Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 242


__ADS_3

Setelah berkata seperti itu, dia juga memutuskan untuk pergi dari sana. Langkahnya berlainan arah dengan Julian. Entah siapa sebenarnya orang itu, sepertinya dia ada dendam tersendiri pada Julian dan anak-anak buah Julian.


Ucapannya dengan Julian sedari tadi juga sepertinya hanyalah basa-basi semata, dia juga sepertinya mencari sedikit celah melalui pertanyaannya pada Julian. Namun, sayangnya dia juga tidak mendapatkan apa-apa dari Julian. Terkadang sikap tengil dari Julian juga sangat menguntungkan, karena dari situ mungkin musuh sedikit kesulitan untuk mencari celah dari dirinya.


"Jeenn... Jeenn... Jeenn ...," teriaknya berlari memanggil sang kakak tanpa embel-embel kakak. Semua yang ada di mension menoleh ke arahnya.


"Masih pagi, kau jangan heboh sendiri," ujar Jennifer lalu duduk dengan membawa secangkir cappucino buatannya. Di hirupnya aroma wangi dari cappucino yang masih mengeluarkan sedikit uapnya.


"Kau tidak membuatkan untukku?" Julian memandang memelas ke arah Jennifer yang sedang menyeruput cappuchino hangat buatannya.


"Tidak. Kalau kau mau buat saja sendiri," jawab Jennifer yang bodo amat dengan Julian di sana.


"Kau tega sekali dengan Adikmu." Wajahnya di buat seperti anak kecil yang memelas di sana. Jennifer yang melihatnya merasa geli dengan ekspresi wajah Julian.


"Raut wajahmu tidak pantas seperti itu. Rasanya aku ingin melempar sesuatu ke arahmu," ketus Jennifer. Ia juga terkadang heran, kesal dan geli ketika melihat wajah Julian yang di buat-buat.


"Lalu, aku harus bagaimana? Kenapa aku salah terus di matamu?" ucap Julian yang semakin mendramatis.


"Lama-lama aku timpuk wajahmu," kesal Jennifer. Terkadang mereka akur, terkadang juga berdebat tidak penting. Memang sudah menjadi hukum alam kalau saudara jarang sekali terlihat akur, pasti ada saja tingkah salah satu dari mereka yang membuat ulah lebih dulu.


"Apa yang membuatmu teriak pagi-pagi?" sambung Jennifer dengan menyeruput kembali cappuchino yang ada di tangannya.


"Aaahh... kenapa kau tidak membaginya denganku ?" bukannya menjawab pertanyaan Jennifer justru dirinya menginginkan cappuchino milik Jennifer.


"Aku tidak mau, buat saja sendiri!" tolak Jennifer dengan menikmati cappuchinonya di depan Julian.


"Hmmm... enaknyaaa...." Jennifer memutarkan cangkir kecil itu di depan wajahnya, dia berniat mengiming-iming Julian di sana.

__ADS_1


Julian hanya bisa menganga melihat cappuchino hangat yang ada di tangan sang kakak, sangat cocok di nikmati saat pagi seperti ini. Sepertinya karma kecil tengah di alami oleh Julian, kemarin dirinya yang membiarkan Fany di posisi seperti dirinya saat ini. Kemarin dirinya yang memakan ice cream Fenta, dan sekarang dirinya di iming-iming oleh sang kakak.


la seketika melupakan tujuan awalnya kenapa dirinya berteriak memanggil Jennifer, satu cangkir cappuchino hangat bisa membuatnya lupa akan semuanya.


"Di mana Papi dan Mami?"


"Kenapa aku tidak tahu?"


"Bagaimana kau tahu kalau kau sedari tadi tidur! Kau kebiasaan sekali. Apa yang membuatmu teriak pagi-pagi!" sungut Jennifer karana Julian tidak kunjung menjawab pertanyaannya sedari tadi.


"Kenapa kau selalu suka marah-marah?"


"Dan kau juga kenapa selalu memancing orang marah-marah?" ketus Jennifer.


"Ayo pergi ke mall," ajaknya yang membuat Jennifer bingung, tidak biasanya Julian mengajaknya untuk pergi ke mall.


"Kau tumben sekali mengajakku ke mall? Ada apa denganmu?" tanya Jennifer menghilangkan rasa penasarannya.


"Apa ini benar dirimu?" Jennifer meletakkan secangkir cappuchinonya setelah mendengar ucapan Julian.


"Kalau bukan aku, lalu siapa lagi? Memangnya kau pernah melihat orang yang sepertiku yang lebih tampan dariku?" ucapnya yang tidak tertinggal gaya narsisnya. Ternyata sedari tadi dirinya berteriak hanya ingin mengajak Jennifer untuk pergi bersamanya.


"Hahaha... tidak aku sangkah seorang Julian akan bersikap manis. Fany pasti juga akan terheran-heran melihat dirimu yang tiba-tiba manis seperti ini," ejek Jennifer pada Julian.


"Ck, sudahlah ayo. Jangan berlama-lama." Julian beranjak dari duduknya.


Waahh... sepertinya Julian ingin bersikap romantis, biasanya dirinya selalu bersikap sangat tengil dan membosankan. Dengan tidak sabarnya dia menyeret Jennifer untuk pergi bersamanya. Kalau bukan dengan Jennifer, dengan siapa lagi dia akan berangkat? Tidak mungkin jika dirinya mengajak teman-temannya untuk pergi.

__ADS_1


Kalau saja teman-temannya tahu mungkin akan menertawakannya, karena memang dirinya tidak pernah bersikap manis di hadapan semua orang.


"Kenapa kau tidak pergi sendiri saja? Aku sedang tidak ingin keluar,"


"Aku tidak perlu mendengar alasanmu. Ayo cepat." Julian menarik Jennifer pergi dengan sedikit memaksa. Jennifer terlihat pasrah dengan Julian yang menyeretnya untuk pergi bersamanya. Memang kalau sudah berkeinginan Julian tidak mau menunda-nunda.


Julian memakai helm miliknya dan tak lupa dengan Jennifer. Jennifer mulai naik ke motor sport milik Julian di sana dengan sedikit malas. Kalau saja itu bukan adiknya mungkin Jennifer sudah menolaknya keras.


"Kau berpeganglah yang erat, kalau kau jatuh aku tidak mau bertanggung jawab," ucap julian saat menyalakan motor sportnya.


"Kalau aku jatuh, akan aku tebas kepalamu,"


Tanpa menunggu lama Julian melajukan motor sportnya dan meninggalkan mension bersama dengan Jennifer.


Jennifer membantu memilihkan barang yang cocok untuk Julian. Jennifer juga sudah bisa menebaknya jika Julian mencari barang couple untuk dirinya dan Fany, kalau tidak untuk siapa lagi. Jennifer melihat-lihat jejeran hoodie yang tergantung disana, dia tahu bagaimana selera Fany yang memang tidak terlalu suka dengan mengoleksi barang-barang mewah.


la menemukan sepasang hoodie yang terlihat cocok dengan warna netral, style yang terlihat sangat simple. Jennifer mengambilnya untuk di berikan pada Julian." Lihatlah, sepertinya cocok."


Julian memandang hoodie yang di bawah oleh Jennifer. "Hmm... oke. Kau yang bayarkan."


Jennifer melotot mendengarnya, bisa-bisanya dengan enteng Julian berbicara seperti itu. "Kau yang memakainya kenapa aku yang membayar!"


"Sesekali, anggap saja itu kau memberikan hadiah untukku." Jennifer semakin gedeg mendengar ucapan Julian. Hadiah untuknya katanya, tidak tahu harus bagaimana lagi Jennifer menghadapi Julian.


"Hadiah!" Jennifer kembali melototkan kedua matanya lebar-lebar. Benar-benar memiliki adik seperti Julian butuh kesabaran yang melimpah. Kalau saja itu Ola yang di hadapannya mungkin sudah kena semprot habis-habisan, bahkan mungkin juga akan ramai toko itu.


Julian hanya mengangguk dengan tenangnya, serasa Jennifer ingin menimpuknya di sana. kalau saja itu bukan

__ADS_1


di mall mungkin barang yang ia bawah sudah ia lemparkan ke arah Julian. Dengan sedikit sewot Jennifer berjalan ke arah kasir dan mengeluarkan kartu miliknya untuk membayar sepasang hoodie itu.


Julian hanya terkikik melihat hal itu. Dia heboh dan berteriak di mension sepertinya inilah tujuannya yang sebenarnya, tetapi dirinya tidak memberitahukan Jennifer. Dia yang ingin mencari barang tersebut, tapi dirinya tidak mau mengeluarkan uangnya sendiri.


__ADS_2