Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 177 Season 2


__ADS_3

"Huuh... Entah apa lagi yang anak itu lakukan nanti. Kau bersiaplah di tempatmu," Riko mengangguk dengan pinta Sean.


Kurang lebih dalam waktu 2 jam, bunyi tembakan terdengar dari luar bangunan. Rentetan peluru di layangkan oleh pihak musuh untuk menghancurkan pesta yang Sean gelar saat ini.


Door....


Dorr..


Dor...


Suara tembakan bersahutan dari penjuru arah, anak buah Sean yang berada di luar itu pun segera memberikan perlawanan. Ada juga beberapa dari mereka terkena tembakan dari pihak lawan.


Doorr..


Dorr...


Dor...


Ternyata mereka tidak hanya menembakkan di arah samping dan belakang, mereka juga menembak dari jalur udara.


"Serang balik mereka!" Teriak Sean anak buahnya. Baku tembak di sana terjadi begitu saja setelah kedatangan dari pihak lawan.


Door....


Dorr....


Dor...


Seketika tempat yang tadinya sunyi kini terdengar sangat ramai karena baku tembak dari dua kubuh. Pimpinan dari pihak lawan segera turun dan mencari celah untuk dia masuk ke dalam bangunan itu dengan seperempat anak buahnya. Dia ingin melihat bagaimana kekacauan yang ada di dalam.


Sesampainya di dalam, dia menyapa Sean yang tengah berdiri gagah di atas panggung kecil yang ada di sana.


"Halo, Tuan William. Aku datang ke sini untuk memeriahkan pestamu di sini, aku harap kehadiranku dan lainnya menjadi hadiah terbaik untuk pesta yang kau adakan kali ini." Ucapnya dengan tersenyum sinis.


"Hahaha.... Aku ucapkan selamat datang untukmu Tuan. Terima kasih kau sudah jauh-jauh datang ke sini dan ikut meramaikan pestaku, semoga kau juga menikmatinya." Jawab Sean dengan santainya.


"Aku cukup tersanjung karena kau bisa hadir di sini," sambung Sean dengan kedua tangannya ia masukkan ke dalam saki celananya.


"Sepertinya, kau sangat bahagia saat ini. Aku harap kebahagiaanmu itu tidak cukup sampai di sini saja," ucap pimpinan dari pihak lawan dengan terlihat wakahnya yang sedang meremehkan Sean.


"Tentu saja aku sangat bahagia saat ini, dan kebahagiaanku tidak akan cukup sampai di sini. Kebahagiaanku akan tetap berlanjut sampai nanti," jawab Sean.


"Hahaha.... Kau memang cukup tenang di situasi apapun, aku salut dengan dirimu."


"Karena aku tidak sebodoh dirimu, Tuan." Sean menunjukkan wajah remehnya pada orang tersebut. Orang itu pun terlihat sekali jika tersinggung dengan kata-kata Sean yang mengatai dirinya bodoh.


"Jangan berbangga diri tuan William, aku takut jika semuanya akan berakhir untukmu hari ini." Ucapnya memberikan sedikit ancaman.


"Hahaha... Justru aku memikirkanmu, bagaimana jika kau yang akan berakhir hari ini?" Tawa Sean terdengar sangat keras di sana.


"Apa kau tidak sadar dimana kau saat ini berada? Lihatlah di sekelilingmu, apa kau tidak lihat di mana kau berada saat ini. Kau berada di sarang yang salah," Sean tersenyum penuh kemenangan di sana. Orang itu pun seketika menoleh ke sana ke mari dan melihat orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Apa kau sudah menyadarinya?" Sean kembali menunjukkan wajah remehnya.


"Sepertinya, kita sudah terjebak, Tuan." Bisik salah satu anak buahnya.


"Kurang ajar, kau! Lawan mereka!" Teriaknya pada anak-anak buahnya yang ikut bersamanya. Peperangan antara dua kubu itu pun terjadi di sana. Anak buah Sean tidak perlu berlama-lama untuk melawan pihak musuh.


Bahkan setiap anak buah Sean yang menyebar di sana bermunculan satu demi satu. Pihak lawan pun banyak yang keluar sari tempat persembunyiannya dan melawan anak-anak buah Sean.


Door...


Doorr..


Buugh...


Bugh..


Suara tembakan dan baku hantam bagaikan musik di telinga dua kubu itu, mereka beradu kekuatan tidak ada yang ingin mengalah. Untuk kelompok Sean pantang mundur sebelum lawan tumbang, mereka sendirilah yang sudah memancing kelompok Sean terlebih dulu.


Bukan hanya Julian dan Jennifer saja yang ikut di sana, tapi ternyata Robert dan Fany juga ikut andil. Untuk Gerald? Dia juga ikut, tapi belum menampakkan batang hidungnya di sana. Kalau Diva jangan di tanya lagi, dia sudah pasti akan ikut di sana.


Sisi Julian...


Bughh...


Doorr...


Doorr...


Julian menembak tanpa ampun di sana, saat ini dirinya di kelompokkan dengan Fany.


"Ini sudah pada tua kenapa malah berkumpul kelahi seperti ini, sih. Kalau aku jadi mereka lebih baik diam di rumah," celoteh Fany. Dalam situasi seperti ini pun, dirinya masih sempat berceloteh yang tidak penting.


Bugh..

__ADS_1


Bugh...


Dugh..


Fany melayangkan tendangan pada orang-orang yang mendekat padanya.


"Kau di posisi kanan, aku di kiri." Ucap Julian yang di angguki oleh Fany. Untung saja kali ini mereka akur tidak berdebat, jika tidak dalam berperang mungkin Fany sudah mengelak dan berceloteh tidak ada hentinya.


Pukulan, tendangan dan tembakan mereka layangkan tanpa jeda. Semua teknik bela diri yang mereka berdua pelajari mereka gunakan kali ini, bahkan tendangan di posisi mengudara mereka gunakan.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Kaki jenjang Julian menendang masing-masing dada orang-orang tersebut dengan sangat kuat.


Sedangkan di sisi Jennifer...


Jennifer dan Robert juga tidak mau kalah melawan musuh-musuh yang ada di sana.


Bugh...


Robert mendapat pukulan dari salah satu orang tersebut hingga sudut bibirnya berdarah.


"Haiish... kau telah melukaiku." Ucap Robert mengelap darah yang ada di sudut bibirnya.


Bugh..


Bugh..


Bugh...


Robert membalas orang tersebut tiga kali lipat hingga orang yang sudah memukulnya itu pun mengeluarkan darah dari hidungnya.


"Jika kau bisa memukulku, maka aku yang akan menghabisimu." Duaagh... setelah mengucapkan kata-kata itu, Robert menendang orang tersebut hingga terpental.


Bugghh..


Bugh...


Bugh...


Dorr..


Doorr...


Dorr...


Jennifer beralih ke arah lain lalu menembakkan lagi peluru yang ada di pistol miliknya.


Dorr..


Doorr..


Dorr...


"Lebih cepat lebih baik, aku tidak suka jika hanya membuang tenagaku." Jennifer kembali menembak setelah mengucapkan kata itu.


Beda lagi di sisi Diva, dia berada di lantai atas dan bersembunyi di tempat yang aman. Diva menggunakan senjata yang pernah ia rakit, senjata miliknya tidak mengeluarkan suara. Jadi, Diva dengan sangat senang menggunakannya. Karena banyak dari musuh tumbang seketika di tangannya.


Diva menembak pihak musuh dengan santainya, mereka yang tidak tahu itupun juga merasa kalang kabut karena banyak di antara mereka tumbang begitu saja.


"Wuush... aku seperti main game saja," bangganya karena berhasil menumbangkan banyak musuh.


"Kalau kau menghabisinya seperti itu mana asyik, tidak ada sensasinya sama sekali." Sahutnya pada Diva.


"Sudah kau diam saja, aku tidak mau lelah menghajar mereka. Orang cantik begini kok mau mandi darah," sombongnya dengan mengibaskan rambut panjangnya kebelakang. Orang tersebut hanya memutar kedua bola matanya dengan malas melihat Diva yang masih menunjukkan gaya centilnya di sana.


Promosi karya baru salah satu rekan author ya ges


**jangan lupa untuk mampir mana tau suka **


**like , vote , gift and komen juga **


cari aja judul "kutub cinta"



Dari jauh Aylin mulai membalikkan wajahnya lagi dan berteriak.


"Bud! Siapa nama sepupu lo?"


"Amza!"

__ADS_1


"AMZA?"


Bersamaan dengan hal itu segerombolan orang berjejal dan menghalangi pandangan mereka tubuh mungil Aylin sudah terperangkap dalam rimbunan orang orang, Aylin berharap bila apa yang di dengarnya tidak salah, Aylinpun mulai menyusuri lorong itu dan berteriak.


"Amzaaa... Amzaaa..." Aylin terus mengulangi nama yang sama sambil terus melangkahkan kakinya.


Tidak jauh dari sana, sesosok pria yang merasa namanya di panggil. Amza merasa bila sumber suara itu adalah seorang perempuan yang kini tengah berjalan ke arahnya, Amza mengamati dengan seksama perempuan itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, Amza yakin bila dalam hidupnya itu dirinya belum pernah mengenal perempuan itu. Lebih jelasnya Amza tidak pernah melihat wanita dengan penampilan seaneh itu.


"Permisi.." akhirnya Amza memberanikan diri untuk menjajari langkah wanita itu yang berjalan dengan langkah yang besar besar.


Aylin menengok ke samping dan menatap sesosok pria dengan penampilan yang tinggi dan berwajah tampan, kulit putih dan rambut hitam dengan sorot mata lembut namun tajam bibir manis dan hidung mancung.


Amza mengamati sekali lagi perempuan yang kini berada di hadapannya itu. Perempuan mungil setinggi dagunya, bila di perhatikan secara seksama nampak seperti gadis yang barus sekolah SMP. Gaya busana yang tidak ada juntrungnya, rambut awut awutan seperti baru kesetrum, mata yang membelalak yang sekan tengah mengancam. Mendadak Amza merasa menyesal telah memanggil wanita itu.


"Ada apa ya?" Aylin bertanya dengan suara di besar besarkan. Berusaha menjadi sangar.


Setengah mati Amza berusaha menahan senyum gelinya yang spontan ingin terbersit. Ternyata kini dirinya berhadapan dengan seekor anak kucing manis yang tengah berusaha menjadi singa.


"Ngak papa, saya salah mengenali orang saya kira tadinya, em.. saya permisi ya.. maaf.." Amza merasa bingung hendak menjelaskan apa akhirnya dia tersenyum lebar dan dengan cepat mengambil langkah seribu meninggalkan gadis yang nampak masih mematung itu.


Sejenak Aylin merasa sesak namun dirinya merasa lebih baik sat pria itu sudah menghilang, Aylin segera menuju pusat informasi yang kini menjadi tujuannya itu.


Sebenarnya, Aylin tidak keberatan bila salah di kenali orang. Laki laki tadi adalah mahluk tertampan yang pernah dirinya lihat di dunia. Namun dirinya juga harus tetap hati hati pada orang asing yang sok akrab. Kini dirinya kembali fokus mencari sepupu Budi yang malang itu.


Keisya dan Budi yang sudah merasa khawatir mulai menunggu di tempat semula mereka berpisah, suasana di sana sudah nampak lengang hanya tinggal segelintir orang yang tersisa.


"Aku mau coba ke rumah tanteku deh siapa tahu bener dia pakek kereta yang lain, penjem HP ya sayang, pulsaku cekak nih." Sambil merengut akhirnya Keyla menyerahkan ponselnya namun saat ponsel itu masing menggantung di tangannya terdengar suara yang begitu familiar bagi mereka.


Suara itu terdengar hingga seantero stasiun melalui speaker.


"Panggilan untuk saudara Amza penumpang KA Parahyangan dari Jakarta, sekali lagi saudara Amza. Sepupu dari Budi, di tunggu oleh saudara Budi yang ciri cirinya sebagai berikut: rambut cepak, tinggi 175 cm, kulit coklat, mata besar dan bulu mata lentik. Pakek kaos putih, di temani oleh dua cewek cakep..."


Keisya dan Budi melongo. Keduanya menoleh ke belakang melihat Aylin berada di bilik informasi sedang menguasai mikrofon. Tidak lama seorang petugas datang dengan terpogoh-pogoh guna mengendalikan situasi. Seorang anak kurang ajar rupanya sudah menjajah daerah kekuasaannya saat dirinya pergi ke kamar mandi barusan.


Di sana rupanya bukan hanya Keisya dan Budi yang ikut menoleh namun seorang pria yang berdiri tak jauh dari merekapun ikut menoleh. Pemuda itupun yakin bila wanita aneh yang di temuinya tadi adalah wanita yang sama dengan wanita yang memanggil manggil namanya tadi.


Sambil tertawa riang Aylin menghampiri dua sahabatnya Keisya dan Budi. "Hahaha.. salah sendiri posnya di tinggal.."


Dari kejauhan nampak seorang pria menghampiri mereka saat mereka beradu pandang Budi dan Amza merasa ragu satu sama lain.


"Budi?" Amza berusaha bertanya dengan keraguan.


"Amza?" Budi berbalik bertanya dan ingatan merekapun sekan tergusur dalam lorong waktu ke beberapa tahun ke belakang.


Amza mengenali sosok budi sebagai seorang pria yang memiliki wajah imut dengan muka bulat dan pipi tembem namun Budi memilik bulu mata panjang dan mata yang cantik sehingga dulu Budi sering kali di sebut sebagai bocah cantik. Tapi kini Budi nampak jauh berbeda tubuhnya atletis dan satu hal yang masih ada dalam diri Budi adalah matanya yang cantik.


Sedangkan Budi mengenal sosok Amza sebagai anak bule yang memiliki kulit putih dengan rambut pirang dan pendiam. Tapi kini Amza sudah berbeda Amza kini tumbuh dengan wajah asia namun sisi bule yang tidak hilang dan rambut yang kini menghitam.


Merekapun tertawa dan berpelukan saling merasakan dan membaurkan kerinduan yang sudah lama terpisah.


"Bener kata tante Lusi sekarang lo udah beda banget bro.." Budi menepuk nepuk punggung Amza dan tertawa bersama.


'Oh ya, kenalin ini cewek gue Keisya, dan ini sahabat gue dan Keisya..."


Nampak hanya Aylin yang menyimpan seribu kepanikan saat berkenalan itu, wajah Aylin bersemburat merah saat mengulurkan tangan. "Aylin.."


Amza tersenyum menyambut uluran tangan mungil itu yang kini wajahnya merunduk malu, betul pikir Amza seperti anak kucing.


"Hai, akhirnya kenalan juga.." Amza tersenyum penuh kemenangan.


"Emangnya kalian udah pernah ketemu?" Budi berkomentar melihat pemandangan ganjil itu.


Aylin yang nampak melempem seperti kerupuk tersiram air sedangkan Amza yang nampak senang sekan menangkap basah seseorang.


"Belum!" Keduanya menjawab hampir berbarengan dan kemudian tertawa.


"Sudah!" Lagi lagi mereka tertawa.


"Gimana sih?" Budi dan Keisya mulai merasa ada konspirasi saat itu.


"Hahah, mungkin kayanya kita udah ketemu di kehidupan sebelumnya. " Keisya menatap Aylin tidak yakin.


"Dulu si Aylin udah gini belum dandanannya?" Budi bertanya pada Amza, Amza tertawa.


"Oh kalo itu selalu, dan dulu dia galak banget." Merekapun tertawa dan akhirnya kepercayaan diri Aylin kembali. Seolah sahabat lama yang kembali bertemu mereka bercanda sekan mereka sudah bertemu sangat lama dan bukan sore itu.


Tidak beberapa lama kemudian gerimis yang semula mengguyur kota bandung berubah menjadi hujan yang besar.


Di sebuah parkiran nampak tiga orang manusia tengah mendorong sebuah mobil dimana seorang gadis mungil nampak di apit oleh dua pria besar di samping kiri dan kanannya.


Aylin berteriak teriak membakar semangat dua orang pria yang kini tengah mendorong dan di depan Keisya berada di belakang kemudi. Hingga akhirnya mobil itu bisa melaju menggunakan tenaga mesin, bukan manusia.


Bersambung...


Lanjut baca di Author Lii Nuah ya

__ADS_1


__ADS_2