Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 196


__ADS_3

Pria itu tersenyum senang mendengar suara yang ia kenali. la pun segera melepaskan tangannya dari wanita itu dengan mendorongnya sedikit keras. Untung saja wanita itu tidak jatuh tersungkur akibat dorongan yang ia terima.


la pun menoleh ke arah sumber suara dengan menunjukkan senyumnya. "Halo, Babe."


Banyak di sana tidak mengira dengan panggilan yang di layangkan pria itu. Sedangkan Jennifer terdiam melihat orang yang ada di hadapannya. Orang yang sudah lama tidak ia lihat, Jennifer hanya bisa melihatnya di gawainya.


"Jen..." ucap Thea saat tahu orang itu.


Siapa lagi jika bukan Gerald. Ia mendekat ke arah Jennifer yang memandangnya dengan intens. "Aku sudah datang, Babe. Kita tidak dipisahkan oleh jarak lagi, bagaimana kabarmu?"


Ucapannya membuat semua yang ada di sana meleyot, banyak yang iri pada Jennifer bisa mendapatkan laki-laki lembut seperti itu. Sedangkan wanita tadi, ia sangat kesal dan pergi meninggalkan kerumunan.


"Aku sudah datang, Babe. Kita tidak dipisahkan oleh jarak lagi, bagaimana kabarmu?" ucapannya membuat siapa orang di sana iri, kecuali dengan wanita tadi yang. la merasa kesal lalu pergi dari sana dengan menhentakkan sedikit kakinya.


"Apa kau tidak suka aku di sini?" sambung Gerald karena melihat Jennifer yang terdiam.


"Kenapa kau tidak bilang jika akan datang? Apa itu kebiasaanmu?" ucap Jennifer sedikit ketus.


"Hahaha apa kau marah?"


"Aku ingin memberikan kejutan untukmu. Aku juga akan melanjutkan studyku di sini," jawabnya dengan tenang. Ia sudah mengira jika Jennifer pasti akan ngambek jika dia tidak memberitahunya.


"Jangan tunjukkan wajah marahmu ini pada siapapun. kau terlihat menggemaskan jika seperti ini." Gerald mencubit kecil kedua pipi Jennifer.


Orang-orang yang ada di sana semakin menjerit melihat perlakuan Gerald pada Jennifer yang terlihat sangat manis. Thea yang ada di antara mereka berdua hanya bisa menatap dengan mulut sedikit menganga. Bisa-bisanya mereka memamerkan keromantisannya di hadapan banyak orang, pikirnya.


Begitulah jika sudah jatuh cinta, dunia serasa hanya milik berdua.


"Tidak, aku tidak marah. Harusnya kau katakan saja, biar aku bisa menjemputmu." Jawabnya dengan sedikit menunjukkan senyumnya.

__ADS_1


Gerald kembali tersenyum. "Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu."


Tanpa pikir panjang, Thea beridiri di tengah-tengah keduanya sebelum semakin beruwu. "Ingat waktu dan tempat kenapa sih!" ketusnya.


"Sudah, ayo, Jen." Thea menyeret Jennifer menuju kelas karena sudah memasuki jam kuliah.


"Aiish... lama-lama kampus ini aku alihkan atas namaku." Gumamnya menatap Jennifer yang di seret oleh Thea menuju kelas mereka. Ia pun memutuskan untuk segera menuju kelas miliknya juga.


Malam hari...


Di salah satu tempat yang cukup ramai dengan warna lampu yang kerlap kerlip dan di iringi musik yang sangat kencang, di sana terdapat seorang anak muda dengan salah satu temannya yang sedang asik menikmati suasana di sana. Matanya selalu melihat setiap wanita yang terlihat seksi di sana.


"Bagaimana dengan wanita yang kau dekati itu? Apa kau sudah berhasil mendapatkan hatinya?" tanya teman orang tersebut.


"Sedikit susah untuk mendapatkan hatinya. Dia tidak seperti wanita pada umumnya yang mudah sekali di rayu. Tapi, sepertinya dia sudah mulai tertarik denganku." Jawabnya lalu meneguk minuman yang ia bawa.


"Belum lagi ada seseorang yang selalu


"Sepertinya, kau mempunyai saingan. Apa kau juga jatuh hati padanya?" tanya temannya dengan tersenyum miring.


"Heh, aku? Jatuh hati dengannya? Itu tidak akan terjadi, aku hanya ingin menikmati tubuhnya." Jawabnya dengan senyum jahatnya.


"Hahaha... kau memang tidak pernah berubah. Aku kira dirimu sudah berubah." Tawanya mendengar jawaban dari orang itu.


"Heh, bagiku semua wanita sama saja. Mereka semua murahan dan bod*h, mudah sekali untuk di tipu." Ucapnya lalu kembali meneguk minumannya.


"Tidak semua perempuan seperti itu, sobat. Kau akan melihatnya nanti."


"Apa kau percaya?" tanyanya dengan senyum sinisnya.

__ADS_1


"Richard, suatu saat kau pasti akan melihatnya sendiri. Sepertinya, wanita yang kau dekati itu adalah wanita baik-baik," tuturnya.


Benar sekali, orang itu adalah Richard dan salah satu temannya, mereka bertemu di club dan berbincang-bincang. Ternyata, Richard bukanlah orang yang baik, dia ada maksud tertentu untuk mendekati Fany. Ia hanya ingin bersenang-senang tanpa ada rasa cinta sedikitpun.


"Sepertinya kau sudah di butakan dengan cinta." Ucapnya dengan tersenyum sinis.


"Aku hanya memberitahumu, jangan sampai apa yang kau lakukan itu berakibat buruk padamu," tuturnya kembali pada Richard.


"Aahh... kau memang tidak asik. Terserah kau saja, aku ingin bersenang-senang." Ujarnya lalu meninggalkan temannya itu sendiri di sana.


la menuju ke tengah-tengah dan ikut berjoget ria dengan yang lainnya, tentu saja di temani wanita-wanita seksi di sana. Teman dari Richard hanya bisa menggelengkan kepala, percuma saja jika berbicara dengan Richard. Masuk dari telinga kanan lalu keluar dari kuping kiri.


Meninggalkan Richard, kita melihat ke sisi Julian. Malam itu Julian sedang berada di markas dengan yang lainnya untuk membahas hal penting. Ia tampak melamun dan tidak fokus dengan apa yang di bahas anggotannya.


Julian berdesis lalu meletakkan satu tangannya di atas meja untuk menjadi tumpuan dagunya." Sebentar-sebentar, ada dua orang laki-laki dan satu perempuan. Salah satu dari laki-laki itu menarik tangan si perempuan itu pergi, apa itu salah?"


Semua anak buahnya terbengong dengan ucapan Julian yang melenceng jauh dari pembahasan yang ada di sana. "Memangnya, kenapa laki-laki itu menarik si perempuan?" sahut salah satu anak buahnya.


"Sepertinya dia tidak suka melihat perempuan itu dengan laki-laki lain," jawabnya.


"Sepertinya laki-laki itu cemburu melihat si wanita dengan laki-laki lain. Kenapa dia tidak mengungkapkan saja apa yang dia rasa pada wanita itu?" sahut salah satu anak buahnya lagi. Sepertinya, mereka mulai tertular dengan sikap Julian.


"Apa menurutmu begitu?" tanya Julian yang di angguki oleh anak buahnya yang lainnya. Malam yang harusnya menjadi perbincangan serius itu tertunda karena Julian yang berbicara melenceng jauh. Untung saja semua anak buahnya sabar dengan sikap Julian yang tengil itu.


Memang benar apa yang di ucapkan Sean, jika putranya sedikit beda dari yang lain. Sifatnya yang tengil dan terkadang bar-bar. Walau begitu, Julian tidak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, adakalanya Julian juga sangat tegas dengan anak buahnya yang tidak disiplin.


Mereka semua kembali melanjutkan pembahasan yang sempat tertunda sebentar karena ucapan Julian yang jauh di luar jalur.


Keesokan harinya...

__ADS_1


Bertepatan hari ini adalah hari minggu, Gerald menggunakan kesempatan itu untuk mengajak Jennifer berkeliling setelah sekian lama mereka di pisahkan oleh jarak. Gerald menjemput Jennifer terlebih dahulu, ia juga menyapa keluarga William yang lainnya.


Like and jadilah fans silver dengan cara gift and vote


__ADS_2