Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 94


__ADS_3

Anak buah Sean langsung saja menyerbu anak buah Leon yang memang tidak terlalu banyak di sana. Mereka melakukan aksi baku hantam.


Leon keluar dari mobil dan menyeret Diva ikut dengannya.


"Divaaa..." teriak Ana saat Diva di seret paksa oleh Leon.


"Berhenti di sana atau anak kecil ini kehilangan nyawanya, tuan William." Leon berteriak kencang dan meletakkan pistol itu di kepala Diva untuk mengancam anak buah Sean.


Sean mencoba untuk bersikap tenang tidak gegabah dalam hal ini. Sean tidak mau jika nanti Diva menjadi sasaran dari Leon.


"Hikss...hikss.. uncle... tolong Diva." Diva menangis takut karena di todongkan senjata.


Sean menatap tajam Leon yang menyandra Diva di tangannya. Ana yang berada di dalam mobil tidak bisa keluar karena Leon kembali mengunci mobil itu. Tangannya pun di ikat kebelakang, jadi susah untuk dirinya bergerak.


Ana takut jika terjadi apa-apa pada keponakannya di sana.


"Jika kau berani melangkah maka anak kecil ini akan kehilangan nyawanya." Leon kembali mengancam Sean untuk tidak melakukan perlawanan padanya.


"Hahaha.... Apa kau itu seorang pengecut?" Sean mencoba memainkan emosi Leon.


"Sepertinya kau tidak layak jika di sebut mafia, jika kau memang seorang mafia dan ingin mengalahkan ku, kau tidak akan menggunakan anak kecil itu." Sean sedang memainkan emosi Leon di sana.


Sean terlihat sangat tenang dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya. Dia tidak peduli dengan suara bising dan baku hantam antara anak buahnya dengan anak buah Leon.


"Sepertinya kau lupa di mana dirimu sekarang?" sambung Sean.


"Kau itu memang sangat bodoh. Jika kau memang ingin mengalahkan ku, harusnya kau menggunakan taktik dan rencana besar." Ujar Sean dengan tersenyum mengejek.


"Hahaha... jangan sombong. Nyawa anak kecil ini berada di tanganku saat ini." Leon menekankan pistolnya ke kepala Diva.


Air mata Diva tidak henti-hentinya untuk menetes.


"Divaaa... hiks... hikss..." lirih Ana dari dalam mobil yang tidak bisa keluar.


la mencoba membuka ikatan tangannya yang sangat kencang itu.


"Aku tidak sombong, Leon. Tapi itu kenyataannya." Ucap Sean lagi.


Sean yang melihat Riko mulai mendekat ke arah Leon dari belakang itu pun mencoba untuk mengulur waktu agar Leon tidak berbuat yang tidak-tidak pada Diva.

__ADS_1


"Kau melawanku saja tidak bisa bukan? Sampai-sampai kau ingin membawa keponakan dan istriku bersamamu. Caramu terlalu klassik." Ucap Sean


menyombongkan dirinya pada Leon.


"Karena dari mereka aku bisa mengalahkanmu. Kau pasti tidak akan bisa berkutik untuk melawanku." Ucapnya.


"Hahaha.... Caramu sungguh kuno. Apa kau tidak mempunyai rencana lain?" ucap Sean pada Leon.


Sean kembali memandang ke arah Riko yang sudah tepat di belakang Leon, Sean menganggukkan kepalanya sedikit pada Riko.


Riko yang mengetahui aba-aba dari Sean itu pun langsung saja memukul Leon dari belakang secara bertubi-tubi hingga Diva terlepas dari Leon.


la berlari ke arah Sean dan memeluk Sean dengan erat.


Bughh...


Buughh...


Buughh...


Leon babak belur mendapat pukulan dari Riko karena dirinya belum menyiapkan dirinya.


"Sean..." lirihnya.


Sean mengambil belati yang terselip di pinggangnya dan melepaskan ikatan Ana agar tidak membuang banyak waktu.


"Ayo kita pergi." Ajak Sean membawa Ana dan Diva pergi menuju tempat yang aman.


Leon yang melihat Sean pergi bersama Diva dan Ana itu menodongkan pistolnya dan menekan pelatuknya. Riko yang tahu akan hal itu cepat-cepat dia menendang tangan Leon dengan kuat hingga pistol itu terpelanting jauh dari tangannya.


Buugh...


Buuggh...


Riko langsung saja memukul Leon tanpa ampun hingga dirinya lemah. Semua anak buah Leon sudah hangus di tangan anak buah Sean, karena memang anak buah Leon tidak terlalu banyak.


"Bereskan semuanya, dan urus di sini agar tidak ada yang membuka mulutnya setelah tahu kejadian ini." Perintah Riko pada anak buah Sean.


Lingkungan itu memang masih kawasan perumahan tapi tidak banyak. Hanya beberapa saja, rumah di sana pun jaraknya terbilang jauh. Tapi, pasti saja yang ada di sana mengetahui keributan ini.

__ADS_1


Riko menekan kakinya menginjak kuat Leon karena dirinya ingin memberontak. Riko pun memerintahkan anak buahnya untuk membawa Leon ke markas mereka terlebih dulu.


Mension utama...


"Pi... bagaimana keadaan Ana dan Diva, pi?" tanya mami Sean dengan cemas.


"Mami tenang dulu, Mi. Selama ada Sean, mereka pasti akan baik-baik saja." Ucap papi Sean mencoba untuk menenangkan mami Sean agar tidak terlalu cemas.


Mereka tahu jika Ana dan Diva tengah di culik, karena anak buah Sean tadi melaporkan hal itu pada keduanya saat mengantar sang supir yang menjemput Ana terjatuh tidak sadarkan diri.


"Aaahh... papi. Bagaimana mami tidak cemas, coba. Kita belum ada kabar dari mereka lagi." Mami Sean sangat mencemaskan keadaan Diva dan Ana.


"Mi... kita doakan saja mereka agar tidak kenapa-napa. Semoga Sean tidak telat menyelamatkan mereka." Papi Sean masih terus mencoba menenangkan istrinya.


Untuk kali ini jika twin J tidak rewel.


Markas Kingdom...


Sean mengajak Diva dan Ana untuk datang ke markas terlebih dahulu.


Ana memandang bangunan mewah dan besar itu dengan rasa takjubnya. Selama menikah dengan Sean, Ana belum pernah datang ke markas Sean. Ini kali pertamanya datang ke sana. Ternyata markas Sean tidak seseram apa yang ia bayangkan selama ini. justru di sana terlihat sangat mewah tidak seperti markas.


Ana belum tahu saja jika ada ruang bawah tanah untuk menyekap semua tawanan Sean. Bahkan masih banyak lagi ruang-ruang yang di gunakan untuk menyiksa para tawanan Sean jika mereka sudah berbuat fatal.


Sean sedari tadi hanya melangkah dengan diam, tetapi tangannya tidak dia lepaskan dari tangan Ana. Sepertinya, dia sangat marah. Dia mencoba untuk memendam amarahnya.


Sean mendudukkan dirinya di ikuti Ana di sampingnya dan Diva.


Sean memeluk erat tubuh Ana saat ini, ia tidak mau kehilangan Ana dalam hidupnya.


"Apa ada yang terluka? Apa ada yang sakit? Apa mereka tadi melukaimu?" cerca Sean memandang wajah Ana dengan lekat.


Ana menangkap wajah Sean dengan kedua tangannya. "Tidak ada. Mereka tidak melukaiku, aku tidak kenapa-napa karena suamiku sangat hebat." Ucap Ana lalu mengecup singkat pipi Sean.


Diva lagi-lagi hanya bisa diam memandang keuwuan uncle dan aunty-nya. Dia sepertinya tidak di anggap di sana.


"Apa Diva tidak apa?" Sean mengalihkan pandangannya dan bertanya pada Diva.


"Tidak uncle. Diva tidak apa-apa, hanya terkejut saja." Jawab Diva.

__ADS_1


"Kemarilah."


__ADS_2