Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 302


__ADS_3

William's Company...


Terpantau jika hari ini memang daddy dari Wendy datang ke perusahaan keluarga William untuk mendengar keputusan akhir dari kerja sama. Perasaan daddy Wendy sangat senang hari ini, karena beberapa hari sebelum dirinya datang ke Berlin, respon dari perusahaan William sangat baik. Dia sangat yakin jika kerja samanya akan di terima oleh perusahaan William dengan mudah.


Dia sudah tidak sabar dengan apa yang akan ia dengar nantinya, dirinya sangat berharap jika hari ini akan menjadi hari keburuntungannya. Jika perusahaan William menerima kerja samanya, dia akan bisa lebih unggul. Bahkan kekuasaannya bisa lebih tinggi lagi, maka dengan itu dia sangat senang jika perusahaan William bisa menerima kerja samanya.


Dirinya sudah menunggu di ruang rapat seorang diri, Sean memintanya untuk menunggu di sana.


"Selamat pagi, Tuan William," sapanya beranjak berdiri dan sedikit membungkukkan badannya hormat saat Sean tia di sana.


"Duduklah, Tuan," ujar Sean singkat.


Mereka duduk di kursi masing-masing yang sudah tersedia. "Selamat datang di perusahaannku yang kecil ini, Tuan. Semoga kau tidak keberatan untuk datang ke sini," ujar Sean berbasa-asi.


Apa katanya tadi? perusahaan kecil? Jika perusahaan sebesar itu di matanya kecil, lalu bagaimana perusahaan besar menurutnya. Perusahaan yang menguasai daratan Eropa ia katakan kecil.


"Hahaha... anda bisa saja, Tuan. Perusahaan anda cukup menginspirasi perusahaan lainnya. Cukup tersanjung saya bisa datang ke sini," jawab daddy Wendy di selingi dengan guarauan. Namun apa yang di ucapkan olehnya seperti penjilat agar kerja samanya lancar tidak ada halangan.


"Aku tidak ingin berbasa-basi, Tuan Brown, karena aku masih sibuk mengurus yang lainnya. Dengan berat hati perusahaan tidak bisa menerima kerja sama dari perusahaanmu," papar Sean tanpa basa-basi. Apa yang di ucapkan membuat daddy Wendy terkejut setengah mati.


"B-bagaimana bisa, Tuan William? bukankah anda sendiri waktu lalu yang mengatakan jika perusahaanku cukup bagus!" daddy Wendy tidak terima mendengar kenyataan pahit. Dia datang dengan hati berbunga-bunga, tetapi ternyata yang dia dapat tidak seperti yang dia bayangkan.


"Semua penawaran yang kau tawarkan memang sangat baik. Setelah melihat kesalahanmu, aku tidak bisa menerima kerja sama dengan perusahaanmu. Aku tidak mau ada benalu dalam perusahaanku," cetus Sean lagi.


Sean tidak mau menerima perusahaan yang kotor, dia hanya ingin perusahaan yang benar-benar bersih tidak ada kecurangan dan lainnya. Namun, yang menjadi permasalahan sekarang sepertinya bukan karena ada kecurangan atau yang lainnya.


"Memangnya, apa salahku, Tuan William? Aku tidak pernah membuat kesalahan dengan perusahaanmu." Daddy Wendy dengan sekuat tenaga menahan api amarah. Jangan sampai kemarahannya akan semakin membuatnya runyam.

__ADS_1


"Kau benar-benar tidak tahu apa kesalahanmu?" Sean memasang wajah mengintimadasi.


"Kau baru saja melakukan kesalahan besar, Tuan Brown. Jadi aku tidak bisa menerima kerja sama denganmu."


Daddy Wendy semakin di buat bingung karena dirinya tidak merasa membuat kesalahan seperti apa yang di katakan oleh Sean. "Mungkin anda salah sangka, Tuan William. Selama aku datang ek sini, aku tidak melakukan apa pun."


Daddy Wendy akan tetap berusaha meyakinkan Sean agar menerima kerja sama dengannya. Walau dia tahu sekali pun Sean menolak, tidak ada harapan lagi untuk bekerja sama dengan perusahaan William.


"Apa kau sungguh tidak tahu?" Sean menaikkan sebelah alisnya.


Dari apa yang di katakan oleh Sean, sepertinya itu adalah permasalahan dengan Jennifer. Sean sunguh tahu bagaimana putrinya di luar sana. Sean tidak akan membiarkan orang yang sudah mengusik keluarganya merasa tenang.


Benar-benar menjadi ayah yang baik untuk ke dua anaknya, dia ikut andil dalam pertahanan hubungan Jennifer dan Gerald.


"Memangnya, apa yang sudah saya lakukan, Tuan William? Beritahu apa salahku. Berikan aku kesempatan untuk menjalin kerja sama denganmu," mohon daddy Wendy.


"Kau ingat-ingat sendiri apa yang baru saja kau lakukan, Tuan. Waktuku sudah habis, aku harus pergi karena ada urusan di luar sana yang lebih penting," ucap Sean setelah melihat jam di pergelangan tangannya. Sengaja sekali Sean tidak memberitahu kesalahan daddy Wendy, ia sengaja untuk membuat daddy Wendy berpikir keras.


"Tidak bisa begitu, Tuan. Harus ada kejelasan kuat dengan alasanmu menolak kerja sama denganku! Apa kau takut jika nanti kau akan tersaingi olehku?" daddy Wendy berbicara sombong di sana. Ucapannya sangat percaya diri sekali.


Sean memandang sinis pada daddy Wendy yang baru saja mengatkan hal bod*h, mana mungkin dirinya takut untuk bekerja sama dengan perusahaan daddy Wendy.


"Heh, untuk apa takut denganmu, Tuan Brown. Banyak perusahaan besar di luar sana memintaku untuk bekerja sama. Sebaiknya kau pikir saja apa kesalahanmu, aku tidak bisa menerima orang yang tidak sadar diri." Tanpa berpamitan Sean langsung saja ke luar meninggalkan ruang rapatnya.


Braak...


Karena merasakan kekesalan yang mendalam, ia menggebrak meja dengan sedikit keras. "Hah...! Bisa-bisanya dia menolak bekerja sama denganku!" napasnya naik turun menahan emosi. Semua harapannya usai di sana, yang dia inginkan tidak sesuai harapan. Kalau saja dia tidak di perusahaan William, pasti barang-barang di sana sudah tidak berbentuk lagi.

__ADS_1


Setelah dari perusahaan William, daddy Wendy kembali menuju ke rumah sakit dengan perasaan yang dongkol. Dia yang datang dengan penampilan rapi, saat ini semua bajunya terlihat berantakan. Dasi yang mengendur dan kemeja yang sudah amburadul.


"Apa yang terjadi denganmu, Dad?" tanya istrinya melihat penampilan acak-acakan dari suaminya.


Daddy Wendy mendudukkan dirinya di sofa dengan napas yang memburu kesal, "Hah...! Bisa-bisanya dia menolak kerja samaku."


Istrinya juga tidak kalah terkejut mendengar jawaban dari suaminya, "Bagaimana bisa, Dad? Apa yang membuatnya menolak kerja sama dengan kita?"


"Dia mengatakan alasan yang tidak jelas kepadaku! Dia menuduhku dengan kesalahan yang tidak pernah aku lakukan selama di sini!" daddy Wendy masih di kuasai api dalam dirinya. Apa pun yang di katakan oleh Sean tidak akan membuatnya mengerti, dia juga tidak akan sadar dengan kesalahannya.


Dia sudah mengganggu ketenangan putri dan calon menantu dari keluarga William. Andai saja jika Jennifer tadi menunjukkan dirinya di perusahaan, pasti pertunjukan yang asik akan terjadi. Mungkin pada saat itu juga, dia akan di tendang dari sana.


"Memangnya apa yang sudah Daddy lakukan?" sang istri juga ikut merasa penasaran dengan yang di katakan oleh suaminya.


"Tidak ada kesalahan yang aku buat. Aku akan kembali datang ke sana dan meminta penjelasan yang pasti. Pasti saat ini dia merasa terancam karena kedatanganku," ucapnya sangat percaya diri sekali.


Kenapa juga Sean harus takut dengan kedatangannya? Sean tanpa bekerja sama dengan perusahaannya pun dia sudah melambung tinggi. Entah dari mana kepercayaan diri yang dia dapatkan. Boleh saja percaya diri, tetapi juga harus sadar diri.


Selesai berbincang-bincang mengutarakan kekesalannya, ia menghubungi bodyguardnya yang berada di luar. Dia benar-benar melakukan proses hukum pada Jennifer yang sudah melakukan kekerasan pada putrinya. Lihat saja anti bagaimana usahanya membuat Jennifer mendapat hukuman darinya, harap-harap nanti dirinya tidak akan menyesal seumur hidup.


Dua hari berlalu...


Wendy sudah di katakan sadar semalam, hanya saja dia kembali menutup matanya lagi. masih beruntung Wendy bisa sadarkan diri karena benturan-benturan di kepalanya. Namun, entah nanti ia bisa kembali membuka matanya lebih alam lagi atau tidak.


Bodyguard keluarga Brown datang menghampiri untuk memberitahukan sesuatu. "Bagaimana? Apa kau sudah mengurusnya?" tanya daddy Wendy.


"Maaf, Tuan. Saya sedikit kesulitan karena tidak mengetahui siapa nama wanita itu," ujarnya.

__ADS_1


__ADS_2