Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 228


__ADS_3

"Terima kasih atas sambutannya, Tuan. Tidak perlu terlalu formal begitu, aku masih terlalu mudah di sini," jawab Julian menjabat tangan orang itu.


"Bagaimana dengan Tuan Sean, apa semuanya baik?"


"Semuanya baik, Tuan." Jawaban Julian terdengar sangat singkat.


"Silahkan nikmati acara ini, aku menyambut tamu yang lain terlebih dahulu," pamitanya di angguki oleh Julian.


Julian segera duduk menuju kursi yang sudah di sediakan untuknya, tidak sedikit juga di sana ada yang membawa wanita-wanita simpanannya, dan ada juga pimpinan Mafia perempuan. Julian hanya menatap sekeliling dengan kedua tangannya ia lipat di depan dada dan kaki menyilang. Julian memerhatikan semua orang yang ada di sana, ada yang melakukan kerja sama dan ada pula yang minum-minum.


Julian sepertinya merasa bosan karena tidak ada hal lain yang dia lakukan, entah kenapa saat ini dia tidak bersikap petakilan. Dia terlihat sedikit tenang saat ini, tetapi entah jika nanti.


"Halo, Tuan Muda William," sapanya langsung mendudukkan dirinya di depan Julian tanpa menunggu persetujuan.


"Aku ingin mengajakmu untuk bekerja sama denganku," ucapnya lagi tanpa berbasa-basi. Julian menaikkan sebelah alisnya mendengar ajakan kerja sama yang secara tiba-tiba itu.


"Memangnya, apa yang akan kau tawarkan padaku? Aku harap itu bukanlah tawaran yang dapat merugikanku ," jawab Julian dengan sangat tegas.


"Hahaha... kau tenang saja, pasti ini sangat menguntungkanmu," ujar orang tersebut.


"Aku hanya meminta aksesmu di sana untuk menyebarkan barang-barang milikku, aku akan membagi kauntungannya. Jadi tidak perlu khawatir jika rugi," sambungnya. Nada bicaranya juga terlihat sekali jika dia adalah orang yang melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang, ia juga terlihat jika terlalu sombong.


"Barang-barang terlarangmu itu maksudmu? Tidak perlu, aku sudah terlalu kaya," jawab Julian dengan menyombongkan dirinya di sana.


"Sebesar apa keuntungan yang aku dapat darimu, aku tidak akan memberikan aksesku untukmu. Aku tidak mau jika barang-barang terlarangmu itu masuk ke dalam wilayahku. Aku juga tidak mau menerima transaksi ilegal darimu," tolak Julian dengan tegas.

__ADS_1


"Sebaiknya kau pergi dari hadapanku," usir Julian tanpa ba bi bu be bo. Sudah di tolak mentah-mentah oleh Julian, di usir pula tanpa ada basa basi terlebih dahulu.


Orang tersebut adalah pimpinan mafia yang selalu menyelundupkan barang terlarang dan barang-barag ilegal. Seperti jenis obat-obatan terlarang, senjata tanpa ada perijinan dan masih banyak lagi. Mungkin itu adalah pekerjaan seorang mafia, tetapi Julian masih di jalur yang tepat, mafia yang di pegang oleh Julian melakukan bisnis legal.


"Sudah jelas bukan dengan apa yang aku katakan? Pergilah, aku tidak ingin membahas hal tidak penting denganmu," usir Julian kembali. Orang itu mengepalkan tangannya menahan amarah karena di tolak mentah-mentah oleh Julian.


Orang itu pun beranjak dari duduknya dan pergi dari hadapan Julian, harga dirinya terasa tidak ada apa-apanya di mata Julian. Julian memincingkan bibirnya melihat kepergian orang itu dengan raut wajah yang terlihat sekali memerah karena menahan amarahnya.


Di waktu bersamaan di sisi Berlin ....


"Kau kenapa? Kenapa kau tidak bergegas tidur? Sudah larut sekarang tidurlah," ujarnya pada putri sulungnya di sana. Ucapannya tidak mendapat sahutan sama sekali dari sang putri.


Plaak...


Dengan keras ia memukul lengan putrinya. "Aahh... Mommy...kenapa memukulku!" la terperanjat bangun karena pukulan keras dari mommy-nya.


"Cepatlah tidur atau uang jajanmu Mommy potong kembali 80 persen," ancamnya lalu meninggalkan putrinya di sana seorang diri. Ia hanya melototkan kedua matanya mendengar ucapan sang mommy padanya.


"Aaahhh...." .."la kembali merebahkan dirinya di atas sofa dengan menutup wajahnya dengan bantal agar teriakan kecilnya itu tidak di dengar oleh orang-orang rumah.


Sedari tadi dia terlihat seperti orang yang patah hati dan tidak mempunyai tujuan hidup, entah apa sebenanrnya yang terjadi padanya. Siapa lagi orang itu kalau bukan Fany, malam yang larut belum membuatnya tidur. Justru dia masih merenung dan seperti orang yang tidak tahu arah, sepertinya dia sedang di landa galau sejak tahu jika Julian keluar negeri tana memberitahunya.


Moodnya benar-benar hilang, tidak ada hal lain yang menyenangkan baginya.


Kembali lagi ke Venezuela...

__ADS_1


Julian masih setia duduk diam di sana, dia benar-benar terlihat anteng kali ini. Namun dia juga sepertinya tidak tenang, ia ingin segera pulang untuk menemui Fany. Mungkin dia akan memarahi Fany yang tengah berbuat genit siang tadi.


Di saat Julian sedang terdiam, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyentuh lembut lengannya. Julian menoleh seketika melihat siapa yang sudah berani menyentuhnya.


"Jauhkan tangnmu dariku!" sentak Julian saat tahu jika yang menyentuhnya adalah seorang wanita dengan make up yang terlihat tebal dengan bibir yang merah merona.


"Jangan terlalu banyak diam di sini, sebaiknya kita nikmati acara yang sedang berlangsung di sini," ujarnya dengan sedikit genit pada Julian. Wanita itu berjalan duduk di kursi depan Julian dengan meliuk-liukkan tubuhnya.


"Kau benar-benar tampan." Wanita itu menggoda Julian, kakinya ia gunakan untuk menyentuh kaki Julian di bawah meja sana.


"Apa kau ingin kakimu itu tidak di tempatnya lagi?" wajah Julian terlihat berubah karena ulah wanita itu.


"Kau terlalu serius." Mata genitnya ia kedipkan ke arah Julian. Kakinya yang berada di bawah meja itu masih saja menyentuh kaki Julian, ia menggerakkan ke atas dan ke bawah seperti usapan lembut.


Rahang Julian terlihat mengeras, anak buahnya yang menyadari hal itu segera berbisik pelan agar Julian tidak meluapkan kemarahannya. "Tuan Muda, tenangkan dirimu. Jangan sampai mengundang keributan, biar saya yang mengurus wanita itu."


Brak... braak....


"Aaakhr ...,"


Tanpa aba-aba Julian menendang kursi yang di depannya itu, wanita yang duduk di kursi depannya itu ikut terjungkal kebelakang karena tendangan dari julian. Semua orang menoleh ke arah Julian saat mendengar suara keras dan teriakan wanita tadi. Anak buah Julian membelalakkan kedua matanya, mereka mewanti-wanti jangan sampai Julian tersulut emosi.


Namun sayangnya mereka telat, Julian langsung saja bertindak tanpa aba-aba. Wanita itu merintih kesakitan karena kepalanya juga terbentur lantai.


"Hiks... hiks... apa yang sedang kau lakukan, Tuan. Aku hanya menyapamu, tapi kenapa kau berbuat kasar padaku?" wanita itu sengaja memainkan suasana yang terjadi di sana, ia bersikap seolah-olah Julian menyakitinya.

__ADS_1


Julian menggertakan gigi-giginya mendengar wanita itu yang ternyata playing victim. Salah satu penyelenggara acara itu datang menghampiri Julian yang sudah terbakar amarah karena ulah wanita yang sudah menggodanya.


__ADS_2