Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 76


__ADS_3

Sesampainya mereka di rumah yang mewah dan menjulang tinggi itu, mereka mendorong Andy begitu saja dari mobil mereka. Andy terjatuh tergeletak di depan gerbang rumahnya, keadaannya saat ini tidak sadarkan diri dengan berlumuran darah di sekujur tubuhnya.


Penjaga gerbang yang melihat tiba-tiba saja ada orang yang di buang itupun datang mendekat.


"Astaga... ini tuan muda Andy. Cepat panggil tuan dan nyonya." Ucap penjaga gerbang itu terkejut. Ternyata Andy yang di buang dari mobil hitam tadi.


Satu rekannya memanggil nyonya dan tuan besarnya dan satunya lagi mencoba untuk menyadarkan Andy. Dirinya memandang mobil hitam tadi yang sudah jauh meninggalkan kediaman Andy.


Tidak sulit bagi anak-anak buah Sean mengetahui alamat di mana tempat tinggal keluarga Andy.


"Astaga, Andy ...." mamanya histeris melihat keadaan Andy yang hampir saja tidak bisa di kenali karena semua wajahnya juga penuh darah.


"Bagaimana bisa dia seperti ini. Papaa... ayo cepat bawa dia ke rumah sakit pa." Panik mamanya yang melihat keadaan Andy. Papa Andy segera mengambil berlari mengambil mobilnya.


"Andy bangun, ndy." Mamanya mencoba mengguncang tubuh Andy agar terbangun. Tapi, nihil. Berkali-kali tubuh itu di guncangkan tapi tetap Andy tidak sadarkan diri.


Mobil sudah berada di ambang pintu gerbang, mereka segera memapah tubuh Andy ke dalam mobil. Tidak perlu menunggu lama, mobil itupun melaju dengan kecepatan penuh. Agar Andy segera mendapat pertolongan.


Sean masuk ke dalam mension dengan menenteng sebuah kresek besar di tangannya. Entah apa yang ia bawa itu. Mungkin dia takut Ana marah jika dirinya baru saja dari markas memberikan pelajaran buat Andy.


"Pappi... pap...i.. pap..." celoteh Jennifer melihat sang papi baru saja pulang. Ana menoleh ke arah yang sama di mana Jennifer melihat sang papi.


Dirinya masih betah membuka matanya sampai sang papi kembali. Beda dengan Julian dirinya sudah tertidur nyenyak di pangkuan sang mami.


"Haii anak papi... kenapa belum tidur, hmm?" ujar Sean meletakkan semua barang yang ia bawa. Jennifer berdiri lalu datang ke arah Aiden sambil merentangkan kedua tangannya.


"Apa anak papi merindukan papi?" Sean mencium gemas pipi Jennifer.


"Apa yang kau bawa Sean?" Tanya Ana melihat kresek besar yang di bawah Sean.


"Aku membelikan buah-buahan segar untuk twin. Mereka butuh makanan yang sehat. Bukankah begitu anak papi?" jawab Sean lalu menggelitik perut Jennifer dengan hidung mancungnya.


Jennifer tertawa renyah karena merasakan geli di perutnya.

__ADS_1


"Kenapa belum tidur, hmmm?"


"Dia menunggumu. Sedari tadi dia tidak mau tertidur." Sahut Ana.


"Lihat... kedua saudaramu sudah tertidur. Kenapa tidak tidur sekalian?" ucap Sean lagi. Jennifer hanya mengerucutkan bibir mungilnya di hadapan Sean. Tingkahnya yang gemas itu membuat siapa saja ingin mencubitnya.


Diva juga sudah tertidur di samping Ana, sedari tadi mereka menonton Tv. Tapi, pada akhirnya pada tertidur. Tinggal Jenniferlah yang masih betah membuka mata.


"Tidur, oke. Papa sudah ada di sini." Sean menggendong tubuh mungil itu.


Sean menepuk-nepuk pelan punggung Jennifer sambil di ayun-ayunkan sedikit agar anaknya cepat tertidur.


Matanya mulai menyipit saat berada di gendongan Sean, ia menguap sangat lebar lalu mengucek kedua matanya sang sudah menyipit.


Sean terus saja menimang-nimang Jennifer, hingga dirinya tertidur di pundak sang papi.


"Apa sudah tertidur?" Tanya Sean pada Ana.


"Sudah, dia langsung saja tertidur."


Sean membawa Jennifer untuk di letakkan di kamar baby mereka. Sean merebahkan Jennifer dengan sangat berhati-hati agar dia tidak terbangun lagi. Sean mencium kening Jennifer lalu melangkahkan kakinya keluar kembali ke Ana.


"Letakkan Julian di kamarnya, biar aku membawa Diva ke kamarnya terlebih dahulu." Ucap Sean pada Ana. Ana segera menuju ke kamar baby di mana tempat tidur twin J, sedangkan Sean membawa Diva ke kamarnya.


Sean kembali ke kamar twin J setelah meletakkan Diva di kamarnya. Sean memeluk Ana dari belakang.


"Kau dari mana tadi? Kenapa baru pulang?" tanya Ana.


"Aku dari markas." Jawab Sean jujur.


"Markas? Ada apa?" Ana bertanya kembali.


"Aku hanya memberikan sedikit pelajaran untuk orang itu." Jawab Sean tanpa di tutup-tutupi.

__ADS_1


"Apa kau...?" ucap Ana terjeda.


"Tidaak... aku tidak membunuhnya, aku hanya memberikan pelajaran untuknya." Jawab Sean lagi.


"Jangan bermain-main dengan nyawa Sean, aku tidak mau jika nanti hal buruk terjadi padamu." Ucap Ana sedikit merasa lega mendengar jawaban Sean. Tapi, tetap saja dirinya takut. Karena dunia Sean bukanlah dunia main-main. Dunia yang digeluti oleh Sean sangatlah berbahaya.


"Tidak akan terjadi apa-apa denganku, percayalah." Ucap Sean menenangkan Ana. Ia mencium leher jenjang Ana yang mulus itu.


"Kau harus berjanji padaku, kau harus tetap baik-baik saja." Sahut Ana yang merasakan cemas dan takut tiba-tiba.


"Akan aku usahakan." Ucapnya.


Ana membalikkan tubuhnya lalu memeluk erat tubuh kekar Sean. Dia mencari kenyamanan yang ada pada suaminya. Ana mencoba menghilangkan ketakutannya yang secara tiba-tiba menghampiri dirinya.


Tiga hari sudah berlalu...


Hari ini Sean datang ke markas karena ada sesuatu yang mengharuskan dia datang ke sana.


"Ada kabar apa, Ko?" tanya Sean pada Riko.


"Begini, tuan. Anak buah kita melihat jika Leon datang ke sini dengan membawa beberapa anggotanya." Lapor Riko pada Sean. Ia memberikan beberapa foto kedatangan Leon beserta rekaman cctv kedatangannya kepada Sean.


Leon merupakan musuh bebuyutan Sean selama ini. Entah apa yang akan dia perbuat untuk datang ke sini. Pikir Sean.


"Kau sudah selidiki?" tanya Sean kembali.


"Sepertinya, dia mempunyai rencana untuk mengalahkan anda tuan." Jawab Riko.


"Apa dia tidak berfikir jika menginjakkan kakinya di sini sama saja menyetorkan nyawanya. Wilayah Eropa adalah sebagian besar wilayah kekuasaanku. Jika dia datang ke sini hanya untuk bermain-main, berarti dia sama saja mengantarkan nyawanya secara percuma." Ucap Sean.


Sebagian besar wilayah Eropa di kuasai oleh pasukan Sean. Jika mafia lain datang ke sana mencari gara-gara, maka siap-siap saja. Itu sama saja hanya mengantarkan nyawanya dengan sukarela.


"Kau awasi semua pergerakannya. Dan perketat penjagaan untuk Ana dan lainnya. Tambah lagi keamanan di mension. Aku tidak mau jika dia akan datang ke mension dan menyentuh mereka semua." Perintah Sean pada anak buahnya.

__ADS_1


"Di mana dia berada sekarang?"


"Sepertinya, dia tinggal tidak jauh dari sini, tuan." Jawab Riko.


__ADS_2