
Sisca tidak memperdulikan Fany yang sedang berbicara ketus dengannya, justru ia menatap ke arah jennifer dengan tersenyum miring. "Hai, Nona William. Senang bisa bertemu denganmu, aku harap ini bukan pertemuan terakhir kita, ya."
"Dasar tukang reseh, sebaiknya kau pergi dari sini! Jangan mengganggu waktu kami," usir Fany pada Sisca.
"Sebaiknya kau diam saja anak kecil, aku hanya menyapanya saja. Semoga saja ini bukan pertemuanku dan dia yang terakhir kalinya. Hahaha...." Gelak tawanya keras di ikuti oleh teman-temannya.
Jennifer hanya memandang Sisca dengan wajah datarnya. "Hahaha... tataplah aku sepuasmu. Aku yakin kau pasti akan ingin bertemu denganku suatu saat nanti."
"Lihatlah wajahnya itu. Dia terlihat lucu sekali, hahaha...." Mereka kembali tertawa kencang.
"Aku hanya ingin memperingatkan mu, Nona William. Masih ada waktu, kau pergi tinggalkan Gerald, atau kau tidak berada di dunia ini. Mungkin bukan hanya dirimu, tapi teman-temanmu juga. Aku benar-benar membuktikan ucapanku, jangan sampai kau menyesalinya," ucapnya pada Jennifer.
"Hei, Nona Sisca. Apa kau itu tidak memiliki rasa malu? Kau terus saja menggoda laki-laki orang lain dan meminta kekasihnya menjauh, apa kau sudah tidak waras?" bukan Fany kali ini yang bericara, tetapi Thea merasa jengah dengan Sisca yang selalu mengganggu itu.
"Selain kau biang reseh, kau juga wanita tidak tahu diri dan rendahan!" sahut Fany tanpa rasa takut sedikitpun.
"Apa yang kau katakan!" Sisca terlihat meradang dengan perkataan Fany yang mengatai dirinya rendahan.
"Sebaiknya kalian berdua diam, jangan sampai kalian juga menyesal nanti!" ancanmnya pada Fany dan Thea.
"Kau memang bukan rendahan, Nona. Tapi kau merendahkan dirimu," sahut Jennifer yang sedari tadi terdiam. Sisca terlihat sekali jika wajahnya merah menahan amarah.
"Kenapa? Apa kau marah? Bukankah itu benar, kau merendahkan dirimu di sini. Harusnya kau menunjukkan jati dirimu yang berkualitas itu, bukan menjatuhkan dirimu dengan mengganggu dan menggoda setiap laki-laki yang memiliki pasangan," celetuk Jennifer.
"Apa pria di luar sana tidak menarik perhatianmu sampai-sampai kau menggoda pria yang sudah memiliki pasangan? Bahkan kau memintaku untuk menjauhi kekasihku sendiri? Itu hal terbodoh yang pernah aku dengar selama ini." Jennifer tersenyum miring memandang wajah Sisca.
"Karena aku menyukai pria itu, maka aku akan berusaha dan berjuang menadpatkannya. Termasuk menyignkirkanmu nanti," jawab Sisca yang terdengar konyol.
__ADS_1
"Hahaha... usaha dan berjuang? Usaha dan berjuang seperti apa yang kau maksud, Nona? Usaha untuk merebut maksudmu?" jennifer tersenyum sinis.
"Jika aku jadi dirimu, aku pasti akan malu. sudah jelas jika keberadaanmu tidak tidak anggap, tapi masih saja mengejar. Dan yang kau kejar milik orang lain," sambung Jennifer.
"Aku tidak peduli untuk itu. Meskipun itu milikmu sekalipun, jika aku berkehendak, maka aku harus mendapatkannya," kuekeh Sisca.
"Dan kau, Nona William. Kau akan tahu akibatnya nanti, menyesalpun tidak akan berguna lagi untukmu,"
"Apa itu sebuah ancaman untukku?" Jennifer terlihat sangat santai.
Baru kali ini dia melihat orang yang dengan berani berhadapan dan mencari gara-gara pada dirinya. Benar-benar besar nyali yang di miliki Sisca, tetapi Jennifer lebih suka. Berarti Sisca memang tidak memandang dari mana dia berasal, kebanyakan orang tidak akan berani berhadapan dengan Jennifer karena tahu dirinya dari keluarga William.
"Aku hanya memperingatkanmu, habiskan waktu sesukamu dengan Gerald sebelum kau tidak berada lagi di muka bumi ini,"
"Dasar gila!" sahut Fany dengan kerasnya.
Sisca tidak peduli dengan ucapan Fany, "Kau ingat itu, aku tidak akan bermain-main untuk kali ini. Aku akan membuktikan ucapanku," sambungnya. Sisca melangkahkan pergi di ikuti oleh antek-anteknya.
"Tuan Putri... kenapa kau tidak melawannya saja. Aku sangat kesal dengan orang itu, dia benar-benar tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Ingin sekali aku mencabik-cabiknya." Napasnya memburu karena Sisca.
"Jen, apa Gerald tahu tentang ini?" tanya Thea.
"Tidak. Aku sengaja untuk tidak memberitahunya. Aku ingin melihat seberapa jauh tindakan orang itu, dan pada saatnya nanti aku akan menunjukkan siapa aku sebenarnya," jawab Jennifer.
"Tapi, Jen, dia hampir setiap hari seperti itu. Aku sangat kesal dengan orang itu," ujar Thea yang juga merasakan kesal pada Sisca.
Jennifer hanya menggeleng kecil dan tersenyum miring di sana. Thea dan Fany melampiaskan kekesalannya di sana, tanpa mereka sadari jika keributan mereka ada yang memerhatika sedari tadi. Ia berada sedikit jauh di sana, jadi ketiga serangkai itu juga tidak tahu.
__ADS_1
Di lain tempat...
"Tuan Muda," ujarnya.
"Ada apa?" tanyanya yang masih memandang fokus pada layar ponselnya.
"Saya mendapat laporan mengenai Nona Muda William." la pun segera meletakkan ponselnya setelah mendengar nama William yang di sebut oleh anak buahnya. Siapa lagi kalau bukan Gerald, hari ini ia tidak datang ke kampus.
Anak buahnya yang mengerti itu pun segera menjelaskan laporan yang ia dapat. "Saya mendapat laporan jika Nona Muda William mendapat ancaman dari salah satu mahasiswi tadi, dia meminta Nona Muda William untuk meninggalkan Tuan Muda. Dia juga mengatakan pada Nona Muda William untuk menghabiskan waktu bersama Tuan Muda sebelum ...," ucapnya menggantung takut jika Gerald akan marah.
"Sebelum apa? Lanjutkan," ujar Gerald.
"Sebelum lenyap dari muka bumi ini," jawabnya dengan sedikit pelan.
Gerald menatap tajam pada anak buahnya yang baru saja memberikan laporan padanya. "Siapa yang sudah berani berkata itu pada Jennieku?"
"Dia orang yang selalu mendekati anda, Tuan Muda," anak buahnya menjawab sesuai dengan laporan yang ia dapatkan dari anak buah Gerald yang lainnya.
Gerald mengepalkan tangannya kuat setelah mendengar itu, dia juga mengingat siapa yang tengah berani mengusik Jennifer. Hanya satu orang yang selalu berani mendekatinya secara terang-terangan,
kebanyakan mungkin hanya sekedar mengaguminya.
"Ternyata sangat besar nyalinya. Akan aku buat dia sendiri yang enggan untuk berada di bumi ini," ujarnya dengan terlihat sekali wajahnya merah menahan amarah.
"Kalian tetap awasi Jennieku dan awasi wanita itu," Gerald memberikan perintah lagi pada anak buahnya.
Mereka mengangguk faham dan kembali menjalankan tugas yang di perintahkan oleh Gerald.
__ADS_1
Walaupun Gerald tidak bersama dengan Jennifer, tetapi ia selalu memerintahkan anak buahnya untuk tetap mengawasi Jennifer di mana pun berada. Bagaimana pun, Gerald tidak mau jika terjadi apa-apa dengan Jennifer, meskipun ia tahu bagaimana Jennifer sebenarnya.
Setelah jam kuliah selesai, Jennifer, Thea dan Fany memutuskan untuk pulang bersamaan. Mereka ingin menghabiskan waktu bertiga sebelum pulang ke rumah masing-masing. Dari arah belakang Julian menyerobot bergabung dengan kumpulan ciwi-ciwi itu.