennifer pasti bukanlah hal biasa. Entah bagaimana nasib Wendy yang tergeletak tidak sadarkan diri sendiri di kamar hotelnya.


Jennifer menarik tangannya saat Julian selesai mengoleskan obat luka padanya. "Aku pulang dulu," pamitnya lalu beranjak pergi dari sana. Julian berdesis dengan apa yang di lakukan kakaknya itu.


"Bagaimana nasib wanita itu? Apa dia masih hidup?" Julian bergumam sendiri. Julian pun meminta anak buahnya untuk mecari informasi apa yang baru saja sang kakak lakukan.


Malam hari...


Tepat di hotel di mana tempat Wendy menginap, kamarnya terlihat sangat gelap tidak ada yang menyalakan lampu. Wendy masih tergeletak tidak sadarkan diri di sana. Salah satu karaywan wanita tengah melintas di depan kamar Wendy, ia melihat jika kamar Wendy mengalami kerusakan.

__ADS_1


"Eeeh... bagaimana bisa rusak begini? Apa yang di lakukan oleh pemilik kamar ini?" ujarnya sedikit bingung melihat kerusakan yang tiba-tiba di pintu kamar itu.


Karyawan itu pun mencoba melihat keadaan kamar tersebut, di bukanya pintu, terlihat gelap gulita tidak ada penerangan sama sekali di sana. "Pintu di rusak, kamar dalam kondisi gelap. Ada masalah apa sih penyewa kamar ini," gerutu karyawan itu.


Di tekannya tombol di sana, seketika semua lampu menyala menerangi seisi ruangan. "Aaarkh...!" teriaknya dengan kencang saat melihat ada tubuh tergeletak dengan sedikit bercak darah di sana.


"A-apa ada pembunuhan di sini?" karyawan tersebut terkejut bukan main. Dia sangat takut jika benar kalau ada pembunuhan di sana. Ia pun segera berlari keluar untuk melaporkan hal ini.


Berselang 15 menit kemudian, karyawan tadi kembali dengan beberapa karyawan dan atasan hotel tersebut. Mereka mengecek Wendy yang tergeletak di sana tidak sadarkan diri.


"Apa dia baru saja di bunuh? Di sana ada pecahan gelas, itu juga ada bekas darah di salah satu pecahan itu, pintu kamar juga di rusak," ujar karyawan itu dengan panjang lebar.


"Lihatlah luka-luka di tubuhnya, pasti sangat menakitkan," sambung karyawan itu saat melihat luka-luka yang ada di tubuh Wendy. Ia merasa ngilu melihatnya, pasti sangat sakit mendapat goresan seperti itu. Apa yang di terima oleh Wendy saat ini itu belum seberapa, untung Jennifer tidak melakukan hal yang lebih lagi.


"Dia masih bernafas, sebaiknya kita cepat menghubungi rumah sakit dan polisi." Salah satu dari mereka pun melaporkan hal tersebut pada polisi, tidak lupa juga memanggil ambulance.


Memakan wantu 30 m3nit, polisi dan ambulance sudah tiba di sana. Mereka mulai memeriksa kondisi Wendy dan kamar sekitar Wendy, siapa tahu ada bukti-bukti yang tertinggal di sana. Pihak rumah sakit tengah membawa Wendy untuk di larikan ke rumah sakit segera, sedangkan polisi masih menelurusuri kamar milik Wendy.


Salah satu karyawan wanita tadi memebrikan sedikit kesaksian dari apa yang dia lihat. Ke dua orang tua Wendy pasti akan syok jika tahu akan hal ini, tetapi saat ini mereka masih bersikap tenang karena tidak ada yang memebritahunya. Bodyguard yang dulu ikut bersama Wendy juga sudah lama kembali ke Amerika.


Malam tengah berganti pagi, kebetulan jika saat ini hari weekend. Jadi tidak ada masalah jika banyak yang bangun sedikit siang. Jennifer yang sedari tadi terbangun menyalakan TV di kamarnya, ia melihat berita di pagi hari.


Kebetulan sekali jika berita yang dia lihat itu tentang apa yang terjadi di hotel yang ia datangi kemarin, lebih tepatnya jika berita itu memuat pembunuhan yang terjadi di kamar 304, tepat kamar yang Wendy tempati. Jennifer hanya melihat tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Dia terlalu banyak drama, dalam keadaan tidak sadarkan diri pun juga masih saja banyak drama," celetuk Jennifer melihat berita di depannya. Bagi Jennifer semua itu hanya drama saja, rumit dan berbelit-belit.


"Sangat tidak bermutu sekali!" ucapnya.


__ADS_2