
Jennifer menaikkan kecepatan mobilnya di atas rata-rata. "Jeeen... kau bisa pelankan mobilmu. Aku belum siap mati." Ujar Diva yang sepertinya takut dengan gaya menyetir Jennifer yang seperti pembalap.
"Kalau mati nanti tinggal di kubur." Jawab Jennifer dengan enteng.
"Astaga, Jen." Pekiknya mendengar jawaban Jennifer. Jennifer yang sudah lama tidak mengendarai mobil sportnya itu pun terus saja melajukannya dengan cepat. Tanpa peduli dengan Diva yang berkomat-kamit di dalam sana.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di mall yang biasa. Mereka pasti akan datang ke mall milik keluarga Johnson.
Julian pun juga sudah sampai di sana berbarengan dengan Jennifer. Mereka bertiga langsung saja masuk ke dalam.
"Mau cari apa?" tanya Diva.
"Tidak ada, mau cari makan saja." Jawab Jennifer.
"Astaga, kau ini. Kenapa tidak makan saja di mension ." Sengalnya pada Jennifer.
"Cari suasana baru." Jawabnya dengan singkat.
Jennifer pun melangkahkan kakinya lebih dulu ke salah satu resto ternama yang ada di sana.
Mereka segera duduk dan melihat daftar menu yang tertera, Julian yang memang suka sekali dengan urusan makanan itu pun sangat antusias. Ia melihat dari awal sampai akhir.
Julian memesan banyak makanan yang ia inginkan.
Entah muat atau tidak nanti perutnya. Kedua kakaknya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kalian di sini dulu, kakak mau ke toilet." Pamit Diva pada mereka berdua.
Jennifer membuka maskernya lalu bermain dengan ponsel miliknya.
"Oh ya, kak. Kenapa kau tiba-tiba saja pindah sekolah? Apa di sana tidak ada wajah tampan sepertiku?" tanyanya dengan tingkat kepedean yang sangat tinggi.
"Aku hanya ingin saja." Jawabnya singkat padat jelas.
"Kau itu, kenapa bicaramu itu irit sekali?" ucap Julian.
"Aku tidak sepertimu." Jawabnya yang lagi-lagi singkat.
"Ah, kau itu. Tidak asyik sekali." Gerutu Julian. Jennifer tidak peduli dengan ucapan sang adik. Dia masih saja fokus dengan ponsel miliknya.
__ADS_1
"Aku ke toilet bentar, oke. Jangan habiskan makananku." Pamitnya yang tidak lupa dengan makanan miliknya. Jennifer jengah mendengar sang adik yang memang lebih cerewet darinya.
Julian pergi, hingga menyisahkan jennifer seorang diri di sana menunggu pesanan mereka datang.
"Ehh, La. Bukankah itu anak baru tadi, ya? Dia sendiri di sana." Ucap salah satu orang sedikit jauh yang melihat Jennifer duduk seorang diri.
Tanpa berbicara sepatah katapun, dirinya melangkahkan kakinya menuju tempat duduk Jenni.
"Hai, bukankah kau anak baru tadi." Sapanya yang langsung mendudukkan dirinya tanpa seizin pemiliknya. Jennifer yang fokus dengan ponselnya mengalihkan pandangannya menuju pada orang yang tiba-tiba saja menduduki tempat duduk milik adiknya.
Tanpa menjawab apapun, Jennifer kembali fokus dengan ponsel miliknya.
"Apa kau tidak memiliki attitude? Ada orang yang mengajakmu mengobrol. Kenapa kau hanya bermain dengan ponselmu?" kesalnya karena Jennifer yang terkesan cuek dengan dirinya.
Jennifer kembali menatapnya lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Turunkan alismu itu." Sengal orang tersebut melihat Jennifer yang menaikkan sebelah alisnya.
"Kau anak baru tadi, bukan? Bagaimana bisa kau pulang bersama Julian? Apa kau sedari tadi menggodanya? Heh, tidak aku sangka orang sepertimu penggoda lelaki." Ungkapnya dengan mengejek Jennifer.
"Aku tidak ada urusan denganmu. Sebaiknya kau dan temanmu pergi dari sini." Ujar Jennifer dengan tegas.
"Apa pedulimu?" Jennifer kembali membuka suaranya dengan nada santainya.
"Aku ingatkan padamu, kau hanya anak baru. Kau tidak pantas dengan Julian, dia hanya milikku. Kau jauhi dirinya." Jelasnya pada Jennifer.
"Benarkah? Apa kau yakin dengan apa yang kau ucapkan?" Jennifer tersenyum remeh pada orang itu.
Orang tersebut terlihat sangat kesal dengan Jennifer yang meremehkan dirinya. Siapa lagi orang itu jika bukan Cindy dan beberapa temannya yang juga berada di sana untuk shopping.
"Awwas, kau. Kalau kau berani, aku akan membuatmu di keluarkan dari sekolah." Ancamnya pada Jennifer.
Jennifer hanya tersenyum remeh mendengar ucapan Cindy. Cindy yang sudah sangat geram ingin sekali menjambak rambut Jennifer.
"Ehh sudah, La. Sebaiknya kita kembali, di sini banyak orang." Cegah salah satu temannya.
Cindy pun akhirnya meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan dongkol dan kesal, beda lagi dengan Jennifer yang hanya menunjukkan wajah datarnya. la kembali fokus dengan ponsel miliknya. Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun sudah tiba. Satu persatu makanan itu di jejer dengan rapi.
Sesaat kemudian, Diva dan Julian juga tiba di sana bersamaan. Julian yang melihat semua makanan di depannya langsung saja menyantapnya dengan lahap.
__ADS_1
Satu minggu kemudian....
Satu minggu sudah Jennifer bersekolah di sekolah yang sama dengan Julian. Selama itu, Jennifer tidak terlalu bergumul dengan yang lainnya. Dengan Julian pun tidak sesering mungkin, biasanya Fany yang menghampiri dirinya.
Jennifer sendiri juga tidak memiliki banyak teman di sana, mungkin karena dia yang terlalu dingin dan cuek pada sekitar. Meskipun begitu, Jennifer tidak mempermasalahkan. Baginya, lebih baik berteman dengan satu orang tapi berkualitas dari pada memiliki banyak teman tapi tidak mengetahui arti teman yang sesungguhnya. Apalagi mereka berteman hanya karena memandang dirinya dari keluarga berpengaruh, Jennifer tidak akan suka.
"Tuan putrikuuu, kenapa kau tidak ikut dengan Julian? Kau selalu sendiri," ungkap Fany padanya.
"Aku lebih nyaman sendiri, Fa." Jawab Jennifer sambil membDivak-balikkan buku yang ia baca.
"Tapi, apa kau tidak bosan sendiri dalam kelas seperti ini?"
"Tidak." Jawab Jennifer singkat.
Fany hanya diam lalu pandangannya tertuju pada salah satu orang yang juga berada di sana seorang diri. Dia tidak jauh dengan Jennifer yang juga membaca buku, di lihat dari penampilan dan tingkahnya, dia seorang pemalu dan juga tidak mempunyai teman.
"Dia siapa?" tanyanya pada Jennifer. Jennifer yang
mendengar pertanyaan dari Fany pun menoleh ke arah seseorang tadi.
"Tidak tahu, kau tanya saja sendiri."
"Kenapa kau cuek sekali?" sengal Fany karena sifat Jennifer yang terlihat sangat bodo amat.
Fany mencoba mendekat ke orang tersebut lalu mendudukkan dirinya di kursi depan orang itu. "Hai, kakak." Sapa Fany dengan wajah cerianya.
Orang itu menoleh lalu tersenyum kepada Fany yang sedang menyapanya. "Kenapa kau tidak bergabung dengan temanmu, kak?" tanya Fany.
"Aku tidak punya teman, temanku hanya ini." Jawabnya sambil menunjukkan buku yang ia baca tadi.
"Memangnya kenapa?" tanyanya Kepo. Dirinya seperti Abigail yang akan selalu bertanya apapun itu.
"Emm, mungkin menurut mereka aku terlalu membosankan." Jawabnya dengan santai.
"Sepertinya, kau orang pemalu dan pendiam." Tebak Fany.
Orang itu tersenyum sebelum menjawab ucapan,"tidak juga." Jawabnya ramah.
"Namaku, Fany. Dari kelas sebelah, aku di sini datang menemui tuan putriku. Kakak siapa?" ucapnya panjang lebar sambil mengeluarkan tangannya.
__ADS_1